
Rama dan juga Kevin asik berbincang. Bagi Rama, Kevin sosok laki-laki yang menyenangkan untuk ukuran waktu perkenalan mereka yang relatif singkat.
Drrrtt, drrrtt, drrrtt
Sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponsel milik Hasna. Dua hari yang lalu, Rama menggunakan ponsel milik istrinya. Bukan menggunakan dalam artian mengambil alih privasi Hasna. Tapi untuk memantau usaha istrinya. Kemarin Rama sempat mengabarkan kepada menejer restoran yang ia ketahui bernama Hamzah, jika istrinya tengah di rawat di rumah sakit. Dan Rama meminta semua gerai, Hamzah yang menghandle untuk sementara waktu.
~Maaf, Pak Rama. Laporan untuk bulan ini sudah saya kirimkan via email pada email Mbak Hasna. Jika ada kesalahan, akan segera saya perbaiki.~ Mas Hamzah.
~Terima kasih atas kerjasamanya, Hamzah.~ Mbak Hasna.
Tak lama pesan kembali masuk ke dalam ponsel Hasna.
~Maaf, Pak Rama, teman-teman ingin sekali menjenguk Mbak Hasna. Apakah kami di izinkan?~ Mas Hamzah.
~Tolong sampaikan kepada semuanya. Maaf, Hasna masih belum bisa di jenguk, karena kondisi yang belum memungkinkan. Tolong doakan saja yang terbaik untuk kesembuhan istri saya.~ Mbak Hasna.
~Baik, Pak. Akan saya sampaikan kepada yang lainnya.~ Mas Hamzah.
Rama kembali meletakkan ponsel Hasna di atas meja dan kembali fokus pada Kevin yang duduk bersebelahan dengannya.
"Jujur, aku sedikit kuwalahan dengan pekerjaan Hasna. Bagaimana bisa dia menghandle seluruh tempat usahanya seorang diri? Sedangkan aku saja harus di bantu oleh asisten juga sekretaris." Rama tertawa kecil di akhir kalimatnya.
"Tidak hanya kamu, tapi aku juga. Kita menjalankan satu perusahaan saja dengan bantuan beberapa orang kepercayaan, tapi Hasna? Dia bahkan bisa mengendalikan semuanya. Mungkin dia hanya membutuhkan satu orang kepercayaan di setiap gerai usaha miliknya." Kevin menatap sekilas perempuan yang masih betah tertidur itu.
"Ya, kamu benar. Padahal usia Hasna dengan Nayla tidak beda jauh. Tapi mereka sangat bertolak belakang." Ucap Rama.
"Hasna seusia Nayla?" Tanya Kevin tidak percaya. Karena melihat Nayla dan Hasna begitu berbeda. Hasna begitu dewasa, dan Nayla? Gadis itu masih terkesan manja.
"Hasna lebih tua beberapa bulan dari Nayla." Ucap Rama.
"Lalu? Kapan Hasna memulai usahanya?" Tanya Kevin.
__ADS_1
"Dia bilang, saat masih sekolah."
Kevin mengerutkan keningnya. Kenapa jawaban yang Rama berikan terdengar ragu?
"Dia bilang?" Ulang Kevin.
"Ya, Hasna mengatakan seperti itu." Kenapa ucapan Rama terdengar menarik di telinga Kevin?
"Kenapa kedengarannya hubungan kalian sangat menarik?"
"Kami menikah karena di jodohkan." Rama mengingat perjodohannya beberapa bulan lalu.
"Pacaran setelah menikah?" Tebak Kevin.
"Bisa di katakan demikian." Kevin melihat rona merah jambu menghiasi wajah Rama.
Drrrtt, drrrtt, drrrtt
"Sebentar, aku angkat telepon dulu." Rama beranjak dan keluar untuk menerima panggilan dari Ivan.
Bu Rosita menepuk pelan pundak Kevin. Laki-laki itu menoleh. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Bu Rosita menjauh dari keduanya. Kevin mengikuti gerakan ibunya. Rupanya wanita itu duduk di sofa yang tadi ditempatinya.
"Bicaralah." Ucap Bu Rosita. Kevin mengangguk dan beralih menatap Hasna.
Sejenak Kevin memandang wajah cantik perempuan yang masih ada di hatinya itu. Wajah itu terlihat begitu damai. Tangan Kevin terulur untuk menyentuh pipi yang selalu bersemu merah. Tapi gerakannya terhenti saat mengingat bagaimana Hasna yang selalu menjaga dirinya dari laki-laki yang bukan mahromnya.
Kevin mengusap lembut kepala Hasna yang tertutup jilbab instan warna abu-abu itu.
"Hasna, ini aku, Kevin. Bagaimana kabar kamu? Apa kamu baik-baik saja?" Kevin mengusap lembut puncak kepala Hasna.
"Jika kamu merasa sudah baik, bangunlah." Kevin menatap lekat wajah yang selalu menampakkan senyuman itu.
__ADS_1
"Apa kamu tau? Saat kamu menolak lamaranku dan mengatakan jika kamu sudah menikah, hatiku benar-benar hancur. Bahkan sangat sulit sekali aku bangun dari keterpurukan itu. Aku merasa takdir tidaklah adil. Aku mencintai kamu, bahkan sebelum kamu menikah dengan laki-laki itu. Aku memendam rasa yang mengakar di hati, hanya untuk menjaga agar kamu tidak membenciku saat aku mengungkapkannya."
"Dan saat auku mengutarakan semuanya, ternyata bukan kebencian yang aku dapatkan, tapi rasa sakit yang teramat sangat." Kevin menjeda ucapannya. Menghirup oksigen agar memenuhi rongga dadanya.
"Aku sangat merutuki kebodohan yang telah aku lakukan. Andai saja aku lebih cepat mengatakannya, maka aku akan bisa memiliki kamu. Bukan obsesi yang aku miliki untuk kamu. Tapi rasa cinta. Cinta yang selalu bersemi saat aku melihat kamu. Bahkan rasanya aku jatuh cinta berkali-kali padamu, Hasna."
"Mungkin aku salah satu laki-laki terbodoh di dunia. Mencintai perempuan yang tak akan pernah aku dapatkan. Tapi, itulah fitrah. Aku tidak bisa mengendalikan perasaan ini. Aku tidak bisa menghilangkannya. Semakin aku mencoba untuk menghindar, semakin sulit aku melupakan kamu."
"Dan aku semakin hancur saat melihat kamu bersanding dengan Rama di pelaminan." Netra Kevin terasa memanas.
"Kamu tau? Aku sangat iri dengan Rama. Bahkan laki-laki itu mendapatkan hak istimewa untuk kamu cintai. Aku yang lebih dulu mengenal kamu, tapi Rama yang lebih dulu kamu cintai. Itu tidaklah adil, bukan?" Kevin memaksakan tawanya
"Aku pernah sangat marah dengan laki-laki itu. Kamu ingat, saat pertemuan tak sengaja kita di taman? Saat melihat kamu menangis, hatiku terasa sangat sakit. Tak perlu aku tanyakan kenapa kamu menangis, karena pasti dia yang menyebabkan semuanya. Benar begitu, bukan? Hatiku sangat sakit melihat kamu bersedih seperti saat itu. Ingin sekali aku menghapus air mata itu, membawamu ke dalam pelukan. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa aku lakukan hanya mengawasi kamu dari jauh, memastikan jika kamu baik-baik saja."
"Apa kamu tau? Saat mendengar berita kecelakaan dan kamu dalam kondisi kritis, duniaku hancur seketika. Aku takut. Aku takut sekali jika kamu...." Kevin menghirup nafas dalam-dalam untuk mengurai rasa sesak di dadanya.
"Aku takut kamu akan pergi, sedangkan aku tidak bisa melakukan apapun. Tapi ternyata, aku masih di berikan kesempatan untuk membantu kamu selamat dari kondisi kamu saat itu. Aku senang, aku senang sekali bisa mendonorkan darahku buat kamu, hal kecil yang bisa aku lakukan buat kamu saat itu. Walaupun aku bukan alasan kamu untuk bahagia, tapi aku senang menjadi alasan kamu untuk bisa tetap bertahan hidup." Setitik bulir bening menerobos paksa untuk keluar dari sudut mata Kevin.
"Hasna, mungkin kita tidak ditakdirkan menjadi pasangan, tapi aku sangat berharap kamu tidak akan keberatan jika aku menganggap kamu seperti adikku sendiri."
"Hasna, aku sudah mengikhlaskan kamu bersama Rama. Dia laki-laki yang baik. Dia sangat mencintai kamu. Dia sangat mengkhawatirkan kamu. Aku pun sangat menghormati dia. Bangunlah, Hasna. Bangun. Jangan membuat laki-laki itu terlihat rapuh. Jangan membuatnya terlihat kacau."
"Bangun, Hasna. Kamu harus melanjutkan hidup kamu bersama orang-orang yang menyayangi kamu. Kamu harus kuat. Kamu harus bisa melewati ini semua. Demi Rama. Demi keluarga kamu. Demi aku, juga demi anak yang ada dalam kandungan kamu. Kamu harus kuat untuk mereka." Tak terasa air mata beberapa kali telah menetes dari pelupuk matanya.
"Bangunlah, Hasna, bangun. Jangan terlalu lama kamu tidur. Kasihan calon keponakanku yang ada dalam perut kamu. Kasihan juga papanya yang terlihat lebih cengeng dari dia nantinya. Bangunlah. Aku akan selalu menantikan kabar bahagia itu."
"Maafkan aku jika terlalu banyak bicara. Maafkan juga, jika aku terlalu lancang. Tapi hanya ini yang bisa aku lakukan. Jujur aku sangat lega sudah mengatakan ini semua sama kamu. Do'akan aku, Hasna. Do'akan agar aku bisa sedikit demi sedikit mengikis rasa ini untuk kamu."
Kevin merasakan usapan lembut di bahunya. Gegas laki-laki itu mengusap sisa air mata yang menggenang. Perlahan ia membalikkan badannya, berusaha kembali mengontrol emosinya.
"Ta...Tante?"
__ADS_1
***
maaf, jika ada yang menanyakan, kenapa kok lama komanya? itu karena alurnya sudah saya setting demikian. Semoga tetap bisa menghibur kalian, ya....🥰