
"Ma, Hasna dan Mas Rama berencana akan menggelar resepsi dalam waktu dekat ini." Ucap Hasna di sela makan siangnya bersama Mama mertua.
Bu Diana menatap menantunya dengan mata yang berbinar. Beliau tidak salah dengar, bukan? Hasna sendiri yang mengatakan hal ini, bukan putranya. Jadi Hasna juga benar-benar menginginkan acara ini di adakan.
"Serius?" Hasna mengangguk.
"Mungkin ini memang keputusan terbaik. Kami sudah mempertimbangkan semuanya, karena kejadian-kejadian sebelumnya. Dan tentu saja kejadian yang kemarin juga. Hasna tidak mau ada yang salah paham lagi tentang status kami." Jelas Hasna.
Benar apa yang dikatakan Hasna. Serentetan kejadian terakhir memang selalu berhubungan dengan status pernikahan mereka. Teman Nayla, razia, hingga berujung lamaran Kevin.
"Mama sangat setuju itu. Jadi rencananya kapan?" Tanya Bu Diana antusias.
"Insyaallah bulan depan, karena Mas Rama harus benar-benar pulih juga." Jawab Hasna.
"Serahkan semuanya sama Mama. Kamu dan Rama tinggal duduk manis saja. Lagian WO yang dulu masih bisa kita lanjutkan lagi rencananya. Kalian tenang saja. Pokoknya terima beres." Ucap Mama bersemangat.
"Tapi, Hasna minta sama Mama, jangan terlalu mewah ya, Ma."
"Kalau itu Mama kurang setuju. Rekan bisnis Rama banyak, begitu pun Papa. Kita akan mengundang banyak tamu nantinya. Jangan sampai diantara mereka masih menganggap jika Rama laki-laki lajang, jika kita tidak mengundangnya. Ini hanya teknis, sayang. Kamu tidak perlu khawatir. Kita hanya akan menunjukkan pada mereka jika kalian sudah menikah." Ucap Mama meyakinkan.
Sejenak Hasna nampak berpikir, apa yang dikatakan Mama benar adanya. Koneksi Rama sangatlah banyak, ditambah dirinya juga. Kedua mertuanya juga pasti akan mengundang kerabat mereka. Tidak ada salahnya juga.
"Gimana?"
"Baiklah, Hasna setuju tapi Hasna juga butuh diskusi juga dengan Mas Rama." Ucap Hasna pada akhirnya.
"Masalah Rama, kamu tenang saja. Anak itu ingin membuat pesta yang besar untuk pernikahan kalian. Kamu tau kan kalau anak Mama mulai posesif sama kamu? Jadi bisa dipastikan seribu persen kalau Rama bakalan setuju." Ucap Mama.
Posesif? Ya, memang Hasna merasa jika Rama berlaku demikian. Suaminya selalu memberikan ultimatum saat berkunjung ke rumah Mama, terlebih jika ada Nayla. Entah kenapa, Rama selalu menolak jika ia meminta izin untuk menemani adik iparnya keluar. Laki-laki itu selalu bilang jika dirinya bersama Nayla selalu saja ada yang tidak beres. Mengingat bagaimana wajah Rama saat itu malah membuat Hasna tersenyum.
"Kok malah jadi senyum-senyum sendiri?" Rupanya Mama memperhatikan menantunya itu.
"Hasna selalu ingat, kalau akan ke rumah Mama. Mas Rama pasti banyak menyampaikan pesannya. Apalagi kalau minta izin menemani Nay keluar, pasti panjang ceramahnya, dan berujung tidak akan diizinkan."
"Kenapa?"
"Mas Rama bilang, kalau kami keluar berdua pasti ada hal yang tidak beres setelahnya." Kekeh Hasna.
"Pasti gara-gara Bian ini." Tebak Mama.
"Salah satunya itu, Mas Rama selalu bilang, Nayla itu tidak bisa diandalkan, nanti bisa-bisa ada masalah." Hasna ikut tertawa.
"Hmmm...ternyata tidak hanya posesif, tapi sudah bucin akut." Ucap Mama di sela tawanya.
"Tapi kamu merasa nyaman, tidak?"
"Sejauh ini, Hasna masih merasa nyaman. Tapi terkadang Mas Rama suka tidak lihat situasi."
"Emangnya pernah ngapain anak nakal itu?" Rupanya Mama juga ingin tau apa yang sudah putranya perbuat.
"Hasna malu, Ma." Ucapnya dengan wajah yang tertunduk.
Bu Diana bisa merasakan jika menantunya yang pendiam itu merasa malu jika putranya melakukan hal aneh di tempat umum. Bisa dibayangkan bagaimana wajah cantik menantunya itu merah padam menahan rasa malu, sedangkan putranya cuek-cuek saja.
"Ma, Hasna langsung ke kamar ya." Ucap Hasna pada Mama mertua, setelah membereskan sisa makan siang bersama ART.
"Iya sayang, kamu istirahatlah. Mama sebentar lagi akan istirahat juga." Ucap Mama.
Hasna naik ke lantai dua di mana kamar Rama berada. Dulu, apapun yang berkaitan dengan Rama pasti membuat Hasna merasa tidak nyaman. Bukan karena dirinya yang tidak bisa menerima, tapi lebih kepada penolakan yang diberikan laki-laki itu kepadanya. Tapi kini keadaan telah berbalik, Rama bisa menerima dirinya, juga pernikahan mereka.
Rama adalah rumah baginya, juga keluarga ini. Hanya mereka yang Hasna miliki sekarang. Rasanya kebahagiaan Hasna telah sempurna. Suami yang bisa menerimanya, bahkan sudah mencintainya. Mertua yang sangat baik dan sayang padanya. Juga adik ipar yang sangat menyayanginya seperti saudara kandung sendiri.
Hasna merebahkan tubuhkan di atas ranjang besar milik Rama. Di sini pertama kalinya ia tidur berbagi tempat dengan Rama. Di ranjang ini pula pernah ada perdebatan tentang nasib pernikahan mereka. Tapi fase itu berhasil mereka lalui. Dan Hasna berharap, pernikahan mereka akan berjalan bahagia.
***
Marissa menatap Rama yang tak sadarkan diri dengan tatapan memuja. Perempuan itu duduk tepat di samping tubuh laki-laki yang selalu di pujanya.
"Rama Suryanata." Marissa tersenyum saat mengucapkan nama itu, jemarinya menyusuri tiap inci wajah tampan laki-laki yang memejamkan matanya rapat.
__ADS_1
"Apa kamu tau? Kamu telah membuatku jatuh cinta sejak pertemuan pertama kita. Mati-matian aku mengejar posisi menjadi sekretaris, agar aku semakin dekat denganmu." Marissa Nasution mengatakan mengusap lembut bibir yang terkatup rapat itu.
"Dan aku pun berhasil. Tapi aku sungguh heran, kenapa kamu tidak pernah mau melihat ke arahku, Rama? Apa aku kurang cantik? Kurang seksi?" Marissa tersenyum sinis saat mengucapkannya.
"Tapi tenang saja, mulai detik ini, kamu..." Marissa menelusuri dada bidang Rama yang masih terbalut setelan kerja lengkap dengan jemari lentiknya.
"Kamu akan selalu melihat ke arahku. Dan aku pastikan, kamu tidak akan bisa berpaling lagi dariku." Perempuan itu tersenyum lebar.
Marissa bangkit dari duduknya, meletakkan tas yang masih tersampir di bahunya. Kemudian kembali ke posisinya semula.
"Are you ready baby? It's show time..." Ucapnya bersemangat.
Marissa melepaskan sepatu juga kaos kaki, lalu jas yang Rama kenakan. Kemudian melepaskan satu persatu kancing kemeja laki-laki itu.
"Indah sekali." Puji Marissa saat melihat lekuk tubuh Rama yang masih berbalut kemeja yang telah terlepas seluruh kancingnya.
"Mulai detik ini, tubuh ini akan menjadi milikku, milik Marissa Anindita." Marissa mengusap lembut dada bidang itu.
"Eits, No. Bukan Marissa Anindita, tapi Marissa Anindita Suryanata." Ucapnya dengan senyuman penuh kebanggaan.
"Tubuh kamu berat sekali, Sayang." Ucap Marissa saat sedikit mengangkat tubuh Rama untuk melepaskan kemejanya.
Perempuan itu tersenyum, melihat penampilan Rama. Tubuh bagian atas lelaki itu terekspos sepenuhnya.
"Ah...andaikan saja, kamu bisa melepaskan juga pakaian ini, pasti akan sangat seru sayang." Marissa menunjuk dress yang ia kenakan.
"Tapi tidak masalah, ini hanya permulaan. Karena selanjutnya, kita akan melakukannya bersama-sama, setiap saat." Marissa mendaratkan kecupan di pipi kiri Rama.
"Sebenarnya aku tidak mau melakukan hal murahan seperti ini, tapi keadaan yang sudah memaksaku. Aku tidak mau sampai anak ini lahir tanpa ayah. Dan aku mau, hanya kamu yang menjadi ayah untuk anak-anakku nantinya." Ucapnya penuh penekanan.
"Kamu akan menjadi milikku Rama."
Marissa mendekatkan wajahnya pada rama. Fokus perempuan itu tertuju pada bibir yang terlihat menggoda itu. Namun dering ponsel membuatnya hilang konsentrasi. Sebuah panggilan masuk.
"Pak Ivan?" Gumamnya, perempuan itu menautkan alisnya.
"Halo."
"Halo, Marissa, kamu ada di mana? Apa Pak Rama ada bersama kamu?" Marissa menelan saliva yang terasa tercekat di tenggorokan.
"Saya masih ada di luar, Pak." Jawab Marissa setenang mungkin.
"Berkas pengajuan kerjasama dengan perusahaan xx kamu simpan di mana? Pak Rama sempat mengatakan jika ada di ruangannya, tapi saat saya cari tidak ada." Ucap Ivan dari seberang sana.
"Bisa kamu membantu saya?" Lanjut laki-laki itu penuh harap.
Sial sekali, di saat rencana sudah berjalan setengah, malah ada saja gangguan.
"Maaf, Pak, saya hari ini izin pulang cepat, karena ada sedikit urusan mendesak, dan sudah ada di tengah perjalanan." Marissa masih beralasan.
"Tapi mobil kamu masih terlihat di basement kantor." Ucap Ivan.
Bodoh, ia ceroboh. Tadi Marissa berangkat di antarkan oleh sopir kantor. Perempuan itu memutar otak cepat, jawaban apa yang akan ia berikan selanjutnya.
"Iya, saya naik ojek online." Semoga saja Ivan percaya.
"Oh..." Marissa bernafas lega, saat Ivan mempercayai alasan yang ia berikan.
"Saya minta sama kamu, tolong kembali ke kantor segera. Ini urgent, dan demi kepentingan kantor. Kepentingan seluruh karyawan, termasuk kamu." Ucap Ivan.
"Baiklah, Pak." Jawab Marissa pada akhirnya. Walau sebenarnya ia sangat berat meninggalkan Rama.
Marissa segera mengambil tas yang tergeletak di atas tempat tidur. Menatap ke arah Rama sejenak.
"Asisten kamu sungguh menyebalkan sekali, Sayang. Akan aku minta kamu untuk memecatnya saat kita sudah menikah nanti." Ucapnya kesal.
"Tunggu aku kembali." Marissa meninggalkan kecupan di kening Rama.
Perempuan itu menutup tubuh Rama dengan selimut. Kemudian meninggalkannya untuk kembali ke kantor.
__ADS_1
***
"Bisa lebih kenceng lagi nggak, saya buru-buru." Ucap Marissa setengah berteriak, karena suara yang terbawa angin.
"Ini udah kenceng, Mbak. Tapi memang jalanan lagi ramai." Ucap tukang ojol.
Benar saja, jalanan mulai ramai dan lumayan macet walah tidak parah. Marissa kembali melirik jam di tangannya, bisa-bisa ia tidak ada waktu kembali ke hotel nantinya , karena efek obat bius Rama akan segera hilang.
Setelah hampir satu jam ia akhirnya sampai di kantor. Marissa berjalan cepat melewati lobi dan masuk ke dalam lift, segera menuju lantai tujuh.
Dengan nafas yang tersengal, Marissa menuju ruangan Rama. Segera ia mencari berkas yang Ivan minta. Berharap agar pengacau itu segera pergi dan ia bisa melanjutkan rencananya.
"Dasar berkas sialan. Gara-gara ini rencanaku hampir gagal." Umpatnya kesal.
Marissa segera menuju ruangan Ivan yang berada tepat di depan ruangan Rama. Ia ingin segera menyelesaikan urusannya dengan asisten Rama itu.
"Ini berkas yang Pak Ivan minta." Marissa menyerahkan berkas itu pada Ivan.
"Terima kasih banyak, Marissa. Saya tidak tau lagi bagaimana jika berkas ini tidak ketemu." Ucap Ivan penuh kelegaan.
"Iya, sama-sama, Pak." Marissa memaksakan senyuman di bibirnya.
"Kalau begitu saya permisi." Perempuan itu segera berbalik meninggalkan ruangan Ivan.
"Marissa, tunggu." Marissa menghentikan langkahnya, dan memasang wajah ramah seperti biasanya lalu menoleh pada Ivan.
"Iya, Pak. Ada lagi yang bisa saya bantu? Tanya Marissa ramah.
"Tidak, saya akan mengganti biaya kamu sampai ke kantor lagi. Ongkos kamu pasti bertambah, bukan?" Ivan sudah mengeluarkan dompetnya dari saku celana.
"Tidak perlu, Pak Ivan. Itu tanggung jawab saya juga. Saya permisi." Ucap Marissa, dan terburu-buru untuk segera pergi meninggalkan kantor.
Perempuan itu berkali-kali melirik jam tangannya. Setidaknya masih ada waktu satu jam hingga pengaruh obat bius itu hilang. Semoga saja tidak terjebak macet.
"Mbak Marissa." Marissa menghentikan langkahnya dan menoleh pada seseorang yang memanggilnya saat baru keluar dari lobi. Ternyata sopir yang mengantarkannya dan Rama tadi.
"Mbak Marissa sudah kembali? Naik apa kemari tadi Mbak? Apa Pak Rama sudah kembali juga?" Rentetan pertanyaan keluar dari bibir laki-laki berseragam hitam itu.
"Ee...saya kembali karena mengambil berkas yang tertinggal, dan Pak Rama..." Marissa menelan ludah dengan susah payah, jangan sampai sopir itu menaruh curiga.
"Beliau masih di sana." Lanjutnya dengan senyuman manis, membuat laki-laki itu mengangguk.
"Ya udah, Pak, saya buru-buru. Sudah di tunggu Pak Rama."
"Mau di antar lagi, Mbak?" Tawar sopir.
"Tidak perlu, nggak akan keburu kalau naik mobil, jalanan macet. Saya sudah pesan ojek online di depan. Permisi, Pak."
Marissa segera menghampiri tukang ojek yang ia pesan. Meminta agar ojol yang mengantarkannya menambah kecepatan, karena ia sendiri di buru waktu. Jangan sampai keburu Rama bangun nantinya.
***
Bagaimana kelanjutannya?
Apakah Marissa berhasil?
Atau justru Rama sudah terbangun dari pingsannya?
Tetap ikuti terus ya...
***
mau kasih sedikit bumbu, nggak terlalu pedes juga. ehh...ternyata pada nggak selera sama suguhannya. tapi nggak papa, skip aja. kalau nggak suka pedesnya seblak, masih ada manisnya martabak, hehehe...
sedikit mengaduk emosi boleh kan kak? biar hidup mereka nggak flat. kasihan nanti Marissa, kontraknya habis dong. padahal masih kejar tayang. Masih punya cicilan dia, wkwkwk...
Makasih yang udah mampir.
Terima kasih juga dukungannya😊
__ADS_1