
Persiapan pernikahan sudah hampir enam puluh persen. Gedung, undangan, souvernir sudah dipersiapkan. Katering semua dari tempat Hasna, bahkan nantinya sebagian pegawai Hasna turut serta dalam acara istimewa itu.
Disaat kebahagiaan di depan mata, Hasna kembali teringat dengan almarhum Kakek serta kedua orang tuanya. Setiap perempuan pasti memimpikan pernikahan yang berkesan sekali seumur hidupnya. Dikelilingi orang-orang yang begitu dicintainya. Diantarkan hingga bersanding dipelaminan dengan laki-laki pilihannya.
Setitik bulir bening menerobos dari kedua sudut mata teduh Hasna. Ia mengingat kembali awal pernikahannya dengan Rama. Laki-laki asing yang baru ia temui saat mengucapkan ijab qobul. Laki-laki yang tidak pernah menerima dan menolak kehadirannya. Laki-laki yang membuatnya harus mempertebal kesabaran di setiap ucapan juga tingkahnya.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Mama. Hasna mengusap sudut matanya yang berair. Perempuan itu pun tersenyum pada Mama mertua.
"Nggak papa, Ma. Hasna hanya merasa jika Hasna sedang merindukan ayah, ibu juga Kakek." Mama menatap mata basah Hasna. Mata itu memancarkan kerinduan.
Mama membawa Hasna ke dalam pelukan. Tidak terdengar isakan, namun terasa jika menantunya itu u menghirup nafas dalam berulang.
"Mama, Papa, kami orang tua kamu juga, Sayang. Kami yang akan mendampingi kamu. Kami memang tidak bisa menggantikan posisi ayah dan ibu kamu, tapi kami begitu menyayangi kamu seperti putri kami sendiri." Ucap Mama.
"Kamu jangan pernah berpikir jika kamu sendiri. Ada kami." Hasna merasa tenang dalam dekapan Mama.
Memang benar adanya, Mama mertua sangat menyayanginya, bahkan seperti ibu kandungnya sendiri. Tapi walau bagaimanapun, ibu adalah sosok wanita yang begitu istimewa dalam hidup Hasna. Meskipun beliau membersamai Hasna hingga berusia sepuluh tahun saja, tapi kenangan disaat mereka bersama begitu melekat di hati Hasna.
"Ma?" Panggil Rama.
Pelukan kedua perempuan itu terurai. Tatapan Rama lurus pada wajah istrinya yang basah.
"Kamu kenapa?" Hasna hanya menggeleng, dan sedikit memaksakan senyumannya.
"Ma?" Kini Rama menuntut jawaban dari ibu kandungnya itu.
"Hasna nggak papa, cuma lagi kangen aja." Jawab Mama singkat.
Terdengar hembusan nafas berat dari laki-laki itu. Hanya masalah kangen, istrinya sampai menangis.
"Baru juga dua hari aku tinggal ke luar kota, kamu udah kangen aja. Sini aku peluk." Rama merentangkan tangannya di hadapan Hasna, menanti perempuan itu masuk ke dalam pelukannya.
"Siapa juga yang kangen sama kamu? GeEr." Celetuk Mama. Rama menurunkan kembali kedua tangan yang sudah direntangkan ya lebar.
"Lalu, siapa yang kamu rindukan?" Tanya Rama penuh selidik. Jangan-jangan ada hal yang ia lewatkan saat berada di luar kota kemarin.
"Nggak usah suudzon dulu, Hasna itu lagi kangen sama Kakek juga kedua orang tuanya." Jawab Mama.
Oh, jadi itu alasannya? Rama semakin mendekat pada istrinya. Membawa perempuan itu ke dalam dekapannya. Dikecupnya lembut puncak kepala yang berbalut jilbab itu.
"Sudah pernah aku katakan, kami adalah keluarga kamu sekarang. Kami sangat menyayangimu. Bahkan aku merasa aku ini anak tiri di sini, Mama begitu menyayangi kamu daripada aku anak kandungnya." Rama melirik pada Mama yang menghadiahinya tatapan tajam.
"Iya, memang benar kalau kamu itu anak tiri. Kalau anak kandung Mama, pasti semanis Nayla, juga Hasna. Nggak nyebelin kayak kamu." Ucap Mama membuat Rama memasang wajah yang masam. Hasna tersenyum mendengarnya.
"Kamu dengar sendiri kan?" Senyuman kembali terbit di kedua sudut bibir Hasna.
Rama menangkup kedua pipi Hasna dan menatap dalam manik indah itu.
"Jangan pernah merasa sendiri, karena kamu punya aku. Punya Mama, Papa, Nayla, juga anak-anak kita nantinya." Ucap Rama lembut.
Satu kecupan ia hadiahkan pada bibir ceri yang sangat ia rindukan rasanya. Bahkan ia tidak lagi menyadari dimana posisinya berada saat ini. Mama membolakan kedua matanya dengan sempurna melihat aksi tak terduga putranya. Satu tepukan yang lumayan keras mama hadiahkan di pundak Rama.
"Kalau mau ngapa-ngapain, lihat dulu situasinya. Kebiasaan kamu." Omel Mama.
"Mama apaan sih, Ma. Sakit tau. Merusak kesenangan saja." Gerutu Rama.
"Ntar kalau cidera aku sakit lagi, bakalan puasa lama aku, Ma."
Mama menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Rama. Nayla benar jika putranya ini merupakan versi lite dari suaminya semasa muda.
***
Hampir tiga minggu Kevin menutup dirinya dari urusan di luar pekerjaan. Berusaha melupakan perempuan yang begitu dicintainya. Perempuan yang berhasil mengubah arah hidupnya menjadi lebih baik. Tapi takdir tak berbaik hati pada nasib cintanya.
Di saat telah menentukan bagaimana harus membawa hubungannya, justru ia dihadapkan pada kenyataan yang membuatnya harus mengubur rasa cintanya. Merelakan perempuan istimewanya melanjutkan hidupnya dengan laki-laki yang dicintai. Laki-laki yang dipilih untuk menjadi imam dalam hidupnya. Laki-laki yang dipilih untuk menjadi teman hingga akhir hayatnya. Menemani dalam suka dan dukanya.
Bahagia, itu yang harus ia lakukan, meski tidak ia rasakan. Bahagia melihat perempuan yang dicintainya bahagia walau bukan dirinya yang menjadi sumber kebahagiaannya. Bahagia untuk setiap rasa bahagia perempuan yang dicintainya. Bahagia.
Kevin memandang foto perempuan istimewanya. Hasna. Foto itu ia ambil secara tidak sengaja saat pertemuannya dengan Hasna di restoran Italia waktu itu. Perempuan itu begitu cantik dalam balutan hijabnya, begitu cantik saat tersenyum.
__ADS_1
"Kenapa rasanya sesakit ini, Hasna?" Kevin mengusap lembut foto yang terbingkai tepat diwajah Hasna.
"Aku sudah berusaha mengikhlaskan kamu untuk bahagia bersama lelaki yang menjadi suami kamu. Dia lelaki yang beruntung Hasna. Berbahagialah selalu bersamanya." Kedua matanya terasa memanas.
Kevin menengadahkan pandangannya, jangan sampai ia menitikkan air mata. Dia harus bahagia.
"Semoga aku pun bisa berbahagia Hasna. Mungkin kita tidak berjodoh di kehidupan sekarang. Semoga kita bisa berjodoh di kehidupan berikutnya." Kevin memejamkan matanya perlahan, dan bulir bening itu menerobos tanpa permisi.
Kevin membuka kotak beludru berwarna biru, berisi cincin yang akan ia sematkan di jari manis Hasna. Ia mengambil cincin itu dan tersenyum. Senyum yang ia paksakan.
"Ternyata cincin ini tidak bertuan." Lirihnya. Kevin kembali menutup kotak beludru itu dan menyimpannya kembali di laci nakas tempat tidurnya.
***
Tok, tok, tok.
Tok, tok, tok.
Suara ketukan terdengar beberapa kali. Namun sang pemilik rumah tak kunjung membukakan pintu.
Tok, tok, tok.
"Sebentar." Terdengar sahutan dari dalam rumah yang diikuti dengan derap Langkan mendekat ke arah pintu.
Cklek.
Seorang perempuan muda berdiri tepat didepan pintu.
"Siska?"
Siska tersenyum hangat menatap perempuan di hadapannya. Marissa, sahabatnya itu terlihat lebih berisi sekarang, mungkin karena kehamilannya. Wajahnya juga nampak lebih segar, mungkin hatinya sedang bahagia. Konon, kalau orang hamil merasa bahagia, maka wajahnya nampak berseri.
"Lo nggak nyuruh gue buat masuk?" Tanya Siska, karena Marissa tak kunjung mempersilahkan dirinya masuk.
Marissa tak mengucap sepatah kata pun, namun membukakan pintu rumahnya lebar-lebar. Siska mengekor di belakangnya, lalu duduk di sofa kecil di ruang tamu.
Marissa keluar dengan membawa dua gelas minuman juga camilan. Meletakkannya di atas meja.
"Gimana kabar kabar lo?" Siska mencoba memulai obrolan.
"Baik." Jawab Marissa singkat.
Siska memperhatikan raut wajah Marissa. Terkesan tidak bersahabat.
"Sa, gue mau minta maaf sama lo. Maaf gue nggak bisa memahami permasalahan dari sudut pandang lo. Gue_"
"Lo mau apa sebenernya? Kalau lo cuma mau ceramah, mending lo pulang, gue pingin istirahat." Ucap Marissa, lantas perempuan itu beranjak dari duduknya.
"Sa..." Siska meraih pergelangan tangan Marissa.
"Gue bener-bener minta maaf, maaf gue nggak bisa mahamin situasi lo saat itu. Harusnya gue tetep berdiri disamping lo. Kita sahabatan udah lama banget, hampir tujuh tahun. Gue nggak mau jika persahabatan kita hancur cuma gara-gara masalah ini. Maafin gue, Sa." Siska meremas lembut jemari Marissa, berharap ia bisa mendapatkan meluluhkan kembali hati sahabatnya itu.
Sepertinya usaha Siska berhasil. Tatapan tajam yang sedari tadi menghiasi wajah Marissa, melunak seketika. Mungkin hormon kehamilan yang membuatnya merasakan mood swing seperti sekarang ini. Hatinya seketika luluh mendengarkan perkataan Siska.
"Duduk dulu, yuk." Siska menggandeng Marissa agar duduk bersamanya.
"Gimana kandungan lo?" Tanya Siska lembut.
"Baik, di sehat." Marissa memaksakan senyumnya, mengusap lembut perutnya.
"Boleh, gue pegang?" Tanya Siska penuh harap.
Marissa terlihat ragu, namun menganggukkan kepalanya. Tangan Siska terulur untuk menyentuh perut Marissa yang masih terlihat datar. Diusapnya lembut perut itu.
"Udah berapa bulan, Sa?"
"Jalan tiga belas minggu."
"Udah berasa belum gerakannya?" Tanya Siska, Marissa menggeleng.
__ADS_1
"Dokter bilang, nunggu sampai usia enam belas minggu, baru mulai terasa gerakannya." Jawab Marissa antusias.
Siska dapat merasakan raut kebahagiaan yang terpancar dari wajah cantik perempuan itu.
"Andaikan lo bisa menerima kenyataan jika anak dalam kandungan lo ini adalah anak Tomi, pasti lo akan hidup bahagia, Sa. Tomi laki-laki yang baik, terlebih dia tulus mencintai lo. Belum tentu hal yang sama lo dapatkan dari Rama. Bagaimana nantinya jika Rama tau lo udah menjebak dia? Menipu dia dengan mengatakan lo hamil anaknya. Lo pasti akan malu sendiri, Sa. Semoga saja lo sadar, kalau apa yang lo lakuin ini salah."
"Ee...lo udah periksa bulan ini?" Tanya Siska. Marissa mengangguk dengan senyuman di wajahnya.
"Boleh gue lihat foto janin lo? Gue pengen tau gimana ponakan gue." Pinta Siska.
"Bentar."
Marissa beranjak ke dalam kamarnya. Tak lama ia memberikan foto hasil USG miliknya kepada Siska.
"Yang ini ya?" Siska menunjuk gambar bulatan kecil.
"Iya."
"Foto yuk." Marissa mengerutkan keningnya.
"Maksud gue lo foto, sambil pegang hasil USG ini. Foto ala-ala maternity gitu." Marissa nampak ragu.
"Kalau nggak mau ya nggak papa sih. Kemarin temen kantor gue foto maternity pake konsep kayak gini. Di tiap bulannya sampai usia kandungannya menginjak sembilan bulan. Dengan pose yang sama dan baju yang sama. Pas dia lahiran, foto sama baby nya, dengan background foto-foto sebelumnya. Hasilnya keren banget."
Marissa nampak berpikir sejenak. Sepertinya Marissa sedikit tertarik dengan usulan Siska.
"Gue mau dong, lo fotoin ya. Ntar kirim ke gue." Ucap Marissa.
"Siap, gue cetakin ntar." Siska menyambut dengan senang hati permintaan Marissa.
"Bentar, gue rapiin make up dulu."
"Oke." Siska mengangguk dengan senyuman.
Tak berselang lama Marissa kembali ke ruang tamu dengan mengenakan dress floral warna peach. Sedikit sapuan make up natural, menambah kecantikan perempuan hamil itu.
Dengan arahan Siska, Marissa melakukan beberapa pose. Dan hasilnya membuatnya tersenyum lebar.
"Gue kirim ya, ntar lo lihat-lihat dulu. Lo pilih yang mana yang mau di cetak. Ntar lo tinggal bilang." Siska mengirimkan beberapa file foto yang berhasil di jepretnya kepada Marissa.
~Semoga bisa mengobati rasa rindu lo sama calon anak lo.~ Siska.
Rupanya perempuan itu mengirimkannya juga pada Tomi. Pasti laki-laki itu sangat senang.
~Thanks banget ya, Sis. Foto ini berarti banget buat gue. Foto calon anak gue juga ibunya.~ Tomi.
~Marissa kelihatan cantik banget.~ Tomi.
~Aura bumil memang sungguh mempesona.~ Siska.
~Semoga lo bisa kumpul bareng anak lo juga ibunya nanti.~ Siska.
~Aamiin... thanks banget ya, Sis.~ Tomi.
~Iya sama-sama. Santai aja, asal jangan lupa traktirannya saja, wkwkwk~ Siska.
~Beres kalau itu.~ Tomi.
"Sis, lo chattingan sama siapa?" Tanya Marissa penuh selidik.
"Aa...ini, sama ponakan gue, minta beliin es krim, cokelat, kebab, sama cupcake." Jawab Siska sedikit gelagapan. Untung saja anak dari Kakaknya bisa ia jadikan alasan.
"Banyak amat? Emang sanggup dia makan sebanyak itu?" Tanya Marissa.
"Tau nih, tau aja kalau tantenya abis gajian." Ucap Siska diselingi tawa ringan.
"Kalau masalah ngabisin sih, pasti emaknya ikutan juga. Kakak gue emang suka gitu, pengen jajan tapi anaknya yang suruh delivery order ke gue. Biar free katanya." Kali ini alasan Siska tidak sepenuhnya bohong, tapi memang kebiasaan kakaknya seperti itu. Mengatas namakan anaknya untuk mendapatkan jajan gratis dari dirinya.
***
__ADS_1