Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 137


__ADS_3

Hasna mulai menunjukkan reaksi. Jari tangan kanannya mulai menunjukkan pergerakan.


"Hasna? Sayang?" Rama segera mendekat pada ranjang istrinya.


Perlahan kelopak mata itu bergerak. Dengan cepat Rama menekan tombol yang ada di sebelah ranjang Hasna. Berharap Dokter segera memastikan keadaan istrinya.


"Hasna? Sayang? Kamu bisa dengar aku?" Rama mengusap lembut pipi Hasna.


"Semoga kali ini Hasna benar-benar sadar." Ucap Bu Diana.


Tak berselang lama, dokter yang biasa menangani Hasna datang bersama seorang perawat.


"Maaf, bisa minggir sebentar." Ucap Dokter pada Rama. Rama segera bergeser posisi, dan tetap memperhatikan Dokter yang memeriksa istrinya.


Dokter mulai memeriksa Hasna, memastikan jika pasien mereka telah tersadar dari komanya.


"Bu Hasna?" Panggil Dokter.


Mata yang selalu tertutup itu kini terbuka.


"Bu Hasna, bisa mendengar saya?" Tanya Dokter.


Hasna menoleh pada Dokter, dan berkedip serta sedikit menganggukkan kepalanya.


"Alhamdulillah. Pasien sudah sadar." Ucap Dokter pada semua yang ada dalam ruangan itu.


"Alhamdulillah." Ucap mereka semua.


Rama langsung sujud syukur untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Sang pemilik kehidupan, yang telah memberikan kesempatan untuk istrinya agar bisa kembali berkumpul bersamanya dan keluarga.


Nayla membangunkan Rama dari sujudnya. Laki-laki itu terduduk dengan mata berlinang. Nayla memeluk saudara laki-lakinya itu.


"Hasna sadar." Ucap Rama. Laki-laki itu tersenyum di sela isakannya.


Nayla mengangguk cepat. Hal yang sama Nayla lakukan, gadis itu menitikkan air mata bahagianya.


"Tersenyum, Kak. Kakak harus terlihat tampan di depan Mbak Hasna." Ucap Nayla.


Rama mengusap pipinya yang basah. Lalu berdiri dan mendekat ke arah istrinya.


"Selamat, Pak Rama. Istri anda berhasil sadar dari komanya." Ucap Dokter penuh haru.


"Terima kasih, Dokter. Terima kasih." Ucap Rama.


"Bu Hasna, apa yang anda rasakan?"


Terlihat Hasna mulai membuka bibir yang terkatup rapat seminggu ini.


"Baiklah, nanti kami akan memeriksa kembali kondisi Bu Hasna." Ucap Dokter tanpa menunggu jawaban Hasna. Hasna hanya berkedip sebagai jawaban.


"Jangan terlalu memforsir pasien." Rama mengangguk mengerti.


"Kami akan tetap memantau kondisi Bu Hasna. Kami permisi." Dokter pun meninggalkan ruangan bersama perawat yang mendampinginya.


Rama kembali mengusap matanya yang mengembun. Menyingkirkan kabut yang menutupi pandangannya. Laki-laki itu tersenyum di sela lelehan air matanya.


"Assalamu'alaikum, Sayang." Lirihnya. Rama bahkan tak sanggup untuk sekedar mengucapkan kalimat panjang pada Hasna. Semua terasa tertahan di kerongkongan.


Perlahan Hasna menarik kedua sudut bibirnya membentuk lengkungan walaupun samar. Mata teduh itu kini bisa kembali menatap laki-laki yang menjadi cinta pertamanya. Bibir yang nampak kering itu bergetar, seperti hendak mengucapkan sesuatu.


"Kamu butuh sesuatu?" Tanya Rama.


"Wa, wa'alaikumus...salam, Mas." Lirih Hasna.


Rama langsung memeluk perempuan yang masih berbaring itu. Di kecupnya berkali-kali wajah yang selalu dirindukan senyumannya.

__ADS_1


Bu Diana menarik Nayla untuk menjauh. Memberikan anak dan menantunya ruang untuk melepaskan rindu mereka.


"Kamu tau? Aku sangat takut jika kamu tidak bangun kembali. Aku takut kehilangan kamu." Rama kembali terisak. Hasna hanya tersenyum mendengarnya.


"Kenapa kamu tidak bilang, jika kamu hamil? Kenapa?"


Tangan Hasna bergetar terulur menyentuh perutnya yang tertutup selimut.


"Ma...af." Lirihnya.


"Dia...baik...baik...saja?" Rama mengangguk sebagai jawabannya.


"Kamu harus sehat, bukan hanya aku yang membutuhkan kamu. Tapi anak kita juga butuh ibunya yang sehat." Rama mengecup tangan Hasna yang ada dalam genggamannya.


"Aku...haus..."


"Sebentar." Rama mengambilkan sebotol air mineral yang ada di atas nakas.


"Pelan-pelan." Rama membantu Hasna untuk minum.


Rama kembali meletakkan botol air mineral di tempatnya semula.


"Apa yang kamu rasakan?" Rama meremas lembut jemari Hasna.


"Kepalaku rasanya sakit."


"Apa perlu aku panggilkan dokter?"


"Tidak perlu. Aku masih ingin di temani Mas Rama."


"Apa kamu merindukanku?"


"Sangat."


"Coba katakan."


Rama tersenyum mendengar kata-kata yang Hasna ucapkan. Tanpa Hasna duga, Rama mendaratkan kecupan di bibirnya. Memberikan sedikit ******* di sana.


"Ramaaa..."


"Kak Ramaaa..."


Pekik Bu Diana dan Nayla bersamaan. Ciuman pun berakhir.


"Kebiasaan kamu, ya. Nggak tau tempat." Omel Bu Diana.


"Tau nih, kak Rama."


Kedua pipi Hasna nampak bersemu merah. Sedangkan Rama tak menghiraukan ucapan mereka.


"Ah...kalian selalu merusak suasana." Gerutu Rama.


***


Marissa menatap kosong ke sembarang arah. Rama benar-benar tidak main-main. Laki-laki itu benar-benar memperkarakan kasus kecelakaan yang melibatkan dirinya, juga Hasna sebagai korbannya.


Marissa mengusap lembut perutnya yang sudah membesar itu. Usia kandungannya sudah memasuki bulan ke delapan, itu artinya sebentar lagi ia akan melahirkan. Sekelebat bayangan buruk menari-nari memenuhi kepalanya.


"Enggak, gue nggak mau di penjara." Marissa menggelengkan kepalanya berulang.


"Gue nggak mau. Gue nggak mau di penjara." Teriak Marissa histeris.


Tomi yang baru saja kembali dari luar, sampai kaget mendengar teriakan yang berasal dari kamar istrinya. Gegas Tomi membuka pintu, dan mendapati Marissa yang tengah duduk bersimpuh di dekat ranjang. Perempuan itu nampak kacau dengan kedua tangan yang menutupi ke dua telinganya.


"Sa, lo kenapa?"

__ADS_1


"Gue nggak mau di penjara, gue nggak mau." Ucap Marissa dengan mata yang telah basah. Perempuan itu berulang kali menggelengkan kepalanya.


Tomi menghirup nafas panjang, ia sendiri tidak menginginkan terjebak dalam situasi seperti saat ini. Terlebih melihat kerapuhan yang Marissa tunjukkan. Ini sungguh tidaklah baik. Terlebih perempuan itu tengah hamil.


Tomi mendekat, dan membawa Marissa ke dalam pelukannya.


"Lakuin sesuatu, Tom. Lakuin sesuatu. Please." Ucap Marissa. Perempuan itu berulang kali menarik baju yang Tomi kenakan.


"Tomi, please. Lakuin sesuatu. Gue nggak mau di penjara. Gue nggak mau sampai ngelahirin anak ini di sana." Cicitnya.


Marissa benar, hal yang sama juga tidak Tomi inginkan. Tomi tidak ingin jika anak itu sampai terlahir dalam penjara. Terlebih dengan kondisi ibunya yang tertekan seperti ini.


"Tomi, please." Suara isakan semakin mendominasi. Bahkan Marissa memeluk Tomi dengan begitu erat.


***


Sekali lagi, Tomi berdiri di depan gedung bertuliskan "Paviliun Teratai". Gedung di mana istri Rama Suryanata dirawat. Sekali lagi, ia akan meminta kemurahan hati Rama untuk Marissa.


"Ya Allah, semoga ada sedikit harapan. Hufft... bismillah." Gumam Tomi.


Gegas Tomi masuk dan menuju lift untuk mengantarkannya ke lantai dua.


Kamar nomor 52. Hanya melihat angkanya saja, dada Tomi sudah berdebar kencang. Keringat serasa membanjiri seluruh tubuhnya.


Tok, tok, tok


Akhirnya tangannya pun terayun mengetuk pintu kamar Hasna. Terlihat laki-laki itu berulang kali menarik nafas panjang untuk mengurai kegelisahan.


Cklek


Pintu pun terbuka. Seorang gadis muda berdiri tepat di ambang pintu. Sepersekian detik Tomi tidak mengalihkan pandangannya.


"Ya?"


"Maaf, apa benar ini ruangan istri Rama Suryanata?" Tanya Tomi. Laki-laki itu hanya ingin memastikan jika Hasna tidak dipindahkan ruangan.


Nayla memindai laki-laki yang ada di hadapannya. Asing. Mungkin salah satu teman kakaknya.


"Iya benar, dengan siapa, ya?"


"Saya, Tomi."


"Emmm...bisa bertemu dengan Pak Rama?"


Nayla membukakan pintu lebih lebar agar Tomi bisa masuk. Belum juga Nayla membuka suara, Rama sudah berada di balik tubuhnya.


"Kamu? Ada apa lagi?" Tanya Rama dengan nada yang terdengar tidak bersahabat. Tatapannya pun terlihat menajam.


Nayla sudah bisa menebak, jika ada aura yang tidak beres pada kedua lelaki ini. Segera ia beringsut dan kembali ke dalam. Biarlah Rama sendiri yang mengurus tamunya. Ia tidak ingin ikut campur.


"Maaf, Pak jika kedatangan saya menganggu. Tapi...saya butuh sekali bicara dengan Pak Rama." Ucap Tomi.


Rama gegas menutup pintu, dan membawa Tomi menjauh dari kamar istrinya. Di dalam ada Mama juga adiknya. Jangan sampai mereka mengetahui masalah ini.


Tomi mengikuti Rama menuju balkon lantai dua. Tempat yang cukup sepi. Setidaknya mereka bisa sedikit leluasa saat berbicara.


"Mau apa lagi kamu menemui saya? Jika apa yang kamu sampaikan sama seperti tempo hari, maka jawaban saya pun tetap sama." Ucap Rama.


Tomi menelan ludahnya dengan susah payah. Belum juga ia mengutarakan apa yang menjadi tujuannya kemari, tapi Rama sudah memberinya ultimatum demikian. Pasti akan sangat sulit sekali.


"Maaf, Pak. Kedatangan saya memang ingin menyampaikan hal yang sama pada Bapak. Tapi saya mohon dengan sangat_"


"Pergilah, tidak ada gunanya kamu membuang waktu untuk hal yang tidak penting seperti ini." Potong Rama dengan cepat.


Tomi membuang nafasnya dengan kasar. Tapi ia sudah bertekad akan memperjuangkan hal yang sulit untuk di kabulkan oleh Rama.

__ADS_1


"Pak Rama, saya mohon. Ini demi anak yang ada dalam kandungan Marissa. Saya sungguh tidak keberatan jika nanti pada akhirnya Marissa akan menjalani hukumannya di penjara. Tapi saya mohon, tolong berikan keringanan, agar Marissa bisa menjalankannya setelah ia melahirkan." Ucap Tomi, bahkan laki-laki itu sampai menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


***


__ADS_2