
Masih banyak pertanyaan yang berputar di benak Hasna tentang Marissa. Tapi sebaiknya ia menyimpan semua, karena sikap yang Rama tunjukkan, sudah tidak bersahabat saat ia menyebut nama mantan sekretaris suaminya itu.
Ganjaran. Kata itu yang Hasna garis bawahi. Apa maksudnya? Ganjaran apa? Balasan? Balasan yang bagaimana yang Rama maksudkan? Apa jangan-jangan...?
"Astaghfirullahal'adzim." Lirih Hasna. Kalimat itu yang mampu ia ucapkan berkali-kali, berusaha mengusir kegundahan yang menggelayuti hatinya.
Cklek
Hasna tersentak dari lamunannya, senyuman hangat Rama menyapa dirinya. Hasna mengikuti gerak-gerik suaminya, yang semakin mendekat dengannya.
"Sedang apa?" Rama memposisikan duduk di hadapan Hasna.
"Tidak." Hasna mengeleng pelan.
Rama menatap lekat wajah cantik di hadapannya. Seperti tengah ada yang istrinya pikirkan. Perempuan itu nampak gelisah.
"Hmmm... sepertinya ada yang mengganggu pikiran istriku. Coba katakan, mungkin suami tampan mu ini bisa membantu." Rama mengusap lembut surai Hasna yang kembali memanjang.
Perempuan itu menunduk dan kembali menggeleng.
"Kenapa? Mas buat salah sama kamu?" Hasna kembali menggeleng.
Rama membuang nafasnya dengan kasar. Sepertinya apa yang Hasna pikirkan tidak jauh dari Marissa. Sebaiknya ia tidak mengungkit atau memaksa Hasna berbicara. Karena dia sendiri pun enggan membicarakannya.
"Baiklah." Rama beralih mengusap perut Hasna yang semakin membesar.
"Assalamu'alaikum, anak ayah." Rama mencondongkan tubuhnya agar wajahnya sejajar dengan perut Hasna.
"Kamu tidak keberatan kan jika aku meminta anak kita memanggilku ayah?" Hasna mengerutkan keningnya, lantas menggeleng.
"Ayolah, Sayang. Katakan sesuatu. Jangan hanya menggeleng saja dari tadi. Aku tidak sepeka itu." Ucap Rama.
Perempuan itu menarik sudut bibirnya. Ya, memang benar jika Rama tidak sepeka itu.
"Tidak, aku tidak keberatan." Akhirnya ada kalimat yang Hasna ucapkan.
"Baiklah, jika kamu tidak keberatan, mulai hari ini panggillah aku ayah. Agar anak kita nantinya ikut belajar memanggil dengan sebutan yang sama." Pinta Rama. Hasna reflek mengerutkan keningnya.
"Aku manggil Mas Rama, dengan sebutan, ayah?" Tanya Hasna. Bahkan perempuan itu menekan kata ayah untuk memastikan jika memang itu benar maksuda dari perkataan suaminya.
Rama mengangguk cepat, karena memang itu yang ia minta.
"Kenapa?" Rama melihat ekspresi terkejut yang tergambar jelas di wajah cantik sang istri, bahkan seolah menolak permintaannya secara tidak langsung.
"Ya...nggak papa sih. Cuman, apa tidak terlalu dini aku manggil Mas Rama gitu?" Tanya Hasna. Pasalnya ia pun belum melahirkan.
"Aku rasa tidak. Justru kamu harus membiasakan memanggil aku dengan sebutan ayah, agar kamu juga terbiasa."
"Tapi, Mas_"
"Apa kamu mau, kalau anak kita panggil aku dengan sebutan 'Mas Rama' sama seperti kamu manggil aku?" Hasna menggeleng.
"Nah, trus?"
__ADS_1
"Maksud aku, aku kan bisa panggil Mas Rama gitu kalau lagi sama anak kita. Kalau kita hanya berdua, rasanya menggelikan." Lantas perempuan itu tertawa.
"Kenapa?"
"Ya...kalau aku panggil ayah sama Mas Rama saat kita berdua, kok kesannya aku seperti anak remaja yang sedang bersama ayahnya." Kekeh Hasna. Sepertinya benar-benar menggelikan, hingga nampak kedua pipi Hasna yang bersemu merah saat tertawa.
Rama menggaruk pelipisnya. Sepertinya apa yang Hasna katakan cukup masuk akal. Apalagi usia mereka terpaut tujuh tahun. Belum lagi wajah Hasna yang baby face, bisa-bisa benar-benar terjadi apa yang istrinya katakan. Bisa gawat nanti. Jangan sampai ada generasi Bian yang muncul setelah ini.
"Mas? Kok diem?" Hasna menggoyangkan tangan Rama.
"Hmm?"
"Kok diem? Kenapa?" Tanya Hasna.
"Tidak." Rama menggeleng.
Kening Hasna semakin berkerut di buatnya. Yang sedari tadi banyak bicara, tiba-tiba saja Rama diam seribu bahasa.
Hening, keduanya terdiam dan larut dengan pikirannya masing-masing.
"Emmm... Kalau begitu, jangan panggil aku ayah." Ucap Rama memecah keheningan.
"Iya, Mas?"
"Jangan panggil aku, ayah." Lirih Rama, membuat Hasna tersenyum mendengarnya.
"Kenapa?"
"Ya... pokoknya, jangan." Aneh sekali, pikir Hasna. Permintaan Rama sudah berubah 360 derajat.
Hasna nampak menantikan jawaban dari Rama. Laki-laki itu terdiam, dan berusaha mencari jawaban yang pas, agar Hasna tidak menertawakan saat ia mengatakan alasan yang sedari tadi ada di kepalanya.
"Ya, Aku hanya tidak mau kalau kamu menganggapku sebagai seorang ayah." Hasna mengerutkan keningnya. Rama menyadari ekspresi yang Hasna tunjukkan.
"Kenapa kamu lihatin aku seperti itu?" Laki-laki itu nampak keberatan saat Hasna menatapnya penuh heran.
"Nggak sih, Aku nggak menganggap gitu. Aku kan cuma bilang, seperti."
"Aku hanya tidak mau, mereka salah menganggap hubungan kita. Nanti dikiranya aku sugar Daddy lagi. Lalu muncul Bian-Bian lainnya yang deketin kamu." Hasna tak kuasa menahan tawanya. Kenapa juga Rama bisa berpikir sejauh itu. Sugar Daddy? Lalu Bian? Kenapa juga teman kampus Nayla ikut disangkut pautkan juga?
"Kenapa tertawa?"
"Tidak, hanya saja aku berpikir. Kok bisa, ya, kamu mikirnya sejauh itu? Sugar Daddy?" Hasna masih saja terkikik geli. Istilah aneh, yang menggambarkan jika dirinya adalah simpanan Om-om.
"Udah kayak simpanan Om-om aku, Mas." Perempuan itu kembali tergelak.
"Kayaknya seneng banget di bilang simpanan Om-om." Mata tajam itu menyipit, melihat wajah sumringah yang istrinya tampakkan.
"Seneng banget lah, kalau om-om nya seganteng dan sekaya Mas Rama." Tawa Hasna semakin pecah.
"Ckk...menyebalkan." gerutu Rama melihat tawa istrinya yang seolah tengah menertawakan dirinya.
"Udah ah, Mas. Perutku kram rasanya." Ucap Hasna saat tawanya mereda.
__ADS_1
"Kram?" Hasna mengangguk.
Seketika wajah Rama berubah menjadi panik. Ia ingat betul salah satu bahaya kehamilan adalah berawal dari kram pada perut.
"Kita ke rumah sakit sekarang."
"Rumah sakit? Buat apa?"
"Katanya perut kamu kram?"
"Siapa bilang kalau perut aku kram. Perut aku rasanya kaku kebanyakan ketawa." Jelas Hasna.
"Hufft... syukurlah." Rama membuang nafasnya dengan lega.
"Dek, lihatlah. Emak kamu benar-benar nyebelin." Ucap Rama sembari mengusap pipi Hasna.
"Kok emak sih? Iiihh... Mas Rama nyebelin." Akhirnya Rama berhasil membuat istrinya merasa kesal juga.
***
Dua bulan sudah, Marissa menjalani hukumannya di balik jeruji besi. Dan selama itu pula, hanya Siska yang selalu melihat keadaannya di sana. Sepekan sekali, perempuan itu pasti datang dengan membawakan makanan yang lezat dari luar sana.
Lezatnya makanan yang kerap Marissa nikmati, kini rasanya sangatlah istimewa di lidahnya. Dan makanan yang kerap ia caci saat Tomi bawakan sepulang kerja, kini terlihat jauh lebih istimewa dari makanan yang tiap harinya ia nikmati bersama teman-temannya di sini.
Tomi. Entah kemana laki-laki itu. Semenjak penangkapannya, laki-laki itu tak menampakkan batang hidungnya sama sekali. Bahkan setelah ia melahirkan pun, laki-laki itu hanya dua kali menemuinya. Dan pertemuan terakhir mereka, saat Tomi menjatuhkan talaknya. Laki-laki itu menepati janjinya. Menikahi hanya untuk bertanggung jawab atas perbuatannya. Tidak pernah menyentuhnya, dan membebaskan dirinya setelah melahirkan. Bahkan laki-laki itu tidak mengizinkannya untuk melihat bayi yang baru saja ia lahirkan.
"Saudari Marissa, ada yang ingin bertemu." Ucap salah seorang petugas lapas.
Marissa berjalan mengikuti petugas itu dari belakang, hingga ke ruang kunjungan. Siska, perempuan berambut sebahu itu nampak tersenyum ke arahnya.
"Makasih." Ucap Marissa pada petugas. Petugas pun segera meninggalkan Marissa dan Siska.
Siska langsung menghambur ke dalam pelukan Marissa. Selalu saja terasa haru saat menjenguk sahabatnya itu. Marissa tidak memiliki keluarga, dan Siska yakin jika hanya dirinya yang mengunjungi perempuan itu di sini.
"Gimana kabar lo?" Tanya Siska saat pelukan mereka terurai.
"Baik." Keduanya lantas duduk berhadapan dengan sekat meja panjang di antara mereka.
Siska memindai penampilan Marissa. Wajah perempuan itu nampak kusam dengan tubuh yang sedikit lebih kurus.
"Gue bawain makanan kesukaan lo, Sa." Siska mendorong pelan paperbag berisikan makanan di hadapan Marissa.
"Makasih."
Semenjak melahirkan, Marissa lebih pendiam. Bahkan setiap Siska berkunjung ke kontrakan, ia yang lebih banyak bicara. Dan Marissa hanya menjawab sekenanya.
"Ada kabar tentang anak gue?" Tanya perempuan itu penuh harap.
Pertanyaan inilah yang selalu membuat Siska merasa bersalah. Ia merasa gagal menjalankan amanah dari Marissa untuk mencari tahu keberadaan bayinya. Katakanlah Tomi egois, tapi laki-laki itu pun sudah mempertimbangkan semuanya matang-matang. Bukan tanpa alasan Tomi membawa serta bayinya, dan menjauhkan putranya dari ibu kandungnya. Ia sangat khawatir jika Marissa kembali nekat melakukan hal-hal yang bisa membahayakan orang lain dan melibatkan putranya. Terlebih Marissa pun sudah menyatakan dari awal jika ia tidak menginginkan bayinya.
***
Maaf kemarin nggak sempat up. udah disiapin tapi author nya ketiduran😴😴, abis ngurir seharian🤭
__ADS_1
happy reading🥰🥰😘