
Hasna tetap mematung di posisinya. Jangan sampai ada hal yang tidak diinginkan terjadi di tempat umum seperti ini. Apalagi sebentar lagi Rama akan menyusulnya kemari.
Hasna segera berbalik untuk meninggalkan restoran, namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan menahan bahu kirinya.
Hasna perlahan menoleh, dan mendapati sosok Marissa tengah berdiri tepat di belakangnya. Kini kedua perempuan itu saling berhadapan. Pandangan keduanya beradu, Hasna dengan tatapan teduhnya, dan Marissa dengan tatapan tajamnya.
"Akhirnya kita ketemu juga." Ucap Marissa.
Hasna mengulas senyumannya pada perempuan yang berada di hadapannya itu. Sekilas Hasna memperhatikan penampilan Marissa. Terlihat perutnya yang membesar. Jadi tuduhannya pada Rama waktu itu memang tidaklah benar.
"Mbak Marissa."
"Mau kemana? Mau menghindar?" Sinis Marissa.
"Bukankah lebih baik menghindari hal yang bersifat mudharat, selagi ada kesempatan untuk menghindarinya." Ucap Hasna dengan tenang, bahkan perempuan itu mengulaskan senyuman manisnya pada Marissa.
"Nggak usah sok tausiyah di depan gue. Lo pikir sedang pengajian?"
"Menyampaikan sesuatu yang benar, tidak harus menunggu forum pengajian atau semacamnya. Selagi ada kesempatan untuk menyampaikannya, kenapa tidak." Hasna selalu menyunggingkan senyumannya, dan itu membuat Marissa semakin terlihat marah.
"Stop, nggak usah diterusin." Ucap siskan dengan suara yang sedikit meninggi.
Siska menghampiri keduanya. Perempuan yang masih memakai pakaian formal itu merasakan situasi mulai tidak terkendali. Bahkan pengunjung restoran terfokus pada dua perempuan yang tengah berdiri berhadapan itu.
"Sa." Siska menepuk bahu Marissa. Perempuan berambut sebahu itu menggeleng pelan. Mengisyaratkan kepada Marissa agar perempuan itu tidak melakukan hal-hal yang akan membuat mereka menjadi pusat perhatian.
"Lo nggak usah ikut campur. Urusan gue sama perempuan ini." Tunjuk Marissa tepat di wajah Hasna.
"Ayo, ikut gue." Marissa mencekal pergelangan tangan Hasna dan menyeret perempuan itu mengikuti langkahnya.
Siska segera kembali ke dalam restoran untuk mengambil tasnya, lalu menghubungi Tomi. Namun laki-laki itu tak kunjung menjawab panggilannya. Siska segera mengirimkan voice note pada Tomi, berharap laki-laki itu akan mengetahui sesuatu yang disampaikannya melalui pesan suara itu.
"Mbak, kita mau kemana?" Hasna berusaha melepaskan cekalan Marissa di tangannya. Kuat sekali, tak mungkin juga ia mendorong Marissa, mengingat perempuan itu tengah hamil besar.
Marissa tak menjawab dan terus membuat Hasna mengikuti langkahnya. Hingga banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka.
Siska melangkahkan kakinya lebar-lebar berusaha mengejar Marissa dan Hasna. Ternyata kedua perempuan itu tengah berada di dalam lift. Namun sial sekali, pintu lift tertutup bahkan sebelum Siska berada di depan pintunya.
Siska melihat indikator arah yang akan dituju oleh lift yang Marissa dan Hasna tumpangi. Lift bergerak turun ke lantai satu. Gegas Siska berlari menuruni eskalator. Hanya itu satu-satunya sarana yang bisa ia pakai saat ini.
"Maaf, permisi." Dua kata itu berulang kali Siska ucapkan saat tak sengaja menabrak pengguna eskalator lainnya.
Siska setengah berlari menuruni tangga berjalan itu, berharap akan bisa menghentikan Marissa.
Bruukkk...
"Maaf, maaf." Ucap Siska.
Kali ini perempuan itu menabrak seseorang, bahkan menjatuhkan ponsel orang itu dengan tidak di sengaja. Segera ia pungut kembali benda pipih itu, dan menyerahkannya pada si pemilik.
"Sekali lagi maafkan saya, saya buru-buru. Ini ponsel anda." Ucap Siska.
__ADS_1
Sejenak Siska terdiam melihat laki-laki yang baru saja tidak sengaja ia tabrak. Laki-laki itu...
"Rama Suryanata?" Lirih perempuan berambut sebahu itu.
"Ya?" Rama memperhatikan perempuan yang tengah berdiri di hadapannya itu. Sepertinya ia tidak mengenalnya.
"I...istri...istri anda..." Ucap Siska terbata dengan nafas yang tidak beraturan.
"Istri saya? Hasna?" Rama menunjuk dirinya sendiri, memastikan jika perempuan itu memang mengenal Hasna, istrinya. Siska mengangguk cepat.
"Anda mengenal istri saya?" Kali ini Siska menggeleng cepat. Membuat kedua alis Rama bertaut saat melihat respon perempuan itu.
"Bu...bukan... Maksud saya, Marissa... Istri anda..." Siska menunjuk ke sembarang arah. Tiba-tiba saja Siska merasakan kepanikan yang luar biasa saat akan menyampaikan hal itu.
mata Rama membola sempurna. Terlihat sekali keterkejutan di wajah laki-laki itu. Hampir dua bulan ia tidak mendengar kabar perempuan yang pernah menjadi sekretarisnya itu, namun kali ini tiba-tiba saja ada kabar bahwa istrinya dan Marissa...
Jangan sampai ada hal yang tidak baik setelah ini. Rama tau betul bagaimana kenekatan Marissa.
"Tolong katakan yang jelas." Pinta Rama tegas.
"Marissa membawa istri anda menuju ke lantai dasar. Sepertinya mereka akan meninggalkan mall ini." Ucap Siska dengan lancar.
"Apa?" Pekik Rama.
Tanpa berpikir panjang Rama segera berlari keluar menuju pintu utama mall. Berharap akan menemukan dua perempuan itu dengan segera. Netra tajamnya memindai sekeliling area parkir di luar pusat perbelanjaan itu, dan tanpa sengaja ia melihat Hasna yang di paksa masuk ke dalam mobil milik Marissa. Tak lama mobil itu pun melaju pergi meninggalkan parkiran.
"Ah...sial." Ucap Rama seraya memukulkan kepalan tangan kanannya di udara.
Tin...tin...
"Mau sekalian bersama saya?" Tawar Siska.
"Tidak perlu, akan terlalu lama jika menggunakan mobil. Sebaiknya anda pergilah terlebih dahulu." Rama sudah memasangkan helm di kepalanya.
"Jalan, Pak. Ikuti mobil di depan itu, plat xxxx." Ucap Rama pada tukang ojek.
"Siap, Pak."
Kang ojek segera melajukan kendaraan roda dua miliknya, mengikuti mobil yang tadi di tunjuk oleh Rama.
"Pak, bisa tambah kecepatan? Istri saya dalam bahaya." Ucap Rama setengah berteriak karena suara yang terbawa angin.
"Baik, Pak."
Ojek kembali melaju dengan kecepatan lebih tinggi. Namun sayang sekali. Mereka terjebak di lampu merah, dan mobil Marissa melaju semakin jauh di depan mereka.
"Sial." Umpat Rama.
"Kalau melihat arahnya, saya tahu, Pak, jalan tikus yang bisa sampai di persimpangan selanjutnya." Ucap tukang ojek.
"Oke, saya pasrah sama Bapak. Yang terpenting kita bisa menyusul mobil tadi." Ucap Rama pasrah, semoga saja keburu.
__ADS_1
Ojek kembali melaju saat lampu hijau kembali menyala. Kendaraan roda dua itu melaju kencang dan berbelok ke arah gapura kecil di sebelah kiri jalan.
***
"Tom, barusan kita nggak sengaja ketemu sama istrinya Rama Suryanata pas makan di restoran. Dan sekarang Marissa membawa paksa perempuan itu."
Sebuah pesan suara yang Siska kirimkan kepadanya berhasil membuat jantung Tomi berdegup lebih kencang. Tanpa menunggu lama, Tomi segera mendial nomor Siska. Hanya dua kali deringan, panggilan pun diangkat.
"Halo, Sis? Kok bisa sih? Lo kan sama Marissa tadi." Tanya Tomi langsung pada intinya.
Kemarin memang Tomi meminta pada Siska untuk menemani Marissa keluar, ia sebenarnya merasa kasihan saat istrinya itu mengatakan bosan jika berada di rumah seharian. Namun nyatanya, kini perempuan itu mulai berulah.
"Ceritanya panjang, sekarang yang lebih penting menemukan mereka berdua terlebih dulu." Ucap Siska dari seberang telepon.
"Posisi lo sekarang ada dimana?" Tanya Tomi. Laki-laki itu terlihat panik sekarang. Apalagi mengingat Marissa yang begitu nekat, serta kondisi perempuan itu yang tangah hamil besar.
"Gue ada di jalan xx arah jembatan." Jawab Siska.
"Hah?! Ngapain ke arah sana?" Pekik Tomi. Arah yang Siska sebutkan sangatlah jauh, bahkan hampir di perbatasan kota.
"Gue sendiri nggak tau. Kita udah nggak punya banyak waktu." Tukas Siska.
"Oke, oke. Lo share loc jika nanti udah sampai sana. Gue jalan sekarang."
Tomi segera memacu motornya meninggalkan parkiran tempatnya bekerja, dan menuju arah yang Siska katakan. Untung saja ia menggunakan motor saat ini, setidaknya ia bisa mencari celah jika terjadi kemacetan nantinya. Mobil ia jual dan menukarnya dengan motor yang sekarang ia pakai, berharap bisa menambah tabungannya untuk biaya persalinan Marissa kelak. Tapi justru perempuan itu kambali berulah sekarang. Jangan sampai tindakannya berakibat buruk nantinya.
"Awas saja jika tindakan lo kali ini membahayakan anak yang lo kandung. Kalau sampai itu terjadi, gue nggak bakalan bisa maafin lo, Sa."
***
Mobil Marissa terus melaju kencang. Sepertinya perempuan itu melupakan kondisinya yang tengah hamil besar. Hasna memperhatikan jalanan yang mereka lewati, arah luar kota.
"Mbak kita mau kemana?" Ucap Hasna.
Perempuan berkerudung itu nampak panik. Marissa mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Jangan sampai mereka kenapa napa nantinya. Ada dua nyawa yang tengah bersama mereka saat ini. Bukan hanya Marissa yang hamil, tapi dirinya juga.
"Mbak, turunkan kecepatan." Pinta Hasna. Dan Marissa mengabaikan itu.
"Mbak, kita bisa celaka nanti. Tolong turunkan kecepatan." Ucap Hasna setengah berteriak. Tapi justru karena mendengar ucapan Hasna, membuat Marissa semakin menambah kecepatan. Perempuan itu benar-benar seperti kesetanan.
"Mbak, kalau mau celaka, celaka saja sendiri. Jangan melibatkan orang lain."
"Saya sedang hamil, dan saya masih ingin membesarkan anak dalam kandungan saya."
Ckiiiitt...
Suara decit ban mobil yang bergesekan dengan aspal jalanan terdengar begitu nyaring. Tubuh kedua perempuan itu sedikit terpental ke depan saat Marissa menginjak rem dengan begitu dalam.
"Astaghfirullahal'adzim." Lirih Hasna. Perempuan itu memegang keningnya yang terantuk dashboard mobil. Untung saja seatbelt terpasang sempurna. Sejenak Hasna mengatur detakan jantung yang memburu.
Marissa menoleh cepat dan menatap tajam ke arah Hasna.
__ADS_1