
Dua bulan belakangan, Rama berangkat ke kantor selalu di atas jam sembilan. Seluruh pekerjaan sudah Rama serahkan kepada Ivan, dan ia tinggal memeriksa laporannya saja. Rama tidak pernah mengambil lembur semenjak menjelang persalinan Hasna. Sebisa mungkin ia pulang tepat waktu. Dan jika tidak memungkinkan, dan sangat terpaksa, ia akan membawa pekerjaannya yang belum beres ke rumah. Opsi terakhir yang ia pilih, daripada membiarkan istrinya lelah mengurus putranya seorang diri.
Seperti malam ini, setelah makan malam, Rama langsung ke kamarnya di lantai dua. Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya, mumpung masih banyak yang menggantikan Hasna menjaga putra mereka.
"Ma, Hasna tinggal ke atas sebentar, ya. Mau ambilin Mas Rama minum." Ucap Hasna. Bu Diana hanya mengangguk dan kembali fokus pada cucunya.
Hasna segera ke dapur dan membuatkan minuman untuk Rama. Tak lama, perempuan itu membawa secangkir minuman di tangannya, dan segera ke kamar Rama di atas.
Hasna membuka pintu dan mendapati Rama yang serius mengerjakan pekerjaannya. Bahkan, sepertinya ia tengah melakukan panggilan dengan Ivan, asistennya.
"Minumnya, Mas." Hasna meletakkan secangkir minuman di atas meja.
Rama hanya melihatnya sekilas, dan menepuk sebelah pahanya agar Hasna duduk di atasnya. Hasna pun menurut. Satu kecupan mendarat di pipi perempuan itu.
"Ehemmm...maaf, Pak. Jika sudah selesai, saya akan menutup panggilannya." Ucapan Ivan sukses membuat Hasna menatap ke arah layar ponsel Rama yang masih menyala. Ternyata panggilan video. Hasna segera bangkit dari posisinya, namun tertahan karena Rama memeluknya dengan erat.
"Mas." Ucap Hasna tanpa suara. Perempuan itu melirik Rama dan ponselnya bergantian.
"Baiklah, Ivan. Saya rasa besok kita bahas kembali di kantor." Ucap Rama, lalu mematikan sambungan telepon.
"Mas Rama keterlaluan deh." Protes Hasna tepat setelah sambungan telepon terputus.
"Keterlaluan kenapa?" Tanya Rama tanpa rasa bersalah.
"Mas Rama cium-cium saat video call sama Pak Ivan." Kesal Hasna.
"Kenapa emangnya?"
"Ya malu lah, Mas."
"Kenapa harus malu? Kita kan suami istri."
"Tapi ya nggak gitu juga kali, Mas."
"Oke. Kamu maunya gimana?" Rama mengeratkan pelukannya.
"Gimana, maksudnya?"
"Kamu mau lebih selain ciuman mungkin." Hasna reflek menoleh pada Rama.
"Kenapa lihatnya gitu?" Hasna menggeleng cepat.
"Eng...enggak, nggak papa."
"Kok gitu amat lihatinnya?" Hasna diam tak menjawab. Hanya melirik sekilas, karena status sudah berubah siaga satu.
"Nifasnya udah, belum?" Bisik Rama tepat di telinga Hasna.
"Eh, hah?"
"Apa nifasnya sudah selesai?"
"Be... belum, masih dua minggu juga." Ucap Hasna.
"Masih kurang berapa lama lagi?" Rama menyandarkan kepalanya di ceruk leher Hasna.
"Kenapa emangnya?"
"Lama sekali, Sayang. Udah pengen bikin adek buat Reyn." Ucap Rama asal.
"Hah? Reyn masih kecil loh." Sewot Hasna. Perempuan itu berusaha melepaskan diri dari pelukan Rama, tapi sia-sia saja. Karena pelukannya sangat erat.
"Emang kenapa kalau masih kecil? Kan katanya kamu pengen punya banyak anak." Rama ingat sekali saat Hasna mengatakan ingin memiliki anak lebih dari dua. Melihat dirinya dan Nayla, kasihan Mama saat ia mengajaknya pindah ke rumah sendiri. Apalagi jika tidak memiliki saudara sepertinya, bisa hidup sebatang kara nantinya. Dan Hasna ingin hanya dia yang merasakannya. Anak-anaknya jangan.
__ADS_1
"Ya, tapi nggak sekarang juga kali, Mas. Usia Reyn aja masih dua minggu. Bekas jahitannya pun belum kering." Cicit Hasna.
Rama reflek melepaskan pelukannya pada Hasna, bahkan sekarang tubuhnya duduk dengan tegak. Kenapa ia tidak memikirkannya sampai ke sana? Padahal saat ia mengetahui hal itu, ia sampai pingsan.
"Nggak jadi kalau gitu. Cukup Reyn aja." Ralatnya kemudian.
"Kok Reyn aja sih, Mas? Kan kasihan kalau nggak punya saudara. Aku nggak mau ya, kalau Reyn bernasib sama kayak aku. Sendirian."
"Tapi aku nggak tega sama kamu." Ucapnya lesu, dan kembali memeluk Hasna dengan erat.
"Itu sudah menjadi kodratnya perempuan saat melahirkan, Mas. Cukup dampingi dan dukung aku, insya Allah, aku akan kuat. Seperti sekarang, ada kamu, Mama, Papa, Nayla, dan semuanya."
Keduanya lantas terdiam dalam waktu yang cukup lama. Hingga suara Rama kembali terdengar.
"Kira-kira, saat kita melakukannya kembali, sakit tidak? Atau nanti bekas jahitannya malah robek lagi." Hasna membulatkan matanya dengan sempurna mendengar polosnya pertanyaan Rama. Tiba-tiba saja, perempuan itu tersenyum jahil.
"Aku juga khawatir, Mas kalau itu terjadi. Berarti kita tidak usah melakukannya saja kalau begitu." Ucap Hasna dengan lirih, seolah ia benar-benar takut.
Hasna terlihat sangat khawatir saat mengatakannya. Padahal ia sendiri tahu jika itu tidak akan terjadi, karena pada saat ia masih dirawat oleh dokter Yunita pasca persalinannya, dokter cantik itu telah menjelaskan semuanya pada Hasna. Bahkan mengatakan tidak perlu menghawatirkan apapun saat nanti melakukannya kembali untuk pertama kalinya dengan suami. Karena masa nifas, sama dengan masa pemulihan rahim dan jalan lahir.
"Nanti saat kontrol, kita akan konsultasikan dengan dokter Yunita. Atau kita tanya Mama sekarang." Rama menawarkan solusi.
"Kenapa jadi tanya Mama?" Hanya dengan membayangkannya saja membuat Hasna malu.
"Kan Mama sudah berpengalaman, Sayang." Jawab Rama dengan begitu entengnya.
"Ya jangan sama Mama juga kali, Mas. Kan malu."
"Oke, nanti kita tanyakan sama dokter Yunita. Tapi, apa kamu tidak di kasih tahu apapun tentang bagaimana kita memulainya kembali sama dokter Yunita?" Hasna terdiam mendengar pertanyaan Rama.
"Emmm..."
"Sayang?" Tatapan Rama mulai menelisik wajah istrinya.
Rama baru menyadari sesuatu dari gelagat yang Hasna tunjukkan.
"Dosa loh bohongin suami." Kalau sudah terucap mantra pamungkas, Hasna bisa apa? Perlahan perempuan itu mengangguk.
"Lalu, apa kata dokter?"
"Katanya aman, karena masa nifas, masa pemulihan. Baik luka luar maupun dalam, telah pulih seluruhnya." Lirih Hasna.
"Lalu?"
"Aku hanya takut." Rama menarik sudut bibirnya ke atas.
"Makanya bohongin, Mas. Gitu kan?" Hasna tidak menjawab.
"Aku tidak akan bisa menyakiti kamu, Sayang. Apapun itu. Aku pun tidak akan memaksa kamu untuk memberikan hakku sebagai seorang suami, jika kamu tidak ingin memberikannya. Aku ingin, kamu selalu merasa nyaman berada di dekatku." Ucap Rama begitu lembut.
Kenapa jadi begini? Padahal tadi ia berniat hanya untuk menggoda Rama. Tapi kenapa justru ia tidak tega saat Rama mengatakan hal itu kepadanya?
***
Sudah sangat lumrah menjadi pemandangan pagi di meja makan, saat Rama menimang putranya dan meminta Hasna untuk sarapan terlebih dahulu. Baginya, Hasna harus memenuhi kebutuhannya dan sang putra terlebih dahulu, baru nanti ia akan makan setelahnya. Jika kebutuhan Hasna terpenuhi, maka kebutuhan putranya pun akan terpenuhi juga.
"Ma, jadi Mbak Hasna enak, ya? Kak Rama sayang banget. Selalu mengutamakan Mbak Hasna dan Reyn. Nay pengen deh, punya suami seperti Kak Rama. Yang menomor satukan istri dan anaknya." Ucap Nayla di sela sarapan. Gadis itu memperhatikan Rama yang menggendong Reyn saat menunggu Hasna selesai sarapan. Bahkan telah memakai setelan kantor rapi.
"Kalau mau punya suami perhatian, kamu juga harus perhatian juga. Kurang-kurangin deh manjanya kamu. Ntar bisa-bisa bingung suami kamu, mana anak mana istri kalau semuanya manja sama dia." Ucap Bu Diana.
Hasna tersenyum mendengan obrolan ibu dan anak itu. Namun berbeda dengan Nayla, gadis itu terlihat mengerucutkan bibirnya.
"Laki-laki berubah menjadi baik itu karena perempuannya juga membawa dampak positif dalam hubungan mereka, begitupun perempuan. Jika seorang perempuan berada di tangan lelaki yang tepat, pasti dia akan selalu di hargai, sekecil apapun kebaikan yang dilakukannya." Timpal Pak Andi.
__ADS_1
"Tapi perasaan, saat awal nikah sama Mbak Hasna, kak Rama nggak baik-baik amat deh jadi cowok. Orang cuek gitu sama Mbak Hasna." Celetuk Nayla.
"Uhuukkk..."
Hasna merasakan jika makanan yang seharusnya dapat ia telan dengan baik, tiba-tiba membuat tenggorokannya serasa terbakar.
"Minum dulu, Nak." Pak Andi memberikan segelas air putih pada Hasna.
"Pelan-pelan." Ucap Pak Andi. Hasna segera meminum air untuk melegakan tenggorokannya. Dasar Nayla. Ngomongin kejelekan Rama di hadapan istrinya.
"Ya kan sama seperti yang Papa bilang tadi, Nay. Laki-laki berubah menjadi baik itu karena perempuannya juga membawa dampak positif dalam hubungan mereka. Dan Rama menjadi semakin baik, karena Hasna memperlakukannya dengan baik. Rama menjadi lembut dalam berucap dan bersikap pada istrinya, itu pun karena Hasna memperlakukan Rama dengan hal yang demikian juga sebagai seorang suami."
"Hubungan itu sebuah bentuk timbal balik. Di saat kita berlaku baik, maka kebaikan pula yang kita dapatkan. Begitu pula sebaliknya." Nasehat Pak Andi pada putri kesayangannya.
"Kalau semisal, misal loh ini. Mbak Hasna juga jangan sampai keselek lagi dengernya, kan misal." Ucap Nayla diiringi dengan sebuah peringatan pada kakak iparnya.
"Kalau semisal istrinya baik, kelewat baik malah. Entah itu bersikap, berucap atau apapun lah itu. Tapi suaminya menjengkelkan luar biasa. Gimana itu, Pa?"
"Gimana menurut kamu, Sayang?" Pak Andi justru melemparkan pertanyaan Nayla pada Hasna.
"Ee....Hasna, Pa?" Hasna bahkan menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, menurut kamu gimana?" Ucap Pak Andi.
Bu Diana, Nayla, bahkan Pak Andi sendiri ingin mendengar jawaban yang akan Hasna berikan atas pertanyaan Nayla. Hasna merasa seolah dirinya tengah menjalani sidang skripsi.
"Menurut Hasna...berlaku dan memperlakukan pasangan kita dengan baik, khususnya bagi seorang istri adalah suatu kewajiban. Jika seandainya sikap baik kita tidak dihargai sebagai seorang pasangan, maka sebaiknya kita bersabar." Ucap Hasna.
"Bersabar yang bagaimana yang harus kita lakukan?" Hasna memandang satu persatu orang yang ada bersamanya di meja makan.
"Bersabar, hingga Allah mengatakan cukup. Allah meminta kita bersabar dan terus mengingatkan jika apa yang dilakukannya salah. Jika kita tidak mampu mengingatkan secara lisan, kita bisa menegurnya melalui do'a kita kepada Allah. Kita mohon kepada-Nya agar pasangan kita segera memperoleh petunjuk, jika tindakannya salah. Kita hanya manusia biasa, sabar hanyalah kata yang mudah untuk diucapkan. Karena pada kenyataannya, kita lebih sering mengeluh."
"Lalu bagaimana kita menentukan sikap kepada pasangan yang seperti itu? Menyebalkan, menjengkelkan, ya pokoknya selalu membuat kita marah lah intinya." Ucap Nayla.
"Ya itu tadi, kita harus bersabar. Itu kuncinya. Tapi kita harus tetap introspeksi diri, bagian mana yang tidak pasangan kita sukai dari diri kita? Apakah dari tingkah kita, sikap kita, atau bahkan ucapan kita? Karena pasangan kita adalah cerminan dari diri kita sendiri. Jika kita telah baik memperlakukannya, tapi kita tidak memperoleh hal yang sama, maka serahkanlah semua pada Allah. Karena Allah tidak akan salah dalam menentukan garis takdir untuk hambanya."
"Dan yang perlu kita ingat, pernikahan adalah ibadah terpanjang dalam hidup kita. Kita niatkan segala sesuatunya untuk ibadah. Menuruti perintah suami juga salah satu bentuk ibadah kita sebagai seorang istri. Asalkan itu masih dalam batas kewajaran dan tidak termasuk dalam konteks bermaksiat kepada Allah. Karena tugas utama seorang istri adalah patuh, taat pada suami. Bukan memasak, beberes, atau hal yang sama seperti itu. Tugas kita hanya untuk menyenangkan suami. Baik saat dipandang, ataupun di dengar tutur katanya."
Ketiganya terdiam, bahkan tidak ada yang berkomentar. Mereka dengan begitu seksama menyimak perkataan Hasna dengan baik.
"Masya Allah, bagaimana cara Mas Firman dan Mbak Hesti mendidik anak perempuannya? Semoga cucu-cucu Mama nantinya menuruni sifat kamu, Sayang." Ucap Bu Diana yang menatap sekilas pada suaminya. Wanita paruh baya itu kemudian melihat ke arah Hasna dengan tatapan penuh kekaguman. Hasna tersenyum simpul mendengarnya.
"Maaf jika Hasna salah. Hasna juga masih banyak belajar tentang hubungan pernikahan. Apalagi pernikahan kami masih seumur jagung. Harusnya Hasna banyak-banyak belajar dari Mama sama Papa. Hasna hanya menyampaikan apa yang Hasna ketahui. Sekali lagi maaf, jika Hasna terkesan menggurui." Lantas perempuan itu tertunduk.
"Oke, ntar Nay kursus sama Mbak Hasna biar jadi istri yang baik." Ucap Nayla setelah beberapa saat dirinya terdiam, membuat Hasna kembali menatap ke arah Nayla.
"Udah siap nikah, Nay? Suruh langsung lamar sama Papa." Sahut Pak Andi.
"Papa apaan sih? Kan Nayla pengen belajar dulu yang bener sama Mbak Hasna. Main suruh lamar aja. Belum ada gebetan juga." Sewotnya.
"Kirain udah ngebet nikah." Kekeh Pak Andi.
Tanpa mereka sadari, Rama menyimak dengan baik apa yang istrinya sampaikan. Dan memang seperti itulah sikap Hasna padanya saat awal pernikahan mereka. Hanya saja Hasna tidak pernah menegur secara langsung jika ia melakukan kesalahan. Perempuan itu lebih banyak diam untuk introspeksi diri. Bagaimana Hasna akan menegur, jika sikapnya saja begitu acuh pada istrinya dulu.
Mungkin juga teguran langsung datang dari Allah, karena kesabaran istrinya. Dan itu pula yang menjadikan Rama selalu memperbaiki diri. Karena ia sadar, jika ia adalah imam untuk keluarganya. Untuk istri juga anak-anaknya.
***
Kemarin ada yang bilang dikit amat up nya. Nih sekarang udah aku panjangin ya. Hampir dua bab aku jadiin satu. Semoga suka, ya๐
Aku makin semangat kalau ada komen dari kalian, berasa dapat surat cinta๐๐คฃ. Makasih juga buat like, gift dan vote nya๐๐ป๐
Lope-lope lah buat kalian semuanya๐๐๐
__ADS_1