
"Saudari Marissa, anda di bebaskan hari ini." Satu kalimat yang membuat Marissa hampir hilang konsentrasi.
"Sa, kamu bebas." Salah seorang teman satu sel nya menyenggol lengan perempuan itu, karena Marissa tak kunjung menunjukkan reaksi.
Marissa menoleh sekilas pada perempuan yang ia kenal pertama kali saat menjadi penghuni tahanan.
"Sa...saya...be...bebas?" Tanya Marissa terbata. Ia bahkan tak mampu berkata dengan benar.
"Iya, anda bebas." Jawab petugas perempuan itu.
"Mbak? Saya bebas?" Marissa menanyakannya kembali pada teman perempuan di sampingnya itu. Ia hanya mencoba memastikan jika apa yang ia dengar bukanlah sebuah halusinasi.
"Iya, Sa, kamu bebas." Perempuan itu tersenyum ke arah Marissa.
"Alhamdulillah." Setetes bulir bening membasahi pipi mantan sekretaris Rama itu.
"Selamat, ya." Marissa langsung menghambur memeluk perempuan itu.
"Aku nggak mimpi kan, Mbak? Tolong Mbak Tuti cubit aku, aku_"
"Aaww...sakit, Mbak." Marissa mengusap pipi yang dicubit oleh Tuti, teman satu sel nya.
"Saudari Marissa, jika sudah tolong segera ke depan. Ada yang ingin bertemu dengan anda." Ucap petugas itu.
"Iya, Bu."
"Mbak, aku benaran bebas." Pekik Marissa dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, kamu bebas. Sekali lagi selamat ya."
"Makasih, Mbak." Marissa kembali memeluk Tuti.
"Gunakan kesempatan kamu sebaik mungkin. Jangan sampai kamu memiliki keinginan untuk kembali lagi kemari." Marissa mengangguk di sela tangis bahagianya.
"Cari anak kamu, Sa. Aku hanya bisa mendo'akan, agar kalian kembali menjadi keluarga yang utuh." Ucap Tuti dengan tulus. Tuti sedikit banyak tahu tentang kisah Marissa, hingga perempuan itu berada di sini bersamanya.
__ADS_1
Marissa menunduk, meremas pakaian yang ia kenakan. Mencari anaknya? Mungkinkah? Bahkan ia saja tidak tahu bagaimana rupa putranya. Ia hanya tahu jika ia melahirkan bayi laki-laki, itu saja. Bahkan Siska, sahabatnya tidak memiliki kesempatan melihat wajah putranya, karena Tomi sudah membawa pergi bayinya sesaat setelah dilahirkan. Pasti putranya itu sudah besar. Seperti apa wajahnya sekarang? Apa yang sudah bisa putranya lakukan? Apa dia sudah bisa merangkak?
"Kenapa?" Tuti memegang kedua bahu Marissa. Wajah perempuan itu semakin basah.
"Apa aku bisa bertemu mereka, Mbak? Setelah apa yang aku lakukan? Aku sudah menyia-nyiakan mereka." Ucap Marissa di sela isakan.
Tuti menggenggam erat tangan perempuan itu, berusaha memberikan dukungan juga kekuatan.
"Aku yakin, kamu pasti bisa bertemu mereka kembali." Tuti tahu dengan jelas bagaimana perempuan itu berusaha memperbaiki dirinya, apalagi setelah sempat bertemu dengan perempuan yang menjadi korban keegoisannya saat sidang putusan.
"Dengan dinyatakannya kamu bebas dari tempat ini, berarti Tuhan telah memberikan kesempatan untuk kamu. Pergunakanlah dengan baik. Cari keberadaan anak kamu dan ayahnya. Semoga saja kamu mendapatkan kesempatan kedua untuk menjadi istrinya kembali."
Marissa tersenyum getir mendengarnya. Kesempatan kedua menjadi istri Tomi? Ia rasa itu tidaklah adil. Tomi berhak memperoleh perempuan yang lebih baik darinya. Perempuan yang bisa menghormatinya sebagai seorang pasangan.
Marissa memberikan anggukan kecil pada Tuti. Ia pun segera berkemas dan berpamitan dengan teman-temannya yang lain. Tuti benar, jangan sampai ia berada di tempat ini kembali. Cukup sekali ia melakukan kebodohan sehingga ia kehilangan segalanya.
Marissa membawa sebuah tas berukuran sedang berisikan pakaiannya. Ia diantarkan seorang petugas untuk menemui orang yang ingin bertemu dengannya.
"Silahkan, orangnya ada di sana." Tunjuk petugas pada dua orang laki-laki yang berada di sudut ruangan.
Perlahan ia melangkah mendekat pada dua orang lelaki yang telah menunggunya, sembari menata hatinya. Dan kini, ia berdiri tepat di hadapan keduanya.
"Selamat siang, Pak ivan." Sapa Marissa, membuat Ivan dan Pak Darmawan menoleh ke arah perempuan itu.
"Siang." Ivan sedikit terpana dengan penampilan perempuan di hadapannya kini. Marissa berpakaian lebih tertutup walau tanpa mengenakan jilbab di kepalanya.
"Silahkan duduk." Ucap Ivan.
Marissa menurut dan mengambil posisi tepat di hadapan dua laki-laki itu.
"Mulai hari ini kamu di bebaskan, karena Pak Rama telah mencabut tuntutannya. Semoga saja kamu bisa mempergunakan kesempatan yang beliau berikan dengan sebaik mungkin." Ucap Ivan dingin persis seperti saat di kantor.
Marissa hanya mengangguk kecil tanpa berucap sepatah katapun. Ia cukup sadar akan kemurahan hati Rama. Andaikan saja yang berdiri di samping Rama bukan perempuan seperti Hasna. Bisa dipastikan ia tidak akan bisa keluar dari dalam penjara secepat ini.
"Maaf, saudari Marissa. Anda pasti ingat dengan saya. Saya Darmawan, pengacara pribadi Bapak Rama Suryanata." Marissa kembali mengangguk kecil.
__ADS_1
"Kami di sini untuk menyelesaikan urusan pelik di antara kalian. Juga menyampaikan amanah dari beliau." Ucap Pak Darma.
"Pak Rama mencabut tuntutan atas kasus yang melibatkan anda sebagai pelaku, dan istri klien saya sebagai korban. Tapi dengan syarat."
Marissa menatap lurus laki-laki paruh baya di hadapannya. Berusaha menyimak dengan baik setiap perkataan yang akan laki-laki itu sampaikan. Pak Darma menyodorkan sebuah map tepat di hadapan Marissa.
"Silahkan." Marissa menatap map di hadapannya dan Pak Darmawan serta Ivan secara bergantian.
"Apa ini?" Tanya perempuan itu.
"Ini adalah syarat yang Pak Rama minta sebagai jaminan untuk kebebasan anda. Silahkan baca terlebih dahulu. Jika ada yang tidak dimengerti silahkan tanyakan kepada saya." Ucap Pak Darmawan.
Marissa membuka perlahan map berwarna merah itu. Sebuah surat perjanjian. Ia mulai membaca dengan teliti apa yang tertera di dalam surat perjanjian yang berada di tangannya selama beberapa saat, hingga kembali meletakkannya di atas meja.
"Apa ada yang ingin saudari Marissa tanyakan?" Tanya Pak Darma. Marissa menggeleng.
"Kalau begitu, tolong tanda tangani di sebelah sini." Pak Darma menunjukkan di mana ia harus membubuhkan tanda tangannya.
Marissa mulai membubuhkan tanda tangan di atas kertas bermaterai, itu artinya ia harus mematuhi apa yang tertuang di dalamnya. Jika ia melanggar, maka akan membutnya kembali berurusan dengan hukum. Dan dapat ia pastikan, Rama tidak akan mengampuninya seperti sekarang.
"Terima kasih, semoga anda mendapatkan kehidupan yang lebih baik setelah terbebas dari sini." Marissa hanya mengangguk dengan senyum simpul di bibirnya.
Pak Darma beserta Ivan segera beranjak. Namun suara Marissa mengurungkan langkah mereka.
"Pak Ivan, tolong sampaikan terima kasih saya pada Pak Rama juga Bu Hasna. Terima kasih untuk semuanya." Ucap Marissa yang terdengar tulus.
Ivan memperhatikan perempuan di hadapannya. Banyak sekali perubahan yang perempuan itu tunjukkan. Semoga saja benar seperti itu.
Perlahan Ivan mulai menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih." Ucap Marissa.
Marissa menatap kepergian dua laki-laki yang baru saja menemuinya hingga keduanya menghilang di balik pintu.
"Selamat atas kebebasan anda hari ini. Semoga anda bisa memulai kehidupan anda yang lebih baik lagi." Ucap salah seorang petugas pada Marissa, sebelum perempuan itu melangkah keluar dari gerbang tempat ia bernaung selama hampir tujuh bulan lamanya.
__ADS_1
***