
Dunia serasa gelap bagi Marissa. Sekelebat bayangan di malam saat ia melakukannya dengan Rama, namun pada kenyataannya ia mendapati dirinya bersama laki-laki yang sangat ia benci sekarang saat dirinya terbangun di pagi hari. Tomi. Laki-laki itu sumber dari semua masalah ini.
Marissa duduk dengan begitu gelisah di kursi tunggu depan ruangan praktik Dokter obgyn. Jari jemarinya bertaut dan saling meremas di atas pangkuan. Beberapa kali terdengar hembusan nafas berat.
"Ibu Marissa." Seorang perawat memanggil namanya sesuai antrian.
Marissa beranjak dan mengekori perawat hingga masuk ke dalam ruang praktik. Di sana ia di sambut oleh seorang dokter perempuan berjilbab.
"Selamat malam, ada yang bisa kami bantu?" Sapa dokter itu ramah.
"Malam, Dok." Lirihnya.
Ia tak pernah segugup ini sebelumnya. Marissa adalah seorang perempuan yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Dan kini kepercayaan dirinya menguap entah kemana.
"Kami mendapatkan rujukan dari dokter umum yang baru saja menangani ibu. Apa ada keluhan?" Lanjut Dokter.
"Hanya sedikit pusing dan mual, Dok." Lirihnya.
"Kapan terakhir kali ibu menstruasi?" Tanya Dokter lagi.
Marissa mengingat kapan dirinya terakhir kali menstruasi. Dan dia baru menyadari jika bulan lalu adalah terakhir kalinya ia mendapatkan tamu bulanan.
"Sekitar dua bulan yang lalu, Dok." Jawabnya ragu.
"Sudah cek kehamilan sebelumnya?" Marissa menggeleng lemah.
"Baiklah, agar lebih jelas, bagaimana kondisi ibu, mari kita lakukan pemeriksaan." Ucap Dokter.
Suster mengarahkan agar Marissa berbaring di ranjang. Menutup sebagian tubuhnya dengan selimut.
"Maaf ya, Bu." Ucap suster saat menyingkap sedikit mini dress yang Marissa kenakan.
Suster menuangkan gel di atas perutnya, membuat Marissa semakin dilanda kecemasan. Apalagi kini dokter telah menggerakkan alat di atas perutnya yang mulai licin karena gel.
"Bu Marissa bisa lihat ini. Ini kantung janinnya, dan usianya sekarang sudah hampir sepuluh minggu." Marissa menatap nanar layar monitor yang memperlihatkan hasil pemeriksaannya.
Tidak, tidak mungkin dirinya hamil. Ia tidak mau sampai ia benar-benar hamil.
"Sudah, Bu. Silahkan kembali duduk dulu." Ucap suster membuyarkan lamunan Marissa.
Marissa kembali duduk di hadapan Dokter. Wanita ber-snelli itu tersenyum hangat padanya.
"Selamat ya, Bu. Semoga kehamilan ibu tidak ada masalah kedepannya. Untuk masalah morning sickness, itu biasa terjadi pada usia trimester pertama kehamilan, dan akan berangsur berkurang dan bahkan menghilang seiring pertambahan usia kehamilan. Tapi ibu harus tetap makan untuk memberi asupan untuk tumbuh kembang janin." Jelas Dokter itu panjang lebar.
Marissa hanya mendengarkan, tanpa ingin mengatakan sesuatu.
"Maaf, kalau boleh tau, kenapa ibu memeriksakan kandungan seorang diri? Suami ibu kemana?" Tanya Dokter dengan ramah.
"E...suami saya, sedang ada pekerjaan di luar kota, Dok." Jawab Marissa sekenanya.
"Baiklah, Ini sudah saya resepkan vitamin dan obat pereda mual. Saran saya, untuk pemeriksaan selanjutnya saya harap ibu bisa ditemani suami. Karena kandungan ibu masih terlalu riskan jika dipakai untuk berkendara seorang diri." Ucap Dokter.
"Iya, Dok. Terima kasih."
Marissa pun pamit dan keluar dari ruangan dokter yang sungguh sangat membuat dirinya merasa terlempar jauh ke dasar jurang yang gelap.
Hidupnya serasa hancur. Dirinya tengah mengandung benih laki-laki yang sangat tidak ingin ia kenal dan temui lagi.
Marissa terduduk dan memperhatikan lagi foto hasil USG nya barusan. Ada kehidupan baru dalam dirinya sekarang. Tapi bukan dengan pria yang ia cinta.
***
Tomi baru saja keluar dari ruang rawat teman kerjanya. Kebetulan ia dimintai tolong untuk menebuskan obat di apotek, karena keluarganya belum datang.
Laki-laki itu baru saja selesai mengantri obat dan hendak ke kantin dulu untuk membeli minuman. Tapi langkahnya terhenti manakala netranya menangkap sosok perempuan yang beberapa minggu belakangan ini menjadi beban pikirannya.
"Marissa?" Gumamnya.
Tomi melangkah lebih dekat pada perempuan yang pernah sangat mencintainya. Tapi ia tidak memiliki nyali yang cukup tinggi untuk sekedar bertegur sapa. Perempuan itu kini membencinya. Setelah kejadian malam itu.
Tomi memperhatikan Marissa dari kejauhan, sepertinya perempuan itu sedang dalam masalah. Apa ada sesuatu yang menimpanya? Atau ada kerabatnya yang sedang dirawat?
Tak lama, perempuan itu beranjak meninggalkan tempat yang semula ia duduki. Tomi hendak mengejar, tapi langkahnya terhenti saat tak sengaja membaca tempat praktek Dokter yang tadi sempat Marissa kunjungi.
"Dokter obgyn?" Tomi mengerutkan keningnya.
Ada apa sebenarnya, hingga Marissa harus menemui dokter spesialis yang menangani masalah kewanitaan. Apakah dia ada sakit atau...
Untung saja tempat praktik sudah sepi. Mungkin Marissa pasien terakhir yang berkunjung. Dengan mengumpulkan keberaniannya Tomi mengetuk pintu ruangan itu.
"Iya, Pak. Ada yang bisa kami bantu?" Tanya suster yang baru saja keluar dari dalam sana.
__ADS_1
"E...apa saya bisa menemui dokter praktik di dalam?" Tanya Tomi ragu.
Suster sedikit heran, pasalnya dokter yang akan ditemui laki-laki dihadapannya ini adalah dokter yang khusus menangani masalah wanita. Terlebih Tomi datang seorang diri.
"Sus, apa boleh?" Tanya Tomi penuh harap.
"Baiklah tunggu sebentar ya." Suster pun berlalu, masuk lagi ke dalam ruangan.
Tak lama kemudian, suster membukakan pintu dan mempersilahkan Tomi untuk masuk.
"Silahkan duduk, Pak. Ada yang bisa kami bantu?" Tanya Dokter dengan ramah.
"E...maaf sebelumnya, Dok. Apa benar tadi Dokter menerima pasien atas nama Marissa Anindita?" Susah payah Tomi menelan ludah, hanya untuk menanyakan hal itu.
"Maaf, ada kepentingan apa Bapak menanyakan itu?" Tanya Dokter tanpa menjawab pertanyaan Tomi terlebih dahulu.
"Saya hanya ingin tau, hasil pemeriksaan atas nama Marissa, Dok." Jawab Tomi.
"Maaf, kami tidak bisa memberikan informasi apapun tentang pasien kepada orang lain." Ucap Dokter.
"Saya mohon, Dok. Saya janji, saya tidak akan mengatakan apapun mengenai tindakan Dokter, apabila mengatakan hal itu pada saya. Saya hanya butuh memastikan keadaannya baik-baik saja." Tomi masih berusaha merayu dokter perempuan berjilbab itu.
"Maaf Pak, kami tidak bisa." Tolak Dokter halus.
"Saya mohon, Dok. Ini sangat penting bagi saya. Ada sedikit kesalah pahaman diantara kami."
Dokter menghembuskan nafas dengan cepat. Seorang Dokter memiliki kode etik yang harus dipatuhi. Merahasiakan apapun yang berkaitan dengan pasien kepada pihak yang tidak bersangkutan.
"Maaf, ada hubungan apa bapak dengan pasien?" Tanya Dokter lagi.
Tomi bingung harus menjawab apa. Tapi setahu dia dokter ini menangani apapun permasalahan seputar wanita, termasuk kehamilan.
"Saya... suaminya, Dok." Ragu-ragu Tomi mengucapkannya.
Terlihat dokter dihadapannya itu menghirup nafas panjang. Mungkinkah dokter itu mengetahui kebohongannya? Tomi harap, tidak.
"Bagaimana, Dok? Bisa?" Desak Tomi.
Dokter nampak berpikir sejenak sebelum akhirnya memberikan jawaban.
"Baiklah. Di sini saya salah telah melanggar kode etik saya sebagai dokter. Tapi, pertimbangan saya, karena kondisi Bu Marissa." Ucap Dokter pada akhirnya.
"Bu Marissa hamil." Jantung Tomi kembali berdentum hebat.
Marissa hamil? Apa ia tidak salah mendengar?
"Ha...hamil?" Tanya Tomi memastikan.
"Iya, Pak, dan usia kandungannya sudah memasuki minggu ke sepuluh." Jantung Tomi kembali berdetak tak karuan.
"Sepuluh minggu, Dok?" Ulangnya.
"Iya, Pak. Saya perhatikan sepertinya Bu Marissa dalam keadaan tertekan dan stress. Dan kondisi seperti itu sangatlah tidak baik untuk ibu hamil." Jelas Dokter. Wanita itu memperhatikan raut bingung di wajah Tomi.
"Apa kalian pengantin baru?" Tomi mengangguk ragu.
"Berapa bulan usia pernikahan kalian?"
"Kurang dari... dua bulanan, Dok." Jawabnya ragu. Tomi hanya memperkirakan saat ia melakukannya dengan Marissa.
Dokter itu tersenyum melihat kepanikan di wajah Tomi yang begitu kentara.
"Ini sering dan sangat wajar dialami oleh pasangan yang baru menikah. Antara usia pernikahan dan usia kehamilan selisih kurang lebih satu bulan. Karena kehamilan dihitung mulai dari hari pertama haid terakhir calon ibu. Bukan dari hari pertama memulai hubungan suami-istri." Tomi sudah tidak lagi fokus dengan penjelasan Dokter.
"Mungkin ibu Marissa dan Bapak menikah saat Bu Marissa dalam masa subur, dan tidak mendapatkan tamu bulanan setelahnya. Hingga istri Bapak dinyatakan hamil."
Telinga Tomi berdenging mendengarkan penjelasan dokter. Fokusnya sekarang adalah anak yang ada dalam kandungan Marissa. Karena jika dari penuturan dokter barusan, ia dapat menyimpulkan jika janin yang Marissa kandung adalah anaknya.
***
Tomi berjalan gontai menyusui koridor rumah sakit. Setelah mendengar penuturan dokter mengenai Marissa, laki-laki itu memutuskan untuk segera pulang setelah mengantarkan obat temannya.
"Bu Marissa hamil, dan usia kandungannya sudah memasuki minggu ke sepuluh."
Kalimat itu kembali berdengung di telinganya. Marissa hamil. Marissa hamil anaknya. Tomi sangat yakin itu. Ia sangat mengingat disaat memulainya dengan Marissa, karena dia adalah laki-laki pertama yang merenggut masa depan perempuan itu.
"Gue harus bisa bicara baik-baik dengan Marissa. Jangan sampai dia berbuat nekat." Gumamnya.
Tomi tidak bisa menghubungi Marissa sejak kejadian itu. Kemungkinan nomer ponselnya sudah di blokir. Satu-satunya cara adalah minta bantuan pada Siska. Hanya Siska sahabat terdekat Marissa.
***
__ADS_1
Marissa tetap berdiam dalam mobilnya. Dunianya kini serasa gelap. Setitik cairan bening menerobos keluar dari sudut matanya.
"Gue nggak mungkin hamil. Gue nggak mau hamil, gue nggak mau..." Lirihnya pilu.
"Gue nggak mau..." Teriaknya frustasi. Air mata sudah merebak menghiasi wajah cantiknya
"Gue nggak mau hamil..." Ucapnya tersedu dengan gerakan memukul-mukul perutnya.
"Gue nggak mau...." Suaranya sudah teredam isakan.
"Gue harus cari cara buat le**apin kandungan ini." Gumamnya.
Marissa mengusap kasar air matanya. Melajukan ke tempat yang mungkin akan bisa membuat pikirannya tenang untuk sesaat.
Mobil Marissa berhenti tepat di depan sebuah klub malam. Ia ingin menenangkan sejenak pikirannya yang kacau. Kabar dan kenyataan yang diterimanya kali ini benar-benar membuat dunianya serasa dijungkir balikkan.
Marissa memperbaiki penampilannya sebelum turun dari mobil. Sedikit memoleskan lipstik yang sedikit pudar, serta menyamarkan sembab matanya.
Marissa berjalan menyusuri tempat bernuansa remang-remang itu. Banyak sekali muda mudi yang tengah menghabiskan waktunya dengan bercengkrama dan minum santai.
Marissa duduk di tempat paling ujung. Ia butuh sendiri. Mungkin dengan begitu pikirannya bisa sedikit jernih nantinya.
Seorang pelayan mengantarkan pesanan yang baru saja ia pesan. Segelas wine dan makanan ringan sebagai pelengkapnya. Marissa menyesap sedikit minuman di gelasnya, berusaha mengalihkan pikirannya dari kejadian yang ia alami seharian ini.
"Marissa?" Tepukan di pundak membuat perempuan itu menoleh.
"Siska?"
Nampak Siska dan beberapa orang yang bersamanya, mungkin teman sekantor sahabatnya itu.
"Lo sendiri?" Siska memindai sekeliling. Marissa hanya mengangguk lesu.
"Sorry ya, gue pulang ntar aja. Masih mau ngobrol sama temen dulu." Kata Siska pada ketiga temannya.
"Terus pulangnya gimana?" Tanya salah satu dari mereka.
"Gampang, rumah kita searah kok." Jawab Siska.
"Oke, kita cabut duluan."
Mereka pun pergi meninggalkan Siska bersama Marissa. Siska mengamati penampilan sahabatnya itu. Tidak seperti biasanya yang selalu cantik. Agak sedikit berantakan walau tidak terlalu kentara. Siska ikut bergabung dan duduk berhadapan dengan Marissa.
"Tumben lo sendirian? Biasanya ngajakin gue." Tanya Siska.
"Lagi pengen sendiri aja." Jawab Marissa sekenanya tanpa melihat ke arah Siska.
Keduanya terdiam dalam waktu yang cukup lama. Hingga Siska membuka suaranya kembali.
"Beberapa Minggu lalu, Tomi nelfon gue. Dia nanyain lo, kayaknya_."
"Nggak usah sebut nama itu lagi depan gue." Potong Marissa cepat, yang membuat Siska mengerutkan keningnya.
"Sorry, Sa, bukan maksud gue ikut campur urusan lo. Tapi sepertinya lo lagi ada masalah ya? Kita udah berteman lama, Sa. Lo bisa bagi masalah lo sama gue." Siska mengamati raut wajah perempuan cantik di hadapannya itu, benar-benar kacau.
"Nggak cerita pun nggak papa kok. Gue ngerti, nggak semua hal pribadi bisa kita bagi ke orang lain."
Marissa tetap membisu. Sepertinya Siska hadir di saat yang tidak tepat untuk sahabatnya. Siska membuang nafasnya kasar. Bahkan perempuan seksi itu tak mengindahkan perkataannya.
"Kalau gitu gue cabut ya, have fun." Siska bersiap berdiri dan memakai kembali tasnya, tapi gerakannya terhenti karena cekalan di pergelangan tangannya.
"Gue butuh teman cerita." Ucap Marissa tanpa ekspresi. Siska bergeming dan menautkan kedua alisnya.
"Kita cari tempat yang lebih tenang." Siska hanya mengangguk setuju dan mengekori sahabatnya dari belakang.
Siska meminta kunci mobil Marissa, karena akan sangat bahaya jika membiarkan sahabatnya itu menyetir dalam keadaan yang kacau.
Siska membelokkan mobil di taman yang tak jauh dari klub tempat mereka bertemu tadi. Dan memilih tempat yang sedikit sepi.
Kedua perempuan itu saling duduk bersebelahan. Marissa, perempuan itu terlihat gelisah. Meremas kedua tangan yang bertaut di atas pangkuannya.
"Lo kenapa?" Siska menggenggam tangan Marissa yang terasa sedikit basah oleh keringat.
"Gue nggak pernah lihat lo kayak gini sebelumnya. Lo terlihat benar-benar kacau, Sa." Ucap perempuan berambut sebahu itu.
Marissa menghirup dalam-dalam udara agar memenuhi paru-paru yang terasa kosong. Barulah ia membuka suara.
"Gue hamil." Lirihnya, namun kalimat itu sungguh jelas terdengar di telinga Siska.
Perempuan itu membolakan matanya sempurna. Tidak mungkin ia salah dengar. Marissa hamil?.
***
__ADS_1