
"Nay, tolong antarkan ini ke rumah sakit, ya. Kemarin kakak kamu bilang kalau Hasna ingin makan sup iga buatan Mama." Bu Diana menyerahkan paperbag pada putrinya.
"Tolong sekalian kamu mampir ke toko Hasna ya, pengen croissant dari sana katanya."
"Ada lagi?" Tanya Nayla, takutnya ada yang ibunya lupakan.
"Tidak, hanya itu."
"Oke, kalau gitu, Nay berangkat, ya." Nayla mencium punggung tangan Bu Diana.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam, hati-hati."
***
Braakk
Nayla menghentikan mobilnya saat merasakan sesuatu membentur bagian belakang mobil yang dikendarainya.
"Astaga." Kedua netranya sedikit membola saat melihat bodi bagian belakang mobilnya tergores.
"Ma...maaf, saya tidak sengaja." Nayla menoleh saat mendengar seseorang berbicara kepadanya.
Seorang laki-laki mengenakan jaket hitam berdiri tepat di belakangnya.
"Maaf, saya benar-benar tidak sengaja. Saya hanya berusaha menghindari jalan berlubang, tapi justru saya menabrak mobil, Mbak." Ucap laki-laki itu penuh penyesalan.
"Ah, iya." Nayla menarik sedikit sudut bibirnya. Lalu kembali melihat goresan baru yang ada di bodi mobilnya dan merabanya. Lumayan.
"Saya akan mengganti kerusakan mobil, Mbak." Ucap laki-laki itu. Rasanya susah sekali menelan ludah saat mengetahui kerusakan di bodi mobil berwarna merah itu. Pasti biayanya cukup menguras kantong, pikirnya.
Nayla memperhatikan laki-laki yang berada dihadapannya. Sepertinya ia pernah bertemu laki-laki itu sebelumnya, tapi dimana, ia lupa.
"Boleh saya minta nomor teleponnya?" Nayla sedikit terkejut dengan permintaan laki-laki itu.
"Mbak?"
"Ah, iya?"
"Boleh saya minta nomor telepon, Mbak...?"
"Nayla." Nayla kembali fokus pada laki-laki itu.
"Iya, nanti akan saya hubungi. Maaf, jika untuk sekarang, saya belum ada uang." Jujur laki-laki itu, bahkan terlihat sekali jika ia merasa tidak enak hati dengan gadis di hadapannya kini.
Sekali lagi, Nayla memperhatikan lamat-lamat wajah lelaki yang masih mengenakan helm di kepalanya itu. Ia yakin tidak salah orang, tapi siapa?
"Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya." Ucap Nayla sembari menunjuk laki-laki itu.
__ADS_1
"Benarkah? Saya rasa tidak." Ucap laki-laki itu.
Ah, mungkin saja demikian. Mungkin hanya perasaannya saja.
"Bagaimana, Mbak?" Tanya laki-laki itu, membuat Nayla kembali fokus pada lelaki itu.
"Eh, iya, tunggu sebentar." Nayla kembali membuka pintu mobilnya dan mengambil sling bag miliknya dari dalam mobil.
"Sudah saya simpan nomornya." Laki-laki itu mendial nomor Nayla yang baru di dapatkannya. Gadis itu melihat nomor yang tertera di layar ponsel miliknya.
"Saya pasti akan menghubungi, Mbak nantinya." Nayla mengangguk kecil.
"Maaf, dengan Mas...?"
"Tomi."
Nayla segera menyimpan nomor Tomi di ponselnya. Setidaknya laki-laki itu sudah memiliki itikad baik untuk bertanggung jawab mengganti kerusakan pada mobilnya.
Gadis itu menepuk pelan keningnya saat menyadari sesuatu, lalu menjentikkan jarinya.
"Saya ingat, Mas ini, temannya Kak Rama, kan?" Terka Nayla yang kembali menunjuk Tomi. Gadis itu yakin jika laki-laki di hadapannya ini adalah laki-laki yang sama, yang mencari kakak laki-lakinya di kamar rawat Hasna waktu itu.
Rama? Apa mungkin yang gadis ini maksudkan adalah Rama yang sama, yang ia temui beberapa kali sebulan terakhir ini? Karena Tomi pun merasa jika tidak memiliki teman, bahkan kenalan bernama Rama. Jangan-jangan gadis yang berada di hadapannya ini, adalah adik dari Rama Suryanata? Kenapa hanya dengan membayangkannya saja membuat kepalanya tiba-tiba berdenyut?
Jika benar dugaannya bahwa gadis belia ini adalah adik dari Rama Suryanata, maka dirinya benar-benar di timpa kesialan. Masalahnya dengan Rama saja masih belum selesai, kini justru di hadapkan satu masalah lagi dengan anggota keluarga Suryanata lainnya. Bisa dipastikan akan berbuntut panjang.
"Rama?" Nayla mengangguk yakin.
Tidak salah, gadis ini benar-benar adik kandung Rama Suryanata. Kenapa dunia ini sempit sekali, hingga dirinya memiliki masalah dengan Suryanata bersaudara?
"Inget, kan?" Tomi memaksakan senyumannya. Bagaimana ia bisa melupakan semua kejadian yang melibatkan putra Suryanata itu?
"Kami tidak berteman, hanya kenal." Ucap Tomi. Nayla mengangguk mengerti.
"Baiklah, sekali lagi saya minta maaf. Saya janji akan mengganti kerugiannya. Kalau begitu saya permisi."
Tomi segera berlalu dari hadapan Nayla dengan mengendarai motor hitam miliknya.
Nayla segera melanjutkan perjalannya menuju ke toko kue Hasna yang terdekat untuk membeli croissant pesanan kakak iparnya itu.
***
Nayla masih asik memilih kue-kue yang berjajar di etalase. Hanya melihatnya saja sudah membuatnya menelan ludah berkali-kali. Kenapa ia selalu merasa kalap jika berada di toko kue milik istri kakak lelakinya itu? Rasanya ingin mencicipi satu persatu.
"Mbak ini, adik iparnya Mbak Hasna, bukan?" Nayla mengalihkan pandangannya dari deretan pastry yang berjajar pada seseorang yang berada di hadapannya.
Perempuan yang mengenakan seragam karyawan toko itu mengingat jika gadis seusia dirinya ini pernah ia lihat saat resepsi pernikahan bos mereka.
"Iya, benar." Ucap Nayla.
__ADS_1
"Gimana keadaan Mbak Hasna, Mbak? Apa sudah sembuh? Kami ingin sekali menjenguk ke rumah sakit, tapi tidak di izinkan oleh suaminya." Ucap pegawai itu.
"Alhamdulillah, Mbak Hasna sudah sehat. Hanya tinggal pemulihannya saja. Do'akan, semoga cepat diizinkan pulang." Jawab Nayla.
"Aamiin, tidak perlu di minta, kami pasti mendo'akan kebaikan untuk Mbak Hasna."
"Katanya Mbak Hasna hamil? Apa itu benar?" Nayla mengangguk.
"Astaghfirullah, apa kandungannya baik-baik saja? Mbak Hasna kan katanya sempat koma?" Suara pegawai perempuan itu mengundang rasa penasaran temannya yang lain yang tak sengaja mendengarkan obrolan mereka. Kini ada dua pegawai toko lagi yang bergabung dalam obrolan.
"Alhamdulillah, kandungannya selamat. Mbak Hasna dan calon bayinya sama-sama berjuang untuk tetap bertahan hidup. Ini, saya lagi beliin kue yang diminta Mbak Hasna." Nayla memperlihatkan nampan di tangannya.
"Mbak Hasna ngidam ya, Mbak?"
"Sepertinya begitu."
"Kalau butuh apa-apa, langsung hubungin kita aja, Mbak. Kita pasti bantu untuk membuatkan kue yang mbak Hasna inginkan. Oh iya sebentar." Nayla memperhatikan gerak gerik pegawai Hasna itu. Rupanya ia mengambilkan dua potong kue dan menyerahkannya kepada Nayla.
"Ini resep baru kami. Biasanya kami akan mencoba membuatnya bersama Mbak Hasna. Semoga Mbak Hasna suka."
"Makasih, ya."
"Ini udahan, Mbak? Apa perlu nambah yang lainnya?"
"Sudah cukup. Mbak Hasna hanya meminta croissant, tapi sepertinya saya yang kalap lihat cake yang ada di sini." Kekeh Nayla.
""Kalau gitu, siniin Mbak. Saya bantu bungkusin, ya." Nayla menyerahkan nampan yang penuh dengan kue itu. Dalam hatinya ia terkikik geli. Hasna yang hamil dan merasakan ngidam, kenapa justru dirinya yang mupeng melihat kue-kue yang begitu terlihat menggiurkan?
"Ini, Mbak." Pegawai itu menyerahkan sekantong kue pada Nayla.
"Berapa semua?" Nayla sudah mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.
"Nggak usah, Mbak. Buat Mbak Hasna, kan? Masa iya, pemilik toko di suruh bayar?" Kekeh pegawai itu.
"Tapi yang Mbak Hasna minta hanya croissant, selebihnya milik saya." Nayla menyodorkan yang yang sudah ia siapkan.
"Nggak apa-apa, Mbak. Kalau seandainya disuruh ganti rugi, kami mau kok potong gaji." Kedua temannya mengangguk bersamaan.
Sesayang itukah mereka pada Hasna? Nayla bisa melihat kekhawatiran dari raut wajah mereka saat menanyakan keadaan Hasna. Juga kelegaan saat mendengarkan jawaban darinya atas kondisi Hasna. Beruntung sekali Hasna di kelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
"Kalau gitu, ini buat tasyakuran kecil-kecilan atas kesembuhan Mbak Hasna." Nayla memberikan beberapa lembar uang lima puluh ribuan kepada mereka.
"Tapi, Mbak."
"Udah, nggak papa. Di terima, ya." Nayla kembali mendorong tangan perempuan itu agar menerima pemberian darinya.
"Makasih banyak ya, Mbak."
"Sama-sama, saya permisi dulu."
__ADS_1
Nayla segera meninggalkan toko, jangan sampai calon keponakannya menunggu lama. Bisa ileran nanti.
***