
"Saya yakin, jika Allah telah merencanakan sesuatu yang indah untuk keluarga kecil kami. Lagi pula, sangatlah tidak mungkin jika suami saya memakan uang yang bukan haknya. Suami saya tidak akan memberikan nafkah dengan uang haram seperti yang dituduhkan oleh mereka. Juga tidaklah mungkin jika bersekongkol dengan rekannya dengan alasan ada affair dengannya. Karena saya sangat mengenal siap suami saya, dan saya percaya dia tidak akan melakukan hal yang tidak sepantasnya dilakukan." Lantas perempuan berambut kuncir kuda itu tersenyum simpul.
Perkataan driver perempuan itu begitu kuat menampar Hasna. Seharusnya ia tidak langsung pergi, karena saat itu ia mendengar langsung percakapan antara Marissa dengan suaminya. Harusnya ia meminta penjelasan saat itu juga, bukan main kabur seperti saat ini. Sudah dipastikan betapa cemasnya kedua mertuanya mencari dirinya, juga Rama. Pasti laki-laki itu mencarinya sekarang.
"Astaghfirullahal'adzim, Mas Rama maafkan aku."
***
"Alhamdulillah, sudah sampai, Mbak." Ucap Mbak Nana, driver taksi online yang mengantarkan Hasna.
Di sepanjang perjalanan, mereka terlibat percakapan dan saling mengenalkan diri. Mbak Nana memiliki seorang putri berusia dua tahun. Demi mencukupi kebutuhan keluarga kecilnya, Mbak Nana rela meninggalkan bocah kecil itu sedari shubuh untuk menggantikan suaminya sebagai driver taksi online.
"Terima kasih ya, Mbak udah nganterin. Tadi sempet khawatir kalau dapat driver laki-laki, apalagi pesennya pagi-pagi sekali, selepas shubuh." Ucap Hasna.
"Iya, Mbak Hasna, sama-sama."
Hasna mengangsurkan uang pembayaran taksi pada Mbak Nana. Perempuan itu mengernyit heran. Pasalnya Hasna memberikannya terlalu banyak. Tidak sesuai dengan yang tertera di aplikasi.
"Maaf, Mbak Hasna. Ini terlalu banyak." Mbak Nana mendorong kembali tangan Hasna.
"Mbak, ini ada rezeki buat anak Mbak Nana. Sisanya buat bantu pengobatan suami Mbak Nana. Diterima ya." Ucap Hasna tulus.
"Masya Allah, Mbak Hasna." Air mata perempuan itu luruh tanpa dikomando. Kedua matanya melihat uang ditangannya dengan linangan air mata.
"Saya tidak tau lagi harus mengatakan apa sama Mbak Hasna. Rasanya terima kasih saja tidaklah cukup. Kita baru kenal kurang dari satu jam, tapi Mbak hasna..." Isakan mulai terdengar.
"Udah, Mbak. Rezeki itu diterima, di syukuri. Jangan di tangisi. Semoga berkah ya, Mbak." Hasna mengusap lembut punggung perempuan yang duduk bersebelahan dengannya.
"Aamiin, Mbak, aamiin. Semoga rezeki Mbak Hasna semakin mengalir deras. Segala urusan Mbak Hasna diberikan kemudahan sama Allah."
"Aamiin. Sekali lagi terima kasih. Mbak Nana hati-hati, ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." Hasna turun dari mobil dan menuju gerbang rumahnya yang masih tertutup rapat.
Hasna merogoh ponselnya di dalam tas. Mencari nomor Pak Mamat. Laki-laki itu pastilah sudah bangun. Hasna hafal dengan kebiasaan orang-orang yang pernah bekerja di rumah Kakek.
"Assalamu'alaikum, Pak Mamat. Ini Hasna." Ucap Hasna melalui panggilan telepon.
"Wa, wa'alaikumussalam, Mbak. Mbak Hasna di mana, kok semalam tidak pulang. Mas Rama nyariin." Cerocos Pak Mamat, sekuriti itu sangat mengkhawatirkan Hasna. Terlebih perempuan itu sampai tidak pulang.
"Pak Mamat, bisa tolong bukain gerbang depan?" Hasna rasa tidak perlu menjawab dari mana dia semalam.
"Baik, Mbak, baik. Tunggu sebentar." Sambungan pun di akhiri.
Tak lama terdengar suara kunci yang terbuka. Terlihat Pak Mamat menyembul dari balik gerbang.
"Mbak Hasna sendirian?" Laki-laki bertubuh gempal itu menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat siapa yang tengah bersama Hasna. Apakah Rama? Mengingat jika laki-laki itu tak pulang juga semalam. Tapi sepi, tak ada siapapun di sana, selain Hasna.
Hasna hanya tersenyum. Justru membuat Pak Mamat semakin bingung. Seperti ada yang Hasna sembunyikan.
"Terima kasih ya, Pak. Hasna masuk dulu."
Tanpa menunggu jawaban Pak Mamat, Hasna segera berlalu. Ia hanya tidak mau jika Pak Mamat mengajukan pertanyaan yang akan membuatnya menciptakan kebohongan untuk menutupi masalahnya dengan Rama.
Laki-laki bersarung dan berkaos oblong itu memperhatikan Hasna hingga perempuan itu sampai di teras rumah.
__ADS_1
"Ya Gusti, harus laporan sama Mas Rama iki." Pak Mamat menepuk pelan keningnya.
Gegas laki-laki itu kembali ke paviliun untuk mengambil ponselnya. Dan segera menghubungi Rama. Seperti yang Rama sampaikan kemarin.
***
Rama masih terdiam di posisinya, duduk bersandar di kepala ranjang. Matanya terjaga semalaman. Pikirannya benar-benar kacau.
Drrrtt...drrrtt...
Ponsel yang ia letakkan di atas nakas berdering. Sebuah panggilan masuk. Rama hanya meliriknya sekilas. Badan laki-laki itu menegak saat melihat ID pemanggil yang tertera di layar yang menyala.
"Pak Mamat?" Gumamnya.
Segera ia menggeser icon hijau di ponselnya. Semoga ada kabar baik tentang istrinya.
"Halo, assalamu'alaikum, Mas Rama." Suara Pak Mamat langsung menyapa pendengaran saat telepon tersambung.
"Wa'alaikumussalam, Pak Mamat. Apa ada kabar soal Hasna?" Tanya Rama to the point.
"Iya, Mas. Mbak Hasna baru pulang. Ta_"
"Saya segera pulang." Sambungan langsung di putuskan sepihak oleh Rama.
Tak ingin mengulur waktu lagi, Rama segera menyambar kunci mobilnya. Dengan tergesa ia menuruni anak tangga. Rumah masih nampak sepi, karena jam masih menunjukkan pukul empat dua puluh pagi.
Rama membuka pintu utama langsung menuju garasi.
"Tolong bukakan gerbang depan, cepat." Perintahnya pada salah seorang sekuriti yang kebetulan tengah melintas di dekat garasi.
Tin, tin, tin.
Tin, tin, tin.
"Cepat buka gerbangnya." Teriaknya.
Tin, tin, tin.
Sekali lagi klakson di bunyikan secara beruntun. Setelah gerbang berhasil di buka, mobil Rama dengan cepat melesat membelah jalanan yang masih gelap.
"Ada apa? Kenapa ramai sekali?" Tanya Papa saat mendengar keributan dari luar rumah.
"Den Rama, Pak. Kami juga tidak tau. Sepertinya sedang terburu-buru." Jawab salah satu ART.
"Ada apa, Pa?" Tanya Mama yang ikut muncul setelah mendengar keributan.
"Itu si Rama, Papa juga nggak tau." Jawab Papa.
"Ya sudah, semuanya kembali masuk." Pinta Mama.
Semua ART yang berada di luar kembali masuk ke dalam. Hanya tinggal pak Andi dan Bu Diana.
"Ada apa sebenarnya?" Tanya Mama.
"Biarkan saja, biar Rama menyelesaikan masalahnya sendiri. Kita hanya sebagai penengah jika memang diperlukan." Ucap Papa bijak.
__ADS_1
***
Rama memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, kini tujuannya hanya segera sampai rumah dan bertemu Hasna. Rama ingin menyelesaikan semua ini, ia tak mau jika Hasna pergi lagi seperti kemarin.
Waktu tempuh yang biasanya hampir satu jam, hanya Rama tempuh selama tiga puluh menit. Untung saja jalanan masih lengang.
Tin, tin, tin.
Rama membunyikan klakson dengan tidak sabar.
Tin, tin, tin.
Akhirnya gerbang di buka juga. Rama segera memarkiran mobilnya di pekarangan rumah. Lantas berlari ke dalam.
"Hasna." Suara Rama memenuhi seisi rumah.
Di bukanya pintu kamar tamu, namun kosong. Tak ada Hasna di manapun. Gegas ia ke atas, berharap jika istrinya benar telah berada di rumah ini.
Cklek.
Pintu terbuka bahkan sebelum ia membukanya. Perempuan yang semalaman hampir membuatnya gila, kini berdiri tepat di hadapannya.
"Hasna." Rama menubruk tubuh istrinya, hingga Hasna sedikit terhuyung ke belakang.
Di peluknya erat tubuh itu. Di ciumnya berkali-kali puncak kepalanya.
"Hasna, jangan pernah tinggalkan aku seperti kemarin. Aku hampir gila mencarimu seharian." Cicitnya.
"Maafkan aku, Mas. Maafkan aku." Lirih terdengar suara perempuan itu dalam dekapan Rama.
Rama mengurai pelukannya. Di tangkupnya kedua pipi yang selalu bersemu merah itu.
"Maafkan aku, seharusnya aku memberi kesempatan Mas Rama untuk menjelaskan semuanya. Maafkan aku, karena sikapku yang masih ke kanak-kanakan. Maafkan aku, karena sudah membuat Mas Rama khawatir. Maaf." Ditatapnya mata teduh yang mulai mengembun itu. Bibir bak ceri itu bergetar saat mengucapkan rentetan kata maaf untuknya.
"Aku yang seharusnya minta maaf sama kamu, Hasna. Karena aku sudah tidak jujur dan menyembunyikan permasalahan ini dari kamu. Seharusnya aku mengatakannya dari awal agar tidak ada kesalahan pahaman." Hasna mengangguk pelan.
Rama menggamit tangan Hasna, dan di dudukkannya perempuan itu di atas ranjang. Rama mengambil ponselnya, dan memperdengarkan rekaman suara, percakapan antara dirinya, Pak Dirga, juga Bu Mala. Hasna cukup mendengarkannya, karena kebenaran sudah terekam jelas. Hasna menoleh menatap Rama, laki-laki itu mengangguk mengiyakan apa yang Hasna dengar.
Setelahnya Rama menunjukkan rekaman CCTV dimana ia berada di restoran hotel bersama Marissa hingga dirinya pingsan. Setelah itu di pertunjukan inti, dimana dirinya menjadi peran utama di sana.
"Astaghfirullahal'adzim." Hasna menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, dan kembali menoleh pada Rama.
Sebagai perempuan, ia sangat malu dengan apa yang Marissa lakukan. Bahkan Marissa begitu cekatan membuka pakaian suaminya. Tindakan yang sangat menjijikkan. Bahkan Hasna tidak menyesal telah menampar perempuan itu.
Sorot mata laki-laki itu terlihat meredup, kemudian ia menunduk. Bahkan Rama sendiri malu berada dalam rekaman itu. Melihat adegan yang Marissa lakukan membuat Rama semakin membenci wanita ter kutuk itu.
"Maafkan aku, Hasna. Maafkan aku." Lirih Rama.
Walau ia tidak melakukannya dalam keadaan sadar, tetapi sudah cukup membuatnya malu menatap sang istri. Seolah ia telah mengkhianati pernikahan mereka.
"Tidak. Mas Rama nggak salah. Mas Rama juga korban disini. Aku yang seharusnya minta maaf sama Mas Rama. Aku sudah salah paham." Ucap Hasna.
"Aku beruntung sekali bertemu seseorang yang baik. Pertemuan kami yang tidak di sengaja berhasil menyadarkanku. Jika sepelik apapun permasalahan dalam rumah tangga, tak seharusnya aku pergi. Dan sudah seharusnya segera di selesaikan agar tidak berlarut." Ucap Hasna. Perempuan itu meraih tangan Rama dan mencium punggung tangannya.
Rama menarik Hasna ke dalam pelukannya. Ia merasa sangat lega telah menceritakan semuanya pada Hasna. Masalah ini benar-benar menjadi bom waktu. Ia pikir dengan Marissa mengundurkan diri dari perusahaan, masalah ini selesai. Ia salah besar jika menganggap demikian. Justru Marissa menyusun rencana untuk meminta pertanggung jawaban pada dirinya. Entah perempuan itu benar-benar hamil atau tidak, Rama pun tak tau.
__ADS_1
Kini ia cukup merasa lega karena Hasna masih mempercayainya. Rama pun tau bagaimana sakitnya di khianati, jadi dia tidak akan mengkhianati perempuan sebaik istrinya.
***