
Terlalu sulit melukiskan rasa yang membuncah dalam kalbu. Perasaan yang memenuhi rongga dada. Asa di setiap sujud dan cinta yang selalu dilangitkan dalam do'a.
"Saya rasa tidak ada salahnya, kita mencoba hubungan ini." Lamat-lamat Hasna memperhatikan siluet wajah suaminya dibawah cahaya temaram.
Bagaikan mimpi, saat ia mendengar apa yang diucapkan suaminya. Laki-laki yang dulu menolaknya dengan tegas, kini berusaha menerima ikatan yang menyatukan mereka. Sebuah ikatan yang disatukan atas nama Sang Pencipta. Ikatan yang menjadi ibadah terpanjang setiap pasangan.
"Mas Rama serius?" Hasna terkejut akan ucapan suaminya.
"Ya. Saya rasa, saya akan belajar menerima pernikahan ini, dan berusaha menjalaninya." Jawab Rama dan menoleh ke arah istrinya.
Sangat sulit Hasna menggapai hati suaminya. Hati yang dibentengi rasa kecewa akan masa lalu. Namun disaat sudah merayu Sang Pemilik hati, dengan mudah rasa itu condong kepadanya.
Setitik bulir bening menerobos dari sudut mata hasna. Hari yang selalu ia tunggu-tunggu, akhirnya datang juga. Hari di mana hati suaminya tergugah untuk menerima hubungan mereka.
"Allah, terima kasih, Engkau telah menjawab do'a di setiap sujud hamba. Saat tak bisa hamba gapai hati makhluk Mu, hanya kepada Mu hamba merayu. Engkaulah Dzat pembolak balik hati, hamba pasrahkan segalanya kepada Mu, Allah ku."
Rama tak begitu jelas melihat wajah istrinya, namun bisa ia rasakan jika perempuan itu menitikkan air mata. Isakan kecil terdengar di telinganya.
"Kenapa?"
Apakah ia salah berucap, hingga membuat istrinya menangis. Ia kira Hasna akan bahagia dengan keputusannya, tapi kenapa malah...
"Tidak, aku hanya merasa ini seperti sebuah mimpi, dan aku tak ingin lagi terbangun karenanya." Isakan kembali keluar dari bibir istrinya.
Rama tersenyum mendengar ungkapan dari istrinya. Ia tau, hanya Hasna yang mencoba menerima pernikahan mereka dari awal. Sedangkan dirinya tetap berkubang dengan luka masa lalu. Hingga membuatnya membangun benteng kokoh di antara dirinya dan Hasna.
"Maafkan saya, jika selama ini saya selalu menjaga jarak. Bantulah saya untuk belajar menerima pernikahan ini."
Hasna tak bisa lagi mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata, suaminya berusaha memperbaiki hubungan pernikahan mereka.
"Saya menerima pernikahan ini, tapi saya mengajukan sebuah syarat sama kamu?" Lanjutnya.
"Syarat?" Ulang Hasna.
"Ya."
"Kenapa harus dengan syarat?" Sebuah pertanyaan yang terdengar seperti sebuah protes ketidak setujuan.
"Karena saya tidak mau merasakan sakit untuk kedua kalinya." Tegas Rama.
"Maksud Mas Rama?"
"Saya mengajukan sebuah syarat, karena saya tidak mau jika harus mengulang masa lalu. Saya menerima pernikahan ini untuk melangkah menuju masa depan, bukan untuk tersakiti kedua kalinya."
Hasna mulai paham arah pembicaraan suaminya. Rama pernah tersakiti oleh orang yang pernah begitu berarti dalam hidupnya. Berbeda dengan dirinya yang hanya berusaha menerima dan belajar mencintai Rama sebagai suaminya. Karena Hasna tak memiliki masa lalu dengan lelaki manapun.
"Syarat apa yang Mas Rama ajukan? Akan aku coba penuhi, jika aku sanggup mewujudkan. Tapi jika tidak, tolong bimbinglah aku untuk memenuhi apa yang Mas Rama inginkan dariku."
Ucapan istrinya membuatnya yakin untuk mengungkapkan apa yang selalu membuat hatinya resah.
"Jika seandainya suatu hari nanti, kamu menemukan laki-laki yang jauh lebih segalanya dari saya, tolong katakanlah. Jangan tinggalkan saya dengan luka yang sama." Rama berusaha menahan sesak di dadanya. Mengingat masa lalunya, sama dengan mengoyak lagi luka yang hampir mengering.
Hasna terkejut dengan syarat dari Rama. Syarat macam apa itu? Sungguh tidak masuk akal. Pernikahan bukan untuk dipermainkan. Kenapa malah mengatakan jika ia seandainya menemukan laki-laki lain? Sungguh membuat Hasna tak habis pikir.
"Kenapa Mas Rama bisa mengatakan hal seperti itu? Secara tidak langsung Mas Rama sudah menuduh aku mempermainkan pernikahan kita." Hasna sedikit kesal dengan syarat yang Rama ajukan.
"Itu karena kita masih belajar untuk saling mengenal dan menerima." Sahut Rama cepat.
"Bahkan perempuan yang bertahun-tahun saya kenal, bisa menghianati. Apalagi_"
"Apalagi aku?" Sergah Hasna.
"Mas, disaat kamu mengikrarkan ijab qobul pernikahan kita, saat itu juga aku menutup mata dari pesona laki-laki yang tidak halal untukku. Menutup telinga dari rayuan yang membuat aku terbuai dengan perasaan yang tidak semestinya. Dan menutup hati rapat-rapat dari godaan yang akan membuat rumah tangga kita hancur." Selembut mungkin Hasna mengatakannya.
__ADS_1
"Lalu dengan teman Nayla?" Todong Rama.
Apa suaminya cemburu? Tapi terlalu cepat jika rasa itu ada. Suaminya baru akan mencoba untuk menerimanya, bukan?
Hasna menghirup nafas dalam. Jangan sampai Rama terpancing emosi.
"Cinta itu fitrah manusia, Mas. Siapapun tidak akan bisa mengendalikannya, walaupun dia yang memiliki rasa itu sekalipun. Aku menjaga hati Mas Rama, dengan cara menjaga hatiku juga. Karena hanya Mas Rama yang berhak aku cintai. Bukan Mama, Papa, Nayla, bahkan temannya itu."
Desiran halus memenuhi rongga dada laki-laki itu. Apakah benar jika istrinya mencintai dirinya secepat itu? Atau hanya sebatas bualan untuk meyakinkan dirinya?
"Secepat itu kamu mengatakan cinta kepada saya?" Sepertinya Rama masih sangsi dengan ucapan istrinya.
"Cepat atau lambat, aku harus bisa menumbuhkan rasa cinta itu sama Mas Rama. Mas Rama suamiku, hanya Mas Rama yang berhak atas diriku sepenuhnya. Jangankan cinta, tanggung jawab atas hidupku pun sudah Allah amanahkan di pundak suamiku, Mas Rama."
Ucapan Hasna sesaat membuatnya terbuai. Laki-laki itu merasa dicintai kembali oleh seorang perempuan yang telah menjadi istrinya. Tapi bagaimana dengannya sendiri, apakah rasa yang sama telah ada dihatinya?
"Ehemm... Semoga syarat yang saya ajukan tidak membuatmu keberatan. Kamu boleh mengajukan syarat yang sama kepada saya, atau syarat apapun yang membuat kamu nyaman?"
Hasna tersenyum tipis dibuatnya. Syarat? Bahkan kata itu tak pernah terpikirkan sebelumnya.
"Aku tidak perlu mengajukan syarat pada Mas Rama. Karena aku menerima pernikahan ini pun tanpa syarat. Aku ingin menjadikan pernikahan ini sebagai ibadah, dan bentuk bakti seorang istri terhadap suaminya."
"Apa kamu tidak takut jika saya berbuat curang di belakangmu?" Terdengar tawa kecil dari bibir istrinya.
"Apa Mas Rama ada niat?" Tak menjawab, justru Hasna menanyakan kembali pertanyaan itu kepada Rama.
"Itu seandainya." Ralat Rama sedikit kesal, seolah ia tertuduh.
"Kalaupun memang terjadi, aku tidak akan bisa berbuat apa-apa. Perasaan tak dapat dikendalikan. Tapi dari awal pernikahan kita, aku sudah memasrahkan semuanya pada Pemilik hati kita. Aku memohon supaya hatiku tetap terjaga untuk suamiku, pun sebaliknya." Jawab Hasna dengan tenang.
Sampai disini, Rama menilai Hasna bukanlah perempuan yang egois. Yang hanya mementingkan kenyamanannya sendiri.
"Bimbing aku, Mas. Bimbing aku menjadi seorang istri yang mengabdikan hidup untuk suaminya." Pinta hasna tulus.
Seketika Rama menatap siluet istrinya. Ada senyuman di kedua sudut bibir istrinya, perempuan itu benar-benar membuatnya merasa dihargai sebagai seorang suami.
"Tidurlah, sudah malam. Saya juga ingin beristirahat."
Hasna kembali menarik selimutnya, dan berusaha memejamkan lagi kedua matanya.
***
Rama melenguh kecil sebelum akhirnya terjaga. Netranya memindai sekeliling, bukan kamar pribadinya. Ia pun terduduk dan mulai mengingat apa yang terjadi, kenapa ia berada di kamar ini?
Rama baru ingat jika semalam dirinya meminta untuk tidur di kamar Hasna. Dia juga meminta syarat pada istrinya itu, saat ia menerima pernikahan mereka.
Cklek
Atensinya teralihkan saat pintu kamar mandi terbuka, rupanya Hasna. Sepertinya istrinya itu baru saja mandi. Wajahnya terlihat segar.
"Mas Rama sudah bangun?" Rama mengangguk kecil.
"Mau Hasna bantu?" Tawar Hasna, Rama kembali menganggukkan kepalanya.
Rama perlahan turun dari ranjang dan dibantu Hasna untuk ke kamar mandi. Seperti biasa, Hasna hanya menunggu di luar dan menyiapkan keperluan sholat suaminya.
Setelah membantu Rama, Hasna segera menuju ke dapur untuk membuat sarapan. Kebetulan hari ini Rama ada jadwal kontrol ke rumah sakit, juga terapi dengan dokter ortopedi.
Sarapan siap pukul enam tepat, bertepatan dengan Rama yang baru keluar dari kamarnya.
"Mas Rama mau sarapan sekarang?" Tawarnya saat Rama mendekat ke meja makan.
"Tidak, saya ingin mandi."
__ADS_1
Hasna terdiam tak menjawab perkataan Rama. Apakah ia harus menawarkan bantuannya?
"Kamu tidak mau membantu saya?"
"Eh?"
Tiba-tiba saja kedua pipinya bersemu merah. Padahal sudah beberapa kali ini ia membantu suaminya ke kamar mandi. Walaupun sebatas mengantar, membantu dan menunggunya diluar.
Tapi kali ini rasanya berbeda. Semenjak pillow talk yang mereka lakukan semalam. Hubungan mereka perlahan menghangat.
Rama meraih pergelangan tangan istrinya, membuat perempuan itu tersentak dan membolakan mata. Pandangannya tertuju pada genggaman suaminya. Bahkan ini yang pertama kalinya. Reflek Hasna mengikuti langkah Rama menaiki anak tangga.
Genggaman tangannya terlepas saat Rama membuka pintu. Laki-laki itu masuk terlebih dahulu, dan Hasna mengikutinya di belakang.
Rama membalikkan badannya, sedikit menunduk pada wajah istrinya. Jantung Hasna berdetak lebih cepat, saat wajah keduanya hanya berjarak beberap senti saja. Bahkan hembus nafas Rama terasa hangat menyapu permukaan kulit wajahnya.
"Bantu saya mandi di dalam." Bisiknya.
Mata teduh itu membola sempurna. Nafasnya serasa tertahan. Membantu yang bagaimana? Kenapa pula harus diucapkan dengan berbisik? Bukankah selama ini dia juga membantu Rama melepaskan pakaian dan menggantikannya? Seketika perempuan itu menjadi gelisah.
Rama kembali menggamit tangan istrinya memasuki kamar mandi pribadinya. Tak ada penolakan.
"Bantu saya melepaskan pakaian ini." Lirihnya.
Ada apa dengan pagi ini? Kenapa suaminya itu tiba-tiba senang sekali berbisik kepadanya.
Hasna membuka ikatan arm Sling yang terkait di bahu suaminya. Kemudian membuka satu persatu kancing baju milik Rama. Tak ada pergerakan dari laki-laki itu seperti biasanya.
Sebelumnya saat Hasna membantunya melepaskan pakaian, Rama selalu membantu menggerakkan tangan kirinya, dan Hasna membantu saat melepaskan bagian kanan bajunya.
Hasna sedikit mendekat ke arah Rama. Ia sedikit kesusahan untuk melepas pakaian suaminya itu.
"Mas Rama, bantu aku."
"Ya?"
"Bantu aku melepas pakaian." Pintanya.
"Saya minta bantuan sama kamu, kenapa kamu malah meminta saya membantu kamu melepaskan pakaian juga?" Ucap Rama lembut.
Siapa yang salah menangkap arti pembicaraan disini, Rama atau dirinya?
"Maksudku, tolong bantu gerakkan tangan kiri Mas Rama seperti biasanya."
Dengan sengaja Rama menggerakkan tangan kirinya ke depan, membuat Hasna lebih dekat padanya.
Rasanya nafas Hasna terhenti beberapa detik. Jarak antara wajah dengan dada bidang suaminya begitu dekat. Hasna tak menghindar seperti yang biasa ia lakukan. Perempuan itu bertahan di posisinya.
Air shower mengucur diatas keduanya, menyadarkan Hasna yang tengah terpaku menatap keindahan suaminya.
Perempuan itu gelagapan dan segera mengalihkan pandangannya. Malu sekali rasanya. Rama, laki-laki itu tersenyum mendapati ekspresi yang ditunjukkan istrinya itu.
"Se...sebaiknya, a...aku keluar." Ucapnya terbata.
Hasna segera melangkah meninggalkan Rama, namun gerakannya kalah cepat. Rama sudah mengungkung pergerakannya di dinding kamar mandi.
Pergerakannya terkunci, jarak terkikis semakin dekat. Pakaian keduanya pun semakin basah. Jantung keduanya berdentum kuat. Hanya gemericik air yang terdengar.
"Ma... Mas Rama hari ini ada jadwal kontrol ke rumah sakit. A...aku akan segera bersiap."
Rupanya Hasna menemukan alasan yang tepat untuk bisa keluar dari situasi ini.
"Lalu pakaian saya?" Bisik Rama.
__ADS_1
Hasna kembali membantu Rama melepaskan pakaiannya. Ia sudah tak tau lagi, semerah apa wajahnya saat ini.
***