Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 47


__ADS_3

Hasna merasakan kenyamanan saat berada dipelukan Rama. Dapat Hasna dengar dengan jelas degup jantung laki-laki yang tengah mendekapnya itu. Mungkin degupan yang sama juga terdengar darinya.


Ragu-ragu Hasna mengulurkan tangan untuk mendekap tubuh Rama. Nyaman, itu yang Hasna rasakan. Rama tersenyum dengan reaksi istrinya. Ternyata perempuan itu masih malu berdekatan dengannya.


Beberapa saat keduanya terdiam. Menikmati momen kedekatan mereka untuk yang pertama kali. Lebih intim dari sebelumnya.


"Boleh, saya menanyakan sesuatu sama kamu?"


Hasna mendongakkan sedikit kepalanya untuk melihat wajah sang suami.


"Sudah lama saya sangat penasaran, makanya saya ingin menanyakan hal ini sama kamu." Rama menatap mata teduh perempuan dalam dekapannya itu.


"Apa?" Lirih Hasna. Apa yang akan Rama tanyakan. Kenapa tiba-tiba dia merasa gelisah.


"Apa setiap tidur kamu selalu memakai kerudung? Apa kamu tidak merasa gerah? Tapi seingat saya kamu pernah melepaskannya saat menginap di rumah Mama."


Jadi masalah itu, Hasna kira apa. Perempuan itu tak langsung menjawab, justru Hasna merapatkan kembali pelukannya.


"Maaf, aku belum terbiasa." Jawabnya pelan.


"Belum terbiasa, kenapa?" Rama semakin penasaran.


"Aku tidak pernah membuka kerudung dihadapan orang lain sebelumnya, kecuali sesama perempuan. Jadi aku belum terbiasa jika membuka kerudung di hadapan Mas Rama." Akunya malu-malu.


"Jadi, waktu di rumah Mama, itu pertama kalinya kamu membuka kerudung kamu dihadapan saya?" Tebak Rama.


"Itu karena aku tidak tau kalau Mas Rama akan pulang." Hasna mencebikkan bibirnya.


"Ah, saya lupa. Kamu juga pernah membuka kerudung kamu sebelumnya, ketika saya baru pulang dari Jepang." Rama mengingatnya, mengingat saat istrinya itu tengah memasak di dapur, dan berujung menahan rasa laparnya hingga istrinya itu keluar dari kamarnya.


"Itu juga aku tidak tau, kalau Mas Rama pulang lebih cepat." Sangkalnya lagi.


"Ahhh...jika mengingatnya, membuat saya jadi kesal." Gerutu Rama.


"Kenapa?" Hasna menengadahkan wajahnya.


"Karena saya menahan lapar, gara-gara kamu tak kunjung keluar dari kamar." Rajuk Rama.


Bahu Hasna terguncang, sepertinya istrinya itu tengah tertawa.


"Kok malah tertawa?" Tanya Rama.


"Itu karena aku malu banget. Aku malu ketemu Mas Rama, setelah Mas Rama memergoki aku tanpa kerudung di dapur." Aku Hasna. Lantas perempuan itu tertawa.


"Berarti saya dong laki-laki pertama yang melihat kamu tanpa penutup kepala?" Tanya Rama. Hasna menggeleng pelan, membuat Rama kecewa.


"Tidak, bukan Mas Rama."


"Lalu?" Tiba-tiba saja Rama merasa kesal.


"Almarhum ayah dan juga Kakek. Mereka laki-laki pertama yang melihat aku tanpa kerudung." Jawab Hasna.


Rama merasa bersalah di sini. Laki-laki yang Hasna sebutkan adalah laki-laki yang memberi istrinya limpahan cinta. Mereka semua telah tiada. Bahkan di akhir hayat sang kakek, beliau menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab atas cucu perempuannya padanya. Sedangkan dirinya?


"Maaf." Lirih Rama.


"Tidak apa-apa." Hasna kembali mengeratkan pelukannya.


Keduanya terdiam sesaat. Hanya detak jantung keduanya yang terdengar.


"Emmm... berarti saat di rumah Mama, waktu itu kamu malah memakai baju tidur yang_."


Hasna membekap mulut Rama agar tak melanjutkan lagi ucapannya. Ia masih ingat dengan jelas, dan kejadian itu membuatnya malu setengah mati.


"Udah, jangan diterusin, aku malu." Rupanya perempuan itu mulai merajuk.


Rama tersenyum mendengar pengakuan istrinya. Ia merasa menjadi suami yang istimewa sekarang. Bagaimana tidak, baru dia lelaki pertama yang melihat surai hitam istrinya, selain mahramnya. Bahkan bisa dipastikan, dia pula laki-laki pertama yang menyentuh istrinya.


"Kok malah senyum-senyum? Mas Rama ngeledek ya?" Dia merajuk lagi.


"Tidak, justru saya sangat senang mendengarnya. Itu artinya, saya adalah laki-laki pertama yang melihat keindahan dalam diri perempuan secantik kamu."


Senyuman mengembang di wajah Hasna. Suaminya memuji dirinya cantik? Membuat pipinya menghangat seketika.

__ADS_1


"Seandainya saya meminta kamu untuk melepaskan kerudung kamu dihadapan saya, apa kamu mau?" Tanya Rama.


"Dan itu bukanlah hal yang melanggar syari'at, bukan?" Sambungnya, sebelum ada penolakan dari istrinya.


Terasa gelengan pelan dalam pelukannya. Rama tersenyum, dan menunggu reaksi Hasna selanjutnya.


Tapi setelah beberapa menit, tak ada pergerakan dari istrinya.


"Ehem...jadi, bagaimana?" Rupanya Rama masih menunggu.


"Apanya?"


Rupanya istrinya itu berpura-pura tidak paham akan permintaannya, membuat Rama mendengus kesal.


Tapi perlahan Hasna mengurai pelukan suaminya dan memposisikan dirinya untuk duduk. Rama mengikuti pergerakan istrinya, dan ikut duduk disamping Hasna.


Perempuan itu terdiam dan menundukkan kepalanya. Sepertinya Rama tau jika istrinya itu tengah menunggu reaksi darinya.


Tangan kiri Rama terulur dan menarik simpul ikatan di kerudung yang istrinya kenakan. Perlahan ia buka kain penutup kepala istrinya itu. Ditariknya juga ikatan rambut Hasna. Surai indah pun tergerai melewati punggung perempuan cantik itu.


Untuk pertama kalinya Rama melihat dengan jelas rambut istrinya itu tergerai.


"Berbaliklah. Saya ingin melihatnya dari depan." Pinta Rama.


Hasna menggeser posisinya agar bisa berhadapan dengan Rama. Rama mengangkat dagu istrinya yang tertunduk.


"Cantik." Hanya kata itu yang keluar.


Perempuan itu benar-benar cantik. Selama ini ia selalu menutup rapat keindahannya dari mata yang tidak halal memandangnya.


Hasna menutup wajah dengan kedua telapak tangannya saat Rama mengatakan jika dirinya cantik.


"Kenapa ditutup?" Goda Rama.


"Aku malu, apalagi lampunya masih nyala." Ucap Hasna, membuat Rama tergelak mendengarnya.


"Kok malah ketawa?" Sewot Hasna.


"Saya jadi ingat kejadian tadi pagi. Kamu memakaikan saya celana sambil merem, sudah seperti mengikuti lomba agustusan." Kini Rama malah tertawa.


"Kenapa Mas Rama selalu mengingat kejadian yang memalukan itu sih.?" Protesnya.


"Karena ekspresi kamu sangat lucu." Kekeh Rama, membuat Hasna mencebikkan bibirnya.


"Tapi kamu sungguh cantik, Hasna. Terima kasih, kamu sudah menjaga keindahan ini untuk saya." Ucap Rama.


Lagi-lagi kedua pipinya bersemu merah mendengar pujian dari suaminya.


***


Pagi ini ada yang berbeda. Hasna melakukan kegiatannya dengan leluasa tanpa mengenakan kerudung yang selalu menutupi kepalanya.


Semalam Rama memintanya agar menanggalkan kain yang selalu menutup kepalanya itu saat hanya berdua dengannya.


Hasna tengah berkutat dengan kegiatannya di dapur, sedangkan Rama masih berada di ruang kerjanya. Pagi ini ia akan mengadakan zoom meeting dengan beberapa petinggi perusahaan.


Mungkin untuk seminggu ke depan, ia akan bekerja dari rumah. Perusahaan biarlah Ivan yang menghandle nya, ada Marissa juga yang akan membantu asistennya.


Rama menuruni anak tangga mencari keberadaan istrinya di dapur. Namun tak mendapati siapapun disana. Sarapan sudah terhidang di meja, tapi istrinya tak nampak dimana-mana.


Rama memeriksa kamar tamu yang dipakai Hasna, tetap kosong. Pun dengan kamar mandi. Tak mungkin istrinya itu keluar tanpa seizinnya.


"Kemana dia?" Gumam Rama.


Lantas Rama menuju ruang laundry yang terletak di belakang dekat kolam renang. Benar saja, istrinya itu tengah menjemur pakaian yang baru saja di cuci.


"Hasna." Panggil Rama.


"Eh, iya, Mas?" Hasna sedikit berjingkat mendengar panggilan suaminya.


"Ada apa? Mau sarapan sekarang?" Hasna meletakkan kembali cucian yang belum sempat ia jemur.


"Tidak, nanti saja." Tolaknya.

__ADS_1


"Kalau begitu Mas Rama tunggu di ruang tengah. Biar aku selesaikan ini dulu, kurang sedikit lagi." Pinta hasna. Suaminya tak beranjak, malah duduk di kursi yang biasa Hasna gunakan untuk menyetrika pakaian.


"Apa perlu kita ambil ART?" Tanya Rama saat memperhatikan istrinya bekerja di ruang laundry.


"Aku rasa tidak. Aku masih bisa melakukannya." Tolak Hasna.


"Tapi pekerjaan kamu banyak sekali. Membersihkan rumah, memasak dan sekarang mencuci. Belum nanti bantuin saya." Protes Rama.


"Bahkan saya tidak pernah melihat kamu pergi bekerja lagi. Jangan sampai karena merawat saya, kamu melupakan tanggung jawab kamu di tempat kerja. Lebih baik kamu resign saja." Ucap Rama.


"Tidak, kenapa harus resign? Merawat kamu itu tugas aku, lagi pula itu tidak mengganggu pekerjaan." Kilah Hasna.


"Apa atasan kamu tidak marah? Saya tidak mau kamu kena masalah."


"Tidak, Mas Rama jangan khawatirkan hal itu. Mereka bisa memahami kondisiku saat ini. Makanya aku sering menyelesaikan pekerjaanku di rumah. Asalkan tidak terbengkalai." Jawab Hasna.


Rama mengangguk kecil mendengar penuturan istrinya. Syukurlah kalau begitu.


"Emmm... Sebenarnya kamu bekerja di mana?" Rama mulai penasaran dengan pekerjaan istrinya.


"Di rumah makan." Jawab Hasna.


"Pasti tempatnya besar, karena kemarin tidak sengaja saya sempat melihat pembukuan di laptop kamu. Omsetnya sangat fantastis, tiga digit dengan enam barisan angka setelahnya." Rama masih ingat jelas deretan angka di laporan keuangan yang istrinya kerjakan.


Hasna meletakkan keranjang laundry yang telah kosong, lalu duduk disamping suaminya.


"Alhamdulillah, semoga berkah ya, Mas." Ucap Hasna lantas tersenyum pada suaminya.


"Kamu capek?" Tanya Rama. Rama meraih tangan Hasna yang terasa dingin. Diremasnya perlahan untuk menyalurkan kehangatan.


"Sedikit." Perempuan itu tersenyum. Perlakuan Rama membuatnya berdebar.


"Oh iya, kemarin Mama mengingatkan, jika lusa Papa ulang tahun." Hasna berusaha menguasai kegugupannya.


"Mama bilang, Mas Rama jangan sampai lupa. Kebiasaan soalnya." Kekeh Hasna.


Rama menepuk keningnya pelan, dia hampir melupakannya.


"Saya bahkan tidak mengingat, padahal kemarin Mama sempat mengatakannya waktu ke sini."


Rama tidak ingat karena rasa kesalnya gara-gara kado dari pengagum istrinya tempo hari.


Dan selama ini Rama selalu lupa akan hari-hari penting, karena terlalu menyibukkan dirinya dengan pekerjaan.


"Haaahhh... Bakal kena omel Mama lagi jika saya sampai lupa." Rama menggaruk pelipisnya. Hasna tersenyum mendengarnya.


Hasna tau sekali bagaimana Mama mertuanya itu. Kalau sudah mengomel pada suaminya, pasti akan panjang dan berujung merajuk.


Ya, Mama mertua sangat dekat dengan kedua anaknya. Hanya saja ada jarak dengan Rama setelah putranya mengalami kegagalan dalam urusan hati. Rama menjadi sosok yang dingin dan tertutup.


Tapi kini suaminya berubah menjadi pribadi yang hangat. Bahkan sudah menerimanya sebagai seorang istri. Memperlakukannya dengan baik. Hasna bisa merasakan kembali kebahagiaan yang hilang sepeninggal sang kakek dari perlakuan suaminya saat ini.


Masih bisa ia ingat dengan jelas bagaimana Rama memperlakukannya di awal pernikahan mereka. Dirinya hanya dianggap sebagai orang asing di rumah suaminya. Bahkan mungkin kehadirannya tak pernah diharapkan.


Semoga saja kebahagiaan ini selamanya ia rasakan bersama Rama. Laki-laki pertama yang berhasil masuk ke dalam hidupnya. Laki-laki pertama yang harus ia cintai selain ayah dan kakeknya. Laki-laki yang membawa beban berat di pundaknya atas dirinya, yang akan dipertanggung jawabkannya kelak dihadapan Sang Pemilik Kehidupan.


***


Setelah makan siang, Hasna masuk ke dalam kamarnya, di kamar tamu. Ada beberapa pekerjaan yang belum sempat ia bereskan.


"Tolong dikirim saja bahan bakunya sesuai dengan alamat, nanti pembayaran akan segera saya transfer." Ucap Hasna melalui sambungan telepon.


Matanya tetap fokus pada layar laptop dihadapannya. Memeriksa beberapa laporan yang dikirimkan via email.


Beberapa hari mengurus Rama, hanya pembukuan yang sempat ia kerjakan. Sedangkan yang lainnya, ia harus diingatkan dulu oleh para pegawainya.


Seperti barusan, ia mendapatkan telepon jika bahan baku di restoran semakin menipis. Tempat usahanya itu selalu ramai di kunjungi. Sepertinya ia harus melimpahkan tugas ini pada orang kepercayaannya. Dan hanya perlu mengontrolnya saja.


Hasna langsung menghubungi suplier yang bekerja sama dengannya untuk mengirimkan bahan-bahan yang dibutuhkan. Sekalian belanja untuk keperluan dapur katering juga toko kuenya.


"Iya, untuk jumlah seperti biasanya. Terima kasih. Assalamu'alaikum." Hasna mengakhiri sambungan telponnya.


Hasna sangat bersyukur, karena tempat usahanya berkembang sangat pesat. Banyak yang mempercayakan acara penting mereka di gerai usahanya, tempat katering dan toko kuenya. Sudah banyak yang dipekerjakan. Sama dengan ia mengurangi pengangguran. Karena rata-rata pegawainya baru saja lulus sekolah. Yang terpenting mereka jujur, giat dan bertanggung jawab dengan pekerjaannya .

__ADS_1


***


__ADS_2