Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 61


__ADS_3

Kencan pertama yang seharusnya berkesan, justru berujung memalukan. Semuanya gagal total. Rama merutuki kebodohannya. Ia terbawa suasana saat berada di dekat istrinya, sehingga membuatnya sulit mengendalikan diri.


"Mas Rama kebiasaan, suka tidak melihat tempat." Protes Hasna. Bibir perempuan itu terlihat mengerucut.


"Iya maaf, aku khilaf." Sesalnya. Rama merangkul pundak istrinya.


"Ini kejadian yang sangat memalukan sekali." Gerutu perempuan itu.


Bagaimana tidak, keduanya kepergok sedang beradegan yang tidak semestinya di gedung bioskop.


"Ya...kamu benar." Dengus Rama.


"Pulang aja, yuk." Ajak Hasna. Perempuan itu sudah tidak berminat melanjutkan acara kencan mereka.


"Oke, tapi kita makan dulu."


Rama mengajak Hasna untuk makan malam dahulu sebelum memutuskan untuk kembali ke hotel. Karena kejadian barusan membuatnya ingin memakan sesuatu untuk meluapkan kekesalan.


***


Hasna mengemudikan mobil kembali, menyusuri jalanan di malam hari. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, sudah terlalu larut rupanya. Mendung sudah bergelayut di langit, di hiasi kilatan petir. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan.


Hasna merasakan ada yang tidak beres pada mobil yang di kendarainya. Terasa sedikit oleng.


"Ada apa?" Tanya Rama.


"Nggak tau, tiba-tiba oleng. Jangan-jangan bannya kempes lagi." Hasna segera menepi dan memeriksa kondisi ban mobil. Ternyata memang kempes.


"Kenapa?" Rama turut turun menghampiri istrinya.


"Bannya kempes." Hasna menunjuk ban depan yang kempes itu.


"Ada ban serep nggak?" Tanya Hasna.


"Sial, kemarin sempat pecah ban." Gerutu Rama.


"Terus, gimana?"


"Kita masuk dulu, udah mulai hujan soalnya." Ucap Rama.


Keduanya masuk ke dalam mobil. Dan benar saja, hujan mulai turun. Rama membuka layanan map di ponselnya, mencari bengkel terdekat dari lokasi mereka saat ini.


"Bengkel ada di titik tiga ratus meter dari sini." Ucap Rama.


"Coba hubungi bengkelnya, siapa tau bisa kirim montir ke sini." Saran Hasna.


Rama mengikuti saran istrinya, mencoba menghubungi bengkel terdekat agar segera mendapatkan bantuan. Namun sayang sekali montir mereka sedang ada pekerjaan di luar dan belum kembali.


"Gimana, Mas?" Rama menggeleng pelan.


"Montir mereka sedang ada pekerjaan di luar dan belum kembali."


Rama kembali mengamati situasi di luar dari dalam mobil. Hujan semakin deras dan sesekali terdengar petir yang menyambar.


"Sepertinya kita akan tunggu reda dulu, baru nanti cari taksi online." Rama melirik jam di pergelangan tangannya. Hampir pukul sebelas malam.


Rama melirik Hasna yang sudah mulai mengantuk, sebenarnya dia tak tega melihatnya. Apalagi Hasna yang menyetir.


"Sebaiknya kamu tidur dulu. Nanti kalau sudah reda, aku bangunin." Hasna hanya mengangguk, karena rasa kantuk yang mulai bergelayut di kedua matanya.


Ada panggilan masuk di ponselnya, dari Pak Yanto. Mungkin laki-laki itu tengah menunggu keduanya kembali ke hotel.


"Iya, Pak?"


"Maaf, Den. Den Rama ada di mana ini? Saya ketuk-ketuk pintu, tidak ada yang buka. Apa Aden sudah kembali?" Terdengar kekhawatiran dari nada bicara sopirnya itu.


"Kami masih ada di luar, Pak. Kebetulan ban mobil saya kempes, dan ban serepnya kemarin sempat pecah. Mungkin saya akan menunggu hingga reda." Ucap Rama.


"Udah telepon bengkel belum, Den?" Tanya Pak Yanto.


"Sudah, Pak. Tapi montir mereka masih berada di luar. Dan jarak bengkel dari lokasi saya lumayan jauh." Terdengar hembusan nafas berat dari seberang sana.


"Pak Yanto istirahat saja dulu. Jangan khawatirkan kami. Kami akan segera kembali saat hujan reda." Rama berusaha menenangkan.


"Baik kalau begitu, Den. Hati-hati ya Den."

__ADS_1


"Iya, Pak." Rama menutup sambungan telepon.


***


Terdengar ketukan di kaca mobil tepat di samping Rama. Laki-laki itu sedikit menggeliat. Kembali ketukan terdengar dan sedikit keras, memaksa sepasang suami istri itu terjaga.


Rupanya Rama ikut tertidur. Hari masih gelap. Rama melirik jam yang membelit pergelangan tangannya, masih pukul dua dini hari.


Lagi, ketukan di kaca mobil menyadarkannya. Rama sedikit menurunkan kaca di sampingnya. Seorang laki-laki berseragam tengah berdiri di sana.


"Maaf, ada apa, Pak?" Tanya Rama dengan suara khas bangun tidur.


"Boleh turun sebentar?" Kata laki-laki itu. Rama pun menuruti turun dari mobil.


"Mohon maaf, bisa tunjukkan identitas anda?" Rama merogoh kantong celananya, mengambil kartu identitas dari dalam dompet.


Laki-laki berseragam itu menerima kartu identitas yang Rama berikan. Membacanya sekilas dan menyerahkannya kembali pada Rama.


"Saudara Rama, bisa jelaskan, kenapa anda menghentikan kendaraan di sini? Anda bisa melihat rambu-rambu di sebelah sana?" Laki-laki itu menunjuk rambu yang berada tepat di belakang mobil Rama.


"Maaf, Pak, saya tidak melihatnya, karena ban mobil saya kempes saat perjalanan akan menuju hotel." Jelas Rama. Mana sempat ia melihat rambu jalan saat keadaan darurat seperti ini.


Laki-laki berseragam itu sedikit melongokkan kepala melihat siapa yang berada di dalam mobil selain Rama.


"Di dalam mobil anda sedang bersama siapa?" Tanya petugas itu menyelidik.


"Istri saya, Pak." Rama menoleh sekilas pada mobilnya. Tiba-tiba saja Rama memiliki firasat buruk. Hasna merasa jika dirinya menjadi objek pembicaraan, sehingga perempuan itu turun dari mobil.


"Bisa tunjukkan bukti bahwa yang di dalam itu istri anda?" Tuh kan benar.


"Ada apa?" Tanya Hasna pada Rama.


Petugas mengamati penampilan Hasna yang sedikit berantakan karena baru saja bangun dari tidur. Lalu melihatnya bergantian dengan Rama.


"Maaf, apa benar saudari istri dari saudara Rama?" Tanya petugas itu.


"Iya, saya istrinya." Hasna membenarkan.


"Bisa tunjukkan pada saya, jika kalian ini suami istri?" Hasna mengernyit heran dan saling pandang dengan Rama.


"Di daerah sekitar sini sering kali terjadi tindakan asusila pasangan di luar pernikahan. Dan sudah sering kami melakukan razia." Rama membulatkan matanya. Razia? Jangan-jangan...


"Dan sejak semalam kami mengamati pergerakan dari mobil yang anda kendarai. Bahkan hingga sekarang kendaraan anda masih terpantau di titik yang sama. Dan kami mencurigai ada tindakan asusila yang anda lakukan di sini." Lanjut petugas itu. Sekali lagi ia mengamati penampilan Rama dan Hasna bergantian.


Wajah Rama terlihat geram menahan emosi, tindakan asusila bagaimana yang di maksudkan? Bukankah ia sudah menjelaskan sebelumnya alasan kenapa ia sampai berada di sini.


"Sabar Rama, tahan. Jangan sampai terpancing emosi."


Seketika Rama mengingat cincin di jari manisnya.


"Ini bukti jika kami adalah pasangan sah sebagai suami istri." Rama mengangkat tangan kanan Hasna dan menunjukkan cincin pernikahan yang sempat ia beli beberapa waktu lalu.


Rama berharap jika itu akan berhasil meyakinkan petugas.


"Mohon maaf, di kejadian-kejadian sebelumnya banyak pasangan yang mengenakan cincin yang menyerupai cincin pernikahan. Tapi sebenarnya mereka bukanlah pasangan suami istri. Itu hanya sebagai alat untuk mengelabuhi kami." Ucap petugas.


Sepertinya akan menguras emosi di pagi buta. Rama mencoba tenang. Semoga saja ada jalan.


"Apa kalian ada foto atau video saat pernikahan? Atau surat nikah?" Tanya petugas lagi.


"Bagaimana mungkin saya membawa dokumen pernikahan? Yang benar saja." Rama mendengus kesal. Sungguh amarahnya sudah mencapai ubun-ubun.


"Kalau foto atau video?" Desak petugas.


Sepertinya mereka menyerah jika berurusan dengan bukti pernikahan yang di minta. Tidak ada sesuatu yang dapat mereka tunjukkan.


"Jika tidak ada bukti, silahkan ikut kami ke kantor. Nanti kalian bisa membuat laporan di sana." Ucap petugas itu.


Hampir saja Rama melayangkan pukulan saking kesalnya. Untung Hasna bisa merasakan pergerakan suaminya. Perempuan itu menggeleng pelan.


Sial, sungguh sial sekali. Rutuk Rama dalam hati.


***


Rama juga Hasna sama-sama terdiam. Keduanya terpaksa mengikuti petugas ke kantor polisi pamong praja di daerah kota yang mereka kunjungi. Mereka berdua di gelandang layaknya pasangan mesum yang terkena razia. Sungguh membuat emosi Rama semakin memuncak.

__ADS_1


Bahkan keduanya tidak diperbolehkan duduk bersebelahan. Rama bersama beberapa pemuda yang bernasib sama dengannya. Dan Hasna, perempuan itu terlihat lebih tenang. Beberapa kali terdengar hembusan nafas perlahan dan istighfar yang terucap dari bibirnya.


Rama menghubungi pengacaranya. Semoga saja Pak Darmawan bisa membantunya. Hanya beliau harapan Rama satu-satunya. Sudah lima kali ia mencoba menghubungi pengacaranya, namun panggilannya tak kunjung mendapat jawaban. Maklum saja, ini masih pukul tiga dini hari.


Rama menghembuskan nafasnya kasar, berharap agar panggilannya terjawab kali ini. Tapi masih sama seperti sebelumnya. Sekali lagi ia coba, dan berhasil, panggilannya dijawab, membuatnya bernafas lega.


"Halo, Pak Darma. Mohon maaf saya menganggu waktu istirahat Bapak di jam segini." Ucap Rama mengawali percakapannya via telepon.


"Iya, Pak Rama. Ada yang bisa saya bantu?" Terdengar jawaban dari seberang.


Rama menceritakan kronologi hingga dirinya berada di kantor polisi saat ini. Sebagai pengacara, Pak Darma tentunya harus bisa menyelesaikan permasalahan yang kliennya hadapi.


"Baiklah, Pak. Saya akan segera ke sana dan membawa berkas yang Bapak minta." Ucap Pak Darmawan.


"Alhamdulillah, terima kasih banyak, Pak Darma. Sekali lagi mohon maaf." Ucap Rama tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, Pak. Saya akan segera bersiap." Rama menutup panggilannya.


Sekilas ia menoleh pada Hasna yang memandang ke arahnya. Rama tersenyum yang mengangguk pada istrinya, seolah mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja.


***


Hasna meminta izin pada petugas agar dia di berikan kesempatan untuk menunaikan kewajibannya. Dan Rama pun melakukan hal yang sama. Tapi mereka tetap mendapatkan pengawalan. Mungkin saja mereka takut jika keduanya akan melarikan diri.


"Sebentar lagi Pak Darma akan kemari. Kamu tenang ya, semua akan baik-baik saja." Ucap Rama berusaha menenangkan Hasna. Perempuan itu hanya mengangguk dan tersenyum kepadanya.


Pak Darmawan baru saja sampai saat jam menunjukkan pukul delapan kurang beberapa menit. Untung saja pengacara itu berangkat saat sebelum waktu shubuh, saat jalanan masih sepi.


Pak Darmawan di antar untuk bertemu dengan kliennya. Beliau melihat penampilan Rama yang terlihat kusut. Rambut dan pakaian yang biasanya rapi terlihat berantakan.


"Pak Rama." Pak Darmawan menghampiri Rama saat laki-laki itu tengah menerima panggilan dari Pak Yanto.


"Pak Yanto tenang, kami baik-baik saja. Sebentar lagi saya akan segera kembali ke hotel." Ucap Rama berusaha menenangkan sang sopir.


Rama mematikan ponselnya dan menyambut Pak Darmawan. Keduanya berbincang sejenak hingga pada akhirnya membuat laporan jika Rama dan Hasna memang benar-benar pasangan suami istri yang sah. Juga menunjukkan bukti yang mereka minta.


"Baiklah, maafkan kami, kami hanya menjalankan tugas kami. Semoga kedepannya kami tidak melakukan kesalahan yang serupa." Ucap petugas.


Rama bernafas lega dan segera menghampiri istrinya.


"Ayo kita pulang, kamu butuh istirahat." Hasna hanya mengangguk.


"Sekali lagi, terima kasih Pak Darna. Mohon maaf saya sudah merepotkan dan menganggu waktu istirahat Bapak." Ucap Rama.


"Tidak apa-apa, Pak. Jujur saja saya merasa sedikit bersemangat saat Pak Rama menceritakan kronologi kejadian kemarin. Saya sangat penasaran sekali jadinya." Kekeh Pak Darmawan.


"Ini pengalaman pertama saya selama mendampingi Pak Rama. Membebaskan Bapak yang terjaring razia satpol PP." Beliau terkekeh kembali, kasus langkah menurut beliau di kalangan pengusaha sekelas Rama.


Rama tersenyum menahan malu. Ya, memang benar yang dikatakan pengacaranya, ini adalah kali pertama ia terjerat kasus aneh semacam ini.


"Ya...mungkin suatu saat nanti bisa saya ceritakan kepada anak cucu saya, jika ayah dan ibunya pernah terjaring razia." Kekeh Rama pada akhirnya.


Pak Darmawan mengantarkan keduanya kembali menuju lokasi mobil mereka semalam. Rama kembali menghubungi bengkel terdekat. Untung saja mobil derek segera datang. Kalau tidak, bisa kena razia lagi mereka.


***


Rama kembali ke hotel menjelang jam makan siang. Pagi tadi dirinya hanya makan sebungkus roti dan sebotol air mineral yang ia beli di minimarket dekat bengkel.


Pak Yanto menyambutnya di lobi dengan wajah yang terlihat cemas. Laki-laki paruh baya itu menghembuskan nafas lega manakala melihat kedua majikannya kembali.


"Alhamdulillah, Bapak lega sekarang. Bapak cemas saat mengetahui jika Aden tidak kembali ke hotel semalam." Ucap Pak Yanto.


"Alhamdulillah, semuanya baik-baik saja. Bapak sudah makan siang?" Tanya Rama.


"Bapak tidak ada nafsu makan saat Aden sama Neng Hasna tidak juga kembali. Takut kenapa-napa Dan alhamdulilah Aden sama istri baik-baik saja." Ucap Pak Yanto.


"Ya sudah, sebaiknya kita makan dulu setelah itu istirahat. Nanti sore kita baru kembali."


Pak Yanto berjalan di belakang Rama dan Hasna. Kedua majikan mudanya itu terlihat lelah, mungkin mereka kurang tidur semalam.


Setelah makan di restoran hotel ketiganya segera beristirahat. Mengumpulkan energi sebelum menempuh perjalanan pulang.


***


enak nich diajakin kencan sambil berpetualang sama Mas Rama. hehehe...

__ADS_1


__ADS_2