
"Bukannya nggak mau. Tapi_"
"Nayla!!!!."
Terdengar teriakan dari ambang pintu kamar Nayla, membuat semua yang berada di dalamnya berjingkat saking kagetnya. Bahkan Reyn yang sempat terlelap pun ikut terbangun dan menangis kencang karena kaget.
"Astaghfirullahal'adzim."
"Astaga."
Ucap Hasna dan Nayla hampir bersamaan. Bahkan Nayla sampai mengusap dadanya yang berdebar kencang.
"Uwaa...uwaaa...uwaa..." Tangisan Reyn pun pecah memenuhi seluruh ruangan.
Dengan langkah lebar Rama menghampiri dua perempuan yang hampir seumuran itu.
"Mas Rama apa-apaan sih? Reyn sampek nangis kejer gini." Hasna berdiri menimang-nimang Reyn agar bayi gembul itu merasa tenang dan segera menghentikan tangisannya.
"Maafin ayah ya, Nak." Rama mengusap lembut pipi Reyn yang nampak memerah saat menangis.
"Tau nih, Kak Rama. Dipikir hutan apa, teriak-teriak kenceng banget." Protes Nayla.
"Diem kamu." Rama hampir melupakan tujuannya mendatangi kamar adiknya.
"Kemarikan hape kamu." Rama menengadahkan tangannya tepat di hadapan Nayla.
"Buat apa?" Nayla menautkan kedua alisnya.
"Kemarikan, cepet." Ucap Rama tidak sabar.
"Ih, Kak Rama. Hape kan barang privacy. Nggak boleh di pinjemin begitu aja." Nayla berusaha mempertahankan benda pribadi miliknya.
"Udah nggak usah banyak ngomong. Siniin, cepet." Rama bahkan tidak merubah posisi tangannya.
"Nggak mau ah. Enak aja." Nayla menyembunyikan ponselnya di belakang tubuhnya.
"Mau kasihkan baik-baik apa Kakak rebut paksa?" Ucap Rama dengan ekspresi datar.
"Mas Rama ada apa sih? Datang-datang kok marah-marah?" Hasna ikut pusing dengan perdebatan kakak beradik di hadapannya. Apalagi putranya sudah mulai tenang kembali. Jangan sampai nantinya Reyn akan menangis kencang seperti barusan.
"Iya, ih, Kak Rama kenapa sih marah-marah? Kan ka_"
"Diem kamu." Potong Rama dengan cepat.
"Mas, udah nggak usah ribut." Hasna masih berusaha menjadi penengah di antara mereka. Ikut pusing juga rasanya.
__ADS_1
"Nih kamu lihat." Rama memperlihatkan ponsel miliknya kepada Hasna. Perempuan itu seketika membolakan kedua netranya.
"Astaghfirullah, Nayla." Hasna hanya menggelengkan kepalanya pelan. Bingung mau berkata bagaimana lagi.
"Apa sih, Mbak?" Tanya Nayla dengan begitu polosnya.
"Kamu habis post foto Reyn yang pakek bandana tadi sama kamu di status WhatsApp?"
"Iya, kenapa emang? Kan gemesin banget. Di IG aku juga ada." Ucap Nayla tanpa rasa bersalah.
Hasna menghembuskan nafasnya perlahan. Sepertinya ia harus pasrah. Karena ia tau sendiri bagaimana Rama jika ada masalah seperti ini. Dulu fotonya sekarang foto Reyn. Dasar Nayla.
***
Makan malam yang biasanya ramai dengan celoteh Nayla, tiba-tiba berubah menjadi mode senyap. Gadis itu terlihat tak bersemangat.
"Gimana rumahnya? Cocok?" Tanya Bu Diana memecah keheningan.
"Kalau Rama udah klik banget. Tapi Hasna masih mikir-mikir katanya." Sahut Rama yang menggendong Reyn saat Hasna makan malam dengan yang lainnya.
"Kenapa emangnya? Kurang besar apa gimana?"
"Bukan masalah kurang besar, tapi Hasna rasa terlalu besar kalau hanya kami tempati bertiga." Jawab Hasna.
"Emang sebesar apa?"
"Lebih besar dari rumah ini?" Hasna mengangguk.
"Bahkan sangat besar."
"Aku kan tadi udah bilang, nggak selamanya kita akan bertiga terus. Nanti kan bakalan berempat, berlima berenam, atau mungkin lebih banyak lagi." Sahut Rama.
"Emang kamu mau bikin tim kesebelasan?" Sahut Pak Andi.
"Ide bagus tuh, Pa. Kan Hasna anak tunggal, Rama juga cuma dua bersaudara. Jadi Rama rasa jika banyak anggota di rumah, akan lebih ramai lagi." Ucap Rama.
"Apaan, orang cuma berdua kerjaannya ribut melulu." Gerutu Nayla. Dan tanpa sengaja ucapannya di dengar oleh Pak Andi.
"Kamu kenapa, dari tadi cemberut aja.?" Tanya Pak Andi pada Nayla.
"Tanya aja, tuh." Nayla menunjuk Rama dengan isyarat mata dan dagunya.
Bu Diana dan Pak Andi menatap ke arah Rama yang masih menimang Reyn. Lalu beralih pada Hasna yang menyelesaikan makan malamnya.
"Ada apa sih?" Tanya Bu Diana.
__ADS_1
"Ada insiden tadi siang. Memory card punya Nayla, di buang sama Mas Rama." Lirih Hasna.
"Kok bisa?" Bu Diana terkejut mendengar jawaban Hasna.
Hasna menceritakan kronologi awal hingga berujung memory card milik adik iparnya melayang dari jendela kamar, entah kemana. Nayla tadi sempat mencarinya, tapi belum ketemu juga.
"Lagian, kamu aneh-aneh aja. Udah tau Kakak kamu gimana, masih aja coba-coba." Ucap Bu Diana.
"Ya tapi kan gemesin, Ma." Lirih Nayla.
"Ya kalau udah gini?"
"Udah ah, kesel, Nay." Nayla kembali melanjutkan makan malamnya. Jika mengingatnya, malah semakin membuatnya bertambah kesal.
Hasna segera beranjak saat makanan di piringnya telah kosong, lalu meminta Reyn pada Rama.
"Makan dulu, Mas." Ucap Hasna pada Rama, yang sebelumnya ia telah menyiapkan makanan untuk suaminya.
Rama mengecup pipi Reyn, lalu beralih pada pipi istrinya. Lantas memposisikan duduk di kursi yang biasa ia gunakan. Memulai makan malamnya dengan yang lainnya.
"Oh iya, kapan rencana kamu pindah?" Tanya Pak Andi.
"Setelah semua surat-surat rumah beres. Kita langsung pindah."
"Udah siapin ART dan keamanan?"
"Udah, Pa. Rama sudah menghubungi yayasan penyalur asisten rumah tangga. Rama meminta orang-orang terbaik dari sana. Tidak hanya skill tapi juga harus jujur. Poin itu yang terpenting. Kalau masalah keamanan, udah diatur sama Ivan. Rama serahin semuanya sama dia.
"Kalau cari ART jangan yang terlalu muda. Nggak baik." Ucap Bu Diana.
"Rama minta kisaran usia empat puluhan, Ma. Insya Allah Rama akan jaga hati dan pandangan. Karena Rama sudah memiliki wanita seistimewa bundanya Reyn." Ucap Rama yang membuat Pak Andi dan Bu Diana saling berpandangan. Rupanya putra mereka benar-benar sudah menutup rapat hatinya untuk perempuan selain menantu mereka.
"Ambil berapa rencananya?" Tanya Bu Diana.
"Sekitar lima belas orang. Nanti sekuriti ada enam. Empat diantaranya semacam bodyguard lah. Mbak Marni dan Pak Mamat juga bakalan kami ajak buat tinggal di sana. Mereka sudah Rama anggap seperti bagian keluarga Rama sama Hasna. Bagaimanapun mereka yang menemani Hasna semenjak Hasna kecil." Ucap Rama.
"Emang rumah kamu nantinya sebesar apa?" Tanya Bu Diana. Wanita paruh baya itu benar-benar terkejut dengan keputusan putranya. Di rumah ini saja pekerja ada sepuluh, sekuriti juga hanya empat. Sedangkan di rumah Rama nantinya, bahkan akan di jaga empat bodyguard.
Rama memberikan gambaran rumah yang akan mereka tempati nantinya. Dan berhasil membuat kedua orang tuanya kaget. Apalagi setelah menunjukkan foto bangunan dua lantai yang berdiri diatas lahan seluas itu. Pantas saja jika harus mempekerjakan orang-orang sebanyak itu.
"Sebenarnya rumah ini, sengaja Rama beli sebagai kado untuk kelahiran anak kami. Kado untuk istri Rama yang sudah berjuang melahirkan generasi penerus keluarga kita."
Pak Andi dan Bu Diana hanya mengangguk pelan. Tidak mengatakan apapun saat Rama mengutarakan keinginannya. Sebagai orang tua, Pak Andi dan Bu Diana hanya mendo'akan yang terbaik untuk kehidupan anak, menantu juga cucu mereka. Karena mereka yakin, jika Rama mampu membahagiakan Hasna beserta anak-anaknya kelak.
***
__ADS_1
Udah dua bab ya. semoga terhibur semuanya 🥰😘