
"Ada apa, Pak?" Tanya Ivan saat mereka sampai di balkon depan kamar Hasna.
"Saya butuh bantuan kamu. Saya ingin memastikan keadaan Marissa."
Rama menceritakan pertemuannya dengan Tomi beberapa saat yang lalu.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan, Pak?"
"Temani saya untuk menemui Dokter yang menangani Marissa." Ucap Rama serius
"Baik, Pak."
***
Rama dan Ivan mendatangi bagian informasi untuk menanyakan perihal Marissa. Rama ingin segera membuat keputusan agar masalah ini cepat selesai.
"Bagaimana?" Tanya Rama.
"Dokter Andrean Pratama, dokter kandungan yang menangani Marissa. Ruang prakteknya ada di lantai dua." Rama segera beranjak setelah mendengar informasi yang Ivan dapatkan.
"Juga, dokter Alya Utami, psikiater yang mendampingi Marissa selama penyidikan." Imbuh Ivan.
Rama membalikkan badan dan menatap lurus ke arah asisten pribadinya. Kedua alisnya saling bertaut.
"Psikiater?" Ulang Rama.
"Iya, Pak. Itu informasi yang saya dapatkan."
Rama nampak terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Bagaimana, Pak?" Tanya Ivan, karena Rama tak kunjung memberikan responnya.
Rama membuang nafasnya kasar dan menatap Ivan yang menantikan jawaban darinya.
"Kita ke sana sekarang. Saya butuh memastikan kondisi perempuan itu." Ucap Rama.
Keduanya segera menuju lantai dua, dimana dokter juga psikiater yang menangani Marissa berada.
"Apakah saya harus menangguhkan penahanan Marissa?" Tanya Rama saat berada di dalam lift bersama Ivan. Untung saja hanya mereka berdua yang berada di dalam sana.
"Sebaiknya kita pastikan saja dulu, Pak. Setelah itu Bapak bisa menentukan keputusan." Saran Ivan.
Ting
Pintu lift terbuka. Kedua lelaki itu segera mencari ruang praktek dokter kandungan bernama Andrean Pratama.
__ADS_1
"Itu, Pak, ruangannya." Ivan menunjuk papan nama yang tergantung di atas pintu bertuliskan nama dokter yang mereka maksud.
Tanpa membuang waktu, keduanya langsung menuju ruangan yang letaknya tak jauh dari lift itu.
Tok, tok, tok
Ivan mengetuk pintu beberapa kali, seorang perawat membukakan pintu untuk mereka.
"Iya, cari siapa?" Tanya perawat sedikit heran. Pasalnya tamu dokter yang di dampinginya dua orang laki-laki berbadan tegap. Bahkan tak terlihat ada seorang perempuan pun bersama mereka.
"Dokter Andrean, ada?" Tanya Ivan.
Perawat itu tak langsung menjawab, justru melihat Rama juga Ivan secara bergantian.
"Dokter Andrean, ada?" Ulang Ivan.
"Ada." Jawab perawat dengan anggukan yang terkesan kaku.
"Boleh, kami bertemu Dokter Andrean?" Tanya Ivan, karena perawat itu tak kunjung mempersilahkan mereka masuk ke dalam.
"Apa masih ada pasien?" Kini Rama yang mulai membuka suara.
"Siapa, Sus?" Tanya seorang dokter laki-laki yang berdiri di belakang perawat itu.
"Ini, Dok..." Perawat itu sedikit memiringkan badannya, memberitahukan kepada dokter, siapa yang tengah mengunjungi ruangannya.
"Bisa kami minta sedikit waktunya, Dokter?" Lanjut asisten itu.
Dokter Andrean dan perawat saling berpandangan penuh tanya.
"Bagaimana, Dok?" Desak Rama.
"Baiklah, silahkan masuk. Suster tolong tunda dulu jika ada pasien." Ucap Dokter.
"Baik, Dok."
"Silahkan."
Ivan dan Rama mengikuti Dokter masuk ke dalam ruang praktiknya.
"Silahkan, duduk." Kedua laki-laki itu pun duduk berhadapan dengan dokter, dengan meja sebagai sekat diantara mereka.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya dokter.
"Sebelumnya perkenalkan, saya, Rama. Dan ini, Ivan." Dokter menjabat tangan kedua tamunya bergantian.
__ADS_1
"Kedatangan kami kemari, untuk memastikan satu hal pada Dokter. Mengenai kondisi pasien Dokter, yang bernama Marissa Anindita. Pasien yang mengalami pendarahan kurang lebih satu minggu yang lalu." Dokter menyimak dengan baik maksud yang Rama utarakan.
"Apakah benar, jika pasien atas nama Marissa Anindita, kondisinya masih belum stabil?" Lanjut Rama.
"Mohon maaf sebelumnya. Ada kepentingan apa, anda berdua menanyakan perihal pasien yang saya tangani? Dan maaf, saya tidak bisa mengatakan apapun kepada siapapun itu, termasuk anda berdua, mengenai kondisi pasien. Karena ini termasuk privasi pasien yang harus kami jaga." Ucap Dokter.
"Maaf, Dokter. Pastinya Dokter sudah mendengar, jika pasien sedang dalam pemeriksaan polisi." Dokter sedikit menegakkan tubuhnya mendengar ucapan Ivan.
"Pak Rama ini, adalah pihak pelapor atas kasus yang melibatkan saudari Marissa. Kami hanya ingin memastikan keadaan terlapor, sebelum melanjutkan perkara ini." Lanjut Ivan.
Dokter menarik nafasnya dalam-dalam sebelum mengucapkan sesuatu pada Rama dan juga Ivan. Jangankan Dokter Andrean, beberapa teman sejawatnya pun telah mendengar jika pasien yang di tanganinya terlibat sebuah kasus. Bahkan penyidikan di lakukan di rumah sakit, karena kondisi pasiennya yang tidak memungkinkan jika datang ke kantor polisi.
"Kalau Dokter merasa keberatan, kami tidak masalah. Kami akan minta surat pengantar dari pihak kepolisan agar kami mendapatkan informasi tentang Marissa. Kami hanya tidak ingin, jika tindakan yang akan kami ambil selanjutnya dapat membahayakan jiwa pasien." Ucap Rama.
Rama memperhatikan laki-laki bersnelli di balik meja di hadapannya yang nampak berpikir itu.
"Baiklah, saya akan menyampaikan bagaimana kondisi pasien kepada anda berdua." Ucap dokter pada akhirnya.
Dokter menceritakan kondisi Marissa saat di bawa ke rumah sakit hingga hari ini. Rama dan Ivan nampak serius mendengarkan penuturan dokter.
"Pasien terlihat begitu tertekan dan stress, yang mengakibatkan kembali mengalami pendarahan. Bahkan beberapa hari belakangan, pasien mendapatkan dampingan dari psikiater." Ucap dokter. Rama dan Ivan saling berpandangan.
"Lalu, apakah sangat beresiko untuk janin yang di kandungnya, Dok? Maaf, saya sendiri masih awam. Mohon penjelasannya dokter." Ucap Rama.
"Akan sangat berbahaya jika pendarahan terjadi berulang. Terlebih kondisi psikis pasien yang buruk."
"Jika seandainya, di lakukan perawatan di rumah sakit tahanan, apakah beresiko, Dok?" Tanya Rama.
"Saran saya, pasien tetap di rawat di rumah sakit ini, karena peralatan medis tergolong lengkap. Jika di rawat di rumah sakit tahanan, saya khawatir jika pasien tidak mendapatkan perawatan intensif. Kerena peralatan atau tenaga medis yang kurang memadai."
"Kalau boleh saya tahu, berapa usia kandungan Marissa, Dok?" Tanya Rama.
"Usia kandungannya sudah memasuki minggu ke tiga puluh."
"Kapan pasien akan melahirkan? Maksud saya, usia berapa minggu bayi siap di lahiran?" Dokter sedikit mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan Rama.
"Bayi siap dilahirkan jika usia kandungan mencapai tiga puluh tujuh, hingga empat puluh minggu." Papar Dokter.
Rama menarik nafas panjang mendengar penjelasan Dokter. Itu artinya, ia akan mengabulkan permintaan Tomi untuk penangguhan proses hukum untuk Marissa. Rama memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Berarti ia harus menunggu kurang lebih dua bulan lagi untuk melanjutkan kasus ini.
"Jika boleh saya menyarankan, agar anda menunda proses hukum yang melibatkan pasien. Kami hanya berusaha untuk memastikan jika pasien dan calon bayinya dalam keadaan baik." Ucap Dokter.
***
Rama dan Ivan hendak kembali ke kamar Hasna di paviliun teratai. Mereka mengurungkan niat untuk menemui psikiater yang menemani Marissa selama penyidikan. Keterangan dari Dokter, Rama rasa sudah mewakili bagi dirinya untuk mengambil sebuah keputusan besar.
__ADS_1
"Ivan, kita ke ruang perawatan Marissa." Ucap Rama saat berada di depan lift.
"Baik, Pak. Kalau begitu, kita langsung ke lantai tiga." Ucap Ivan. Asisten itu langsung menekan tombol lift bertuliskan angka tiga.