Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 106


__ADS_3

Hasna dan tim melakukan rapat koordinasi untuk pembukaan cabang katering dan toko kuenya. Yang akan dilaksanakan dalam waktu yang berdekatan. Hasna sudah membagi mereka menjadi beberapa tim. Memberikan arahan untuk tugas-tugas mereka selama beberapa hari kedepan untuk pembukaan tempat katering, dan minggu depan untuk pembukaan toko kue.


"Saya harap kita bisa semaksimal mungkin bekerjasama dengan tim. Dan semoga acara kita selama dua minggu ini berjalan dengan sukses dan memberikan banyak manfaat untuk kita semua." Ucap Hasna yang di amini oleh tim yang hadir.


"Mbak Devi, Mas Aldi dengan timnya mempersiapkan untuk pembukaan cabang katering, Sabtu besok. Mbak Dita, Mbak Vivi beserta tim, mempersiapkan untuk pembukaan cabang toko kue, Sabtu depan." Hasna masih memberikan arahan kepada timnya.


"Dan untuk persiapan pembukaan restoran kita nantinya, akan saya serahkan sepenuhnya kepada Mas Iqbal yang akan dibantu oleh Mas Hamzah. Karena Mas Hamzah tidak bisa full time dengan tim, karena masih ada tanggung jawab di restoran. Jadi, Mas Hamzah hanya perlu memberikan arahan kepada Mas Iqbal dan teman-teman yang lain." Lanjut Hasna.


"Siap, Mbak." Jawab Hamzah dengan mengacungkan jempol tangan kanannya.


"Nanti kalian bisa serahkan laporannya ke saya via email. Jadi saya hanya memantau saja. Seandainya ada kendala, bisa kalian koordinasikan dengan tim yang lain." Ucap Hasna.


"Oke, saya rasa meeting kita cukup sampai di sini. Jika ada yang perlu ditanyakan, bisa langsung sama saya atau bisa lewat Mas Hamzah. Karena sebelumnya Mas Hamzah sudah pernah berpengalaman dalam pembukaan restoran ini. Jadi saya yakin Mas Hamzah bisa memberikan arahan yang terbaik buat kalian." Pungkas Hasna.


"Oh iya, satu lagi, untuk pembukaan restoran bulan depan, Mas Hamzah akan ikut dengan timnya Mas Iqbal, jadi untuk sementara, restoran Mbak Dita yang handle."


"Siap, Mbak Hasna." Jawab Dita.


"Terima kasih untuk waktunya. Terima kasih juga untuk tenaga dan pikirannya. Tanpa kalian, saya bukan siapa-siapa. Selamat bekerja, semoga hasilnya sesuai harapan. Bismillah, kita pasti bisa. Semangat semuanya." Hasna mengepalkan tangannya ke atas memberikan semangat pada timnya.


Satu persatu pegawai yang Hasna tunjuk untuk mengurus pembukaan gerai usahanya yang baru meninggalkan private area di lantai dua yang ada di restoran.


***


Hasna keluar dari restoran tepat pukul tiga sore, masih ada banyak waktu sebelum Rama pulang kantor. Hasna memutuskan untuk ke supermarket yang ada di jalan yang ia lewati terlebih dahulu. Ia ingin membeli beberapa barang yang habis di rumah, karena ia tidak sempat untuk belanja bulanan kemarin.


Hasna menyusuri rak-rak yang berjajar. Memilih dan mengambil barang yang ia butuhkan dan memasukkannya ke dalam keranjang belanjaan. Ada satu barang yang tidak bisa ia jangkau karena rak yang terlalu tinggi. Hasna menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap ada seorang pegawai toko yang bisa ia mintai tolong. Namun di lorong rak itu hanya ada sesama pembeli yang rata-rata perempuan dan tingginya tak jauh beda dengannya.


Hasna mencoba meraih satu kaleng pengharum ruangan yang berada di rak paling atas, namun tidak dapat ia jangkau. Kerena barang itu berada agak ke tengah. Mungkin pegawai toko tidak sempat menata ulang saat barang yang ada di depan sudah kosong.


Hasna menoleh saat barang yang ingin ia ambil, terlebih dahulu di ambil oleh orang lain.


"Mbak, mau ambil ini?" Tanya laki-laki itu.


"Iya, Mas." Hasna tersenyum kecil.


Laki-laki itu mengangsurkan satu kaleng pengharum ruangan itu kepada Hasna.

__ADS_1


"Eh...terima kasih. Maaf merepotkan." Ucap Hasna merasa tidak enak.


"Tidak apa, Mbak. Saya permisi." Hasna mengangguk kecil.


Hasna melanjutkan belanjanya, memeriksa kembali belanjaan yang telah ia masukkan ke dalam troli. Jangan sampai ada yang terlupa.


Drrrtt... drrrtt... drrrtt...


"Assalamu'alaikum, Mas." Sapa Hasna.


"Kamu di mana?" Tanya Rama dari sambungan telepon.


"Kebiasaan deh. Di jawab dulu salamnya."


"Wa'alaikumussalam, kamu ada di mana sekarang? Meetingnya udah selesai belum?" Tanya Rama.


"Udah, ini lagi ada di supermarket yang searah jalan pulang. Mas Rama butuh sesuatu?" Tawar Hasna.


"Tidak, hanya butuh hidangan untuk buka puasa tiga jam lagi." Kekeh laki-laki itu dari seberang sana.


"Tunggu aku di sana, ini aku udah keluar kantor. Kita pulang sama-sama." Pinta Rama.


"Tapi, Mas, aku kan bawa mobil sendiri." Tolak Hasna.


"Aku minta tolong sama Ivan. Ini kita baru saja jalan. Kamu tunggu ya." Sambungan pun terputus.


***


"Nanti berhenti di mini market depan." Ucap Rama.


Ivan melajukan mobil dengan kecepatan sedang dan berhenti di tempat yang Rama minta.


"Makasih, ya." Ucap Rama seraya membuka seatbelt yang melilit rubuhnya.


"Sama-sama, Pak. Perlu saya temani, Pak?" Ucap Ivan yang mendapatkan tatapan tajam dari Rama.


"Canda kali, Pak." Ucap Ivan cengengesan.

__ADS_1


Benar apa yang Tania katakan tempo hari, kalau atasannya itu memanglah cudah bucin akut dengan istrinya. Hasna yang kalem dengan sejuta pesonanya mampu meruntuhkan dinding keangkuhan Rama terhadap wanita.


Sedikit banyak Ivan mengetahui kisah Rama dengan mantan kekasihnya yang bernama Resty. Bagaimana hubungan mereka kandas, yang membuat Rama menjadi tertutup dan gila kerja. Hingga pada akhirnya berujung pernikahan rahasia antara Rama dengan Hasna. Padahal mereka telah menikah beberapa bulan lamanya, namun tidak ada yang mengetahuinya sama sekali. Bahkan dirinya yang menghabiskan hampir seharian dengan Rama pun tidak mengetahuinya. Dan saat Rama mengatakan jika Hasna adalah kerabat jauh dari Pak Andi, dirinya langsung mempercayai ucapan atasannya itu.


"Ya sudah kalau begitu, Pak. Saya langsung balik." Ucap Ivan saat Rama telah turun dari mobilnya.


"Salam buat Mbak Hasna." Imbuhnya. Dan sebelum ia mendapatkan tatapan maut, Ivan segera tancap gas untuk menyelamatkan masa depan gajinya. Dasar asisten tidak punya akhlak. Berani sekali menggoda atasannya.


Rama memasuki area parkir supermarket dan masih mendapati mobil sang istri masih terparkir rapi di sana. Ia segera melangkah masuk kedalam supermarket dan menemukan sosok yang ia cari di antara pengunjung yang tengah mengantri di kasir.


"Hai, Sayang." Rama mencium pipi Hasna secara tiba-tiba.


"Mas Rama." Hasna membolakan kedua netranya seolah tengah mengajukan protes pada sang suami.


"Belanjanya udah?" Rama mengihkan perhatian Hasna, agar perempuan itu tidak melanjutkan aksi protesnya.


"Udah, tinggal nunggu antrian saja." Hasna mendorong pelan troli belanjaannya karena antriannya sudah mulai berkurang.


"Sini biar aku saja." Rama mengambil alih troli dari tangan istrinya.


***


"Rama Suryanata?" Gumam seseorang berusaha mengingat wajah laki-laki yang berdiri berjararak beberapa orang dihadapannya.


"Jadi perempuan yang tadi itu...istrinya?" Ia mengingat perempuan yang ia bantu mengambilkan barang yang berada di rak atas tadi.


"Mas, bisa maju sedikit, antrian sudah berkurang." Ucap seorang ibu-ibu yang berada di belakangnya.


"Iya, iya, maaf." Tomi sedikit maju sesuai antrian.


Baru dua hari ini, Tomi dan Marissa kembali dari kampung halaman Tomi. Laki-laki itu sudah memutuskan jika Marissa akan tinggal bersamanya di kontrakan tempatnya tinggal, karena jarak dari kantor tempatnya kerja lebih dekat jika dibandingkan dengan kontrakan Marissa. Jangan tanyakan lagi bagaimana respon Marissa. Perempuan itu menolak mentah-mentah ajakan Tomi. Tapi bagaimanapun caranya Tomi tidak mau mengalah, dan berhasil membuat Marissa mengikuti kemauannya.


Tomi memperhatikan dengan seksama interaksi antara Rama dengan istrinya. Bagaimana mungkin ia bisa membiarkan Marissa berbuat nekat jika seandainya perempuan itu masih berusaha untuk mendapatkan Rama. Bisa ia lihat dengan jelas bagaimana Rama memperlakukan istrinya sedari lelaki itu datang. Perlakuannya begitu manis. Sangat terlihat jika mereka saling mencintai.


Kini Tomi merasa jika keputusannya untuk menikahi Marissa sangatlah tepat. Selain untuk bertanggung jawab dan memberikan kejelasan status pada calon bayi mereka. Juga bisa mengawasi dan menggagalkan jika seandainya Marissa berbuat nekat. Bagaimanapun ia harus bisa mengendalikan istrinya itu.


***

__ADS_1


__ADS_2