Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 37


__ADS_3

Pagi-pagi sekali selepas membantu Rama melaksanakan sholat shubuh, Hasna berpamitan untuk pulang terlebih dahulu. Dia ingin mengambil baju ganti juga memasakkan sesuatu untuk makan suaminya.


Pukul delapan tepat, perempuan itu tiba di rumah sakit. Wajahnya terlihat lebih segar dari sebelumnya.


Sampai di ruang rawat Rama, ternyata suaminya itu sedang dibantu berganti pakaian oleh seorang perawat laki-laki yang kemarin membantunya di kamar mandi.


"Assalamu'alaikum."


Kedua lelaki itu menoleh ke arah pintu, dimana Hasna berdiri.


"Wa'alaikumussalam." Jawab mereka bersamaan.


Hasna meletakkan bawaannya di atas meja, dan mendekat ke arah Rama.


"Istrinya sudah datang, mau di lanjut dengan istri apa sama saya saja?" Tawar perawat.


"Sebaiknya dengan Bapak saja, saya amati dulu." Jawab Hasna.


"Ya, jangan panggil Bapak lah, Mbak. Kesannya ketuaan. Saya masih seumuran kok sama Mas nya." Ucap perawat dengan senyumannya.


"Panggil Anton saja."


"Baik, Mas Anton. Maaf saya kurang terbiasa jika memanggil nama dengan yang lebih_"


"Tua ya, Mbak?" Tukas Anton diiringi kekehan.


Hasna hanya tersenyum, kemudian memperhatikan bagaimana Anton membantu Rama menggantikan pakaiannya.


"Sudah selesai, nanti dicoba sama istri ya, Mas. Biar makin mesra." Goda Anton sembari merapikan pakaian kotor juga peralatan lainnya.


"Kalau begitu saya permisi ya."


Anton segera keluar meninggalkan ruang rawat Rama, menuju ruang rawat pasien lainnya.


"Mas Rama sudah makan?" Rama menggeleng.


"Hasna ambilin makan sekarang, ya?" Kini lelaki itu mengangguk.


Hasna dengan sangat telaten melayani Rama. Suaminya itu terlihat lebih segar dari kondisinya semalam. Makannya pun sangat lahap sekali. Antara lapar juga masakan istrinya yang enak, tak sampai sepuluh menit makanan yang berada di piring pun tandas.


"Mau nambah?" Tawar Hasna.


"Tidak, saya sudah kenyang." Tolaknya.


Hasna segera bangkit dari kursi didekat ranjang, dan menyimpan peralatan makan di dekat wastafel.


"Kamu sudah makan?" Tanya Rama.


"Sudah, Mas. Mas Rama butuh sesuatu?"


"Tidak." Laki-laki itu menggeleng.


Keduanya pun terdiam tanpa ada yang memulai percakapan. Hingga terdengar deringan ponsel milik Rama , panggilan dari Ivan.


"Ya, Ivan?"


"Bapak tidak ke kantor? Satu jam lagi ada meeting penting dengan seluruh staf. Apa mau di reschedule?"


Rama memijit pangkal hidungnya. Dia hampir saja lupa jika ada pertemuan hari ini.


"Tidak perlu, tolong kamu saja yang handle, saya sedang berada di rumah sakit sekarang. Kamu bahas saja garis besarnya bersama mereka. Nanti akan saya evaluasi kembali."


"Bapak sakit?"


"Kemarin saya kecelakaan setelah meeting di perusahaan Pak Dirga, dan harus dirawat beberapa hari di rumah sakit."


"Ah...maaf, Pak. Saya tidak tau jika bapak kena musibah."


"Tidak apa, nanti tolong kamu kirimkan laporan hasil pertemuan hari ini."


"Baik, Pak. Semoga lekas sehat kembali." Sambungan pun terputus.


Selang beberapa menit, dokter datang untuk memeriksa kondisi Rama, setelahnya ia diminta untuk melakukan CT Scan dan pemeriksaan lanjutan dengan dokter ortopedi.


Hasna menyimak perkataan dokter dengan baik. Apa saja pantangan yang tidak boleh dilakukan oleh suaminya. Dan Rama baru diizinkan pulang setelah hasil pemeriksaannya keluar.


***

__ADS_1


Hasna mendorong kursi roda perlahan menuju taman, membawa Rama untuk berjemur dibawah mentari pagi, sambil menunggu jadwal praktik dokter ortopedi tiga puluh menit lagi.


Hasna duduk di kursi taman, yang bersebelahan dengan Rama yang duduk di atas kursi roda.


"Boleh, saya menanyakan sesuatu sama kamu?" Tanya Rama.


Hasna menoleh dan mengangguk, melihat ke arah suaminya.


"Sebelumnya saya minta maaf sama kamu, karena kamu jadi bermalam di rumah sakit gara-gara saya." Laki-laki itu menatap lurus ke depan, tanpa menoleh ke arah istrinya.


"Mas Rama tidak perlu minta maaf. Bukankah memang itu tugas Hasna, merawat suami yang sedang sakit? Mas juga tidak perlu khawatir, Hasna sudah terbiasa bermalam di rumah sakit saat menjaga almarhum Kakek."


Sesaat keduanya kembali terdiam, hingga Rama kembali membuka suaranya.


"Apa kamu_"


"Kak Rama." Nayla berlari menghampiri keduanya, membuat Rama mengurungkan niatnya bertanya pada Hasna.


Gadis itu menghambur ke pelukan kakak lelakinya.


"Nay, sakit." Desis Rama saat Nayla menyentuh bahunya.


"Maaf, maaf. Sakit banget ya, Kak?" Nayla mengurai pelukannya, memperhatikan kondisi kakaknya.


Gadis itu tak memperhatikan saat memeluknya tadi, karena rasa khawatirnya kepada Rama.


"Nay, sama siapa?" Tanya Hasna.


"Sendirian, Mbak. Mama nanti agak siangan kesini sama Papa."


"Kak Rama gimana kondisinya?" Kini perhatian gadis itu teralihkan pada Rama yang duduk diatas kursi roda.


"Tambah sakit, gara-gara kamu peluk kenceng banget." Ketus sang Kakak.


"Maaf, Nay kan nggak sengaja." Sesal gadis itu.


Hasna memperhatikan interaksi keduanya. Mereka terlihat saling menyayangi.


"Kamu tidak kuliah, sepagi ini sudah berada di sini?" Tanya Rama.


"Nay kuliah siangan, cuma ketemu sama dosen pembimbing aja kok."


"Eh, mau kemana? Aku baru nyampe loh, udah main pergi aja." Rajuk Nayla.


"Mas Rama ada temu janji dengan dokter ortopedi untuk pemeriksaan lanjutan." Jawab Hasna.


"Nay ikut ya."


Ketiganya menyusuri bangsal rumah sakit, menuju ruang praktik dokter Dimas yang berada tak jauh dari taman. Hasna menemani Rama masuk ke dalam, sedangkan Nayla, menunggu di kursi tunggu di depan ruangan dokter ortopedi.


Nayla mengabarkan jika dirinya menemani Rama, dan berada di depan ruangan dokter ortopedi di lantai satu kepada ibunya. Karena kedua orang tuanya dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Tak berselang lama, mereka pun tiba.


"Nay." Tepukan pelan di pundaknya mengagetkan gadis yang sedang mendengarkan musik dengan earphone ditelinganya


"Mama."


"Dimana Kakak kamu?" Tanya Bu Diana.


"Masih di dalam, Ma."


Bu Diana juga pak Andi ikut duduk di kursi tunggu bersama Nayla. Tak lama, Rama keluar bersama Hasna dari ruangan dokter Dimas.


"Mama, Papa."


"Gimana kondisi kamu, Nak?" Tanya Bu Diana.


"Alhamdulillah sejauh ini cidera di lengan tidak terlalu fatal. Hanya saja Rama diharuskan mengikuti terapi selama beberapa minggu kedepan."


"Lalu, kapan kamu diperbolehkan pulang?" Tanya Pak Andi."


"Besok, Pa. Setelah hasil CT scannya keluar."


"Kalau begitu biar nanti malam, Papa saja yang menjaga kamu."


"Tidak perlu, Pa. Biar Hasna saja." Tolak Hasna halus.


"Tapi, nak, kamu juga butuh istirahat."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Pa. Hasna masih bisa beristirahat. Papa tidak perlu khawatir."


Rama hanya menyimak perdebatan ayah juga istrinya. Sebenarnya dia lebih leluasa jika Papanya yang menjaga, mengingat jika ia butuh bantuan saat ke kamar mandi. Tapi dia juga tidak bisa menolak permintaan Hasna, bisa-bisa terkena ceramah panjang oleh ibu suri.


"Ya sudah kalau begitu, ayo sebaiknya kamu beristirahat." Tukas Pak Andi.


Mereka menuju ke lantai empat di ruang rawat Rama, tapi sepertinya ada tamu. Tepat di depan kamar ada seseorang yang duduk di kursi tunggu. Mengingat kamar yang ditempati Rama adalah kamar VIP.


"Pak Tora." Panggil Rama saat jarak mereka sudah dekat.


"Nak Rama." Pak Tora beranjak dari tempat duduk, menghampiri Rama juga orang-orang yang ada bersamanya.


"Pa, Ma, ini Pak Tora. Beliau yang membawa Rama ke rumah sakit." Tak mungkin jika dirinya mengenalkan Pak Tora sebagai pelaku yang menabrak dirinya.


Pak Tora menjabat tangan Pak Andi juga Bu Diana.


"Ini adik saya. Dan yang ini....istri saya." Rama menjeda ucapannya saat mengenalkan Hasna sebagai istrinya kepada Pak Tora.


Hasna hanya menangkupkan tangan di depan dada dan tersenyum ramah ke arah laki-laki seusia ayah mertuanya itu.


" Saya mohon maaf sebelumnya kepada bapak dan ibu, karena saya sudah membuat putra Bapak dan Ibu menjadi seperti ini."


Pak Tora menjelaskan kronologi kejadian yang menimpa Rama karena kelalaiannya saat berkendara. Juga bersedia menanggung semua biaya perawatan selama Rama melakukan pengobatan.


"Tidak perlu Pak Tora. Pak Tora sudah membawa Rama untuk mendapatkan pertolongan saja, kami sudah sangat berterima kasih. Cukup do'akan saja agar putra kami segera pulih." Ucap Pak Andi.


Cukup lama Pak Tora berbincang dengan keluarga Rama. Beliau memberikan sejumlah uang untuk biaya perawatan Rama selama di rumah sakit, karena keluarga Rama menolak jika Pak Tora membiayai sampai dirinya sembuh.


Setelahnya Pak Tora pamit, diikuti Nayla yang akan ke kampus. Hanya tinggal Hasna, Rama beserta orang tuanya saja yang berada di rumah sakit.


***


Sepulang kedua mertuanya, Hasna menelepon tempat katering dan meminta salah satu pegawainya untuk mengantarkan makanan ke rumah sakit.


Hasna segera turun ke lobby sesaat setelah mendapatkan panggilan dari salah satu pegawainya, jika pesanan Hasna sudah tiba.


Sepeninggal Hasna, Ivan datang bersama Marissa. Sekretaris itu memaksa untuk ikut menjenguk Bosnya di rumah sakit, saat mengetahui kabar jika Rama sedang dirawat karena kecelakaan. Kebetulan hanya ada Rama yang berada di dalam ruangan, karena Hasna sedang mengambilkan makanan di lobby.


"Selamat malam, Pak. Bagaimana kondisi bapak?" Tanya Ivan.


"Malam, alhmdulillah, sudah lebih baik. Bagaimana hasil meeting hari ini?"


Ivan menjelaskan secara terperinci hasil pertemuannya bersama para staf pagi tadi. Asistennya itu benar-benar bisa diandalkan.


Terlihat juga, Marissa yang berusaha mengakrabkan diri dengan Rama diluar jam kerja. Perempuan itu menanyakan banyak hal tentang musibah yang dialami Bosnya.


Marissa menunjukkan kepeduliannya terhadap bosnya itu, seolah mengatakan bahwa dia perempuan yang penuh perhatian. Perempuan itu berusaha menarik simpati dari Rama.


Tak lama kemudian, Hasna datang dengan membawa beberapa kantong makanan ditangannya.


"Assalamu'alaikum." Ucap perempuan cantik itu.


"Wa'alaikumussalam." Jawab mereka serentak menoleh ke arah pintu.


Hasna meletakkan bawaannya diatas meja dan mendekat ke arah tamu yang menjenguk suaminya.


"Mbak Hasna disini juga?" Tanya Ivan, wajah laki-laki itu terlihat lebih sumringah dari saat datang tadi.


"Pak Ivan." Hasna menganggukkan kepala dan tersenyum.


Marissa memperhatikan Hasna dari ujung kaki hingga ujung kepala. Mengamati penampilan Hasna dengan seksama. Bergamis warna army dan pashmina panjang yang dililitkan sempurna menutup kepalanya. Sungguh terlihat anggun.


Sadar akan tatapan perempuan berpakaian minim yang berdiri disamping ranjang, membuat Hasna ikut memperhatikan pakaian yang dikenakannya saat ini. Tidak ada yang salah. Dia berpakaian seperti biasanya. Tapi kenapa tatapan perempuan dihadapannya itu seperti memberikan penilaian kepadanya.


Pandangan Marissa terlihat tengah mengintimidasi perempuan berpakaian tertutup itu. Seolah posisinya akan terancam dengan adanya Hasna.


Ivan yang bisa membaca situasi, dengan sigap memperkenalkan Hasna pada Marissa.


"Kenalkan, ini Marissa, sekretaris Pak Rama." Kedua perempuan itu saling menjabat tangan.


Hasna tersenyum ramah pada perempuan berambut panjang itu. Sebaliknya, tatapan Marissa sungguh tidak bersahabat, dengan senyuman yang terlihat dipaksakan.


" Ini Mbak Hasna, kerabat jauh Pak Andi." Sambung Ivan, yang membuat Marissa menyunggingkan senyumannya.


Lagi, Hasna merasa jika dirinya tidaklah dihargai sebagai seorang istri. Tapi pada kenyataannya, Rama lah yang memperkenalkan jika dirinya hanya kerabat jauh mertuanya.


Rama melihat perubahan di wajah istrinya yang semula tersenyum hangat, kini terlihat memaksakan senyuman diwajahnya.

__ADS_1


Rama sendiri merasa kesal kepada Ivan yang seolah tebar pesona dihadapan istrinya. Terlihat sekali dari gelagatnya yang mulai bicara tidak seformal ketika berbicara dengannya di luar jam kerja. Apalagi saat menyebut Hasna sebagai kerabat Papanya. Tapi dia juga yang mengatakan pada asistennya itu jika Hasna hanya kerabat jauh.


***


__ADS_2