Bidadari Penghapus Luka

Bidadari Penghapus Luka
Bab 133


__ADS_3

Tim penyidik sudah mulai melaksanakan tugas mereka, setelah sebelumnya berkonsultasi dengan dokter yang menangani marissa. Dengan di dampingi oleh seorang psikiater, Marissa menjawab rentetan pertanyaan yang di ajukan oleh pihak berwajib. Penyidikan akan di hentikan jika kondisi Marissa sudah tidak memungkinkan untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Bagaimanapun juga, kesehatan Marissa masih menjadi prioritas, terlebih perempuan itu tengah hamil.


Tomi selalu berada di kamar Marissa saat penyidik melaksanakan tugas mereka. Laki-laki itu hanya memperhatikan dan menyimak obrolan mereka tanpa ikut campur sama sekali. Dalam hatinya yang terdalam, sungguh bukan ini yang ia inginkan untuk membuat Marissa merasa jera atas perbuatannya. Tapi, semuanya sudah terlanjur, dan proses hukum akan tetap dilakukan.


"Baiklah, saudari Marissa. Untuk hari ini kami rasa sudah cukup. Kami akan kembali lagi esok. Semoga kondisi anda segera membaik." Dua orang berseragam itu beranjak dan pamit kepada semua yang berada di ruangan, tak terkecuali Tomi.


"Bu Marissa bisa beristirahat sekarang. Jika ada yang di keluhkan, segera hubungi kami." Ucap Dokter. Marissa hanya mengangguk lesu, lantas menyandarkan punggungnya di ranjang pasien yang ia tempati.


Dokter juga psikiater yang mendampingi Marissa keluar dari ruangan, menyisakan sepasang suami istri itu di dalam sana.


Hening. Tak ada yang berniat untuk membuka suara.


***


Dokter kandungan dan seorang perawat sedang memeriksa kondisi Hasna. Perawat menyiapkan transducer yang ada di atas meja beroda yang tadi ia dorong ke kamar Hasna. Rama dengan setia berdiri di sisi sang istri yang tertidur dengan damainya.


Dokter memeriksa tekanan darah Hasna. Lalu di bantu oleh perawat untuk melakukan USG pada Hasna. Usia kandungannya sudah hampir delapan minggu. Dokter akan memastikan jika kandungan Hasna baik-baik saja dengan kondisi sang ibu yang tengah koma.


Perawat menuangkan sedikit gel di atas perut Hasna. Kemudian dokter mulai mengarahkan transducer di atas perut perempuan itu. Dengan seksama Rama memperhatikan aktivitas Dokter pada istrinya. Lalu beralih melihat ke arah layar monitor yang menampakkan gambar hitam putih di sana.


"Pak Rama bisa lihat, ini adalah kantung janin calon anak Bapak." Dokter mengarahkan kursor pada layar monitor yang menampakkan gambar kantung janin Hasna.


Rama memperhatikan dengan begitu serius gambar bulatan dengan titik kecil di tengahnya yang nampak di layar monitor.


"Usia kandungannya sudah delapan minggu ya, Pak. Detak jantung masih belum bisa terdengar. Nanti sekitar usia kehamilan sepuluh minggu, kita sudah bisa mendengarkan detak jantungnya." Mata Rama mengembun mendengar penuturan Dokter. Harusnya ini menjadi salah satu momen bahagia bersama pasangan yang tengah menantikan kehamilan pertama istrinya. Memeriksakan kandungan bersama, pastinya sangat menyenangkan. Apalagi mendengar penjelasan Dokter. Tapi kondisi Hasna yang membuatnya tak sanggup untuk sekedar menarik kedua sudut bibirnya.


"Lalu, bagaimana dengan perkembangannya, Dokter? Apakah nanti calon anak kami akan berkembang layaknya janin pada ibu yang sehat?" Tanya Rama.


Dokter paham betul dengan kekhawatiran yang Rama rasakan. Dengan kondisi istrinya sekarang, jelas sekali bayangan buruk muncul di benak lelaki itu.


Dokter menjelaskan kondisi janin dalam kasus yang Hasna alami. Dan hal itu sedikit membuat Rama merasa lega. Setidaknya, kehamilan Hasna masih bisa dipertahankan.


"Kami akan terus memantau kehamilan pasien. Semoga saja pasien segera sadar. Karena bagaimanapun, janin akan mendapatkan nutrisi terbaik dari ibu yang sehat, terlebih usia kandungan masih trimester pertama. Masa-masa pembentukan otak, tulang serta jaringan sistem syaraf"


"Kita harus bekerja sama dalam hal ini. Karena keluarga juga memiliki peranan penting untuk kesembuhan pasien." Pungkas Dokter.


Dua tenaga medis itu pergi meninggalkan kamar Hasna setelah melakukan pemeriksaan.


Rama menggenggam erat tangan perempuan yang sangat di cintainya itu. Mengusap lembut puncak kepala Hasna yang tertutup jilbab instan berwarna abu-abu.


"Sayang, bangunlah. Kamu dengar kan apa kata dokter? Kamu harus sembuh, Sayang. Demi anak kita. Kasihan dia jika kamu tak kunjung bangun. Anak kita butuh ibu yang sehat."


"Bangunlah. Apa kamu tidak capek tidur selama berhari-hari seperti ini? Hampir satu minggu kamu tidak bangun. Apa kamu mau menghukum ku, karena sikapku di awal pernikahan kita dulu? Apa kamu mau melihat sejauh mana aku telah jatuh cinta kepada kamu?" Rama mengusap lembut tangan istrinya.


"Aku sangat mencintai kamu. Aku tidak mau jika harus kehilangan kamu. Aku tidak akan sanggup. Sayang, bangunlah." Suara Rama sudah mulai terdengar parau. Kedua netranya pun mulai mengembun.

__ADS_1


Rama mencium tangan Hasna yang berada dalam genggamannya berulang kali. Tangan itu terlihat sedikit kurus. Wajah Hasna pun terlihat tirus.


Drrrtt, drrrtt, drrrtt


Ponsel yang ia biarkan tergeletak di atas sofa berdering. Ada sebuah panggilan masuk. Tapi Rama begitu enggan mengangkatnya. Hingga panggilan pun berakhir dengan sendirinya.


Rama mengusap lembut pipi yang selalu ia cium dengan gemas itu. Namun sang pemilik tetap bergeming, tak memberikan respon padanya.


Drrrtt, drrrtt, drrrtt


Ponselnya kembali berbunyi, entah siapa yang menghubunginya kali ini. Rama tetap mengabaikan hingga panggilan berakhir. Tapi sepertinya benda pipih itu tidak akan diam sebelum ia mengangkatnya.


Rama pun beranjak meraih ponsel miliknya. Panggilan dari Nayla. Belum sempat ia menggeser icon berwarna hijau, panggilan sudah terputus. Ada lima panggilan tak terjawab. Dua panggilan dari ibunya dan dua panggilan dari Nayla.


Rama berniat menghubungi ibunya, namun sebuah panggilan kembali masuk. Tapi bukan dari ibu atau adiknya, namun dari Kevin.


"Halo."


"Assalamu'alaikum, Rama."


"Wa'alaikumussalam, Kevin."


"Emmm, aku beserta Mama berencana mengunjungi Hasna, karena kami kemarin belum sempat melihat kondisinya. Apa kamu mengizinkan?" Tanya Kevin hati-hati.


"Tapi kalau seandainya kamu keberatan, kami tidak masalah." Ucap Kevin, karena sepertinya Rama merasa keberatan.


"Tidak, silahkan kalau kamu mau ke sini." Ucap Rama pada akhirnya.


"Sungguh?" Kevin memastikan jika Rama benar-benar memberikan izin kepadanya.


"Iya."


"Baiklah, kami akan segera kesana. Assalamu'alaikum." Ucap Kevin bersemangat.


"Wa'alaikumussalam."


Rama memeriksa pesan chat yang ada di ponselnya. Benar saja, sebelum ibunya menelepon, wanita itu mengirimkan pesan kepadanya. Mungkin karena tidak ada pesan yang ia balas, akhirnya Bu Diana meneleponnya.


~Nak, Mama akan ke rumah sakit sebentar lagi. Kamu ada butuh sesuatu? Biar Mama bawakan sekalian?~ Mama.


~Rama? Kenapa panggilan Mama tidak kamu jawab? Apa terjadi sesuatu?~ Mama.


Segera Rama mengirimkan pesan balasan untuk ibunya. Jangan sampai sang Mama merasa khawatir nantinya.


~Tidak, Ma. Rama tidak butuh apa-apa. Terima kasih.~ Rama.

__ADS_1


~Semuanya baik-baik saja, Mama jangan khawatir.~ Rama.


***


Tok, tok, tok


Kevin mengetuk pintu kamar Hasna. Setelah menghubungi Rama dan meminta izin pada laki-laki itu, Kevin segera meluncur ke rumah sakit bersama Bu Rosita.


"Assalamu'alaikum." Ucap Kevin, saat pintu kamar di buka oleh Rama.


"Wa'alaikumussalam. Silahkan." Rama mempersilahkan kedua tamunya untuk masuk.


"Sendirian?" Tanya Kevin.


"Ya, tapi sebentar lagi Mama kemari." Ucap Rama.


"Boleh saya lihat keadaan Hasna?" Tanya Bu Rosita.


"Silahkan, Tante."


Bu Rosita berjalan ke arah ranjang Hasna, sedangkan dua lelaki itu tengah berbincang di sofa.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Kevin.


"Masih sama." Jawab Rama dengan menundukkan pandangannya.


"Jangan pernah menampakkan kerapuhan di hadapan Hasna. Di butuh kamu untuk menguatkan." Kevin menepuk pelan pundak Rama.


"Tidak mudah, tapi harus kamu coba." Lanjut Kevin. Rama menoleh dan mengangguk ke arah Kevin.


"Apa kalian sudah sangat dekat? Maksudku, kamu dan Hasna?" Kevin mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Rama.


"Aku perhatikan, Mama kamu juga, terlihat akrab dengan istriku." Ucap Rama yang menoleh sekilas pada Bu Rosita yang berada bersama Hasna. Bahkan wanita paruh baya itu menggenggam erat tangan istrinya. Sama seperti Mamanya yang memperlakukan Hasna.


"Hubungan penjual dan pelanggan yang membuat kami kenal akrab." Jawab Kevin dengan senyuman hangatnya.


"Aku baru ingat, jika kalian pernah datang di acara resepsi pernikahan kami." Rama baru menyadari jika keluarga Kevin adalah tamu yang terlihat akrab dengan ibu dan juga istrinya, saat pernikahan mereka.


"Ya, karena Papaku adalah salah satu rekan bisnis Pak Andi, Papa kamu." Rama mengangguk mendengar jawaban Kevin. Dan seperti yang Kevin katakan, kedua orang tua mereka memanglah rekan bisnis.


***


Selamat menunaikan ibadah puasa buat teman-teman yang menjalankannya. semoga di berikan kesehatan, kekuatan juga kemudahan dalam menjalankan ibadahnya.


Semoga selalu terhibur ya🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2