
pemandangan senja kota Jakarta terlihat sangat cantik dari tempatnya berdiri, cahaya jingga memantul ke langit mengambil alih warna awan putih menjadi kemerah-merahan menambah keindahan sore hari. tapi keindahan itu tak sedikitpun bisa menghibur laki-laki yang tengah berdiri di depan jendela kamar sejak sejam lalu, tatapannya kosong ke depan. karna nyatanya keindahan yang tersaji di depan mata kalah oleh bayang-bayang dua wanita yang membuatnya kecewa dan muak.
mengepalkan kedua tangan disisi tubuhnya, ia merasa sesak kala bayangan wanita pujaan hatinya tengah menjaga lelaki sok pahlawan itu, juga kepalanya sakit memikirkan wanita lainnya yang asing namun tengah mengandung calon anaknya.
dalam sekejap ia menjadi lelaki paling menyedihkan. tidak hanya kalah, tapi ia juga harus terlibat dengan wanita licik macam Raina.
wanita itu sangat pintar memainkan peran, tapi Jefry tidak akan tertarik. seperti halnya tadi, saat mereka bertemu di rumah sakit, wanita itu melewatinya tanpa sepatah kata, bahkan tatapan wanita itu datar, wanita itu seolah tak peduli akan kehadirannya padahal Jefry yakin Raina tengah kesenangan seolah mendapatkan jackpot karna Manda mulai mempertimbangkan perjuangan Marva. itu artinya rencana dua bersaudara itu berhasil. Jefry yakin wanita itu pasti sudah sangat gatal untuk menempelinya tapi sok jual mahal. atau Raina berharap Jefry mengejarnya? huh jangan mimpi! sikap wanita itu hanya membuat Jefry makin muak.
lamunan Jefry tersentak kala sebuah mobil taxi memasuki pakarangan rumah, wanita yang sedari tadi ditunggunya terlihat keluar dari dalam mobil. sontak Jefry segera beranjak keluar kamar lalu berlari turun membukakan pintu rumah untuk pemilik rumah yang tengah ia tinggali
"Jef" sapa Manda sedikit kikuk setelah pintu terbuka, meski sejak di perjalanan pulang ia sudah menyiapkan diri untuk bertemu Jefry tapi nyatanya Manda masih merasa sedikit kaku saat berhadapan dengan mantan calon suaminya setelah kejadian di ruang rawat Zaafira
"twins mana?" Jefry mengedarkan pandangan mencari keberadaan dua batita yang sudah dianggapnya sebagai anak kandung sendiri
"di rumah sakit"
Jawaban lirih Manda memancing Jefry mengehela napas panjang, mengurai rasa kesal dan cemburu dalam dadanya.
bukan hanya Manda yang akan pergi menjauh darinya tapi juga twins, mereka tak lagi menginginkannya setelah menemukan tempat pulang sesungguhnya.
"mereka capek, apa tak sebaiknya kamu membawanya pulang?" belasan jam di perjalanan udara ditambah seharian berada di rumah sakit tentu lah kedua anak kembar itu butuh rumah untuk beristirahat dengan nyaman. pikir Jefry
"mereka tak mau lepas dari papa mereka"
"papa" beo Jefry tersenyum miris. twins benar-benar telah melupakan daddynya. padahal Jefry berjam-jam menunggu mereka pulang.
"aku mandi dulu" Manda kemudian pergi dari hadapan Jefry
__ADS_1
"boleh kita bicara nanti?" Manda mengentikan langkahnya dan berbalik ke arah sumber suara
"ya, setelah aku selesai" jawabnya lalu melanjutkan tujuannya
_ _ _ _ _ _
"kamu rapi banget?"
"aku mau balik ke rumah sakit" jawab Manda sambil memperlihatkan paper bag ditangannya yang berisikan pakaian twins
mengangguk kelu, Jefry tak tahu harus mengatakan apa selain mempersilahkan Manda duduk dengan dagunya. posisinya benar-benar tersingkir.
"dia... baik-baik saja?" Jefry tahu bukan itu yang ia ingin katakan tapi ia tak bisa menghentikan mulutnya untuk kembali berucap
"lelaki itu, sebutan apa yang pas untuk ku sematkan? papa twins? mantan suamimu... atau mantan suami yang akan kembali jadi suamimu?" tanya Jefry dengan senyum miring. entah mengapa Jefry jadi tempramental hanya karna sesuatu yang berkaitan dengan Marva.
Manda tersentak dengan kalimat terakhir Jefry, matanya menyorot kebingungan akan ekspresi yang ditampilkan Jefry.
"kamu masih mencintainya bukan?" tuntut Jefry
Manda masih diam, bukan tak berniat menjawab tapi melihat lelaki dihadapannya itu terlihat tak baik-baik saja membuat Manda memilih memalingkan kepalanya ke samping
ini bukan mengenai perkara hati, tapi untuk sebuah kebahagian bagi kedua buah hatinya
"apa 4 tahun setelah semua ini kamu masih berharap akan cintanya?" Jefry tak akan puas jika Manda belum memberinya jawaban
"iya" jawab Manda sambil membalas tatapan Jefry "dulu aku pergi membawa cintaku sendirian, jadi saat dia menawarkan balasan cinta tentu aku bahagia dan dengan senang hati membuka tangan lebar-lebar untuk menerimanya. balasan cintanya adalah impianku sejak lama" lanjutnya, akan tetapi ucapan Manda malah membuat Jefry menyungingkan senyum tipis. ucapan, gestur dan binar wanita itu tak sinkron dari penglihatan psikolog Jefry
__ADS_1
"mau sampai kapan kamu terus mengorbankan diri? kamu hanya manusia biasa, kamu butuh memperjuangkan kebahagiaanmu sendiri, kamu tidak harus mempertimbangkan semuanya hingga kamu merasa asing dengan rasa bahagia" Manda berdecak kecil mendengar balasan Jefry. ah, dokter kejiwaan memang sangat sulit dikelabuhi. Jefry dengan muda membaca dirinya.
"kebahagian twins adalah kebahagianku. cintaku untuk twins yang membuatku mengorbankan semuanya, semua, apapun itu" kali ini Manda benar-benar berkata dengan hatinya. memang perasaan cinta untuk mantan suaminya tak lagi ia kenali sejak ia sembuh dari traumanya 2 tahun lalu. yang tersisa sekarang hanya kasihan dan rasa bersalah sebab kenyataan bahwa Marva juga menderita sejak kepergiannya, namun meski mengetahui fakta itu tak membuat cintanya yang telah membuat jiwa dan hatinya hancur berkeping-keping dengan mudah kembali ia hadirkan.
"twins bahagia asalkan Marva bisa bertemu mereka, kamu tidak harus kembali pada lelaki itu"
"kamu tentu paham jika kebahagiaan anak adalah dengan memiliki keluarga utuh, bukankah kamu memiliki banyak kasus seperti itu?" tanya Manda mengembalikan asumsi Jefry
"jadi kamu mau kembali padanya meski tanpa cinta?" Jefry mengajukan pertanyaan tanpa membalas pertanyaan Manda yang jelas mereka tahu jawabannya
"ya, demi anak-anakku" jawab Manda tegas, masih dengan menatang tatapan Jefry, ia melanjutkan kalimatnya "dan kamu juga harusnya bertanggung jawab pada Raina yang mengandung anakmu"
"anak itu tidak bersalah Jef, dia makhluk yang tercipta dari bagian dirimu, darah dagingmu. harusnya kamu mempertimbangkan juga akan masa depannya kelak" Jefry memejamkan matanya, ia seperti tertampar akan ucapan Manda
"aku berangkat dulu, twins pasti udah nungguin. aku sudah pamitan sama mami" lalu wanita itu beranjak pergi dari sana meninggalkan Jefry yang hanya mampu menatap punggung sang mantan tunangan dengan tatapan nanar
jadi semua cukup sampai disini?
3 tahun ia berlayar mencintai sendirian, dan ketika cintanya akan segera berlabuh pada sang pujaan hati namun harus di hempaskan oleh ombak. mereka terpisahkan dengan kenyataan menyakitikan.
bagaimana ia menjalani hidupnya kedepan? haruskah dengan keterpura-puraan? sebab ia sudah putus asa akan harapan bahagia.
_ _ _ _ _
"saya akan menikahi anak om dan tante" ucap seorang lelaki yang berwajah datar menatap kedua pasangan paru baya di hadapannya
Bersambunggg...
__ADS_1