
Marva mendesah resah kala panggilan telponnya baru saja terputus. ia melirik sesaat ke arah ranjang twins sebelum kembali memfokuskan atensinya ke layar ponsel karna baru saja ada notif email masuk, email dari sekolah twins
Marva memang baru saja menghubungi pihak sekolah karna sudah tak sabar mengetahui sosok guru baru yang meracuni otak putrinya, dan...
benar dugaannya.. wanita itu, pemilik nama Sari, guru baru di sekolah twins adalah wanita yang masih menyalahkan dirinya atas kehilangan Arvino, ya, wanita itu adalah Mayang Sari. dia adalah ibu dari Vino, anak yang hilang entah dimana setelah Marva menyerahkan anak angkatnya itu ke Adji, lelaki yang menghamili Maya, sekaligus selingkuhan wanita itu saat masih berstatus sebagai kekasih Marva beberapa tahun lalu.
mengeram kesal mendapati kenyataan kalau keluarganya dalam kedaan bahaya, Marva segera menelpon seseorang. setelahnya
Marva beranjak menghampiri ranjang putranya, dengkuran halus menandakan sang putra sudah terlelap damai dalam dunia mimpinya.
"mimpi indah jagoannya papa" bisik Marva bangga setelah mendaratkan kecupan di dahi sulungnya. lalu setelah itu Marva beranjak ke ranjang putrinya, sama yang dilakukannya pada Zafier, Marva mengecup kening sang putri
"papa sayang banget sama kamu nak" bisik Marva tepat di kening Zaafira "jangan pernah meragukan kasih sayang papa dikemudian hari" lanjutnya sembari mengelus lembut kepala putrinya
"jangan menangis lagi karna papa" tangan Marva berpindah mengelus pelan kelopak mata putrinya yang membengkak akibat terlalu lama menangis tadi
lalu Marva menyingkap selimut putrinya sepelan mungkin agar kain lembut itu tak mengenai lutut putrinya. ringisan kecil tercipta di sudut bibir Marva kala melihat lutut putrinya yang menampilkan bercak kemerahan belum juga tersamar
Flashback on
masih dengan menangis Fira berlari ke arah dapur, mengabaikan panggilan Manda yang menanyakan anak itu hendak ngapain. baru saja Manda beranjak berdiri, putrinya sudah muncul dari pintu dapur dengan membawa gelas berisi air putih, anak itu berlari mendekat ke arah Marva dengan tangisnya yang belum reda.
sedang Marva sendiri masih syok dengan apa yang dialaminya, potongan nanas sebesar dua jari terhenti di tenggorokannya, tidak mau keluar tak mau juga tertelan. bukannya tak bisa makan nanas, hanya saja reaksi sang putri yang menangis histeris membuat Marva terkejut ditambah pukulan cukup keras di tengkuknya membuat potongan nanas itu terjebak di tenggorokannya alih-alih keluar seperti mau putrinya
"papa minum cepat!" perintah Zaafira tak terbantahkan sembari membantu Marva meminum air putih yang sudah setengah karna tertumpah sebagian saat Zaafira membawanya sambil berlari dan menangis
Marva tersenyum haru pada putrinya karna mengerti apa yang ia butuhkan, tak seperti istrinya yang hanya sibuk memperhatikan mereka
"papa ayok cepat habiskan ailnya!" lagi Marva menurut menghabiskan air yang tersisa sedikit walau dua tegukan sebelumnya sudah meloloskan potongan nanas di saluran penelannya
"nanasnya udah lewat nak, udah jangan nangis lagi" ucap Marva menenangkan putrinya agar berhenti menangis
__ADS_1
"sekalang papa pelgi pipis cepat supaya nanasnya tidak singgah di pelut papa" perintah anak itu berusaha membantu Marva bangkit dari duduknya, ia masih menangis
Marva menurut saja, namun setelah ia berdiri putrinya segera berbalik badan lalu meraih piring buah nanas itu
"papa pelgi pipis cepat arghhh" marah anak itu saat meneloh kebelakang dan Marva belum beranjak ke kamar mandi seperti mau anak itu
"iya sayang, iya" mendapati jawaban sang papa, segera Zaafira berlari ke arah dapur dengan membawa piring itu, bahkan anak itu tak peduli saat kakinya kesandung mainanya yang berserakah di sana. dan puncaknya ketika bola kecil itu tak sengaja ia injak hingga membuatnya jatuh tersungkur
"Fira!"
anak perempuan itu mengabaikan kekhawatiran semua orang, dengan cepat memungut beberapa potongan buah yang sudah tercecer di lantai dan menaruhnya kembali pada piring yang berhasil selamat dari kerasnya benturan lantai. ajaibnya tangisan anak itu seketika berhenti, ia menoleh sekilas pada tiga orang yang menatapnya khawatir dan anak itu malah menyengir kaku pada ketiganya
"sini mommy bantu" Manda ikut membantu sang putri, baru saja Manda akan mengambil alih piring, anak perempuan itu segera menepis tangan Manda, Zaafira lalu berlari ke arah dapur mengabaikan peringatan sang papa agar tak lari
"jangan lari, nanti jatuh lagi nak!"
setelah membuang nanas beserta piringnya di tong sampah, Zaafira segera membuka lemari pendingin dan mengeluarkan beberapa buah yang baru tadi dibelinya, semuanya berakhir menggenaskan di tempat sampah
"papa nih minum susunya supaya papa cepat sembuh, mommy juga nih" ucap anak itu menyerahkan dua susu kotak ke arah kedua orang tuanya
"Fira, lutut kamu luka sayang" beritahu Marva yang sudah berjongkok di hadapan putrinya. memang sedari tadi mereka berdiri menyaksikan gerak gerik Zaafira
"nggak apa-apa papa, Fiya tidak ngelasa sakit asal papa sama mommy nggak jadi mati" jawab anak itu sedikit nyeleneh tapi membuat Marva dan Manda terharu
lihatlah, putri mereka dengan segala pikiran polosnya. Marva langsung membawa anaknya ke pelukan. dan Marva sungguh mengutuk sosok guru baru yang meracuni otak putrinya hingga kejadian ini terjadi. jika saja tak ada insiden nanas-nanas itu, pasti putrinya tak menangis dan terluka seperti ini
Flashback Of
ceklek
Marva menoleh ke arah pintu, senyumnya langsung terpatri sempurna ketika sang pujaan hati muncul di sana
__ADS_1
"udah?" tanya Marva sembari bangkit dari ranjang Zaafira dan mengikis jarak dengan sang istri
"hm" jawab Manda mengabaikan rentangan tangan Marva yang ingin mendapat pelukan, wanita itu berjalan ke arah ranjang Zaafira melewati tubuh Marva tanpa rasa bersalah
"sayang..." Marva menyusul lalu berjongkok di hadapan Manda yang terduduk di tepi ranjang Zaafira "kamu nggak muntah kan?" tanya Marva berusaha mengambil alih perhatian sang istri dari putri mereka
"nggak"
"tapi kenapa lama sekali"
"nggak kok"
"kamu marah sama mas?"
"nggak"
"lalu kenapa kamu nggak mau natap mas?"
Manda melirik ke arah suaminya sebentar
"tuh kan kamu cuman ngelirik aja, kamu pasti marah. salah mas apa, hm? mas minta maaf sayang" rengek Marva membuat Manda menipiskan bibir dan memejamkan matanya
"salah mas karna membuat aku pengen muntah sekarang" ucap Manda dengan suara ketusnya. mendengar suara Marva yang berceloteh melebihi celotehan Zaafira memancing imajinasi wanita hamil muda itu untuk mencekik leher suaminya agar berhenti bersuara
"tuh kan, pasti tadi kamu mual-mual di kamar mandi yah sampai lama, maafin mas yah, mas nggak bantuin kamu karna mas lagi temani twins bobo, mas juga udah telpon pihak se..."
"aku cuman berak mas, B E R A K. lama karna harus ngeden dulu. udah ah diem napa. nanti twins bangun keganggu suara kamu"
padahal yang keganggu malah indra pendengar Manda. sungguh suara Marva membuat kedua tangannya gatal
Bersambung...
__ADS_1