Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
Keputusan


__ADS_3

"opa jangan nangis" ucap Zaafira sedih melihat kakeknya berderai air mata sambil memeluk erat tubuhnya juga Zafier


"jaga diri kalian baik-baik yah, opa sayang banget sama kalian berdua, jaga juga mommy kalian, cucu-cucu opa pada pintar, opa nitip mommy kalian yah, jangan buat dia bersedih" pesan Narendra menatap bergantian kedua cucunya yang berada dalam pangkuannya


"pasti opa" jawab Zafier mantap "opa juga jaga dili. kalau opa lindu opa bisa datang ke amelika, ya kan mom?" lanjut Zafier, ia menoleh ke arah mommynya meminta dukungan dari wanita yang juga tengah bersedih harus perpisah dengan sang papa padahal baru 2 hari kebersamaan mereka setelah terpisah beberapa tahun. Manda mengangguk, ia tak mampu bersuara, karna anak tunggal Narendra itu mati-matian menahan agar tangisnya tidak pecah. sungguh keadaan yang memaksanya mengambil jalan ini


mereka bertiga harus pulang ke Amerika, selain karna pekerjaannya yang sudah selesai di Indonesia, Manda tak ingin twins berada dalam bahaya karna kehadiran Marva yang mulai mengusik mereka karna sudah mengetahui akan fakta twins. sedang Narendra, ia tetap di Indonesia, lebih tepatnya akan tinggal di Bali, ia yang akan membantu mengawasi cabang perusahaan Ivander disana.


Narendra memindahkan twins dari pangkuannya, ia kemudian berdiri dan membawa putri kesayangannya dalam pelukan


"janji sama papa, kamu harus selalu bahagia, nak" pesan Narendra yang diangguki pelan oleh Manda


"papa jaga diri baik-baik yah, Bila sayang papa" ucap Manda sambil terisak dalam pelukan hangat Narendra. ia masih begitu merindukan sosok cinta pertama dalam hidupnya itu. Manda akan selalu menjadi Bila jika dengan Narendra.


twins yang melihat mommy dan opanya menangis ikut memeluk kedua kaki orang besar itu. kedua bocah itu berharap dengan pelukannya bisa membantu meredakan kesedihan mereka


meski rasanya tak puas akan waktu kebersamaan mereka, tapi Narendra tetap mendorong Manda dan kedua anaknya segera memasuki privat jet milik Ivander. ia hanya tak mau jika mantan menantunya yang brengs*k itu mengetahui kepergian mereka.


"opa sayang kalian, salam sama mami, momma, uncle dan daddy Jef jika kalian sudah sampai" ucap Narendra mengecup kening kedua cucunya sebelum ia turun dari jet pribadi yang akan lepas landas itu


Narendra masih disana, mendongak menatap langit lebih tepatnya pesawat yang sudah mengudara di langit Bali mengantarkan anak serta kedua cucunya ke Amerika, negara yang membuat ketiga orang tercintanya bahagia tanpa gangguan masalalu kelam. walau rasanya berat tapi ia mencoba ikhlas melepas putrinya untuk meraih bahagianya, mendengar cerita Bila dan kedua cucunya akan kebaikan dan ketulusan Caloline, Aline, Marco dan Jefry membuat Narendra rela berjarak dengan putri kesayangan dan kedua cucunya


sama halnya dengan Narendra yang bersedih karna kepergian Manda dan twins, Marva juga mengalami hal yang sama. bedanya Narendra masih mendapatkan pelukan, kecupan dan beberapa kalimat penyemangat dari ketiganya, tapi Marva tidak sama sekali, ia ditinggal tanpa pesan dan tanpa pemberitahuan, meninggalkan kefrustasian dan penyesalan mendalam dalam relungnya, menyesal karna tak mengejar saat ia di tinggalkan di rumah sakit kemarin karna alasan muak mendapatkan pukulan dan terus berakhir kalah dari Narendra karna ia tak mau melawan. Marva merasa kecolongan harapan.


Lelaki menyedihkan itu berdiri diam menatap keluar jendela kaca ruangannya, menatap birunya langit di siang hari ini, langit cerah tak seperti hatinya yang mendung. setiap hembus napasanya hanya ada lara.


sekali lagi, ia ditinggal pergi, oleh wanitanya juga sekaligus kedua buah hatinya


"kalian sangat membenci papa yah sampai memilih pergi?" gumamnya tersenyum miris dengan air mata yang menetes

__ADS_1


"papa harus gimana twins, papa ingin kalian, tapi kalian tak inginkan papa" monolognya, namun sepersekian detik selanjutnya ia terkekeh datar. mengejek dirinya yang tengah dimainkan oleh karma. inikah yang dirasakan Bila dulu? lagi-lagi pertanyaan itu memukulnya telak


"papa nggak sekuat mama kalian nak, papa nggak bisa tanpa kalian, papa tak bisa menyerah atas kalian..."


Brak


monolog Marva terpotong kala suara pintu ruangan kerjanya terbuka paksa, ia menoleh kaget ke arah pintu


"mama?"


"kamu disini? dimana Zafier dan Zaafira? melihat kamu sesantai ini, pasti mereka masih di jakarta bukan?" todong Reni dengan serentetan pertanyaan. wanita baya itu menepis kenyataan dari informasi yang ia peroleh jika Bila dan twins kembali pergi dari negara ini.


"mereka pergi" jawab Marva nyaris tak terdengar karna suara lelaki itu serak, ia menahan tangis sambil menunduk, menyembunyikan wajah menyedihkannya dari sang mama.


Bruk


2 paper bag yang sedari tadi bertengger di tangan Reni terjatuh. paper bag yang berisi mainan untuk kedua cucunya. ya, sebelum ke kantor Marva, Reni sebenarnya bertujuan mengunjungi twins, membawakan kedua cucunya mainan, sekaligus menjenguk si bungsu yang katanya habis mengalami kecelakaan saat bermain kemarin. namun Reni terlambat, karna rupanya kunjungannya bersambut kekosongan. Reni juga sempat ke sekolah twins, dan dari sanalah ia mendapat kabar mengejutkan itu, twins sudah kembali ke sokalah asalnya. Amerika


"ma" panggil Marva saat tubuh Reni berbalik pergi. sorot matanya sendu menatap punggung mamanya


"mau mendapatkan maaf dari mama?" tanya Reni tanpa membalikan tubuhnya


"kembalikan twins, raih maaf Bila dan twins. jika perlu korbankan sesuatu atau mungkin beberapa demi mendapatkan hartamu yang sebenarnya" lanjut Reni berhasil membuat Marva mendesah berat


"Vino..."


"dia tidak asa hubungannya denganmu Marva!" sentak Reni sambil berbalik menatap kesal putranya


"Tapi anak itu kasihan ma, kedua orang tuanya tak ada yang menginginkannya" jawab Marva

__ADS_1


"kamu menjaga anak orang lain disini, apa kamu tak memikirkan ada dua anakmu yang akan diurus lelaki lain" cercah Reni "menurutmu apa adil bagi twins? papanya menelantarkan mereka sejak lahir bahkan sejak dalam kandungan, apa selamanya kamu akan mengabaikan mereka?" sindir Reni telak


"mereka bahagia tanpa Marva" balas Marva tersenyum miris, semiris perasaannya yang seperti tercabik-cabik


"apa semudah itu kamu menyerah?" tanya Reni tak habis pikir akan pemikiran cetek putranya.


mendapati Marva hanya terdiam sambil menunduk, Reni menghela napas panjang sebelum berucap


"Kejar mereka, berjuanglah untuk mengembalikan semangat hidupmu. Vino biar sama mama...shyut!" Reni mengangkat telunjuknya di depan mengisyaratkan agar Marva tak menyelahnya "mama tidak akan memasukannya ke panti jika itu yang kamu khawatirkan, tapi dengan satu syarat, jangan pulang dengan tangan kosong" lanjut Reni. setelah berucap Reni kembali membalikan badannya dan melangkah keluar dari sana.


besar harapan Reni bahwa Marva akan mendapatkan semangat hidupnya lagi setelah berkubang di lubang penyesalan selama 4 tahun belakangan ini. ya semarah-marahnya Reni akan kelakuan bej*t Marva pada Bila tapi Reni tak bisa mengabaikan darah dagingnya begitu saja, walau sangat kecewa pada Marva tapi Reni tetap berharap agar putranya itu memperoleh kebahagianya, apalagi melihat bahwa Marva benar-benar menyesal akan kelakuannya di masalalu


Sepeninggal Reni, Marva tersenyum haru, setitik semangat menghampirinya yang kehilangan asa. ya, ia mendapatkan kembali dukuangan dari mamanya.


"terimakasih ma, Marva janji akan mendapatkan mereka kembali kedalam pelukan Marva" janji Marva


sementara di dalam pesawat, twins tampak menatap keluar jendela. si kembar tak banyak aksi, cenderung diam dan tak bersemangat. wajahnya jelas menampakan raut sedih dari sudut pandang Manda


"apa kalian begitu tak mau meninggalakan opa sampai wajahnya di tekuk begitu?" tanya Manda yang sedari tadi memerhatikan aksi diam twins


anggukan pelan dari twins membuat Manda mendesah. sebenarnya ia juga berat meninggalkan Narendra yang harusnya ia jaga di usia senja papanya itu, hanya saja ia harus melakukannya demi twins. mengajak papanya untuk tinggal di Amerika? jelas papanya menolak. kata lelaki baya itu, ia tak ingin merepotkan keluarga Ivander yang sudah sangat berjasa menjaga Manda dan twins selama dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.


"mommy?" panggilan berupa suara lirih itu keluar dari mulut si bungsu


"ya princess?"


"om itu, tidak calah, dia hanya menolong Fiya saat Fiya jatuh" jelas Zaafira menatap sang mommy


Deg

__ADS_1


Jadi twins memikirkan lelaki itu?


Bersambunggg...


__ADS_2