
"cari tahu siapa bocah yang bernama Zafier dan Zaafira"
"....."
"tidak. Saya tidak tahu siapa nama belakang mereka. Tapi sepertinya,, ibu mereka tak jauh dari wanita club. Usut tuntas belasan wanita yang pernah saya sewa 4 tahun lalu" titah Marva pada seorang di balik telpon
Lelaki yang telah rapi dengan pakaian kantornya itu tampak gelisah pagi ini. Semalam Marva sampai tak bisa tidur karna memikirkan 2 bocah itu
"papa, Ino udah siap, yuk belangkat" seru Vino menyusul papanya di teras rumah
"hayuk jagoan" sahut Marva meraih tubuh kecil Arvino kemudian dibawahnya menuju mobil
Beberapa menit yang mereka lewati di jalan akhirnya membawa keduanya sampai di depan sekolah taman Kanak-kanak
"makasih papa, Ino masuk sekolah dulu" ujar Vino setelah Marva membantunya turun dari mobil
"iya nak, Vino belajar yang rajin dan jangan nakal, oke" Marva mengelus lembut kepala putranya
"siap papa. Papa hati-hati di jalan" setelahnya Vino berlari masuk ke dalam gerbang sekolah
Marva menatap kepergian Vino dengan senyum mengembang, namun saat ia berbalik hendak memasuki mobilnya, gerakannya terhenti kala melihat sebuah mobil yang baru saja menepi di belakang mobilnya, tak lama keluar seorang wanita dengan 2 orang bocah berbeda jenis kelamin dari dalam mobil
"Jeal tolongin mommy kalian dulu yah, nanti setelah nganter mommy, Jeal balik lagi" ujar Jeal, asisiten Manda itu berucap sambil berjongkok di depan twins untuk memahamkan situasinya
"oke Jeal. Buluan belangkat, kasian mommy nunggu di jalan" respon Zafier menyuruh Jeal segera pergi. Pasalnya Manda saat ini tengah mengalami inseden ban bocor di tengah perjalanan menuju perusahaan tuan Sucipto
"baiklah pangeran, princess, hamba pamit undur diri. belajar yang rajin yah" ujar Jeal membungkukan sedikit tubuhnya dan menundukan kepalanya ala-ala hormat kerajaan pada kedua anak bosnya
"dada Jeal, salam untuk mommy" seru twins melambaikan tangan mungil mereka, setelahnya kedua batita itu berjalan beriringan memasuki gerbang sekolah
Jeal masih memerhatikan twins hingga hilang di balik gerbang, setelahnya ia kembali memasuki mobil dan melaju menuju lokasi bosnya
__ADS_1
Marva masih bergeming di tempatnya, entah mengapa saat 2 batita yang ia kenali adalah anak-anak Manda melewati tubuhnya tanpa meliriknya, ada perasaan sesak dalam dadanya. Entah mengapa ia merasa sakit karna pengabaian 2 anak kecil itu. Ada apa dengannya? Banyak batita lainnya yang melewati tubuhnya tanpa menghiraukannya tapi ia biasa aja, lalu kenapa dengan 2 anak Manda ia merasa sedih dan kecewa?
Merasa matanya mulai berkaca-kaca, Marva menoleh ke arah gerbang, ia tak tahu kenapa dirinya bisa sesedih ini hanya karna merasa tak terlihat oleh 2 anak Manda, dan entah dorongan dari mana, Marva melangkah menyusul twins memasuki gerbang, mengabaikan jika ia dikejar waktu karna ada agenda penting pagi ini di perusahaannya
"khm" Marva berdehem saat dirinya sudah berjalan beriringan dengan twins tapi twins masih tak mengiraukannya sebab keduanya asik berceloteh satu sama lainnya
Twins kompak menoleh dan mendongak menatap lelaki jangkung di samping mereka, keduanya menatap Marva bingung
"ha--hai, halo" sapa Marva terbata
"om tenapa gagap?" tanya si batita perempuan
"oh tidak, saya hanya, hanya..."
"om, papanya ino, kan?" sahut si batita lelaki, kemudian ia menggeser tubuh Zaafira ke sisi tubuhnya, Zafier kini berada di tengah
Zafier ingat bagaimana papa dari Vino ini mendorong tubuh kecil Zaafira beberapa hari yang lalu di pusat perbelajaan.
Melihat reaksi anak lelaki Manda, Marva meringis dalam hati
"kami sekolah untuk mandili, jadi kami tidak ingin melepotkan mommy sama daddy" jawab bijak Zafier yang lagi-lagi membuat Marva meringis sekaligus takjub akan pemikiran batita kecil itu
*andai saja mereka anak-anakku dengan Bila* batin Marva berharap. Padahal tadinya ia ingin membuat 2 bocah ini bersedih dengan menyinggung kedua orang tuanya, malah ia yang dibuat terhipnotis akan pesona 2 batita disampingnya. Jujur Marva merasa damai berada dekat dan berbincang dengan anak-anak dari wanita pengisi hatinya, sesuatu dalam dirinya yang telah lama hilang ia bisa merasakan kembali hidup sekarang ini
2 bocah yang pernah ingin ia lenyapkan demi mendapatkan Bila kembali nyatanya membuat Marva jatuh hati hanya dengan perbincangan singkat diantara mereka
"yagian daddy beyada jauh dayi kami jadi ndak bica ngantay kami ke cekolah, kayau daddy datang ke indo daddy pasti seyayu ngantayin sepeyti di cekolah lama kita" sahut Zaafira dengan nada cadelnya menceritakan keadaan daddynya memancing Marva mengerutkan keningnya
"iya, daddy kalau tidak sedang kelja pasti ngantalin kami, setiap hali" tambah Zafier
"loh emangnya daddy kalian kemana? Sekolah lama? Emang sebelum sekolah disini kalian sekolah dimana? Om juga kerja tapi selalu ngantar anak om ke sekolah, Karna om lebih prioritaskan anak om dari pada pekerjaan om. Kan anak segalanya" tanya Marva beruntun, di akhir kalimatnya jelas jika ayah angkat Vino itu menyindir sosok ayah dari 2 batita ini
__ADS_1
"tatu-tatu om tanya-nya" protes Zaafira membuat Marva menyengir kaku
"emang pekeljaan om apa?" bukannya menjawab, si batita laki-laki malah bertanya balik
"Ceo" dengan bangga Marva berucap
"oh, belalti sama kayak pekeljaan mommy" balas Zafier menganggukan kepala kecilnya "kalau hanya Ceo emang pekeljaan mudah om, mommy aja yang pelempuan bisa. kalau pagi ini tidak ada meeting penting pasti mommy ngantalin kami ke cekolah" lanjut Zafier menyentil harga diri Marva, ia di bandingkan dengan Bila oleh kedua bocah kicik ini. Yang sialnya memang Marva akui bahwa pekerjaan Bila memang sepantas dengan pekerjaannya, Ceo sebuah perusahaan yang bergerak di bidang properti
"ho'oh. kayau peteljaan daddy balu lual biaca hebat om" Zaafira ikut menimpali ("ho'oh. kalau pekerjaan daddy baru luar biasa hebat om")
"kerja apa emang daddy kalian" tanya Marva ingin tahu
"dottel. Bica nyembuhin banak oyang, pekeljaan mulia yang tidak bica di tinggay kalna menyangkut nyawa oyang lain" sahut Zaafira bangga membuat Marva bungkam seribu bahasa. Emang benar apa yang dikatakan bocah cadel ini
Jadi Bila menghianatinya dengan seorang dokter? Memang Marva mengakui bahwa pekerjaan dokter memang sangat luar biasa tapi jika berbicara penghasilan dan kekuasaan, Marva jauh lebih diatas. Ia memiliki pemasukan ratusan juta setiap hari dengan kekuasaan berada di tangannya
"tapi gajinya dokter tidak banyak. Banyakan gajinya om" entah tersulut cemburu atau memang ingin pamer, Marva mengutaran pemikirannya
"enggak papa om, kata daddy uang tak jadi masalah asalkan kita bisa membantu banyak olang yang membutuhkan kita" jawab Zafier Bijak "lagian kalau soal uang, gajinya mommy juga banyak, mami sama oma juga punya uang banyak" lanjut Zafier telak
Dan Marva merasa suasana hatinya semakin panas. Ia merasa marah saat 2 anak ini memuja pria lain di depannya langsung.
Salah mereka dimana? Anak-anak akan selalu membanggakan ayah mereka bukan? Lalu kenapa ia harus merasa tak rela jika 2 batita itu memuji ayahnya sendiri dibanding dirinya yang bukan siapa-siapa. Pikir Marva berkecamuk
Bersambunggg
####
like, komen dam vote yuks
PUADAI PAPPOJI KO MAPPOJIKI RI CERITA BUAH HATIKU. (bilang suka kalau sukaki sama cerita buah hatiku)
__ADS_1
Salam Mickey Mouse 24
Dari Dunia Halu