
kedua anak manusia di bawah pancuran air sower itu saling memeluk dengan napas tersengal-sengal. lengan kokoh sang pria menahan tubuh sang wanita yang terkulai lemas dalam pelukannya agar tak terjatuh
"mas, sebaiknya kita mandi cepat deh" sahut si wanita dengan napas mulai teratur
"satu ronde lagi sayang" kalimat yang meluncur dari bibir sang lelaki bersamaan dengan gerakan secepat kilat membalikan tubuh istrinya agar membelakanginya
"mas!"
_ _ _ _ _
"dimana sih" Marva sibuk sendiri dengan kegiatannya yang mengobrak abrik laci nakas satu persatu
"mas, kok belum pakai baju? ntar telat loh" tanya Manda yang baru muncul dari arah walk in closet, wanita itu sudah rapi, dalam artian sudah memakai seragam rumahannya alias daster dengan rambut tergerai menguarkan wangi sampo pada rambutnya yang masih lembab.
"mas, astagaa! rambut mas kok nggak dikeringin sih? lantai jadi basah itu" pekiknya tertahan karna takut membangunkan ketiga makhluk kecil di atas ranjangnya.
memang belakangan, sejak kehadiran si bungsu, twins jadi sering menginap di kamar kedua orang tuanya. katanya tak mau berpisah dari adik kecil mereka. sedang kedua orang tuanya tak protes, meski sang papa kadang kalang kabut ketika hendak meminta jatah tapi terganggu dengan ketiga buah hatinya
Marva hanya menoleh sekilas ke arah sang istri lalu menunduk memastikan ucapan istrinya "udah mas keringin tadi padahal" Tuturnya setelah melihat ada jejak basah disana meski tak banyak karna memang sehabis keluar kamar mandi ia sempat menggosok rambut basahnya sebelum beralih mengobrak abrik isi laci
"ck! yaudah mending mas keringin lagi terus pakaian, ini udah setengah delapan loh mas" titah Manda pada sang suami yang masih memakai handuk mandi untuk menutupi area terlarang lelakinya
"ntar aja, twins juga belum bangun. mending kamu bangunin mereka dulu deh" Ucap Marva sembari kembali melakukan pencarian
"twins biar aku yang antar, mereka masuk jam sepuluh, katanya guru-guru pada rapat dulu pagi ini"
"pantas aja mereka betah begadang sampai tengah malam" gumam Marva sembari melirik twins yang terlelap damai mengapit si bungsu di tengah-tengah keduanya
"mas cari apa sih?" tanya Manda
__ADS_1
Manda menaikan sebelah alisnya melihat suaminya menegakan tubuhnya dengan ekpresi berpikir setelah mendengar pertanyaannya
"mas cari apa ya, sayang?" tanya Marva pada sang istri
"umur mas baru masuk tiga puluh dua kemarin loh"
Marva berdecak, meski tak terang-terangan tapi istri cantiknya menuduhnya sudah pikun di usianya yang masih terbilang muda. tapi ia memang melupakan apa yang tengah ia cari sih, jadi sindiran istrinya memang tepat sasaran sepertinya. salahkan saja ibu anak-anaknya yang membuyarkan fokusnya gara-gara lantai basah
"gara-gara kamu nih sayang" ucap Marva sembari mendaratkan kecupan di pipi mulus istrinya
"kok aku sih?"
"kecantikanmu mengalihkan duniaku"
hoek
"modus. mas udah ah. aku nggak mau mandi dua kali ya" Manda berucap sembari menahan tangan nakal suaminya yang sudah menjelajah kemana-mana
"kita mainnya sampai tiga ronde loh tadi, mas. emang mas nggak puas?"
"mas nggak akan pernah puas sama kamu sayang, mas terlalu can... astaga!" Marva tiba-tiba menegakan tubuhnya, dan langsung beralih ke arah laci ketika otaknya sudah kembali berfungsi normal
"mas sudah ingat cari apa?" tanya Manda keheranan melihat reaksi panik suaminya
"pil sayang, mas cari pil kamu. kok nggak ada dilaci manapun. kamu belum minum tadi kan?"
"kemarin sore habis mas, yaudah aku buang botolnya" jawab manda santai
"astaga sayang, kok kamu nggak bilang sih"
__ADS_1
"aku yang nggak bilang atau mas yang pura-pura lupa? ingat ya, kemarin sebelum kita main di dapur aku udah bilang kalau pil aku tinggal satu"
"kenapa kamu nggak bilang tadi waktu sebelum kita main sih sayang? kalau jadi gimana?"
"ya, aku pikir mas udah nggak masalah kalau aku nggak minum pil, kan kemarin aku udah kasih tahu kalau udah habis tapi mas masih minta main tadi"
" astaga sayang, mas lupa. aduh gimana ini"
"yaudah sih mas santai aja" ucap Manda melihat kegelisahan Marva
"bagaimana bisa santai? mas nggak mau lagi lihat kamu kesakitan kayak kemarin, mas nggak tega, Bil" tutur Marva sarat dengan raut frustasi
"nggak tega lihat aku kesakitan atau nggak mau aku jambakin lagi rambutnya?"
"mas bahkan rela rambut mas botak kamu jambakin dari pada harus ngelihat kamu kesakitan melahirkan sayang, mas benaran takut" ucap Marva dengan sungguh-sungguh
"udah sih nggak papa mas, nggak usah panik gitu, kalau rejeki ya kita terima aja, lagian kita itu harus adil mas, Fira masih mau adik cewe"
"nggak Bil, nggak! jangan jadikan alasan Fira ya, dia aja udah sayang banget sama adiknya meskipun cowo. pokoknya kamu nggak boleh hamil lagi. titik" Marva keukeh tidak mau lagi menambah anak lebih tepatnya tak tega berada disituasi 18 bulan lalu ketika anak bungsunya yang diberi nama Javier Afta Phelan lahir ke dunia.
sesuai namanya, Marva ingin Afta biasa mereka memanggil si bungsu, adalah anak yang terakhir lahir di dalam istana kebahagiaan mereka.
sungguh memori detik-detik baby Afta lahir menempatkan Marva serasa diantara surga dan neraka. bahagia menyambut kehadiran buah hatinya tapi kesakitan melihat perjuangan sang istri melahirkan buah cinta mereka membuat Marva seketika mengubur impian yang ingin memiliki banyak anak dari istrinya. saat itu juga ia bertekad tidak akan membuat istrinya hamil lagi.
"yaudah, kalau gitu nggak usah minta jatah supaya aman"
"mana bisa gitu sih, sayang" bantah Marva cepat setelah ucapan istrinya menarik ingatannya ke masa sekarang
END
__ADS_1
akhirnya sampai juga di penghujung cerita. sampai bertemu di cerita haluku yang lainnya yah. tengkyu untuk para readers yang sudah setia dari awal cerita. makasih suportnya yah, tanpa kalian tulisan amburadul dan kehaluan gaje ku ini bukan apa-apa.
luv banyak-banyak untuk kalian semua โค๏ธ๐งก๐๐๐๐๐ค๐ค๐ค