Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
S2- kejutan 2


__ADS_3

bukankah dalam sebuah hubungan itu tak pernah lepas dari konflik? entah itu kekhilafan atau kesalah-pahaman.


dan karna itu ada dua pilihan yang menjadi akhir. melepaskan atau memperbaiki. tergantung bagaimana individunya menyikapi masalah yang terlanjur ada.


"maafkan istri saya" ucap Marva tulus pada wanita hamil yang tengah menangis tersedu di pelukan lelaki setengah baya yang Marva tebak berusia awal 50an


"gimana dong pak Marva, istri saya jadi terguncang gini, kasihan sama bayi kami" keluh pria berperut buncit itu sembari mengelus sayang rambut istri mudanya


"saya meminta maaf atas nama istri saya yang membuat istri bapak jadi syok karna kesalahan-pahaman. istri saya tidak tahu kalau rumah ini sudah bukan punya kami lagi" tutur Marva sembari melirik Manda di sampingnya yang tampak menampilkan wajah kikuk.


jujur, Marva ingin sekali terbahak melihat raut wajah Manda yang berubah menjadi kucing penurut padahal beberapa menit yang lalu istrinya itu berubah jadi harimau buas yang sudah siap melahapnya hidup-hidup, untung saja pemilik rumah asli datang tepat waktu dan melerai mereka


"kok sampai tidak tahu pak? apa bapak ini ada main di belakang juga sampai tidak memberitahu istri pertama bapak kalau bapak jual rumah?" tuduh lelaki paru baya itu sembari menaik turunkan alisnya, seolah mendapat angin segar kala menyimpulkan bahwa Marva juga suka mengoleksi wanita lebih muda secara diam-diam sepertinya


wajah bersalah Marva seketika berubah datar, tak suka dengan ucapan lelaki yang Marva tahu berprofesi sebagai oknum berpangkat Irj3n pol. yang kesetiannya tak bisa dijadikan panutan.


perubahan air muka Marva bukan karna tersinggung, toh apapun tuduhan itu ia tak merasa melakukannya. tapi karna ucapan si bapak Irj3n sepertinya berhasil menyulut api pada lirikan tajam wanita di sebelahnya. Marva berdehem sebelum akhirnya meladeni tuduhan si bapak yang berpakaian dinas polr! berbintang dua itu.


"kebetulan istri pertama dan kedua saya tidak menyukai rumah ini, jadi saya tidak meminta izin padanya saat menjual rumah ini pada bapak. dan perlu pak Witnu tahu kalau istri pertama dan istri kedua saya adalah orang yang sama. saya hanya bisa menikahi dan membuahi satu wanita dan itu hanya wanita di sebelah saya, istri saya satu-satunya" tutur Marva menanggapi santai dengan kalimat panjangnya sembari menoleh ke arah Manda. perkataan Marva dengan nada tenang yang sedikit terdengar frontal di akhir kalimatnya itu berhasil menyentil kedua pasangan tak wajar di hadapannya.


sedang Manda yang tadinya sempat meradang dengan kalimat pertama Marva menghela napas lega mendengar lelaki itu menyelesaikan kalimatnya. untung saja emosinya tak tersulut cepat.


"kalau begitu saya dan istri pamit, silahkan menikmati waktu bapak dan istri, sekali lagi maaf atas kesalahan pahaman ini" ucap Marva undur diri.


"ayok sayang" ajak Marva, lelaki itu lalu menarik dua koper besar milik istri dan anak-ankanya menuju mobil dikuti twins juga Manda


_ _ _ _ _


"kapan?" tanya Manda kala Marva sudah melajukan mobilnya meninggalkan pakarangan rumah yang dulu pernah Manda tinggali selama lima bulan. itu sudah enam tahun lalu.


"apanya?" tanya balik Marva tak mengerti arah pertanyaan sang istri


"rumah itu"


"sejak kamu bersedia rujuk. emm sekitaran satu tahun lalu sepertinya"

__ADS_1


"kenapa nggak pernah bilang?"


"karna mas pikir itu tidak penting, lagian rumah itukan..."


"tapi kalau kek gini akunya yang jadi salah paham" sela Manda memotong ucapan Marva


"iya maaf. tapi disini bukan cuman salah mas loh, kamu tiba-tiba telpon bilang udah depan rumah terus langsung matiin telpon tanpa dengar mas, mana mas hubungin nggak diangkat, gimana mau jelasin kalau itu bukan lagi rumah kita"


"kan mau kasih kejutan, eh malah aku yang terkejut, hampir aja aku nalak tiga mas detik itu juga saking panasnya lihat wanita seksi tadi, mana hamil lagi. uh meradang aku" ucap Manda sembari mengipas-ngipasi wajahnya saat teringat kejadian yang cukup membakar dadanya karna pikirannya sendiri.


Marva menanggapi celotehan istrinya itu dengan dengusan, akan tetapi bibir lelaki itu melengkung ke atas saat ia melirik gerak gerik Manda. gemas, sebelah tangan Marva yang bebas dari kemudi meraih tangan Manda untuk di kecupnya


"mas tadi takut banget loh sayang"


belum sempat Manda menyahut pertanyaan dari Zafier membuat atensi mereka teralihkan, Manda langsung menoleh sedang Marva melihat putranya melalui spion yang mengantung di atas kepalanya


"mommy sama papa bertengkar?"


"nggak sayang. kami cuman berbicara biasa" sahut Manda memberikan senyum lima jarinya pada twins


"takut kenapa? takut aku talak?" tanya Manda kembali pada pembicaraan mereka yang sempat terintrupsi


"mana ada istri bisa nalak suami" ujar Marva setelah mendengus terang-terangan "mas takutnya si pak Witnu nggak mau damai terus menjarain kamu yang udah buat istri mudanya ketakutan gitu" jelas Marva, mata lelaki itu melirik ke arah sang istri "kamu apain sih sampai wanita itu syok gitu?" imbuh Marva bertanya


"nggak ada tuh, kami hanya ngobrol" jawab Manda santai sembari memperbaiki tatanan rambutnya


"ngobrol apanya sayang, orang dia sampai menangis tersedu begitu"


"ya memang hanya ngobrol, aku kasih pertanyaan, dianya menjawab. tapi yah gitu, yang namanya simpanan dimana-mana selalu merasa takut akan tempat persembunyiannya. apalagi tadi dia salah paham, dia kira aku beneran istri pertama dari suami tuanya itu"


"tapi kamu juga kebakaran kan" goda Marva


"ck nggak usah di bahas"


"kasian tahu sayang si mbak tadi, dia lagi hamil..."

__ADS_1


"yang lebih kasihan itu istri pertama bapak botak tadi. katanya saling cinta, cih! cinta apaan yang berani ngerusak hubungan orang. mana bangga banget lagi jadi simpanan. hanya wanita jahanam yang menikmati bahagia diatas penderitaan wanita lain" dumel Manda menggebu-gebu berhasil membungkam Marva seribu bahasa


"tapi mas beneran nggak ada sameone kan di belakang aku?" tanya Manda memicing ke arah Marva


"ck! curiga kan? makanya ikut suami dong. ntar dicantol wanita seksi baru meradang" sindir Marva telak


"ini aku udah mau ikut kamu kok" balas Manda tak mau kalah "tapi nanti gimana kalau 10 tahun lagi? 20 tahun? kalau perut mas udah kendor kek bapak tadi?"


alih-alih menjawab, Marva malah terbahak akan tuduhan istrinya, membuat twins mendongak menatap sang papa


"apa yang lucu pa?" tanya Zaafira penasaran


"nggak ada sayang, maaf menganggu kalian"


melihat twins kembali fokus pada tab, Marva menoleh ke arah sang istri, kebetulan sedang lampu merah jadi dia bisa menatap wajah istrinya itu lamat-lamat


"makanya kalau mas mau olahraga malam jangan pernah nolak. kata orang ya, kalau suami selalu dapat jatah dari istrinya perutnya tidak akan kendor" ujar Marva ngawur penuh modus


"dih, nggak ada hubungannya yah jatah sama perut buncit"


"ada, kalau suami banyak beban pikiran apalagi istri kasih jatahnya jarang, suami bisa stres dan makan banyak, terbentuk deh itu perut berlemak"


Marva mengulum senyum kala mendapati ekpresi sang istri yang tampak berpikir keras. sepertinya wanita itu percaya pernyataan tak berteorinya.


"gemas banget sih istri aku ih" ucap Marva menahan diri untuk tak mencium bibir manis istrinya, alih-alih lelaki itu hanya mencubit pipi mulus itu


"oh iya penampilan mas kenapa berantakan gini?" tanya Manda menyadari penampilan Marva


"oh ini, ada beberapa insiden di jalan tadi pas mas menjemput kalian" jawab Marva sembari kembali fokus mengemudi


"insiden? ini lehernya kenapa merah gini?" tanya Manda mendapati bekas merah di leher Marva setelah wanita itu mendekatkan wajahnya menelisik penampilan suaminya yang cukup terbilang kacau. mendapati pertanyaan sang istri Marva langsung menahan napas


Bersambung..


part ini masih ada lanjutannya cuman terlalu panjang jadi aku potong

__ADS_1


__ADS_2