
bukan tak percaya, hanya saja terlalu takut untuk berada dititik yang sama.
kening wanita itu berkerut, menatap layar ponsel suaminya yang baru saja menampilkan pemberitahuan pesan dari nomor asing.
+6282345******
Cofee and Cake. aku tunggu di sana
tidak, Manda tak membuka ruang obrolan, tapi dia hanya membacanya dari notif pemberitahuan di layar ponsel milik suaminya
siapa pemilik nomor itu? beberapa hari lalu juga pernah menelpon Marva, dan suaminya langsung menjauh saat menerima panggilan dari nomor tersebut. klien? tapi masa iya ada klien menggunakan bahasa informal. pikir Manda
ceklek
Manda tersentak dari lamunannya saat pintu kamar mandi terbuka
"kenapa sayang?" tanya Marva. lelaki yang hanya dibungkus handuk bagian pinggang hingga lututnya itu keheranan melihat istrinya terjengkit saat ia membuka pintu, seolah wanita itu tengah kepergok berbuat sesuatu
"eng..enggak. udah selesai yah, yaudah gantian aku yang mandi" jawab Manda cepat, lalu ia mengacir masuk ke kamar Mandi setelah menggeser sedikit tubuh Marva yang menghalag di depan pintu
"mandi yang bersih yah mom, kita kerja lembur malam ini buat adik untuk twins" seru Marva yang dibalas dentuman keras pintu kamar Mandi.
Brak
"astaga!" pekik Marva tertahan, lelaki itu lalu mengelus dada telanjangnya akan reaksi sang istri
"istriku seperti gadis perawan saja" gumam Marva sambil geleng-geleng kepala. ia tahu Istrinya itu pasti merasa malu di dalam sana akan godaannya. iya, dentuman pintu itu bukan karna marah.
Marva lalu mengayunkan tungkainya ke arah walk in closet sambil mengosok rambut basahnya dengan handuk kecil yang tersampir di pundaknya.
setelah berpakaian, Marva hendak melangkah keluar kamar untuk mengecek twins. namun saat di ambang pintu, langkahnya terhenti kala deringan ponsel miliknya mengintrupsi
lelaki itu lalu berjalan ke arah nakas samping ranjang, menoleh sejenak ke arah kamar mandi kala melihat layar ponselnya menyala menampilkan nomor yang sudah satu minggu ini menganggunya. lalu Marva meraih ponselnya. jempolnya menggeser ikon hijau.
"hm?"
"....."
"saya baru pegang ponsel"
"...."
"oke. saya bisa sekarang" setelah berucap Marva langsung mematikan sambungan telpon. lalu lelaki itu menuju lemari untuk mengganti celana pendeknya jadi celana panjang, untuk pakaian atasnya ia hanya mengambil jaket kulit andalannya
"mau kemana?" tanya Manda heran melihat penampilan suaminya.
"aku ada urusan di luar sebentar, sayang" tutur Marva sambil memakai jaketnya
__ADS_1
urusan? jam segini? bahkan semua orang sudah berbondong-bondong pulang ke rumah untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. urusan macam apa yang dimaksud suaminya di waktu hampir memasuki magrib ini? atau urusan dengan pemilik nomor asing itu? Manda bertanya-tanya dalam hati
"apakah lama?"
pertanyaan itu meluncur begitu saja. dan otak mesum Marva langsung menangkap maksud hal panas. dengan langkah slow motion lelaki itu mendekati tubuh sang istri yang hanya dibalut kain berserat handuk yang bisa disebut sebagai jubah mandi di depan pintu kamar Mandi
"apa istriku ini sudah tak sabar, hm?" goda Marva menaik turunkan alisnya
"apasih" jawab Manda jengah yang di balas kekehan oleh Marva
"hanya sebentar sayang, aku usahakan pulang makan malam di rumah" tutur Marva meyakinkan istrinya "lagian aku tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan malam ini, sayang. malam pertama kita sudah tertunda begitu lama" lanjut Marva mengerlingkan sebelah matanya, ia kembali menggoda sang istri. mengingatkan kalau semua masalah sudah clear, jadi tak ada lagi halangan untuk mereka melakukan ritual malam pertama di pernikahan kedua mereka ini.
"mesum sekali otak suamiku" geram Manda tertahan sambil mencubit pinggang Marva. aksinya itu semata-mata untuk menutupi jika dirinya tengah gugup.
"aduh-aduh sayang, sakit banget cubitannya" keluh Marva sambil mengelus bekas cubitan sang istri
"rasain"
"ih gemes baget sih istri aku, perutku yang dicubit tapi kok pipi ini yang memerah" gemas Marva sambil mengelus lembut pipi merona istrinya yang masih meninggalkan jejak-jejak bulir air
"udah ah, sana berangkat. nanti malah kemalaman pulangnya" ucap Manda sambil menepis tangan Marva yang jelas-jelas tengah mengodanya
"hati-hati" Manda lalu mengambil tangan suaminya dan membawanya ke kening "nggak usah pamitan sama anak-anak, nanti pengen ikutan lagi" lanjut Manda yang diangguki Marva
"aku berangkat, sayang" pamit Marva lalu keluar kamar meninggalkan sang istri yang menatap kepergiannya dengan alis terangkat sebelah
_ _ _ _ _
ya, saat ini mereka masih di Jakarta. terhitung sejak seminggu lalu mereka tinggal di rumah Phelan kalau tidak di rumah sakit menjaga Rain, tapi karna Raina sudah siuman dari koma 3 hari lalu dan sudah dinyatakan sembuh total, mertua dan suami Raina, Jefry, membawa Raina dan bayinya ke Amerika tadi pagi. tentu sebelum Raina pergi terjadi beberapa drama yang membuat pikiran mereka kacau, terlebih Marva.
"kak Marva ngajak makan malam di luar, ma" dusta Manda. ya pasalnya suaminya tak mengajaknya melainkan hanya menyuruhnya menunggu di rumah.
curiga, rasa itu yang membuatnya tak tenang hingga ia memutuskan untuk menyusul suaminya. bukan tak percaya pada sang suami tapi mengingat pemilik nomor asing itu membuat Manda gelisah.
"loh, terus Marvanya mana?" tanya papa mertuanya
"udah berangkat duluan, katanya ada yang mau diurus dulu" jawab Manda berusaha menyembunyikan ekpresi bersalahnya karena telah berbohong
"oh" kedua mertuanya mengangguk mengerti membuat Manda semakin bersalah.
"yudah karna ini udah malam, kamu diantar sopir mama aja" kata Phelan yang diangguki setuju oleh Reni
"mau kuality time berdua?" tanya Reni sambil melirik twins yang asik dengan mainan yang baru saja dibelikan oleh Phelan
"apa tidak merepotkan kalau Bila menitipkan twins sama..." belum juga ucapan Manda selesai tapi si bungsu menyelanya
"Fiya mau ikut" sahut Zaafira tanpa mengalihkan atensinya dari boneka baru di tangannya
__ADS_1
"kalau Afi?" tanya Manda pada sulungnya
anak lelaki itu mendongak menatap Manda, menelisik pakaian momminya sebelum bertanya "mommy cantik sekali. mau kemana?"
"mau makan dilual sama papa" bukan suara Manda melainkan suara si bungsu.
"oh" si Zafier yang pengertian hanya mengangguk lalu kembali fokus pada mobil robotnya "eh, telus papa mana?" tanya anak lelaki itu kembali mendongak dan mengedarkan pandangannya
"udah nunggu di luar" jawaban Manda sontak membuat si bungsu melepaskan bonekanya dan berlari menuju kamarnya
"tunggu Fiya, Fiya mau ganti baju yang cantik sepelti mommy" teriak anak itu sambil berlari hendak mengganti baju santainya
ketiga orang dewasa itu hanya menggeleng gemas melihat tingkah Zaafira.
"aku bantu twins ganti baju dulu ma, pa" pamit Manda pada mertuanya
"ayok sayang" ajak Manda pada Zafier. pasalnya baju yang di gunakan Zafier saat itu adalah piyama tidur
Manda bersyukur twins mau ikut padanya, sebab dia akan punya alasan kenapa menyusul suaminya di luar.
"twins ingin makan malam sama kamu di luar" kira-kira itulah yang akan Manda katakan jika Marva bertanya akan kedatangannya nanti. biarlah dia berdusta dan membolak-balikan alasan, sebab rasa curiganya membuatnya tak bisa tenang menunggu suaminya di rumah.
ia hanya ingin memastikan kegelisahan hatinya. tempat pertemuan suaminya dan orang itu cukup mencurigakan. hanya sebuah cafe bintang 3. Marva adalah pengusaha yang cukup sukses, tidak mungkin akan mengadakan pertemuan dengan rekannya di cafe kecil.
dan jika kecurigaannya tak terbukti, setidaknya dengan membawa twins Marva tidak akan menuduhnya macam-macam, seperti istri protektif, mungkin.
_ _ _ _ _
harusnya dengan semua yang telah Marva lakukan, Manda tak akan menaruh curiga. Marva bahkan telah memberi Manda akses untuk melacak dimana posisi lelaki itu lewat gps yang sudah Marva atur di ponsel Manda sejak mereka berbaikan minggu lalu. dimanapun Marva berada jika membawa ponsel otomatis akan mudah Manda lacak. begitu juga sebaliknya.
dan disini lah Manda dan twins berada, di sebuah kafe berlantai dua, tempat yang sama dengan isi pesan dari pemilik nomor asing itu.
wajah wanita itu datar, matanya menyorot tajam pada dua orang di pojokan yang tak menyadari kehadirannya. disana suaminya duduk berhadapan dengan seorang wanita. netra Manda beralih ke perut wanita itu, besar. ya, wanita itu tengah hamil besar. karna posisi duduk mereka menyamping dari arah datangnya Manda, bisa Manda lihat jelas jika wanita itu tengah memelas pada Marva.
siapa wanita itu?
apa mau wanita itu pada suaminya?
mungkinkah anak dalam kandungan wanita itu...
"papa?" Zaafira memastikan saat netranya sudah menangkap sosok Marva
"mom, itu papa!" beritahu Zaafira dengan suara sedikit keras sambil menunjuk sang papa saat meyakini jika itu beneran papanya
dapat Manda lihat kepala Marva menoleh ke samping, tepat ke arahnya juga twins. lelaki itu pasti mendengar suara putrinya
berbeda dengan reaksi Marva yang terkejut dengan bola mata hendak keluar, Manda malah memberikan senyuman tipis satu arah, lebih tepatnya wanita itu memberikan senyum menyerigai
__ADS_1
Bersambung...