Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
Fakta lainnya


__ADS_3

Halo semua, autor mau minta tolong nih untuk yang mau membantu saja yah,


follow ig @penulishalu_ dong. itu ig autor yang rencana pengen aktif main lagi setelah sekian tahun fakum. makasih yang sudah menyempatkan waktu mampir untuk follow 🙏


_ _ _ _ _ _ _


seperti penguntit, Manda hanya bisa memantau dari jauh, entah kemana kepercayaan dirinya mengumpat, ia peduli tapi tak berani menampakan diri


beruntungnya ruangan yang ditempati Marva adalah ruangan yang memiliki 3 brangkar pasien yang dipisakan oleh kain pembatas, jadi Manda bisa menyelinap masuk ke salah satu bilik yang kebetulan tak terisi pasien


entah orang akan beranggapan bagaimana tentangnya, Manda tak peduli itu, yang jelas ia khawatirnya pada Marva, ia ingin mendengar bagaimana kondisi lelaki itu, toh jika ia menunggu di luar ruangan ia hanya bisa penasaran.


"bagaimana keadaan putra saya dok?" suara Phelan terdengar, itu berarti Marva sudah selesai di periksa


"dari rekam medis, tuan Marva seharusnya belum bisa berpikiran keras dan banyak tekanan, kelihatan bekas operasinya mulai mengering tapi bagian dalamnya masih sangat sensitif dilihat dari beberapa kerusakan fatal di dalam kepalanya" jelas dokter memperlihatkan hasil ct scan kepala Marva, memang sebelum pindah ke ruang rawat non Vip Marva dibawa ke ruangan ct scan untuk pemeriksaan mendetail mengingat lelaki itu pernah mengalami kecelakaan hebat, takutnya ada komplikasi yang baru muncul gejalanya.


"untuk menjaga emosi pasien tetap stabil buat dia merasa nyaman dan bahagia, kehadiran orang terkasih bisa menjadi salah satu obat mujarab untuk membuat pasien nyaman dan bahagia" lanjut dokter memberi saran


di balik bilik, Manda hanya bisa tersenyum miris dengan mata berkaca-kaca mendengarnya. Manda salah telak. ia pikir Marva telah pulih setelah mengusirnya juga twins dan mencari kebahagian lain karna sudah lelah berjuang mendapatkan maafnya, nyatanya lelaki itu tengah kehilangan daya


"apa pasien pernah gangguan kejiwaan?" pertanyaan dari seberang bilik membuat Manda terkesiap dari lamunannya

__ADS_1


"pernah dok, 3 tahun lalu tapi kemudian sembuh setelah menjalani pengobatan selama setahun"


Deg


fakta apa lagi ini? Marva pernah hilangan kewarasan? 3 tahun lalu? setahun setelah Manda pergi, itu berarti tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya bukan? kenapa juga Marva yang arogan bisa sampai gila? karna perempuan-perempuan itu kah?


"kenapa dok? apa yang terjadi?" kali ini Rain ikut bersuara dengan nada gemetarnya. takut jika semua ini akan mengakibatkan kakaknya kembali gangguan kejiwaan melihat bagaimana penderitaan Marva yang memendam rindu begitu besar pada kedua buah hatinya tapi tak bisa melampiaskannya


"fisik tuan Marva kuat, hanya saja sepertinya batinnya tengah mengalami tekanan berat hingga membuatnya mudah dikendalikan dengan pikiran berat hingga berakibat sakit kepala dan itu makin merusak perkembangan penyembuhan syaraf-syaraf matanya" jelas dokter "sebaiknya faktor yang dulu membuat kejiwaannya terganggu tolong jauhi dari pasien untuk menghindari dari kemungkinan" lanjut dokter


"baik dok, kami akan usahakan" jawab Phelan sambil menatap sedih putranya


"kalau begitu saya permisi. sebaiknya biarkan tuan Marva beristirahat dulu. saya akan usahakan kamar Vip secepatnya" pamit Dokter pada mereka.


"apa mama egois kalau mama meminta tolong pada Bila untuk datang menemui Marva?" gumam Reni bertanya pada anak dan suaminya sambil mengelus sayang kepala Marva yang tengah terpulas setelah disuntikan obat


"kak Marva tak mau melibatkan mereka ma, mereka udah bahagia"


"lalu bagaimana dengan kakak mu Rain? 4 tahun lalu ia hidup bagaikan mayat hidup karna terus menanti Bila pulang, dia sampai beberapa kali keluar masuk rumah sakit karna kekurangan gizi, tak tidur dan tak makan dan puncaknya 3 tahun lalu, dia sampai gangguan kejiwaan karna merasa bersalah pada Bila. Marva memang bersalah tapi cukup sudah, mama kasihan melihatnya harus mengalami semua ini, mama menyesal pernah berkata tak pantas padanya" tutur Reni yang terus mengecup punggung tangan Marva, berharap putra satu-satunya bisa memafkannya karna perkataannya yang pernah dengan sadar menyumpah serapahi Marva


Duarr

__ADS_1


bagai disambar petir di sore hari, jantung Manda seakan berhenti berdetak sepersekian detik, lututnya melemas hingga ia berakhir terduduk lemah di lantai. hatinya berdenyut nyeri mendengar kenyataan lainnya jika Marva pernah kehilangan kewarasan beberapa bulan setelah kepergiannya karna rasa bersalah, lelaki itu bahkan di rawat selama satu tahun. jadi apakah depresinya selama mengandung ditambah 3 bulan terkena penyakit baby sindrom sudah terbayarkan?


penderitaan Marva, pengorbanan lelaki itu, bahkan sampai buta, sudah sebandingkah dengan luka yang diciptakan Marva kepadanya dulu?


drt drt drt


bunyi panggilan dari ponselnya membuat Manda terkesiap, ia hapus air matanya kemudian beranjak menduduki brangkar kemudian merogoh ponsel dalam tasnya


Mami Aline


Manda mensilent ponselnya, tak mungkin ia mengangkat panggilan maminya, bisa ketahuan.


ia melihat jam, pukul 17.21, pantas pesannya baru di respon oleh Aline, keluarga besarnya di Amerika saat ini pasti baru bangun tidur mengingat perbedaan waktu antara Amerika yang 12 jam lebih lambat dari Indonesia.


setelah merapikan pakaiannya, Manda menghela napas sebelum keluar dari bilik, matanya mencuri pandang ke bilik penghuni sebelahnya namun ia tak bisa melihat Marva karna sebuah punggung besar menghalangi pandangannya


setelah keluar Manda segera memanggil ulang mami Aline. Manda bernapas lega kala mami Aline sudah bersiap terbang beberapa menit lagi setelah selesai sarapan.


"maaf baru bisa membantumu, semoga saja dengan kehadiran twins kamu bisa segera pulih" monolog Manda menatap sendu pintu ruang rawat Marva


Bersambunggg...

__ADS_1


yang udah baca, kuy vote, like dan komet ❤️


follow ig @penulishalu_


__ADS_2