
WARNING!!! part sebelumnya kepikiran dengan judul Mencari Raina, tapi nyatanya kehaluan melenceng sedikit, baik rencana alur isi maupun judul, jadinya yaudah ganti aja semua sekalian. nulis itu tuh memang perkara gampang tapi susah juga, kadang kita berperang sendiri melawan kehaluan yang kadang berlebihan sampai satunya halu pengen alur kesini satunya lagi pengen kesana. Dan kadang juga idenya mampet apalagi kalau autornya lagi badmood. xixixi
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _
Thailand, adalah negara tempat pelarian seorang pria tampan yang berprofesi sebagai dokter kejiwaan itu, siapa lagi kalau bukan dokter Jefry.
ia meninggalkan tempat kelahirannya, Amerika, dan berakhir di rumah ayah dari mommy-nya, keturunan Thailand. daddy-nya sendiri adalah keturunan asli Amerika, jadi tak heran jika wajahnya bisa tampan tapi tak lepas dari kesan cute.
setelah pertemuannya dengan Manda di taman beberapa hari lalu, Jefry menjadi sosok lelaki yang kehilangan arah dan tak memiliki tujuan. cinta tulusnya berakhir nelangsa. karna alasan itulah mengapa ia berakhir disini, Jefry ingin menenangkan hati dan pikiran di kediaman kakeknya. kabar baiknya karna rumah kakeknya berada disebuah pemukiman yang jauh dari kota hingga ia bisa menikmati suasana pemukiman yang asri dan juga sejuk.
drt drt drt
Jefry tersentak dari lamunannya kala bunyi ponsel mengintrupsi kegiatannya yang tengah menikmati hamparan danau di sekitar rumah kakeknya. segera ia rogoh ponsel di kantong celananya
"hm" jawabnya tak bersemangat
"saya sudah menemukan identitas lengkap target, Mr." lapor dari seberang berhasil membuat Jefry membuka matanya lebar-lebar
"saya akan mengirimkannya sekarang ke..."
"katakan" potong Jefry yang tak sabaran
"wanita itu baru menyelesaikan studi kedokterannya 2 bulan lalu..."
2 bulan lalu tepat saat ia mengisi seminar juga undangan perpisahan alumni kampus itu. dan hari itu juga membawanya harus menanggung patah hati hari ini. kunjungannya untuk menebar ilmu malah di sabotase oleh seorang wanita murahan. batin Jefry menanggapi
"...dan sebulan yang lalu ia resmi kembali menjadi mahasiswi untuk melanjutkan jenjang dokter spesialis bedah di kampus yang sama..."
pengen jadi dokter spesialis ternyata. tapi tak ada dokter yang memiliki peringai buruk sepertinya. lagi Jefry mengolok dalam hati
"...namun kabarnya wanita itu mengajukan cuti dan tak lagi berada di Jerman sejak seminggu lalu..."
tentu, dia tengah menyusun rencananya untuk kunikahi. huh! jangan mimpi!! kesal Jefry membatin
"...kabarnya dia pulang ke negara asalnya, Indonesia..."
"Indonesia?" Jefry berguman dengan alis terangkat sebelah. bukankah harusnya wanita itu ke Amerika untuk mengemis pertanggung jawaban padanya?
"...nama lengkap wanita itu Raina Phelan. ayahnya seorang pengusaha kaya di Indonesia" ucap si kaki tangan mengakhiri laporannya
__ADS_1
"Raina...Phelan?" beo Marva
"benar, Mr"
Phelan? kenapa nama itu semertinya familiar, Phelan, Phelan, Phel...
Marva Phelan.
kedua mata Jefry melotot setelah menemukan nama itu. apa mereka ada hubungannya?
sebelah tangannya yang tak memegang ponsel mengepal kuat bersamaan dengan rahang mengetat
Si*l!!
apa mereka tengah menjebaknya agar gagal menikahi Manda? jelas sekali jawabannya "iya" jika itu menyangkut satu nama, Marva Phelan.
dasar keluarga bedeb*h!!
tega sekali mereka mematahkan harapannya, menghancurkan mimpinya, membuatnya bagaikan orang paling bodoh. ia bahkan sudah memasrahkan keputusan yang diambil Manda. tapi jika begini, Jefry berjanji akan membongkar semuanya dan mengembalikan kepercayaan Manda untuknya.
"kirimkan data wanita itu sekarang" titah Jefry kemudian mematikan telpon dan segera mengotak atik kontaknya
"Van?" panggil seorang pria sepuh mengagetkan Jefry. ia menoleh dan mendapati kakeknya disana
Jefry segera mematikan sambungan telpon tanpa melanjutkan perintahnya
"pulang dulu yuk, nenek mencarimu, dia sudah memasakan cemilan kesukaan kamu tapi malah kamunya hilang" ajak sang kakek diselingi candaan
"benarkah? yaudah ayok kita pulang kek. Van juga sudah tak sabar ingin mencicipi masakan nenek" semangat Jefry menyebut nama Van yang kakek neneknya sematkan untuk nama panggilan untuknya. Jefry merangkul lengan atas kakeknya, ingin bergelayut disana tapi dirinya lebih tinggi
"Van-nya Kakek udah besar. udah kalah tinggi kekek mah" canda si kakek menepuk lembut punggung tangan Jefry yang melingkar di lengan keriputnya
"kalah tinggi, kalah ganteng dan kalah populer juga" timpa lelaki tampan yang bernama lengkap Jefry Ivan Munta itu dengan nada membanggakan diri yang dijawab tawa oleh kakeknya. kedua cucu dan kakek itu berjalan bergandengan sambil bercanda ria.
(biarkan Jef bahagia sebentar sebelum ia memasuki babak bagaimana kejamnya autor mengatur nasibnya)
_ _ _ _ _
Manda tengah menandatangani beberapa berkas perizinan yang sudah ada di mejanya sebelum ia memasuki ruangannya pagi ini, sementara Jeal membacakan serentetan jadwal Manda dari pagi hingga sore hari.
__ADS_1
"tolong wakilkan saya jam 2 nanti, saya mau temani twins ke mall" sela Manda kala mengingat janjinya pada twins
"maaf Mrs. jam 2 Saya ada pertemuan dengan perwakilan Investor dari perusahaan PT. M Properti Indonesia untuk proyek yang anda sepakati 1 bulan lalu" ucap Jeal sopan
Manda mengentikan gerakan tangannya di atas berkas yang sudah sebagian tercoret tanda tangannya, sepersekian detik ia melanjutkan kemudian mendongak menatap Jeal
PT. M Properti Indonesia? itu adalah perusahaan milik Marva. ya, perusahaan yang dibangun Marva 7 tahun lalu itu memang bukan bagian dari Phelan Grup. lelaki itu membangun perusahaannya sendiri. katanya sih ada kisah dibalik itu, dan itu tak lepas dari restu orang tuanya pada hubungan Marva dengan kekasih Marva kala itu. ingat Manda pada cerita Reni
Manda menggeleng membuang ingatan itu, bukan persoalan itu yang penting untuk saat ini, tapi ia penasaran akan keadaan lelaki yang sudah berperan menjadi malaikat tak bersayap untuk twinsnya. Malaikat tak bersayap? ya, Manda akui Marva layak mendapatkan gelar itu darinya setelah rela mengorbankan diri demi menyelamatkan kedua buah hatinya yang berharga. meski kini lelaki itu sudah tak menginginkan dirinya juga twins setelah kecelakaan, buktinya lelaki itu bahkan tak sudi melihatnya saat ia dan twins mengunjungi Marva satu minggu lalu di rumah sakit Jakarta,
tak menampik jika ia sakit hati akan pengusiran Marva tapi Manda tak mengedepankan perasaannya itu. saat Manda peduli akan kabar lelaki itu. peduli? ya, meski telah tak dianggap berharga lagi oleh Marva tapi bagi Manda, Marva tetap penolong twins hingga kedua buah hatinya itu masih bisa beraktivitas dengan keadaan sehat seperti hari ini. ya, kepeduliannya hanya sebatas respek pada si penyelamat twins.
"saya yang akan bertemu dengan perwakilan Investor, atur jadwalnya dan pindahkan lokasinya ke restoran Mall" putus Manda
_ _ _ _ _
"sayang, mainnya di temani suster dulu yah, mommy ada meeting sebentar" bujuk Manda sambil berjongkok di samping twins yang asik melempar bola ke dalam ring.
karna twins yang belum puas bermain, Manda menyuruh beberapa maid dari mansion untuk menyusulnya dan menggantikannya menemani twins untuk sementara mengingat ia ada meeting dengan sekertaris dari Marva
"oke siap mommy. nanti kalau kami capek kami nyusul mommy boleh?" tanya Zafier
"boleh, tapi jangan brisik, oke?" jawab Manda sambil mengelus kepala si sulung, sedang si bungsu tetap fokus bermain setelah menjawab "oke mommy"
setelahnya, Manda beranjak keluar dari arena bermaian setelah meminta tolong pada keempat Maid agar tak lepas penjagaan dari twins.
Manda dengan langkah tegak memasuki restoran mall, dia langsung menuju ruangan khusus yang sudah diberitahukan Jeal melalui aplikasi pesan tadi. katanya perwakilan Marva sudah datang 5 menit yang lalu.
berhubung pintu ruangan VIP tidak tertutup rapat, dengan jaraknya yang kurang lebih satu meter dari pintu ruangan Manda bisa melihat siluet seorang pria di dalam sana tengah berdiri membelakanginya, lelaki itu sepertinya menikmati pemandangan luar melalui dinding kaca
entah mengapa rasanya ia sedikit gugup. sebab pria itu adalah saksi bagaimana Marva dengan kejam mengusirnya. Manda juga tengah dilema. jujur, alasan kenapa ia mengantikan Jeal hari ini tentu karna dirinya penasaran tentang perkembangan kesehatan Marva, lelaki yang rela berdarah-darah demi menyelamatkan Zaafira. haruskah ia menanyakan kabar Marva atau malah menekan rasa ingin tahunya dan bersikap bodoh amat?
menghela napas panjang sebelum tangannya terangkat mengetuk pintu, namun pergerakannya terhenti kala indra pendengarnya tiba-tiba menajam dan menangkap ucapan Radit. lelaki itu ternyata tengah melakukan panggilan dan pembahasannya yang menjadi alasan Manda terdiam mematung di tempatnya
Deg..
"apa yang terjadi sebenarnya?" gumam Manda dengan ekspresi syoknya
Bersambunggg...
__ADS_1