Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
S2 - ngambek


__ADS_3

Warning!


sebelum baca, tolong jangan komen "kok drama lagi sih! kelarnya kapan?"


jawaban autor" ini season dua yah, kisah mereka setelah rujuk, jadi beberapa drama akan membumbui perjalanan pernikahan mereka"


_ _ _ _ _


Marva mengemudikan mobilnya membelah jalanan ibu kota yang sudah mulai sunyi menuju rumahnya. ya, waktu kini hampir menunjukkan tengah malam.


Marva melirik ke kursi penumpang sebelahnya, semoga saja buket bunga itu bisa membantunya membujuk sang istri, lalu netranya beralih ke arah spion kecil yang menggantung di atas kepalanya yang memantulkan gambaran kursi penumpang belakang, dua buah parsel mainan berukuran jumbo tengah terduduk manis disana. semoga saja dengan hadiah-hadiah itu bisa membuat ketiga orang tercintanya di rumah melunak dan mau memaafkannya karna telah ingkar janji.


Marva berharap istri dan kedua anaknya mengerti keadaannya. sebab, semua yang ia lakukan semata-mata demi bisa mencukupkan semua kebutuhan anak istrinya.


tiba di halaman rumah, Marva mengeryit kala rumah mewahnya tampak gelap gulita bagaikan tak berpenghuni.


"apa istriku tengah mengirit biaya listrik?" gumam Marva tak habis pikir


Marva mengambil buket bunga mawar merah dan dua mainan twins untuk dibawanya sekaligus, lalu lelaki itu melangkah dengan pasti walau sedikit kesusahan karna barang-barang yang dibawanya.


Tepat di depan daun pintu, Marva menghembuskan napas panjang kala menyadari pintu terkunci dan sialnya ia tak membawa kunci cadangan karna tak kepikiran akan pulang larut malam. kesusahan dengan kedua tangannya yang penuh tentengan membuat Marva meletakkan barang-barang itu pada singgel sofa di pelataran rumahnya kemudian memencet bel


tak ada respon setelah satu menit pertama lewat, Marva merogoh sakunya. meraba setiap kantong tapi tak menemukan benda yang dicarinya, Marva beranjak ke arah mobil, namun ponsel yang ia cari tak juga ia temukan


ah s*al! jangan bilang ponselnya jatuh saat di lokasi proyek? umpat Marva membatin


tak punya pilihan, Marva kembali memencet bel, menunggu istrinya membukakan pintu, menunggu dengan rasa letih, lesu, lelah, lemas. fisik maupun pikirannya terkuras habis seharian. jujur ia butuh istirahat saat ini.


lima belas menit menunggu tapi penghuni rumah tak kunjung membukakan pintu, Marva mulai khawatir terjadi apa-apa dengan anak dan istrinya


Marva mengetuk pintu sekuat tenaga, meneriakkan nama istri dan kedua anaknya. mengabaikan kemungkinan suaranya bisa membangunkan tetangga se kompleknya


tak tenang karna tak ada tanda-tanda seseorang membukakan pintu, Marva berlari ke belakang rumahnya, menuju sebuah pintu darurat. dengan sisa-sisa tenaganya, Marva mendobrak pintu kecil itu. lelaki itu mengambil napas panjang kala pintu terbuka setelah beberapa kali ia tendang.

__ADS_1


Tak menyia-nyiakan waktu, Marva langsung berlari masuk dan menaiki tangga dalam keadaan gelap gulita. persetan dengan kakinya yang beberapa kali kesandung, tujuannya saat ini memeriksa keberadaan anak dan istrinya


memasuki kamar twin yang sama gelapnya, Marva meraba saklar lampu, seketika dadanya mencelos ketika tak mendapati kedua buah hatinya di ranjang masing-masing yang tampak berantakan. Marva memundurkan langkahnya lalu segera beralih ke pintu penghubung kamar miliknya


kosong, sama dengan keadaan kamar twins. dunia Marva rasanya runtuh. kemana anak dan istrinya di tengah malam begini? Dimana mereka? apa yang terjadi pada mereka?


tanpa dikomando air mata lelaki itu meluncur bebas kala memikirkan berbagai bahaya menimpa ketiga orang tercintanya. ia merutuk diri karna lalai menjaga ketiga orang yang menjadi alasan utamanya giat bekerja demi memperbanyak pemasukan rupiah di tabungannya, memperluas kerja sama demi mengembangkan perusahaan agar masa depan anak-anaknya terjamin


mengabaikan waktu yang kian larut, Marva keluar kamar menuju letak telpon rumah, berniat menghubungi ke dua orang tuanya untuk membantunya mencari keberadaan anak dan istrinya


namun belum sempat Marva sampai di nakas letak telpon rumah, langkah Marva terhenti tepat di ruang Tv lantai dua, Tv berukuran 130 inc itu menyala tanpa suara. Marva mempertajam penglihatannya yang memburam akibat air mata, dapat ia lihat siluet tiga orang disana tengah duduk melantai sembari menatap layar tv


Marva bernapas lega kala meyakini jika ketiganya adalah Manda dan twins, namun sepersekian detik selanjutnya lelaki itu tersenyum miris.


jadi istri dan kedua anaknya belum tidur? lalu kenapa mereka tak membukakan pintu untuknya? mengapa mereka mengabaikannya yang tengah menunggu di luar, mengabaikan alarm bel dan juga mengabaikan teriakannya? apa ini bentuk kekecewaan mereka? tapi bukankah ini sedikit berlebihan? tak tahukah mereka kalau Marva kesetanan menghawatirkan mereka?


Marva merasa tak di hargai. ia akui, ia bersalah karna ingkar janji, tapi sekali lagi dirinya adalah pemimpin perusahaan yang tak bisa lari dari tanggung jawab begitu saja, selain ambisisnya mengembangkan perusahaannya demi masa depan keluarganya, ada ratusan orang yang bergantung padanya.


tak ingin lepas kendali melampiaskan rasa kecewanya di hadapan Manda dan twins, Marva memilih beranjak pergi setelah ia menyalakan lampu. lebih baik menghindar dan diam memendam rasa kecewanya seorang diri dari pada meluapkannya dan berakhir menyakiti hati istri dan kedua anaknya


'dia sudah pulang?' batin Manda heran, sebab tak menyadari kedatangan suaminya


Manda lalu membuka earphonenya, disusul twins yang ikut membuka earphone masing-masing.


"udah cukup nontonnya, sekarang kalian tidur, ini udah larut"


"tapi filmnya belum selesai mom" rengek Zaafira


"besok kalian sekolah loh, ntar bangunnya telat"


"tapi mata Fiya belum bisa diajak bobo" lirih Zaafira sembari memainkan earphone ditangannya


Manda menghela napas, menatap bergantian kedua anaknya. sikap jual mahal itu jatuh darinya. Manda tahu betul bukan karna kedua anak kembar itu pengen nonton hingga larut, tapi twins sebenarnya tengah menunggu kepulangan papa mereka. tapi karna gengsi apalagi telah dikecewakan sang papa yang ingkar janji hingga rencana nonton bioskop batal, jadilah mereka berdalih pengen nonton ala bioskop di rumah dengan sound dari earphone dan mematikan semua lampu seolah mereka beneran berada di bioskop. dan karna itulah, mereka bahkan Manda juga tak menyadari kedatangan Marva.

__ADS_1


"papa udah di kamar, baru saja pulang, tapi sepertinya kecapean jadinya tak sadar kalau kita disini"


"jadi papa yang menyalakan lampunya?" tebak Zafier diangguki Manda


"oww" Zafier mengangguk penuh binar


"mom, bacakan dongeng ya? Fiya tiba-tiba ngantuk" pinta anak perempuannya sembari beranjak menuju kamarnya


Manda bernapas lega, kala kedua anaknya sudah terlelap, perlahan ia beranjak bangun, memperbaiki selimut twins lalu mengecup kening keduanya secara bergantin. kemudian perempuan dua anak itu menuju pintu penghubung menuju kamarnya


bertepatan saat memasuki kamarnya, Marva keluar dari kamar mandi, Manda melongos kala Marva membuang muka. lelaki itu mengabaikannya?


"mas..." suara Manda tertahan kala melihat Marva sudah membaringkan tubuhnya di ranjang dan membelakanginya


'ada apa dengannya sih? kenapa kek orang gambek gitu? bukankah harusnya disini aku yang ngambek? seharian loh aku diabaikan' dumel Manda dalam hati


"mas udah mau tidur?" tanya Manda dengan suara pelan setelah menyusul suaminya berbaring di ranjang


"hm"


"mas mau aku pijitin dulu?"


meski kesal diabaikan, tapi Manda mencoba mengambil alih perhatian suaminya. kali aja setelah dipijit ia bisa mendapat pelukan dari lelakinya itu


"nggak. aku cuman butuh tidur tidak dengan yang lainnya"


Manda mengerjab, mendengar jawaban suaminya yang terdengar begitu datar. ada apa sih sama Marva?


"nyebelin banget" gerutu Manda kesal sembari mengubah posisi tidurnya membelakangi Marva. jadilah mereka yang biasa tidur hadap-hadapan dan saling memeluk kini jadi saling memberi punggung.


beginikah rasanya pengantin lama yang biasa diceritakan para rekan bisnisnya dulu? kenapa rasanya nggak enak ya. batin Manda miris


Bersambung...

__ADS_1


Menurut kalian yang salah siapa?


__ADS_2