
Marva benar-benar memegang ucapannya, lelaki itu rela terkurung di kamar mandi hampir sejam lamanya, untung saja pakaiannya masih rapih hingga ia bisa melakukan meeting online melalui ponselnya. pasalnya memang tadi ia baru saja akan berangkat ke kantor setelah sarapan, namun ada sebuah insiden yang membuat istrinya menuduhnya berselingkuh dengan ajudan istrinya itu.
Marva bahkan harus menahan malu pada rekan meetingnya kala dipergoki tengah berada di kamar mandi sebab gantungan handuk yang tak sengaja tershot saat Marva memperbaiki letak ponsel di tangannya akibat tangannya kram memegang ponsel yang sudah berlangsung lebih dari 30 menit
jangan tanyakan gimana malunya, harga diri rasanya terjun bebas dari ketinggian miliaran kilometer. sangat tidak berwibawa seorang Ceo mengadakan meeting di dalam kamar mandi!
setelah room meeting terclose, Marva langsung menghembuskan napas panjang, lalu lelaki itu menempelkan daun telinganya di daun pintu, mendapati tak ada suara alias sunyi senyap, segera Marva beranjak dari duduknya di lantai kamar mandi. bayangin gimana dinginnya bokong ayah twins itu, pasti sudah kebas.
dengan gerakan pelan, Marva membuka pintu, hanya celah untuk mengintip. tak mendapati pergerakan apa-apa diluar sana, Marva mulai mengeluarkan kepalanya untuk memeriksa keadaan. sontak kembali helaan napas panjang nan lega keluar dari indra penciumannya kala melihat sosok wanita cantik terpulas di atas ranjang
"kamu makin hari makin menyebalkan, tapi anehnya mas semakin cinta" monolog Marva dengan suara pelan, ia berjongkok di sisi ranjang sembari menatap lekat wajah sang istri yang tertidur dengan mulut sedikit terbuka
"mas bahkan tega tak mengantar twins kesekolah demi membujukmu tapi malah kamu nggak mau percaya sama mas" lirih Marva teringat kedua anak kembar kesayangannya harus berangkat ke sekolah mereka dengan diantar pengawal
"mas sadar kalau masalalu mas akan selalu menjadi ketakutanmu, bukan hanya kamu Bil, mas pun juga takut, takut kamu salah paham dan pergi lagi" imbuh Marva
"ngh"
Marva sigap menarik tangannya dari wajah Manda kala perempuan itu melenguh, ketika tubuh Manda perlahan bergerak, Marva langsung berdiri dan mundur selangkah.
'kenapa aku merasa seperti hendak ketahuan mencuri barang majikan ya?' pikir Marva.
tapi memang ia takut ketika istrinya bangun dan mendapatinya ada disana Manda akan semakin marah padanya
dasarnya aja nggak bisa jauh dari raga istrinya, Marva kembali mendekat kala Manda kembali terlelap setelah mengubah posisi tidurnya jadi telentang
"baby, beritahu mommy kalau papa benar-benar sudah insaf. cinta papa hanya untuk mommy seorang. dunia akhirat papa untuk mommy. bantu papa ya, baby?" bisik Marva tepat di perut buncit sang istri
"bulshit nggak?" nada sinis itu sontak mengagetkan Marva, ia terlonjak kaget dan langsung menegakan duduknya
"selamat bangun sayang? pengen makan apa hari ini?" tanya Marva dengan senyum lebarnya lebih tepatnya senyum yang mengandung banyak makna, terkejut, penuh harap, penuh cinta.
__ADS_1
"mau makan mas"
"hah? jangan dong sayang, ntar kita kebablasan lagi"
Marva menyengir kaku kala Manda hanya meliriknya kesal
"kamu mau makan apa? ada yang di pengen nggak?"
"nggak ada"
"kok gitu sih. baby suruh mommy ngidam dong, papa pengen ngerasain ngelayanin maunya ibu hamil" adu Marva pada sang bayi di dalam perut bulat istrinya
"beneran mau nurutin maunya aku?" tanya Manda yang sontak diangguki antusias oleh Marva tanpa pikir panjang. sebab selama lima bulan kehamilan, istrinya tak pernah meminta makanan aneh-aneh layaknya orang ngidam seperti yang diberitahukan Radit tempo lalu. padahal Marva sudah menyiapkan diri untuk direpotkan oleh sang istri dan calon anak tercinta, bahkan untuk membeli coto Makassar di dearah aslinya Marva sudah mempersiapkan diri
"wanita hamil itu ngidamnya nggak kira-kira, jangannkan makan cilok di tengah malam, kadang pengen makan nasi padang harus beli di Padang, pengen makan soto banjar harus belinya di Kalimantan. pokoknya lo harus kuat iman, sabar dan tawakal" beritahu Radit beberapa bulan lalu saat Marva bertanya bagaimana adik perempuan Radit selama masa kehamilan.
mendengar cerita Radit, detik itu juga Marva langsung menghubungi seseorang untuk melakukan proses penyewaan jet pribadi yang siap sedia terbang kapan saja selama sembilan bulan. karna ia belum terbilang kaya raya yang bisa membeli jet pribadi jadinya Marva hanya bisa menyewa milik orang lain.
"beneran kan?" tanya Manda memastikan, dan itu sukses menyentak lamunan Marva akan jet pribadi yang disewanya sudah lima bulan teranggurkan
"aku nggak butuh pengawal. batalkan saja kontrak mereka" potong Manda sembari beranjak duduk dengan punggung bersandar di kepala ranjang
"kalau itu mas nggak bisa. mas menyewa mereka karna untuk melindungi kamu kalau mas nggak bisa nemenin kamu"
"kalau gitu ganti aja pengawal pria"
"nggak! nggak boleh pria"
penolakan Marva dengan nada tegas membuat senyum miring terbit di bibir Manda
"karna kalau wanita kamu bebas selingkuh sama mereka?"
__ADS_1
"Bil.."
"nggak usah pasang wajah melas gitu. benerkan apa kataku? kamu bosan sama aku makanya kamu ajak wanita-wanita itu kesini"
"maaf atas luka masalalu" lirih Marva sembari menunduk. memang Marva akan selalu lemah jika hal menyangkut masalalu kelamnya yang sejujurnya sangat ia sesali, apalagi jika Manda yang mengungkit itu, rasanya Marva tak memiliki wajah dan harga diri
Manda menggigit bibir dalamnya, merutuki kalimat kurang ajarnya yang belakangan tak bisa ia kontrol karna dikuasai rasa curiga. melihat reaksi suaminya membuat Manda ikut sedih, ingin meminta maaf tapi rasanya lidahnya kelu sebab rasa curiganya belum juga mereda
"kalau kamu memang nggak seperti yang aku bilang, yaudah ganti aja sama pengawal pria" sahut Manda dengan nada biasa
"nggak usah ada pengawal-pengawal, biar mas yang jaga kamu 24 jam"
"pekerjaan mas?"
"mas akan minta tolong sama Radit untuk menghendel"
"kasian Raditnya dong. dia kan sudah ada kerjaan, padat juga lagi jadwalnya"
"mas bisa tega sama Radit tapi mas nggak akan rela kamu dijaga sama lelaki lain. sampai matipun mas nggak akan rela, Bil" ujar Marva
"kenapa? mas takut aku selingkuh seperti mas dan pengawal-pengawal itu?"
terlanjur terlontar meski dari sudut hatinya bukan itu yang ia pahami dari perkataan suaminya
"kamu salah paham sayang. tolong dengerin penjelasan mas ya?"
keterdiaman Manda membuat secercah binar bahagia di wajah Marva, diamnya wanita itu menandakan siap mendengar ceritanya.
Marva kemudian menceritakan kesalahan-pahaman Manda terhadapnya bersama dua diantara pengawal lainnya, Intan dan Nuri. tuduhan pelukan yang Manda lemparkan padanya bersama si Intan jelas dilebih-lebihkan istrinya itu. pelukan dari mana? Marva dan Intan hanya tak sengaja bersenggolan bahu ketika bergerak cepat meraih tubuh Manda yang terlihat oleng saat berdiri setelah lama duduk menemani twins mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah. padahal yang dirangkul Marva dan Intan kala itu adalah pundak Manda dari dua sisi, hanya saja Manda terlalu menaruh curiga pada Marva dan si Intan yang berwajah datar itu hingga muncul tuduhan Marva dan Intan saling memeluk di belakang tubuhnya.
dan tuduhan ciuman tadi pagi setelah selesai sarapan. saat itu Marva sedang membuatkan susu hamil untuk sang istri, memang bagian membuat susu di pagi dan malam hari adalah tugas Marva atas perintah dari lelaki itu sendiri. ya bukan permintaan melainkan perintah. berhubung selama mengandung Bila tak pernah merepotkannya, makanya untuk bagian membuat susu Marva berinisiatif membuatkannya agar memiliki andil untuk pertumbuhan calon bayinya. oke, kembali pada Marva yang membuat susu di dapur, tiba-tiba Nuri (pengawal Manda) dan dua pengawal twins berlari ke arah dapur, mengikuti benda kecil yang tengah menggelinding mendekat ke arah Marva. reflek Marva berjongkok hendak menangkap namun Nuri juga sigap menangkap sebelum benda kecil hasil prakarya twins itu memasuki kolom dapur. dan ternyata adengan yang membelakangi pintu dapur itu terlihat dari bola mata Manda yang berdiri di ambang pintu dapur.....
__ADS_1
Bersambung...
banyak typo, ntar direvisi kalau ada waktu