
H-7? ya, terhitung satu minggu lagi pernikahan antara Ceo Ivander Corp dengan dokter muda berprestasi itu akan berlangsung. semua persiapan sudah 99% matang. dari gaun, jas, gedung, dekor, bahkan undangan tinggal di sebar. berita pernikahan keduanya pun sudah tersebar di beberapa portal online media Amerika, majalah bisnis dan majalah kesehatan.
"bagaimana dengan pak Narendra?" tanya Caroline yang tengah memeriksa paketan souvernir yang akan dibagikan pada tamu undangan di hari H nanti
"papa akan datang sehari sebelum hari H, moma" jawab Manda ikut mengintip isi souvenir yang baru saja datang ke rumah mereka
"sebaiknya papamu datang 2 hari atau 3 hari sebelum akad, takutnya beliau mabuk perjalanan atau apapun itu yang mengganggu kesehatannya sampai tak bisa menikmati jalannya acara. momma yakin pak Narendra pasti tak ingin kejadian itu, apalagi saat pernikahan pertamamu beliau tidak hadir" tutur Caroline memberi masukan tanpa sadar akan ekspresi Manda yang seketika berubah datar ketika mendengar kalimat terakhir sang nenek.
ya, pernikahan pertamanya memang semenyedihkan itu. dijodohkan oleh tantenya semantara papanya nggak bisa hadir di pernikahannya sebab sang papa dalam proses hukuman akan hal yang tidak dilakukan waktu itu. dulu pernikahannya pun digelar tertutup sampai tak ada yang memberinya selamat, jauh berbeda dengan yang sekarang, ucapan selamat sudah banjir berdatangan bahkan jauh sebelum hari H.
"oh ya, surat cerainya udah Marva kirim?" sahut Mario yang tengah duduk lesehan di karpet menemani kedua keponakannya bermain
Deg
surat cerai? kenapa tiba-tiba Manda berwajah pias. ia tak suka mendengar dua kata itu. entahlah, apakah mungkin rasa trauma yang masih menyelimuti pikirannya atau mungkin kemungkinan yang lainnya?
"belum" gumam Manda sambil menggeleng kecil
"hah, sepertinya dia ingin bermain-main dengan sengaja berlama-lama mengurus surat cerai kalian" Mario jelas curiga disaat Marva tak juga mengirim surat cerai padahal udah hampir sebulan mereka beri waktu pada lelaki itu untuk melepas status Manda sebagai... istri gantung? "harusnya jika dia beneran menyesal dan ingin memperbaiki kesalahannya dia tidak akan menyusahkan jalanmu untuk menuju bahagiamu" lanjut Mario bergumam
"masih ada satu minggu lagi, mengurus surat cerai memang memakan waktu cukup lama" sahut Aline tenang.
"memang apa gunanaya uang kalau tidak bisa di tukarkan dengan jasa pelayanan yang serba cepat, kecuali memang dia sengaja mengulur waktu" ucap Caroline mendukung argumen Mario "harusnya dia sadar diri bahwa cinta yang dia tawarkan tak sebading dengan luka yang ditinggalkan" lanjut Caroline memojokan sosok Marva
"momma.. "
"hiks hiks,, huaawaaa" baru saja Manda hendak mengalihkan pembicaraan saat tak sengaja menangkap raut sedih twins namun suara isak Zaafira yang seketika berubah jadi tangisan kencang menggema di ruang keluarga itu membuat semua orang kaget
"hei hei sayang, kenapa?" Mario yang paling dekat dengan mereka otomatis paling duluan meraih Zaafira kedalam pangkuannya
"huawaaaa.....Fiya capek main!" pekik Zaafira disela tangisannya sambil kaki kecilnya berusaha menendang-nendang mainannya
"hah?"
"yaudah, berhenti sayang. jangan di tendang mainannya dong, kasihan" Mario segera mendekap tubuh kecil Zaafira dalam pangkuannya dengan memegang kedua kaki kecil itu agar berhenti berontak
"Fiya mau bobo. hiks hiks" ucapnya setelah berhenti menangis namun masih sesegukan.
kemudian anak batita perempuan itu mendorong tubuh pamannya dan beranjak dari pangkuan Mario, ia menarik sang kakak dan berjalan menuju tangga menuju kamar mereka tanpa pamitan dengan para orang dewasa yang masih tercengang akan apa yang baru saja Zaafira tangisi
jika yang lainnya menatap heran sekaligus gemas akan kelakuan Zaafira, berbeda dengan Manda. hatinya serasa di remas tangan tak kasat mata melihat buah hatinya sampai menangis hingga sesegukan layaknya tengah kehilangan berat.
__ADS_1
dan kehilangan itu jelas tertuju pada satu sosok, papa mereka, Marva. twins merindukan papanya dan mereka tak suka jika papanya selalu menjadi topik pembicaraan.
'Maafin mommy' batin Manda miris
"Manda susul twins dulu yah" pamit Manda pada semuanya dan segera menyusul anaknya, ia yakin kedua anaknya itu pasti tidak akan langsung tidur di dalam kamar.
_ _ _ _ _ _ _
Tok tok tok
"Masuk" seru Manda tanpa mengalihkan atensinya dari berkas yang tengah diperiksanya
pintu terbuka dan menampilkan Jeal dengan sebuah map di tangannya
"ada titipan, Mrs" ucap Jeal membuat Manda mendongak sekilas dan menatap benda di tangan sekertarisnya
"oh iya taruh saja, nanti saya buka" kembali Manda fokus pada berkas bernilai miliaran ditangannya
"kalau gitu saya permisi" pamit Jeal setelah menyimpan map coklat itu di atas meja bosnya
"oh ya selamat Mrs." ucap Jeal sebelum berbalik
"kamu sudah mengucapkannya beberapa kali loh Jeal, bahkan hari pernikahan belum tiba tapi udah puluhan kali kamu memberiku ucapan selamat" ucap Manda sambil memutar bola mata jengah. apa sebahagia itu orang-orang atas pernikahannya yang akan berlangsung 5 hari lagi?
"sepertinya isi amplop itu adalah apa yang Mrs tunggu-tunggu" ujar Jeal menunjuk map yang baru saja diletakkannya
terpancing penasaran, Manda meletakkan berkas yang ada di tangannya dan beralih mengambil dan membuka map coklat itu
Deg...
tulisan khas susunan kosa kata asal Indonesia itu dengan label sebuah kantor Pengadilan agama seketika mambuat tubuh Manda melemah
bukankah ini yang ia inginkan dan tunggu? tapi kenapa ia tidak senang, didasar hatinya ada rasa sedikit nyeri? memang siapa yang akan senang saat menyadari fakta bahwa ia telah gagal dalam pernikahan? ya, rasa sedihnya pasti karna merasa gagal, hanya itu. batin Manda mensugesti
"kamu dapat dari sekertarisnya?" tanya Manda kembali memasukan amplop ke dalam map tanpa repot-repot membuka isi surat yang sudah jelas isinya ia tahu
"bukan, Mr. Marva sendiri yang memberikan langsung pada saya" jawab Jeal
"kalian bertemu?" selidik Manda
"Mr. Marva menghubungi saya untuk bertemu di depan perusahaan karna ingin memberikan ini"
__ADS_1
"kenapa tidak memberikan langsung pada saya?" tanya Manda spontan dan setelahnya ia merutuki dirinya akan pertanyaan bodohnya itu.
oh ayolah, ia sendiri yang meminta tidak akan ada lagi pertemuan diantara mereka setelah pertemuan terakhir di restoran 3 minggu lalu, dan lelaki itu menuruti permintaannya bukan? lalu ada apa dengan rasa harap yang seketika muncul begitu saja setelah mengetahui jika mantan suaminya itu benar-benar menghindarinya?
"oke Jeal, kamu bisa melanjutkan pekerjaan mu" usir Manda canggung saat melihat ekspresi sekertarisnya tengah berpikir keras untuk menjawab pertanyaan randomnya
setelah Jeal keluar, Manda menghela napas panjang sambil menyadarkan punggungnya di meja kebesarannya, matanya tertutup menikmati hari pertamanya sah sebagai janda Marva Phelan. ada perasaan lega juga sedikit miris.
selang beberapa saat, ponselnya berbunyi, alarm. waktunya menjemput twins.
Manda sekali lagi mengehela napas sebelum beranjak dan menjemput twins di bangunan sebelah perusahaanya.
Manda menajamkan penglihatannya saat ia memasuki gerbang 1 play grup dan menangkap sosok punggung lebar tengah berjongkok di depan twins yang duduk di kursi
tampak si Zafier mencondongkan kepalanya ke arah telinga lelaki itu, dan sepersekian detik lelaki itu langsung berdiri dan beranjak pergi ke arah gerbang 2
mungkinkah?
Manda segera berjalan cepat ke arah twins
"mommy" pekik twins saat menyadari kehadiran mommynya
"hai sayang, udah lama menunggu?" tanya Manda melupakan rasa penasarannya akan sosok itu saat melihat binar bahagia kedua anaknya
"enggak kok" jawab twins dan beranjak turun dari kursi
"ke kantor mommy?" tanya Manda pada twins yang sudah berada di sisinya sambil memegang kedua tangannya
"ayok" seru keduanya bersemangat membuat Manda ikut bahagia melihat anaknya kembali ceria
mereka kemudian melangkah saling bergandengan keluar dari pakarangan play grup
"lihat apa sayang?" tanya Manda saat twins malah menoleh ke belakang
"nggak kok mom" jawab Twins tapi tangan keduanya melambai ke arah gerbang 2
"yaudah perhatikan jalan kalian, Afi pindah ke sebelah adik yah, biar mommy di pinggir" kemudian mereka melanjutkan langkahnya menyusuri ruas jalan khusus pejalan kaki
baru beberapa langkah mereka berjalan, bunyi klakson memekakan telinga menggema, tampak dari arah depan sebuah mobil yang nampak oleng membanting setir ke arah ruas pejalan kaki
Bruk
__ADS_1
mobil menghantam tembok gerbang play grup
Bersambunggg....