
Manda tengah berjalan-jalan kecil di dalam sebuah ruangan dengan ditemani oleh Marva, sesekali wanita berperut buncit itu berhenti untuk sekedar menarik napas kadang juga terlihat seperti sedang meringis menahan rasa sakit.
menarik napas lalu membuangnya pelan, bukannya mereda wanita itu makin meringis
"duduk dulu, sayang" tawar Marva dengan ekpresi khawatirnya, bukan pada tangannya yang di genggam kuat cenderung diremas keras tapi khawatirnya karna sang istri kembali berdiam diri dengan ekpresi meringis, keringat yang sedari tadi keluar dari dahi Manda kini semakin banyak
perlahan ia menarik salah satu tangannya dari tubuh Manda untuk mengelap peluh sang istri dengan lembut
"ngga papa, mas. Aku kuat kok"
"tapi mas nggak tega liatnya sayang, istirahat dulu ya?"
"ngga papa, sshh" Manda berujar sembari menahan rasa sakit yang sedang dirasakannya
Marva hanya bisa mengelus punggung sang istri berulang kali dengan harapan bisa sedikit meredakan rasa sakit yang Manda rasakan
"proses shs... melahirkan memang kayak gini masshs,, ngga usah khawatir ya"
tentu ucapan sang istri tak membuat kekhawatiran Marva mereda, ia malah semakin merasa tak berguna karna tak tahu bagaimana cara mengurangi rasa sakit yang sang istri rasa
__ADS_1
"mas nggak sanggup lihat kamu kesakitan kayak gini sayang, mas aja perasaan nggak pernah nyakitin kamu" itu berlaku di pernikahan keduanya. memang Marva tak pernah menyakiti baik dari segi fisik maupun perasaan istrinya bukan?
"mas lupa? kan ini perut ku jadi begini karna ulah kamu, mas"
Marva menyengir kaku mendengar lontaran kalimat datar sang istri. memang karna maunya tapi dia tak pernah memaksa, bahkan Manda juga mau-mau aja
"ya kan kamu-nya juga mau sayang, mana bisa bunting gitu kalau kamu nggak mau. kadang minta nambah ronde malah" Marva mencoba mengabaikan ingatannya saat ia memergoki sang istri meminum pil pencegah kehamilan saat awal-awal hubungan keduanya membaik. ia hanya ingin menggoda sang istri agar bisa meredakan rasa sakit sang istri walau tak seberapa
"ish, itu kamu yah" bantah wanitanya. benar saja, Manda terkekeh setelahnya
"kamu caesar aja yah sama seperti waktu twins lahir" tawar Marva untuk kesekian kalinya, tak tega sang istri menahan sakit lebih lama
"mas nggak usah khawatir berlebihan kayak gitu, emang kayak gini proses lahirannya" tutur Manda setelah menghela napas panjang
"Caesar sama normal sama aja mas sakitnya, waktu lahiran twins aja aku kuat, apalagi cuma satu bayi" imbuh wanita hamil itu yang mulai mengendurkan remasan tangannya dari sang suami kala rasa sakitnya sedikit tenggelam
"hari itu karna doa aku sampai di kamu sama twins sayang, meski Jefry yang menemani kamu tapi doaku juga menemanimu berjuang" balas Marva penuh percaya diri
masalalu yang sempat membuat mereka terpisah tak membuat Marva maupun Manda saling menutup semua kenangan yang pernah mereka lewati, termasuk masa-masa kehamilan twins, kelahiran twins, Manda yang sempat terkena baby blues karna kebenciannya pada Marva, serta tumbuh kembang twins selama tiga tahun tanpa sosok ayah kandung, Marva tahu dari cerita sang istri, begitu juga dengan Manda yang mengetahui keadaan Marva dari cerita suaminya, bahwa lelaki yang pernah menganggapnya sebagai benalu itu kecelakaan dan koma selama satu minggu tepat hari dimana Manda pergi dari rumah mereka, dan berselang satu bulan setelah Marva sadar, Marva mulai berhalusinasi hingga berniat menjual rumah mereka tapi juga tak tega karna takut sang istri pulang dan tak mempunyai tempat tinggal. bulan kedua kepergian Manda, kejiwaan Marva sudah mulai terguncang karna di dera rasa bersalah dan berakhir di rumah sakit jiwa selama setahun perawatan.
__ADS_1
dan mengenai ucapannya perkara doa saat waktu kelahiran twins enam tahun lalu memang Marva tak omong kosong. Marva ingat betul dibalik kamar pasien ODGJ ia tiba-tiba terbangun di dini hari dengan jiwa yang sudah sadar, dalam artian ia tak lagi berhalusinasi. ia sadar ia berada dimana, bukannya meminta perawat melepaskannya agar ia bisa pulang, Marva malah mengurung diri sebab diterpa perasaan sedih bercampur bahagia. ia tak tak tahu alasan dibalik semua rasa di dadanya, namun satu hal yang pasti, Marva hari itu benar-benar waras dan memiliki tujuan hidup yakni mengembalikan sang istri kembali padanya. Marva lantas melangitkan doa agar dimana pun sang istri berada semoga dalam keadaan sehat dan kuat serta selalu dalam lindungan Tuhan, agar ia bisa kembali memohon maaf pada wanita yang sejak saat itu telah mengisi segenap ruang di hatinya
"shs" ringisan Manda membuat Marva kelabakan, pasalnya kali ini tangannya tak lagi merasakan remasan kuat melainkan kuku sang istri menancap di punggung tangganya.
"sayang..." air mata lelaki itu berderai, bukan karna sakit pada goresan kuku pendek istrinya melainkan kasihan melihat gurat kesakitan pada wajah istrinya
"huuftt" Manda menghela napas parlahan sebelum berusaha mengeluarkan suaranya kala kesakitan pada area selangkangannya semakin mendera "mas bantu aku untuk rebahan, sepertinya pembukaannya udah nambah"
"nggak usah gendong mas, tuntun aja" Marva yang sementara berjongkok untuk meraih kedua lutut Manda hanya menghela napas dan lekas berdiri tegak untuk menuntun sang istri menuju brangkar dengan langkah pelan
setelah membaringkan tubuh Manda, Marva lalu memencet tombol untuk memanggil dokter. tak perlu waktu lama dokter datang dan memeriksa keadaan Manda
"sudah pembukaan delapan, tunggu sampai pembukaannya sempurna ya bu. dan jika rasa mulesnya sudah sangat sangat tidak tertahan segera panggil saya" tutur sang dokter sembari memperbaiki penutup bagian bawah tubuh Manda, lalu dokter melirik ke arah suami pasiennya yang terlihat menggemaskan dengan wajah khawatirnya "bapak tidak usah khawatir, istri bapak proses pembukaannya terbilang cangat cepat"
"cepat apanya dok, ini udah hampir dua jam loh istri saya merasakan sakit. kata dokter kalau saya sering memancing jalan keluar bayinya akan memudahkan proses lahirnya, tiga bulan terakhir saya turuti tidak pernah alpa, bahkan tadi pagi saya melakukannya tapi kok malah lama banget lahirnya" bantah Marva kesal sekaligus khawatir.
penuturan lelaki yang sebentar lagi beranak tiga itu memancing kekehan sang dokter. berbeda dengan dokter, Manda malah melotot tajam pada sang suami. bisa-bisanya disaat dirinya kesakitan Marva mengungkit kegiatan panas mereka tadi pagi sebelum Manda merasakan kontraksi. mana itu di hadapan dokter lagi, kan Manda malu. ya Tuhan, bolehkah Manda menendang suaminya pergi dari hadapannya?
"mas, tolong panggil papa Rendra, mas boleh di luar"
__ADS_1