
"sayang bangun, yuk" Manda mengelus lembut pipi si sulung yang terlelap damai di kursi sampingnya
"mommy..." anak itu perlahan menegakan tubuhnya, menatap sekeliling dengan mata belum terbuka sepenuhnya. bukan lagi area bandara yang ia lihat
ya, setelah menempuh perjalanan belasan jam lewat udara menggunakan jet pribadi, Manda dan twins tiba di bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, tepat saat adzan subuh berkumandang.
"kita udah sampai, Afi bisa turun sendiri kan?" tanya Manda meminta pengertian si sulung karna si bungsu tengah bergelajut manja dalam gendongannya
"kok kita ke lumah? papa ada di lumah kita?" tanya Zafier saat matanya yang setengah mengantuk itu menatap rumah yang mereka tinggali dulu. memang Manda tak menjual rumah itu saat mereka balik ke Amerika
"nanti kita jenguk papa di rumah sakit, tapi sebelum itu kita harus mandi dulu sayang supaya Afi dan Fira bisa segar ketemu papa" jelas Manda memberi pengertian, lagian pagi buta bengini pasti jam besuk pasien belum terbuka
"ya udah. ayok mom kita tulun cepat. Afi mau mandi yang belsih supaya papa senang kalau Afi halum dan lapi" semangat Zafier yang kini tersadar sepenuhnya
sulung Marva itu langsung melompat turun kala sopir membukakan pintu
"pelan-pelan sayang"
"Afi udah nggak sabal mom" jawab anak itu sambil berlari ke arah pelataran rumah
Manda hanya bisa mendesah pasrah, netranya menatap rumah berlantai 2 itu lekat-lekat. ia tak menyangka akan kembali lagi dalam waktu secepat ini. jika dulu kepergiannya karna menghindari Marva maka kedatangannya kali ini karna mengunjugi lelaki itu. si lelaki jahat yang masih memberikannya kesedihan meski statusnya sudah jadi mantan suami.
_ _ _ _ _
ibu muda dan dua anak batita itu memasuki sebuah rumah sakit besar di ibu kota. dengan memegang kedua tangan anaknya disisi tubuh, Manda langsung menuju ke meja resepsionis.
mengucap terima kasih setelah mendapat info pasien yang hendak dikunjungi, Manda kemudian beranjak dari sana di ikuti twins dengan raut antusias
"papa benelan disini mom?" tanya Zaafira mendongak menatap sang mommy sambil kaki mungilnya terus melangkah menyetarakan langkah kecil Manda
"iya sayang, katanya papa baru tiba beberapa menit lalu" jadi bisa dibilang jet Manda lebih dulu mendarat dari pada pesawat yang dinaiki Marva
lantai 3. setelah keluar lift, netra Manda langsung menangkap sosok mantan ibu mertuanya di depan sebuah ruangan dan Manda yakin itu adalah ruangan Marva meski belum ia lihat nomor kamarnya. wanita baya itu menutup mulutnya dengan bahu bergetar, sepertinya tengah menangis dan berusaha menahan suara tangisnya. ya, ibu mana yang tidak merasa terpukul saat anaknya masuk rumah sakit? pikir Manda
jika tatapan Manda tertuju pada Reni, maka twins beda. kedua buah hati Marva itu tengah menatap seorang anak kecil terduduk sambil menunduk di sana.
"bentar yah, sayang" Manda melepas pegangan tangannya kala ponselnya berbunyi. segera ia rogoh benda canggih itu dan melihat siapa si pemanggil
"dari Jeal, mommy angkat dulu yah" izinnya kemudian ia menepi di samping lift karna pembicaraan dengan sekertarisnya itu adalah hal yang sensitif
setelah selesai, Manda menatap kedua anaknya dengan alis terangkat yang ternyata mengikutinya di belakang tubuhnya, bukan bingung karna twins mengikutinya tapi bingung dengan ekspresi murung kedua buah hatinya
"kenapa sayang?" tanya Manda
jika Zafier menggeleng karna tak ingin melibatkan sang mommy berbeda sengan Zaafira yang terlalu jujur
__ADS_1
dengan aksen cadelnya ia menceritakan kenakalan Vino yang memeletkan lidahnya sebelum pergi menggunakan lift tadi. Vino pergi berdua dengan nenek Reni, tapi nenek Reni tidak melihat mereka. adu Zaafira bersedih
"Vino kan bukan anak kandung papa, tapi dia lebih dulu menjenguk papa dari pada Fiya" kesal Zaafira memancing rasa penasaran Manda dengan sosok Vino yang diceritakan putrinya
"dari mana Fira tahu kalau Vino bukan anak kandungnya papa?" tanya Manda
"papa sendili yang bilang. hanya kami anak papa, tidak ada yang lain. si Vino itu sepelti kami ke daddy Jef" jelas Zaafira yang dibalas senyum tipis oleh Manda.
Manda merasa lega dan bersedih di waktu bersamaan. mengingat sepak terjang Marva dulu, apa mungkin tak ada anak lain selain twins? Marva memang sudah mengakui kesalahan dan alasan dibalik kesalahannya itu, tapi lelaki itu tak pernah mengungkit soal anak.
"yaudah, kalau gitu kalian tidak boleh merasa tersaingi oleh Vino, kalian inikan anak-anaknya papa. kehadiran kalian adalah yang paling penting buat papa" ucap Manda memberi semangat pada twins yang baru saja merasa kalah oleh bocah yang bernama Vino karna lebih dulu mengunjungi Marva
"ayok" ajak Manda pada twins
menghela napas panjang mengurai rasa grogi, setelahnya ia membuka daun pintu kamar 3011 itu. Manda langsung mengigit bibir dalamnya mengurai rasa sesak melihat sosok lelaki yang terbaring miring di atas brangkar. meski tak melihat wajah lelaki itu, Manda yakin dia adalah mantan suaminya. terbaring miring pastilah kepala belakang lelaki itu yang cedera. betapa besar pengorbanan Marva untuk putrinya. pikir Manda.
"papa?" bisik Zaafira pada sang mommy yang di jawab anggukan kecil oleh Manda
twins melangkah mendekat, mereka sempat terkejut dengan kehadiran sosok pria besar di dalam kamar papanya. sedang Radit yang baru menerima panggilan telpon juga terkejut saat membalikan tubuhnya dan mendapati ketiga penjenguk yang tidak pernah ia bayangkan kehadirannya di sini
"Zafier, Zaafira" sebut Radit masih dengan ekpresi kagetnya
Deg
apa maksud Radit menyebut nama twins yang sangat ingin Marva peluk itu? tak tahukah Radit jika Marva tengah menahan rindu setengah mati saat ini?
"jangan menyebut nama mer..."
"om, apa ini papa kami?" tanya Zafier pada Radit, pasalnya tidur Marva membelakangi pintu.
Deg
ucapan Marva terpotong. tentu ia sangat mengenali suara si sulung.
Radit mengangguk sebagai jawaban, membuat twins berbinar. akhirnya mereka bisa bertemu sang papa setelah beberapa hari memendam rindu
"apa papa tidul?" kali ini suara manja si bungsu mengalun indah di indra pendengaran Marva. ingin sekali ia rengkuh kedua buah hatinya itu. tapi tunggu... jika twins disini?
Marva segera duduk, tentu dengan gerakan hati-hati. bukannya menoleh ke arah pintu Marva malah menatap lurus ke depan
"twins? kalian disini?" tanya Marva
"papa udah bangun!" pekik twins dan berlari ke arah Marva. bukannya langsung meraih kedua anaknya Marva malah langsung mengeluarkan pertanyaan
"kenapa kalian kesini?" tanya Marva menuntut
__ADS_1
"kak Marva..."
Deg
Marva memejamkan matanya kuat-kuat mendengar suara wanita itu
"kenapa kamu membawa twins kemari?" tanya Marva masih dengan mata memejam dengan rahang mengeras
"twins ingin bertemu dengan papa mereka" jawab Manda yang di angguki antusias oleh twins yang saat ini tengah menatap lekat wajah sang papa sambil memegang tepi brangkar
'aku juga ingin bertemu twins, rindu sekali' "pergilah" usir Marva kejam
Manda mematung di tempatnya mendengar pengusiran Marva. apa setidak penting itu dirinya sekarang di mata lelaki itu? ia datang hanya untuk melihat keadaan lelaki itu, mengucap maaf dan terimakasih tapi malah tak disambut baik oleh mantan suaminya itu
"baik aku akan pergi..."
"bawa twins" ucap Marva tegas memotong ucapan Manda
"biar saya yang pergi, mereka butuh kamu"
"tapi saya tidak butuh. bawa mereka pergi bersamamu" balasan Marva membuat twins dan Manda terkejut tak terkecuali Radit
"Marva!" sela Radit
"papa.." lirih twins
"pergi" Marva membuang muka
"pergi Mrs Manda" usir Marva sekali lagi membuat Manda tersenyum pedih, pedih melihat twins yang sudah berlinang air mata atas pengusiran papa mereka. wanita itu melangkah mendekat ke arah twins
"saya harap kamu langsung terbang setelah ini, pernikahanmu 3 hari lagi bukan? saya tidak mau gara-gara alasan kamu mengantar twins mengunjungiku malah saya dianggap perusak moment. dan... selamat atas pernikahan mu. maaf tidak bisa datang" ucap Marva saat Manda meraih tangan twins untuk dibawanya pergi
"selain berhasil menjadi suami buruk yang mematahkan harapan istri, kamu juga berhasil mematahkan harapan anak-anakmu. selamat juga untukmu yang berhasil jadi papa yang buruk" desis Manda sebelum keluar dari ruangan yang membuatnya juga twins berlinang air mata
"Marva kamu keterlaluan" ucap Radit setelah pintu kembali tertutup
"aku ingin mereka disini, memeluk mereka tapi aku nggak bisa menghalangi kebahagiaan yang sudah menunggu mereka yang bahkan aku tak bisa lagi melakukannya" tutur Marva dengan memukul dadanya
"gelap. aku bahkan tak bisa melihat mereka untuk terakhir kalinya, Dit"
Marva sadar diri jika ia tak lagi pantas untuk mereka, dia seorang Lelaki yang hanya bisa melihat kegelapan walau dengan mata terbuka sekalipun. ia sosok papa yang tak berguna. ia melepas anak-anaknya untuk kebahagian mereka. meski tak bersama tapi twins akan hidup bersamaan dengan detakan jantungnya.
Bersambungggg...
aaaa readers autor butuh tisyu nih.. habis tisyuku gara-gara ketik part bagian-bagian terakhir. huhuhuu sesak dada autor ini
__ADS_1