
"**!* !!" Marva mengumpat sembari memukul kemudi ketika mobilnya terjebak kemacetan diantara kendaraan lainnya yang hampir memenuhi jalan. lelaki itu tengah gusar tak sabar sampai di rumahnya secepat mungkin.
setelah terjebak dijalanan cukup lama, akhirnya mobil Pajero hitam itu sampai di pakarangan rumah yang memiliki pakarangan paling luas di antara rumah lainnya yang ada di komplek mewah itu. segera Marva turun dari mobilnya dan berjalan cepat hampir berlari memasuki rumahnya
"Bil! Bila!" teriaknya ketika membuka pintu
sontak dua orang yang ada di ruang keluarga yang tengah asik mengobrol saling bersitatap mendengar suara menggelegar milik kepala rumah tangga.
Manda memicingkan matanya ketika melihat lawan bicaranya di hadapannya tersenyum licik. dan belum sempat Manda bertanya lelaki itu mengikis jarak, menggeser duduknya mendekat ke arah Manda. bola mata Manda membulat ketika tiba-tiba mendapati serangan pelukan dari lelaki yang bertamu beberapa menit di rumahnya itu
"apa-apaan ini!" suara menggelegar sedikit tercekat milik Marva membuat Manda makin di terpa keterkejutan sedangkan lelaki yang masih memeluk Manda itu tersenyum geli
"brengsek!!"
"mas! stop!!" langkah Marva dengan wajah memerah dan tangan terkepal hendak meraih tubuh lelaki yang memeluk istrinya itu terhenti ketika suara Manda melengking untuk menghentikan amukannya
"Bil?"
"kak udah ah" Manda berusaha melepas pelukan lelaki yang masih betah memeluknya dan makin membuat Marva terbakar di tempatnya
"Bil?" panggil Marva sekali lagi, kini kedua telaga milik Marva sudah berembun
sedang lelaki yang masih memeluk Bila itu tak bisa lagi menahan tawanya saat mendengar suara bergetar suami dari sang adik di belakang punggungnya, perlahan ia membalikkan tubuhnya namun tak melepas pelukannya dari Manda
"hai adik ipar?" sapanya santai tanpa dosa
"lo!" mata Marva makin membulat melihat wajah menyebalkan lelaki di hadapannya
"ngapain lo ke rumah gue?"
"ya, ngunjungin lo lah" jawab Mario santai tak seperti Marva yang kini terlihat kesal padahal beberapa detik lalu lelaki itu tampak sangat terpukul dan kecewa
"gue nggak butuh di kunjungi" cibir Marva sembari beranjak untuk meraih Manda namun Mario malah semakin memegang kuat pundak Manda agar tak kalah oleh Marva.
"lepasin nggak!" Marva menyentak keras tangan Mario, lalu meraih tubuh istrinya dengan sangat lembut ke pelukannya "bukan muhrim, kalian" imbuh Marva tak rela Manda di peluk lelaki lain walau Mario sekalipun
"adik gue itu" ucap Mario tak terima
"adik angkat"
"adik yah adik, apasih loh, minggir"
__ADS_1
"mau ngajak ngelut lo?" tantang Marva saking kesalnya
"ayok"
"ck! udah ah. kalian berdua ini kenapa sih. katanya teman kok setiap ketemu selalu aja cekcok" seru Manda kesal sekaligus gemas
"gue nggak akan berdamai sama dia sebelum kasih restunya untuk gue jadi mantunya" jawab Mario enteng berhasil membakar api dalam tubuh Marva
"di belakang" seru Marva meraih kerah baju Mario sembari menyeretmya
"mas!"
"diem Bil, lelaki tua ini harus gue kasih pelajaran agar otaknya bisa berfungsi dengan baik" kali ini Marva mengabaikan peringatan sang istri sebab Mario benar-benar memancing emosinya
"yakin mau lawan gue? gue nggak tega soalnya nih, gue lelaki sejati. nggak bisa lawan pria penyakitan kek lo" ujar Mario yang pasrah diseret ke taman belakang rumah tanpa berniat melepas tangan kanan Marva dari kerah kamejanya
"gue udah sembuh anj!ng!" bantah Marva sembari menyentak tubuh Mario
"mas!" sontak Marva menoleh ternyata sang istri mengikuti mereka
"maaf, kelepasan sayang. dia noh yang mancing-mancing" Marva menghampiri sang istri lalu meraih tangannya untuk dikecup sebagai permintaan maaf telah mengeluarkan kalimat kasar
"ck! si bucin. gue nggak bisa bayangin kalau dia cinta dari awal sama istrinya udah punya adik lima orang itu twins" gumam Mario sembari merapikan kerah bajunya
"MARIO!!"
"hahahahah" Mario terbahak sembari berlari kecil guna menghindari amukan papa dari keponakannya. saat di ambang pintu ia berbalik menatap Marva yang ternyata tak beranjak dari tempatnya karna sibuk meminta maaf pada sang istri karna berteriak keras
"jangan marah-marah papa mertua, ntar cepat tua dan oh ya gue datang kesini mau ngelamar calon istri gue unt..."
"lamaran ditolak!" oke Marva tak bisa tak meninggikan suaranya karna memang Mario yang memancing
"jahat banget sih. ini udah ke sembilan kalinya loh gue lamar Zaa..."
"diem nggak!! dasar bujang lapuk! pedofil gila!" umpat Marva
"heh, papa mertua..."
bugh
sebuah sepatu melayang ke lutut Mario
__ADS_1
awwww
"sakit bego"
"lebih sakit telinga gue dengar mulut kotor penuh dosa lo itu"
"jangan salahin aku terus yang, dia itu yang pancing" ujar Marva cepat ketika Manda hendak menyahut
"yaudah, mas tenang deh, nggak usah emosi sampai wajahnya merah gini, kak Mario cuman bercanda kok" Manda mengelus keringan di dahi sang suami sembari tangan lainnya mengusap lembut lengan atasnya
"gue nggak bercanda, gue beneran mau..."
"kak diem deh! sana jemput twin" kali ini Manda ikut meninggikan suaranya
"ck! suami istri sama aja. tidak memiliki prike-tamu-an. tamu datang bukannya disambut malah dianiaya" dumel Mario sembari berlalu dari sana"
_ _ _ _ _
"mas kok pulang? bukannya ada rapat penting?" tanya Manda saat membuatkan jus buah untuk suaminya, sedang lelakinya itu memeluknya dari belakang
"rapatnya baru aja selesai pas dapat kabar dari kamu kalau..."
flashback on
setelah mendapatkan hasil rapat yang memuaskan, perasaan Marva luar biasa lega, lelaki itu kemudian pamitan pada peserta rapat, namun sebelum ia menggapai pintu telponnya berbunyi, sontak senyumannya makin mengembang ketika melihat nama sang istri di layar. tapi senyumnya seketika sirna setelah mendengar kalimat sang istri yang belum kelar
"mas, rumah kita kedatangan..."
Marva langsung berlari layaknya orang kesetanan. satu hal yang terlintas di pikiran Marva adalah Manda dalam bahaya. dan bahaya itu tentu dari seseorang dari masalalunya. Marva takut Maya kini beralih menganggu Manda ketika wanita itu tak bisa meraih twin lagi.
flashback off
"kalau apa mas?" tanya Manda kini berbalik menghadap Marva dan menyerahkan jus buah buatannya "lagian aku belum selasai ngomong mas udah panik sendiri, mana aku panggil-panggil nggak nyahut tapi telponnya juga nggak di matikan"
"mas panik sayang, takut kalau tamunya orang jahat. eh taunya tamunya si baj... eh maap deh" Marva sontak menutup mulutnya mendapati tatapan tajam sang istri
"tapi beruntung juga mas pulang, mas nggak rela kamu berduan aja sama Mario di rumah"
"dia kakak aku loh mas, nggak usah berlebihan"
"tapi tetap aja. mas nggak rela dia peluk-peluk kamu seenak jidat gitu. beneran mancing emosi"
__ADS_1
Bersambung...
tolong kalau ada typo atau kalimat nggak nyambung tolong di tandai, ntar autor perbaiki kalau ada waktu. beneran mggak punya banyak waktu di dunia halu sekarang ini. maapin yak kalian nunggu lama