
"penyakit yang ku pikir sudah sembuh nyataya hanya mereda saja. Terbukti saat ini rasa sakit itu kembali kambuh bersamaan dengan kemunculannya dihadapanku" Nabila Amanda
**************
kepala berwajah cantik dengan mata tertutup rapat itu bergerak gelisah, ekspresinya seperti tengah ketakutan, terlihat kerutan-kerutan yang terbentuk di dahinya secara konstan yang sudah dipenuhi bulir-bulir keringat. Sepersekian detik selanjutnya mata berbulu lentik itu terbuka sempurna, dengan napas terengah-engah wanita muda itu beranjak duduk dari berbaringnya.
Detakan jantungnya bertalu-talu membuat tangannya yang terulur menuang air dalam gelas jadi ikutan gemetar sampai air tak sepenuhnya tertampung dalam wadah kaca kecil itu.
Setelah meneguk habis isi gelasnya, punggung tangannya menyeka keringat di dahinya.
Dirasa sudah bisa menguasai ketakutannya akan mimpi mengerikan itu, ia beranjak dari pembaringan dan melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar
Dan disini lah ia sekarang, di kamar kedua buah hatinya yang bersebelahan dengan kamar miliknya.
Berjalan pelan agar tak menganggu tidur kedua makhluk mungil itu, Manda menempatkan dirinya di tengah-tengah ranjang keduanya.
"mommy sayang sama kalian, kalian hanya milik mommy" gumamnya setelah mendaratkan kecupan di dahi twins.
Mimpi yang mendatanginya benar-benar menguncang emosinya. ia ketakutan, takut akan keberadaan twins diketahui orang-orang itu, orang-orang yang mendatanginya kemarin, membuatnya cemas hingga terbawa dalam mimpinya
Flashback On
__ADS_1
wanita paru baya yang mengolok dirinya juga twins di tempat umum beberapa hari lalu mendatanginya dan menyampaikan permohonan maaf. Manda tak mengerti kenapa mama dari mantan suaminya itu tiba-tiba mengemis maaf padanya, tatapan wanita itu juga kini menatapnya penuh kelembutan, tak ada lagi tatapan remeh dari pancaran netra nyonya Phelan itu seperti pertama kali mereka bertemu di pesta jamuan sebulan lalu, juga tatapan menjijikan yang ditujukan padanya beberapa hari lalu di restoran tak ada lagi, yang ada hanya tatapan hangat yang cenderung sendu, memperjelas bahwa wanita baya itu tengah menyesal. wanita yang pernah dianggapnya sebagai pengganti mama kandungnya itu bahkan hampir bersujud di hadapannya demi sebuah pengampunan darinya jika saja Manda tak segera meraih bahu bergetar Reni.
"maafin mama, Bila" lirihan pilu itu keluar dari bibir bergetar Reni
"mama tahu kesalahan mama tak bisa termaafkan setelah apa yang mama perbuat, maafkan mama yang lambat mengetahui kebenarannya" ucap Reni yang sudah berlinang air mata
"Terimakasih sudah melahirkan mereka dan membesarkan mereka dengan baik. Maafkan mama yang sempat membenci kehadiran mereka karna buta akan fakta" ucapan terakhir dari Reni membuat Manda menebak jika kedatangan Reni ditengah-tengah kebersamaannya dengan twins tak lain dan tak bukan mantan mama mertuanya itu kini mengetahui fakta yang telah ia tutup rapat-rapat 4 tahun belakangan ini.
"jangan terlalu banyak berfikir nyonya. Saya tidak tahu dan memang tidak mau tahu mengenai pernyataan anda mengenai melahirkan dan membesarkan mereka. Hanya ingat satu hal, kehidupanku bukan urusan anda dan tidak ada kaitannya sama sekali dengan anda maupun keluarga anda. Seperti perkataan anda beberapa hari lalu, anda dan saya hanya orang asing, jadi jangankan saling melempar senyum, saling bertatap muka saja jika tak kebetulan anda tak akan sudi bukan?" balasnya datar. Tidak, ia bukannya dendam, hanya saja kecewa itu masih ada saat orang yang ia sayangi malah menghinanya tanpa sisa, apalagi kedua buah hatinya ikut diseret.
Dan satu hal yang membuatnya berani mengembalikan perkataan Reni semata-mata sebagai peringatan awal untuk mantan mertuanya itu agar tak berani mengusik hidup twins. Biarlah orang mengatainya egois, ia memang egois jika menyangkut kedua buah hatinya. Ia yang merasakan sakitnya mengandung 9 bulan dengan sejuta luka yang mendarah daging, ia yang berjuang sembuh demi berani berdekatan dengan twins, beberapa tahun berjuang untuk melupakan semua trauma dan lukanya, tapi saat ia merasa kehidupan bahagia menghampirinya kenapa orang-orang di masalalu muncul dan mulai mengusik.
Belum reda kekhawatirannya akan pertemuannya dengan Reni, di hari yang sama, lelaki penghancur mentalnya muncul di hadapannya setelah jefry dan twins pulang dari perusahaan.
Meski membenci setengah mati lelaki masalalu-nya itu, tapi Manda berusaha bersikap tenang dan dewasa menghadapinya walau ia sendiri kesusahan menahan napas karna memori akan kebrengs*kan Marva menggerogoti ingatannya.
Anehnya, lelaki itu hanya terdiam kaku di hadapannya. dari sudut tangkapkan netranya, pria itu menatapnya dengan tatapan menyedihkan atau mungkin mengiba padanya? Tapi untuk apa semua itu? Tak ingin terjebak lama dengan Marva, Manda membalas tatapan itu dengan tatapan dinginnya. ia tak akan terpengaruh oleh lelaki itu setelah bisa terbebas selama ini
Merasa tak bisa lagi menahan muak akan keterdiaman Marva, Manda meninggalkan pria itu setelah hampir setengah jam menunggu mantan suaminya itu mengutarakan maksud kedatangan ke perusahaan. jangankan angkat bicara, lelaki itu bahkan tak merubah posisi sejak awal kedatangannya. jika saja wajahnya bukan rupa pria bajing*n itu, Manda aka berfikir jika yang tengah berdiri diam di depannya adalah robot manusia yang tengah kehabisan daya.
Flashback of
__ADS_1
"mommy janji akan bawa kalian secepatnya dari negara ini" lirih Manda menatap bergantian buah hatinya
kedatangan 2 orang dari keluarga Phelan membuatnya menerka-nerka tujuan mereka sampai sudi menemuinya. apa mereka akan merebut twins darinya? tidak. twins hanya miliknya seorang. dan sampai kapanpun, Manda tak akan ikhlas melepas twins untuk siapapun.
ia masih ingat lelaki itu tak sudi mengakui kehadiran anak darinya. jadi harusnya keluarga lelaki itu juga tidak menginginkan twins. lagian lelaki itu memiliki banyak anak bukan? mengingat berapa banyak wanita simpanan pria penjahat kelamin itu
"maafkan mommy karna tak bisa memberikan kalian keluarga utuh" Kedua tangannya mengelus lembut kepala kedua malaikan kecilnya itu. Twins adalah alasan kenapa ia bisa berada dititik ini. Hidupnya hanya untuk twins.
setelah merapikan selimut twins yang sedikit berantakan, Manda menyanderkan punggungnya di nakas yang berada di tengah-tengah ranjang twins. bukannya kembali ke kamar miliknya untuk melanjutkan tidurnya mengingat pagi masih beberapa jam lagi, Manda malah memilih tertidur dengan posisi terduduk di tengah-tengah buah hatinya.
mimpi itu membuatnya takut berjarak dengan kedua buah hatinya
Bersambunggg...
ada si ganteng nih. jagoannya mommy Manda
si manis tidak ketinggalan dong, princessnya mommy Manda nih
__ADS_1