
suasana diluar ruangan perawatan tampak mencekam, Reni mondar-mandir sambil merapalkan berbagai doa dengan air mata yang terus menetes, Raina yang tengah terisak dalam dekapan Phelan yang juga berwajah pucat, dan twins yang menagis terus-terusan memanggil sang papa di pelukan Manda yang juga menangis dalam diam.
"sini sama oma, sayang" Reni duduk di sebelah Manda dan mengambil Zaafira ke pangkuannya, memeluk cucu perempuannya untuk saling menguatkan. sementara Zafier masih berada dalam pelukan sang mommy
pemandangan itu tak lepas dari sepasang mata bening milik Arvino yang duduk di sebelah sang kakek dan adik dari papanya, anak itu juga menangis tapi tangisannya tak sedramatis twins dan Raina. Vino hanya sesekali menyebut papanya disela-sela isakan lirihnya.
tangan kecil Vino mengepal, tak ada yang peduli padanya padahal ia adalah anak dari papa Marva, kenapa keluarganya lebih peduli pada Zafier dan Zaafira dibanding dirinya?
langkah seseorang terdengar mendekat dari arah lorong, dan disana muncul seorang wanita paru baya yang berjalan tergesa menghampiri keluarga itu
"bawa dia pulang" sahut Reni menatap Vino, ia sengaja menghubungi asisten rumah tangganya untuk menjemput Vino. Reni sangat kesal akan keberadaan anak angkat putranya itu, selain karna membuat kedua cucu kandungnya tak nyaman, Vino telah membuat Reni kesal karna anak itu telah menyabotase mobilnya.
udah dibaikin, malah tidak tahu diri. dikasih hati minta jantung. pikir Reni pada bocah lelaki itu
"Ino nggak mau pulang! Ino mau tunggu papa!" kesal anak itu, ia menatap marah pada bibik. lalu pandangan anak itu beralih ke arah Zafier dan Zaafira. kedua tangan Vino mengepal kuat disisi tubuhnya
tidak, ia tak mau pulang. sudah sangat lama ia tak berjumpa dengan papanya sejak papanya tinggal jauh dan ia ditinggal di rumah besar Phelan.
"Ino anak papa, Ino belhak tinggal disini, meleka aja suluh pelgi" ucapnya menggebu sambil menunjuk twins bergantian
"heh! kamu itu..."
"mah udah" sela Phelan pelan sambil menatap mata sang istri, lalu mengendikan dagunya ke arah twins, memberi kode pada Reni agar mengontrol emosinya untuk tak mengeluarkan suara keras
Reni menghela napas, di tatapnya Vino dengan tatapan kesal. demi putranya ia membuka hati untuk merawat Vino, seorang anak yang entah dimana keberadaan orang tua kandungnya, anak dari seorang perempuan yang membuat putranya jadi bodoh sampai tega mengorbankan pernikahan dengan wanita pilihannya hingga harus terpisah dengan twins beberapa tahun. meski sadar Vino tak ada sangkut pautnya tapi tetap saja Vino adalah keturunan wanita jal*ng itu yang memang tak pernah Reni sukai.
'dari kecil udah pintar mengelabuhi, gimana kalau udah besar, emang ibu sama anak sama aja' batin Reni kesal. bagaimana tidak kesal, sebelum berangkat ke rumah sakit, Reni sudah berpesan baik-baik pada Vino untuk ke sekolah diantar sopir lainnya, belajar yang baik agar Marva tak sia-sia membesarkannya, tapi anak itu malah datang ke rumah sakit tanpa sepengetahuan siapapun. iya, anak itu ikut di mobil yang mengantar Reni, Vino mengambil kesempatan saat Reni memasuki kamar untuk mengambil tas setelah menemani Vino sarapan. jalannya makin lancar saat sopir menerima telpon di samping mobil hingga Vino bisa naik dan bersembunyi di belakang kursi penumpang
"papa hiks Fiya mau papa" isak Zaafira yang mendapat elusan lembut dari sang nenek
__ADS_1
"Fira dan Afi berdoa yah, semoga papa baik-baik aja di dalam dan bisa bermain lagi bersama kalian" ucap Reni menenangkan sambil mengecup pucuk kepala cucu bungsunya
"saya minta maaf..." Reni, Phelan dan Rain sontak menoleh ke arah sumber suara, mendapati Manda tengah menunduk sambil memaikan kuku-kukunya di atas paha Zafier.
"kenapa minta maaf?" tanya Reni lalu meraih sebelah tangan Manda, membuat sang empu tangan tersentak.
Manda menolah menatap takut-takut pada Reni, bukannya raut kemarahan yang menyambutnya malah Reni memberinya senyuman meski wajah yang tak lagi muda itu jelas menampakan kekhawatiran
"Kak Marva berada di dalam karna Manda" ucap Manda kembali menundukkan pandangannya. Manda merasa dialah jadi penyebab Marva sampai harus mendapatkan operasi dadakan.
ya, saat mereka berpelukan untuk mengurai rasa sesak di dada masing-masing, tubuh Marva melemah bersamaan dengan pelukan lelaki itu mengendur, lalu kemudian Marva tak sadarkan diri dengan kepala jatuh di pundak Manda. awalnya Manda kira Marva hanya kecapekan, namun nyatanya setelah dibawa keruang periksa lelaki itu mengalami pendarahan pada otaknya efek kecelakaan beberapa minggu lalu, dan harus menjalani operasi. Manda menyalahkan dirinya atas apa yang menimpa mantan suaminya itu.
"bukan. bukan karnamu. kau tahu Bila? setelah 4 tahun berlalu aku baru melihat putraku memancarkan wajah bahagia dibalik tangisannya saat memelukmu bersama twins di waktu bersamaan, meski dia kembali drop seperti ini tapi mama tidak berhak menyalahkan siapa-siapa, karna nyatanya putra mama bahagia dengan kehadiran kalian" jelas Reni menggenggam erat tangan mantan menantu kesayangannya.
ceklek
"bagaimana keadaan putra saya dok?" Reni langsung menyambut pertanyaan setelah dokter muncul dari sana, wanita baya itu bertanya sambil berdiri dengan Zaafira di gendongannya
"apa kehadilan Fila, Api dan mommy membuat papa sakit lagi? apa kalna kami datang papa jadi telbebani?" tanya Zafier lirih dengan bibir bergetar
"mereka anak-anak dan mantan istri Marva" jelas Phelan saat dokter melihat twins dan Manda bergantian
"tentu tidak boy. kehadiran kalianlah yang papa Marva tunggu selama ini" ucap Dokter yang ternyata salah satu kenalan Marva sambil mengusap kepala Zafier
"doktel, ambil saja mata Api untuk papa agar papa bisa lihat Api, Fila sama mommy lagi" ucap Zafier membuat semua orang terkejut
"kalau mata Api didonorin, Api nggak bisa lihat papa, mommy sama Fila lagi sayang" balas si dokter
"nggak papa, asalkan papa bisa lihat Api sama Fiya sama mommy" dan jawaban Zafier yang terdengar tanpa beban membuat semua orang terenyuh
__ADS_1
"dan papa Marva akan semakin sedih kalau Api tak bisa melihat papa Marva. Api mau papa sedih?" tanya dokter yang dibalas gelengan oleh Zafier
"sekarang Api jaga papa Marva baik-baik supaya papa Marva bisa cepat sembuh yah" ucap dokter yang di jawab anggukan oleh batita lelaki itu
"tuan Marva akan dipindahkan ke ruang perawatan, kalian boleh berkunjung bergantian" ucap Dokter sebelum pamit dari sana
_ _ _ _
"papa udah lapal belum?" entah pertanyaan yang keberapa kali Zaafira menanyakan hal yang sama pada sang papa
"kan tadi papa udah makan nak"
"itu tadi, udah lama. papa halus makan banyak supaya cepat sembuh" ucap Zaafira sambil memainkan kancing baju Marva, dua saudara kembar itu ikut berbaring di sisi sang papa
"papa nggak suka makanan rumah sakit, nggak enak"
"papa mau makan apa? mommy pintal masak loh, lasanya selalu enak kok, Fiya dan Api suka. papa mau dimasakin mommy nggak?" tanya Zaafira antusias
ya, saat ini Manda dan twins yang berjaga menemani Marva setelah lelaki itu siuman dari obat biusnya. sebenarnya Marva keberatan tapi karna tak mau mengecewakan twins yang ngotot ingin menjaganya sementara Manda yang beralasan tak mau meninggalkan twins membuat Marva tak bisa mengusir Manda
"Manda?"
"hum?"
"kamu sudah menghubungi suamimu kalau kamu disini sama twins?" tanya Marva
"sakitku bukan lagi tanggung jawabmu. jika twins mau disini aku bisa meminta Raina datang untuk menjaga mereka. kamu bisa pulang" ucap Marva lagi karna Manda tak menjawab pertanyaannya
"aku dan Jefry tidak menikah"
__ADS_1
Bersambunggg...