Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
kedua kalinya


__ADS_3

~karna seseorang yang dibutakan sakit hati akan gelap mata juga pada akhirnya. ia akan sulit membedakan yang baik dan yang buruk. bahkan tak segan segan melukai yang namanya hati nurani~ Mickey Mouse (buah hatiku)


***********


"papa, ino mau main itu" pekik Arvino, bocah 4 tahun itu menarik tangan Marva memasuki area permainan


"pelan-pelan Vino, nanti kamu kesandung" peringat Marva pada putranya


Hari ini, ayah dan anak itu memutuskan menghabiskan hari minggu dengan mengunjungi salah satu mall besar di ibu kota dan akan bermain sepuasnya.


Marva mengulas senyum menyaksikan anaknya main pesorotan dengan antusias. Tawa di wajah anak itu tak pernah hilang selama ia memasuki area permainan.


Manis, anak itu sangat manis, hanya saja hidup anak itu tidak semanis rupanya. Tidak di akui oleh ayah kandungnya sedang ibu kandungnya seringkali hendak membunuhnya bahkan sejak anak itu masih berupa janin. Karna anak itu memang tak pernah di inginkan kehadirannya oleh kedua orang tua kandungnya. Dan naasnya, bayi itu harus lahir dengan penyakit yang sudah menggerogoti tubuh rapuhnya membuat Marva tergerak untuk mengadopsi dan memberikan hidup layak untuk bayi malang itu.


Banyak yang Marva korbankan untuk kesembuhan Arvino dan di usia 3 tahun sakitnya sudah tidak parah lagi. Hanya asmanya yang kadang menyerang jika anak itu menangis atau bersedih.


Arvino putra Phelan, nama yang diberikan pada anak yang harusnya Marva benci karna anak itu adalah bukti perselingkuhan wanita yang dulu ia perjuangkan mati-matian sampai rela menutup mata hatinya untuk istri sahnya. Tapi malah Marva rawat dengan penuh kasih sayang dan penuh cinta.


"bayi itu tidak bersalah, ia berhak bahagia" pikir Marva kala itu.


Setelah puas bermain, Marva mengajak Vino untuk belanja mainan yang ditanggapi girang oleh anak itu, mengundang senyuman di bibir Marva bisa melihat anaknya bahagia bersamanya


Arvino berlarian mengelilingi rak yang penuh dengan berbagai macam mainan, mengabaikan peringatan papanya


"Vino, hati-hati" Marva berjalan cepat menyusul anaknya yang semakin jauh


Bernapas lega kala sang anak ia temukan tengah berdiri dengan seorang anak lainnya yang tengah membelakanginya


Sontak Marva melotot kala anaknya mendorong gadis kecil itu


"Arvino" tegur Marva


Mengabaikan peringatan papanya, Vino malah semakin maju mengintimidasi lawannya yang sudah terjatuh di lantai. Vino merasa kemenangan ada di tangannya sebab papanya ada di sampingnya sedang anak itu yang biasanya selalu memiliki antek-antek di belakangnya kini hanya seorang diri


"huh lemah!" ejek Vino


Sedang bocah yang di katai lemah menatap tajam Arvino, ia yang sedang memilih mainan tiba-tiba dikejutkan dengan kehadiran Vino, ditambah Vino spontan mendorongnya membuat ia tidak bisa menahan tubuhnya dan berakhir terhempas ke lantai dengan kaki selonjoran


Zaafira meringis sakit, dan matanya sudah berkaca-kaca. orang-orang yang lewat hanya meliriknya sekilas dan mengabaikan pertengkaran anak kecil itu. mungkin mereka pikir ada Marva sebagai papa dari kedua bocah yang bertengkar bisa menangani anak-anaknya

__ADS_1


Vino yang mendorong bocah perempuan yang ternyata adalah Zaafira tersenyum puas melihat Zaafira yang hendak menangis


Sedang Marva hendak menolong Zaafira tapi urung karna di halangi oleh Vino


"biarkan saja pa, dia anak nakal" cercah Vino menepis tangan papanya


Marva memandang anaknya dengan pandangan bertanya. Mengapa anaknya mendorong anak perempuan itu?


Zaafira yang tak mau di anggap lemah, berusaha berdiri menahan rasa perih pada pantat kecilnya. Tak ada yang menyadari pergerakan adik Zafier itu, setelah berdiri, Fira melangkah pelan ke arah Vino


Bugh


Satu tonjokan tangan mungil namun keras mendarat di wajah kecil Arvino, membuat Vino merasakan sakit dan langsung menangis histeris


Marva melotot ke arah Fira yang masih memandang marah pada Vino


Fira tidak puas dan ia maju selangkah lagi menarik baju Vino sehingga Vino tepat berada di depannya dengan kerah bajunya yang tengah dipegang erat olehnya


Satu pukulan tangan kecil hampir mendarat di wajah basah Vino jika saja tak ditahan oleh tangan besar Marva. Marva memandang tajam ke arah Fira tanpa berkata


Deg


Matanya?


Alisnya?


Hidungnya?


Marva terhipnotis, jantungnya bertalu-talu di dalam sana. Apalagi sentuhan tangan keduanya mengalirkan sesuatu yang membuatnya merasa tersentrum di dalam nadinya


Ia pernah melihat anak ini tapi dimana?


Ah, disekolah Vino. Gadis kecil ini adalah adik dari batita laki-laki yang juga pernah membuat Marva berada disituasi ini saat menatap dan menyentuhnya


Ada semacam teka-teki yang sangat sulit ia urai.


Fira menatap sendu mata Marva


"shs, tangan Fiya cakit, paman" cicit Fira

__ADS_1


Melihat Fira yang tengah lengah, Vino mencoba untuk memukul balik dengan tangan kecilnya tapi tidak sampai karna Fira cukup gesit dan meihat gerak-gerik Vino dengan ekor matanya. Karna amarah dan kesal masih menggerogoti hatinya, Fira menedang balik kaki kecil Vino, tepatnya di tulang betis sehingga Vino terjatuh secara tengkurap di lantai


"akhh. Sakit. Hiks hiks papa..." adu Vino histeris


Melihat Vino yang terjatuh, Marva reflek menghempaskan dengan keras tangan mungil Fira sehingga terbentur di rak dengan keras


"akhhhh" jerit Fira keras


Marva berjalan cepat kearah Vino yang tengah menangis kencang dan membawanya ke dalam gendongannya tanpa melihat bahwa ada anak yang telah di hempaskan olehnya dengan kuat barusan


Kening Zaafira terbentur di rak. Batita itu bersandar lemah disana karna merasa kepalanya pening akibat dari benturan tadi


"daddy..." lirih Zaafira sambil memandang Marva kecewa dan terluka. Ia merindukan Daddy Jefry melihat bagaimana Marva dengan gesit menenagkan Vino. Ia butuh pelukan seorang ayah juga saat ini


Mendengar panggilan lirih dengan suara khas anak kecil, Marva reflek menoleh ke arah sumber suara dan ia terkejut melihat gadis kecil tadi bersandar lemah di rak dengan jidat yang membiru dan memerah


Deg deg deg


Jantungnya berdetak kencang disertai rasa sesak yang menghimpit rongga dadanya di dalam sana


Marva merasa jantungnya sakit dan sesak sekali melihat anak itu, yang tak berdaya dan lemah dengan rak mainan menjadi sandarannya.


Ia tak sengaja menyakiti gadis kecil itu. Tindakannya reflek karna terlalu khawatir pada Vino yang menangis kesakitan karna di tendang oleh gadis kecil yang tidak sengaja di dorongnya tadi


Marva perlahan mendekat guna menolong anak itu yang orang tuanya entah dimana, belum sempat tangannya meraih tubuh lemah Zaafira sebuah suara teriakan histeris menusuk indra pendengaran Marva


"ZAAFIRA!"


"FILA!"


panggil seorang wanita muda dan batita laki-laki bersamaan berhasil membuat Marva mematung


Bersambunggg...


#######


Salam Mickey Mouse 24


Dari Dunia Halu

__ADS_1


__ADS_2