
seperti pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga ke tanah. begitu juga dengan apa yang tengah disembunyikan Marva dan Rain selama ini. kini dua pasang mata paru baya itu menatap kecewa kedua buah hatinya yang telah menyembunyikan hal besar dari mereka
"Maafin Rain, ma, pa" mohon Rain bersimpuh di kaki kedua orang tuanya
"siapa lelaki itu?" tanya Phelan dengan rahang mengetat, lelaki baya itu menatap dingin putrinya yang hanya bisa tertunduk memeluk kakinya
"siapa Raina!!" bentak Phelan membuat Rain juga Reni terjengkit kaget sedang Marva tak bergeming sama sekali
"Ra.. Rain nggak tahu Pa" jawab Rain gugup, takut. seumur hidupnya baru kali ini ia mendapat tatapan dingin dan nada tinggi dari sang ayah, tapi semua itu pantas karna kesalahannya. ya, Ayah mana yang tak akan marah mengetahui anak gadisnya hamil diluar pernikahan
biarlah Rain tanggung semua, toh sudah kepalang basah, meski ia hanya korban tapi Rain tak bisa mengelak jika ia memang hamil diluar nikah dan itu sudah sangat salah di mata siapapun.
"nggak tahu bagaimana? jangan mengatakan omong kosong kamu!!" merasa Rain hanya membual membuat emosi Phelan makin tersulut.
"Rain di jebak pah" setelah sekian lama terdiam karna merasa bersalah dengan nasib Rain, Marva akhirnya bersuara
"dijebak! lelaki brengs*k mana yang berani menjebakmu? pacarmu?" tanya Phelan pada Raina seolah tak percaya dengan perkataan Marva
"Rain tidak mengenalinya, Rain tidak punya pacar, pah" jawab Rain cepat menyela tuduhan papanya.
"bagaimana bisa?" Phelan menghela napas kasar sambil mendongakan kepalanya "kamu ada menyakiti lelaki itu?" tanya Phelan, pikirnya lelaki itu sakit hati pada putrinya dan membalas dendam dengan menjebaknya
"tuduhan papa tidak ada yang benar, disini Rain murni jadi korban. yang terjadi adalah....." tak tega sang adik terus dipojokan, Marva menceritakan kejadian sebenarnya setelah ada jeda diantara mereka, meski ia tahu akan berakhir disalahkan dan Marva siap menerima itu ".... karna pengaruh obat itu membuat Rain dan lelaki itu tak bisa mengendalikan diri dan berakhir seperti ini" tutur Marva menyelesaikan ceritanya
"lihatlah apa balasan dari perbuatan bejatmu pada istrimu dulu, adikmu juga mendapat imbas dari karmamu" desis Phelan berhasil menyentil keras hati Marva, perih.
"papa" Reni mengusap pelan lengan suaminya, memberi isyarat agar tak mengeluarkan perkataan pedas lagi. putranya sudah mengaku salah dan menyesal, juga sekarang tengah ditimpa penyakit atas musibah karna menolong nyawa Bila dan twins, cukuplah atas penghakiman untuk perbuatan masalalu Marva.
"kamu bilang ada bukti cctv, jadi kenapa tak mencari tahu lelaki itu dan suruh bertanggung jawab?" tuntut Phelan bertanya
__ADS_1
"ada apa?" tanya Phelan melihat kebungkaman kedua anaknya
"apalagi yang kalain sembunyikan?" tanya Phelan menuntut
"Marva, Raina jawab!" bentak Phelan geram akan kebungkaman putra dan putrinya
"mana rekaman itu, papa akan mencari lelaki..."
"jangan pah" sela Marva cepat
"Marva mohon jangan ganggu mereka" lanjut Marva ikut bersimpuh, karna tak bisa melihat alhasil ia tak bisa meraih kaki papanya
"mereka? jangan bilang lelaki itu sudah berkeluarga?" tanya Phelan dengan wajah terkejutnya
Phelan sontak terhuyung ke belakang saat Marva menganggukan kepalanya tipis membenarkan pertanyaannya, begitu juga dengan Reni yang menutup mulutnya, wanita itu kembali menangis histeris seperti pertama kali mengetahui kabar kehamilan Rain
"Maafin Rain, Ma" Raina berusaha meraih mamanya
Mereka bahagia luar biasa karna bisa lengkap berkumpul lagi setelah sekian tahun, akan tetapi karna kedatangan kedua orang tuanya yang tanpa pemberitahuan membuat Rain dan Marva kecolongan. Reni menemukan susu kehamilan di dapur ditambah dengan Rain yang mual-mual. Karna terus didesak Rain akhirnya jujur mengenai kondisinya yang berhasil membuat Reni histeris sedang Phelan hanya bisa mengetatkan rahangnya dengan kepalan tangan mendarat ke dinding melampiaskan amarahnya. jelas kedua pasangan paru baya itu merasa kecewa dan sakit hati, merasa gagal menjadi orang tua bagi kedua anaknya.
"itulah mengapa mama selalu memperingati mu untuk memilih teman Raina, temanmu yang bernama Angela itu tak baik, ia berniat menjerumuskan lelaki saat lelaki itu bersatus suami orang lain dan malah kamu yang harus menj..."
"Anggela merencanakan penjebakan sebelum lelaki itu menikah" bela Raina pada penilaian mamanya yang menjudge Anggela sebagai wanita perebut suami orang, namun pembelaannya berhasil membuat masalah baru
"lelaki itu baru menikah tidak lama ini?" tanya Phelan yang diangguki tipis oleh Raina
"sial*n. beritahukan papa rekamannya, papa akan memintanya bertanggung jawab sama kamu dan anakmu, lagian dia baru saja menikah dan belum memiliki janin sedang janinnya disini terlantar" ujar Phelan mengebu
mendengar ucapan papanya, Marva merangkak mencari-cari kaki sang ayah untuk diraihnya
__ADS_1
"jangan pah, Marva mohon jangan ganggu mereka, biarkan mereka bahagia" pinta Marva mengiba setelah memeluk kaki Phelan
"ada apa denganmu Marva, kenapa kamu membela keluarga itu sedang disini ada adik dan keponakanmu yang butuh pertanggung jawaban. kamu senang melihat adikmu melahirkan tanpa suami?"
"Rain ada aku pah, Marva akan menjaga Rain dan anaknya. sedang lelaki itu, Bila dan twins membutuhkannya, tolong jangan ganggu kebahagian kedua anaku dan Bila, pah" tutur Marva memohon
"ma..maksud kamu?" tanya Phelan dan Reni bersamaan dengan mata melotot
"Lelaki itu bernama dokter Jefry, lelaki yang dicintai Bila yang menjadi suaminya satu minggu lalu juga menjadi daddy kebanggaan kedua buah hatiku" beritahu Marva, berharap kedua orang tuanya mengerti jika Bila dan Twins lebih membutuhkan Jefry lebih dari siapapun "tolong jangan lagi libatkan mereka, sudah cukup Bila menderita saat bersamaku. biarkan mereka bahagia, aku akan bertanggung jawab membesarkan anak Rain nanti. tolong kabulkan permintaan Marva kali ini" mohon Marva mengiba
Reni dan Phelan kehilangan keseimbangan tubuh, beruntung ada sofa di dekat mereka hingga mereka bisa berpegangan disana. kedua pasangan paru baya itu diserang syok mendengar fakta rumit ini.
twins atau janin Raina? keduanya adalah darah daging mereka.
sama seperti di dalam vila yang tengah dipenuhi air mata setelah kejujuran kedua bersaudara itu, begitu juga yang terjadi dengan seseorang di luar pintu, seseorang tengah menangis sambil menutup mulutnya mendengar dengan jelas pengakuan Marva lewat pintu yang sedikit terbuka itu
'sebesar itukah pengorbanan Marva?' batinnya
Brukh
suara keras dari dalam rumah membuatnya terkejut, dan segera ia menyingkir ke samping villa kala mendengar langkah beberapa kaki yang terkesan buru-buru mendekat ke arah pintu
Deg
matanya membulat dengan detakan jantung menggila kala melihat tubuh lemah Marva di bopong oleh Phelan sedang Reni dan Rain mengikuti dari belakang dengan terus memanggil nama Marva
Marva tak sadarkan diri dalam gendongan sang papa yang terlihat tak keberatan membawa tubuh besar putranya
"apa yang terjadi padamu?" gumamnya menatap pilu mobil yang tengah melaju meninggalkan Villa
__ADS_1
bersambunggg...