Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
S2- Rumah


__ADS_3

Manda dan twins memperhatikan rumah yang saat ini mereka datangi. Marva membawa mereka pergi dari rumah yang ternyata sudah berpindah kepemilikan tanpa mengatakan tujuannya. dan saat ini mereka tengah berada di depan rumah yang berada di kawasan perumahan elit dipenuhi bangunan rumah mewah, termasuk rumah bercat putih hitam dengan kaca-kaca besar di hadapan mereka.



"masuk yuk" ajak Marva lalu menggandeng tangan twins disisi tubuhnya


"papa ini rumah siapa?"


pertanyaan Zafier sebenarnya mewakili kebingungan Manda


"Rumah kita" jawab Marva santai


"haaah? lumah balu lagi?" si bungsu terkejut dengan nada dilebihkan. anak perempuan itu menggeleng dramatis. dalam lima tahun hidupnya sudah beberapa kali dirinya tinggal di rumah berbeda, tentu semua itu membutuhkan penyesuaian diri. yang pertama tentu Mansion Ivander di Amerika, kemudian rumah Manda yang dekat dengan perusahaan Sucipto, Mansion Phelan saat aunty Rain sakit, terus rumah mereka di Bali, belum lagi tadi ia sempat singgah di rumah asing yang kata mommy-nya adalah rumah sang papa tapi kemudian tidak jadi masuk dan Marva membawa mereka di rumah ini.


Manda juga cukup terkejut, tak menyangka jika Marva memiliki rumah lain yang lebih besar dari rumah lama lelaki itu sebelumnya


"banyak banget lumah kita yah" celutuk adik Zafier itu "emang gitu yah kalau olang kelja bisa beli banyak lumah, satu di sana, satu disini, satu disitu, satu disana-sini" imbuh si bungsu membuat kedua orang tuanya terkekeh gemas


"mau papa gendong atau jalan sendiri nih?" tanya Marva langsung disambut rentangan tangan Zaafira


"Afi?" Marva menoleh ke arah putranya setelah membawa tubuh Zaafira dalam gendongannya


"nggak, Afi udah berat. nanti punggung papa bunyi-bunyi" tolak Zafier dengan nada pongahnya


"dih bocil sok berat, gendong mommy aja papa kuat, apalagi bocah kek kamu" tutur Marva tak terima. demi apapun, umurnya baru 30 tahun, ia sehat jasmani dan rohani. Manda berjam-jam bergoyang diatasnya tak membuat Marva keberatan, pasalnya ia lebih menikmati penyatuan dari pada berat tubuh sang istri. eh kenapa malah otaknya ngalor-ngidul sih


lalu Marva menoleh ke arah istrinya "ayok" ajaknya "maaf nggak bisa mengandeng tanganmu, soalnya sudah dikuasai oleh mereka" ucapnya sembari menunjukan tangannya yang sebelah menggendong Zaafira sedang satunya menggenggam tangan kecil Zafier. Manda menanggapinya dengan memutar bola mata malas


"aku ambil koper dulu"


"eh nggak usah sayang, nanti mas yang turunin, kamu pasti capek, kita masuk aja dulu" ucap Marva mencegat pergerakan Manda yang hendak membuka bagasi


"dih perkara gini doang" ucap Manda remeh, lalu kembali bergerak mencoba membuka bagasi


"nurut suami apa susahnya sih"


dan yah, Manda langsung menurut dan melangkah mendekat ke arah suaminya. dari pada suaminya berdumel panjang lebar mending Manda menurut. toh Marva hanya tak mau membuatnya kecapean.


"yaudah yuk masuk" ajak Manda sembari menampilkan senyum manisnya


"gitu dong"

__ADS_1


lalu keluarga kecil itu melangkah memasuki rumah baru itu


Manda mengeryit kala sudah berada dalam rumah yang interiornya sangat menakjubkan namun yang menjadi fokusnya adalah rumah ini tak memiliki perabotan. ya, alias kosong, ruangannya begitu lapang seperti rumah baru bangun pada umumnya. satu-satunya yang menjadi panjangan disana adalah foto keluarga yang menggantung di dinding, tentu potret itu adalah dirinya, Marva juga si twins


"isinya biar kamu yang atur, mau isi perabotan apa terserah kamu" sahut Marva menyentak atensi Manda dari foto keluarga kecil mereka


"ini rumah baru bangun?"


"iya. sesuai rumah impian kamu kan?" jawab Marva lalu bertanya kemudian


"rumah impian?" beo Manda bingung


"mas baca diari kamu" jawab Marva membuat Manda mengerjab


"di..diari?"


"hm. selain catatan harian atas keb*jatanku, kamu juga menulis beberapa impian kamu yang tidak bisa mas berikan pada diari itu, termasuk gambaran rumah impian kamu" tutur Marva dengan pancaran mata bersalah. setiap kali teringat akan kelakuannya di masalalu sukses membuat Marva merasa rendah diri dan tak pantas. rasa sesak selalu menghimpit dadanya.


"mas melihatnya?" tanya Manda hati-hati


tubuh Manda terhuyung ke belakang sebab tak siap akan pelukan suaminya


"maafin mas, Bil. sungguh mas menyesal" tutur Marva dengan suara bergetar. Manda yakin suaminya sudah menangis saat ini. selalu seperti ini, nyatanya bukan hanya Manda yang selalu dihantui kejadian masalalu, justru Marva yang lebih sering mengalaminya. Manda bahkan sering mendapati lelaki itu menangis dalam diam tengah malam sembari menatap wajahnya setelah sesi percintaan mereka.


"Mas?" tanya Bila kala tidurnya yang baru beberapa menit setelah sesi penyatuan halal itu terganggu dengan suara isakan tertahan


"eh kamu bangun, suara mas ganggu yah?"


"kenapa menangis? mas nggak puas sama aku?" tanya Manda balik tanpa menjawab pertanyaan Marva


"nggak sayang, nggak. kamu yang terbaik. mas sangat bersyukur memiliki kamu" tutur Marva sembari memberikan beberapa kecupan di seluruh wajah istrinya


"lalu ada apa dengan air mata ini, hm?" tanya Manda sembari menghapus air mata Marva


"mas... rasanya dada mas sesak Bil. antara sakit dan bahagia. terimakasih sudah menerima lelaki menjinjikan ini sayang, terimakasih sudi disentuh lelaki macam sepertiku" racau Marva kemudian menenggelamkan wajahnya di dada telanjang Manda, menghirup dalam-dalam aroma keringat yang masih menempel di sana akibat pergulatan panas mereka. bau keringat Manda saja sudah membuatnya mabuk kepayang gimana dengan yang lainnya, rasa manis bibir Manda, contohnya.


"mas..." ucapan Bila terpotong kala Marva kembali meracau


"Bil, jujur mas merasa tak pantas tapi mas nggak bisa kehilangan kamu dan twins. mas egois banget"


jujur, diingatkan akan hal itu membuat luka Manda kembali terbuka, hanya saja disini ia melihat dari sisi positif, bahwa lelaki yang tengah memeluk dirinya dalam keadaan tanpa busana sama sepertinya telah berubah. lelakinya telah mencintainya dengan sabar. Manda tak yakin ada lelaki yang mencintainya sebesar cinta suaminya saat ini.

__ADS_1


ini bukan perkara dia wanita lemah yang muda luluh dengan lelaki si pembuat luka, tapi ini tentang bagaimana melihat sisi si pemberi luka berubah dan menyesali perbuatannya.


"mas memang egois, bisa-bisanya Mas mengganggu tidurku. dasar lelaki cengeng" sarkas Manda membuat Marva terkekeh sambil menangis


flashback of


Manda tersadar dari lamunannya kala merasakan engap akibat pelukan Marva yang semakin erat


"mas mau meremukkan badan aku?" sarkas Manda berhasil membuat Marva melerai pelukannnya


"maaf"


"aku mau perabotan mahal-mahal dan terbaik boleh kan?" tanya Manda mengalihkan pembicaraan


"sesuai keinginanmu. mas hanya bisa siapin rumahnya, masalah perabotan mas serahkan sama kamu, toh rumah ini milik kamu"


"oke. tapi dana perbotannya dari mas kan?"


"ibu Ceo muda Ivander Corp bukannya orang kaya? masa nggak punya dana untuk membeli perabotan rumah sendiri?"


"sekedar informasi, istri cantik bapak ini sekarang pengangguran"


"Alhamdulillah"


"kok malah bersyukur"


"itu berarti tabungan mas nggak membengkak terus menerus. capek tahu kerja tapi nggak dihabisin sama istri"


belum sempat Manda menjawab suara pekikan lalu diikuti tangisan menggema di dalam rumah yang cukup lenggang itu.


Manda dan Marva sontak berlari ke arah sumber suara. keasikan mengobrol membuat mereka tak menyadari keberadaan twins yang ternyata berada di ruang berbeda


"adiknya kenapa nak?" tanya Marva ketika mendapati Zafier tengah menenangkan Zaafira yang tengah menangis kejer di sebuah kamar luas yang tampak penuh dengan mainan edukasi.


ya, tentu jika menyangkut anak-anaknya Marva tahu kesukaan mereka dan yang baik untuk mereka, jadi Marva sudah menyiapkan sebuah kamar yang sudah ia isi dengan berbagai mainan beredukasi


"bukan Afi kok yang gangguin"


"iya sayang, mommy percaya kok" ucap Manda sembari mengelus kepala putranya lalu mengambil alih putrinya "ade kenapa sampai nangis gini, hm?" tanya Manda pada Zaafira yang sudah duduk dipangkuannya


"Fila ngantuk hiks.. tapi... lapar juga,, hiks tapi pengen main ini juga " jawab si bungsu disela-sela isakannya sembari menunjukan mainan di tangganya

__ADS_1


"hah?"


Bersambung...


__ADS_2