
niat hati ingin membuat putrinya jera malah Marva yang jera mengerjai sang putri. tangisan anak perempuannya itu sukses membuat isi perut Marva jungkir balik. segara Marva menegakan tubuh sang istri lalu meraih putrinya ke pelukan
"sudah sayang, mommy udah nggak papa" ucap Marva menenangkan putrinya dalam dekapannya
"mommy hiks" tangan Zaafira menjulur ke arah Manda, anak itu pengen berpindah pangku pada sang mommy
"maafin Fiya mom hiks hiks, Fiya janji nggak akan nakal lagi hiks hiks, mommy jangan sakit, hiks, Fiya janji akan sayang sama adik bayi hiks hiks tapi jangan buang Fiya sama kak Afi yah? hiks hiks" tutur anak itu panjang lebar di sela-sela isakan sesegukannya saat sudah berada dalam pelukan Manda. anak itu memeluk mommynya begitu erat
"astaga nak, siapa yang mau buang kalian hm?" tanya Manda gemas sekaligus sedih mendengar isi pikiran putrinya "Afi sama Fira itu permata hati mommy sama papa nak, mommy dan papa cinta dan sayang sama kalian melebihi apapun di dunia ini" lanjut Manda penuh ketegasan sembari menatap putrinya dan putranya yang berada dipangkuan Marva bergantian. sedang Marva mengangguk beberapa kali menyetujui perkataan sang istri
"kasih sayang kami nggak akan berkurang sama twin walaupun ada adik bayi, nak, karna bagi papa sama mommy kalian dan juga calon adik kalian adalah harta berharga kami" imbuh Marva sembari mengecup pucuk kepala sulungnya
"kita tidak akan di buang sepelti Vino?" tanya Zaafira yang masih membenamkan wajahnya di dada Manda
"Fira sini" penggil Marva sembari menarik pelan lengan putrinya, setelah sang putri berbalik Marva menepuk sisi pangkuannya yang kosong memberi isyarat agar putrinya berpindah ke pangkuannya
"kenapa bisa Fira berpikir begitu? apa Afi juga berpikir seperti Fira?" tanya Marva pada kedua buah hatinya yang ia kuasai dalam pangkuannya
Marva bernapas lega kala mendapati gelengan kecil dari putranya, lalu ia beralih menatap putrinya yang menunduk "Fira jawab papa"
"Papa buang Vino kalna papa udah ketemu kami kan? gala-gala kami Vino pelgi, telus nanti gala-gala adik bayi, Afi sama Fiya juga dibuang sepelti papa buang Vino" jelas anak itu dengan nada menahan tangis
"papa nggak pernah buang Vino, nak. papa mengembalikan Vino sama papa kandungnya. Fira tahukan kalau Vino punya papa kandung dan itu bukan papa?" tanya Marva, melihat putrinya tampak termenung berusaha mengingat...karna memang kejadiannya udah dua tahun lalu kemungkinan putrinya udah lupa... Marva kembali bersuara "papa kan udah cerita sama kalian waktu itu. Papa cuman menjaga Vino sama seperti daddy Jefry yang menjaga kalian, nah karna papa udah ketemu papa kandungnya Vino makanya papa kembalikan Vino sama papanya karna selama ini papa hanya menjaganya, sama seperti daddy Jef juga yang menjaga kalian selama papa nggak ada" jelas Marva panjang lebar
"jadi ibu gulu bohong?" tanya Zaafira kini berani mendongak menatap netra papanya
"ibu guru?"
"iya! ibu gulu balu bilang kalau papa sama mommy sampai punya adik bayi, Fiya sama Afi bakalan di buang ke yayasan kecil dan kumuh sepelti papa buang Vino di sana"
__ADS_1
guru baru?
"Apa ibu guru baru yang ngajarin Fira untuk memberikan mommy buah nanas sama durian?"
Marva mendesah resah melihat anggukan putrinya
"memangnya Zaafira cerita kalau mommy hamil sama guru baru kalian itu?"
"nggak papa, tapi gulu balu udah celita banyak sebelum papa kasih tahu di pelut mommy ada adik bayi"
"kamu tahu sayang ada guru baru di sekolah mereka?" Marva bertanya pada sang istri karna setahunya sekolah twins tidak memiliki tambahan guru baru. Gelengan kepala dari Manda menjawab pertanyaan Marva bahwa sang istri juga tidak tahu.
"memangnya sejak kapan guru baru kalian masuk?"
"hari selasa papa tapi bukan selasa kemarin. Afi nggak suka sama dia, soalnya selalu mau berdekatan sama Fira" jawab si sulung membuat Marva semakin menekuk keningnya
tapi bagaimana bisa guru baru itu meracuni pikiran Zaafira. siapa dia?
"nama gurunya siapa, nak?"
"ibu Sali"
"ibu Sari"
jawab twins barengan
Sari? mungkinkah wanita itu? Marva menggeleng samar mengusir pikirannya. ada begitu banyak nama Sari di Indonesia, tidak mungkin wanita itu. ya semoga saja bukan. tapi jelas nama itu membuat Marva tak tenang, sebuah nama yang mengarah pada satu sosok wanita yang ia temui beberapa bulan lalu dan pertemuan mereka berakhir tak baik
"jadi papa sama mommy tidak akan lupa sama Fiya kalau adik bayi udah kelual dali pelut mommy?" pertanyaan dengan nada memastikan itu terlontar dari mulut calon anak tengah Marva itu membuat lamunan Marva teralihkan
__ADS_1
"nggak sayang, nggak akan pernah kami lupa sama Fira... tapi..."
"tapi apa papa?" tanya Zaafira menuntut kala Marva mengantungkan kalimatnya
"tapi Fira juga harus jaga jarak sama uncle Mario. kalau uncle Mario datang Fira juga lupain papa tuh" keluh Marva diakhir
"oke, Fiya janji" kata anak itu tanpa pikir panjang sembari mengangkat jari kelingkingnya yang disambut jari kelingking besar Marva
"tapi Fiya akan beldosa papa kalau Fiya abaikan angkel Mayo" tutur anak itu setelah mengingat sesuatu
"Berdosa kenapa?"
"kan istli nggak boleh jauh-jauh dali suaminya sepelti kata papa"
"emang benar itu nak, tapi kan Fiya sama uncle Mario cuman kepona..."
"tapikan Fiya calon islinya angkel Mayo papa" potong anak itu membuat Marva mengerjab
"eh nak, nyebut Fira nyebut. Mario udah opa-opa kalau Fira udah dewasa" gemas sekaligus kesal, tak terima putri cantiknya masih saja teracuni oleh kalimat tak pantas si Mario sibujang lapuk
"kata angkel nggak apa-apa tua yang penting ganteng sama belduit. Fiya bisa beli banyak mainan dengan uang angkel, bahkan bisa beli satu mall, papa"
sontak pundak Marva melemas mendengar celotehan Zaafira, otak putrinya memang pintar, bahkan sangat pintar diusianya yang baru akan masuk enam tahun sehingga apa yang masuk disana langsung diterima dengan baik tanpa tau itu buruk atau tidak. putrinya cepat tanggap, namun kekurangannya, putrinya tak bisa memilah hal baik dan buruk.
"papa!!" pekik Zaafira ketika Marva mencomot potongan buah nanas dan langsung memakannya. Sigap Zaafira berdiri dengan tangisnya yang sudah pecah, bagai kesetanan Zaafira memukul tengkuk sang papa agar segera memuntahakan buah itu
"papa keluarin nanasnya, Fiya nggak mau papa mati huwaaa" jerit anak itu dengan tangan terus memukul keras tengkuk sang papa, mengabaikan Marva yang tersedak dengan wajah memerah
Bersambung...
__ADS_1