
Keadaan putranya kritis. Wanita paru baya itu tentu diliputi rasa khawatir. Terhitung 5 jam setelah Marva mendapat penanganan dokter tapi keadaan anaknya itu tak ada peningkatan. Marva masih belum sadarkan diri padahal luka yang dialami Marva hanya luka luar dan tak mengalami luka dalam yang berbahaya menurut hasil ct scan.
Ceklek
Sontak atensi Reni teralihkan dari wajah pucat putranya ke arah pintu
"mas" lirihnya sembari beranjak dari duduknya di dekat ranjang Marva kala melihat sang suami datang "bagaimana?" tanyanya menuntut
"Marva yang salah, ia membanting stir tanpa aba-aba saat laju mobilnya kencang membuat pengendara menabraknya dari belakang...dan dia dituntut untuk itu karna memakan korban" jelas tuan Phelan membuat Reni menatap sendu putranya
Bahkan Marva belum sadar tapi ia sudah di tuntut oleh keluarga korban. Tapi satu hal yang Reni maupun Phelan syukuri bahwa tak ada kerusakan menghawatirkan pada organ tubuh Marva kecuali kulitnya yang dipenuhi luka karna pecahan kaca mobil. Beruntunglah mobil yang dikendarai Marva memiliki pelindung tersendiri. Bayangkan jika tidak? Mungkin Marva sekarang tinggal nama. Kaca mobil yang tak tembus peluru itu saja bisa pecah karna hataman kuat dari mobil lainnya.
"kenapa Arva tak sadar-sadar, pah?" racau Reni mengelus lembut kepala Marva sesekali mengecup di sana untuk memberi kekuatan pada anaknya. Ia memang kesal pada Marva 4 tahun belakangan ini tapi kasih sayangnya tak pernah luntur pada buah hatinya itu
"sabar mah, anak kita kuat kok. dia hanya ingin beristirahat sebentar" ujar tuan Phelan sambil mengelus pundak lelah istrinya untuk memberikan kekuatan 'istrihatlah, karna esok ada banyak hal yang harus kamu selesaikan. Jangan jadi pecundang yang bersembunyi dibalik peristiwa ini' lanjut batin tuan Phelan menatap nanar putranya yang begitu menyedihkan
"anak ****** itu harus bertanggung jawab" desis Reni dengan mata nyalang. Ia yakin Marva habis menjenguk anak itu mengingat lokasi Marva kecelakaan tak jauh dari sekolah taman kanak-kanak
"mah" sela tuan Phelan tak menyukai nada bicara istrinya
"nggak. Dia harus bertanggung jawab. Karna dirinya putraku harus berakhir disini" bantah Reni, kemudian wanita itu bergeser untuk mengambil tasnya di atas nakas
"mama mau kemana?" tanya Phelan melihat pergerakan istrinya
"nitip Marva bentar pa, mama ada urusan" ucap Reni setelah mengecup singkat dahi Marva
"urusana apa? Dimana?" todong Phelan saat istrinya meraih tangannya untuk disalimi
"mama mau ambil baju ganti" dusta Reni
"ada bibik yang bisa antar kesini" jawab Phelan. Sebenarnya ia tahu jika tujuan utama istrinya bukan perkara pakaian ganti
"mama mau buat makanan kesukaan Marva dengan tangan mama sendiri. Kasian nanti dia bangun malah harus berhadapan dengan bubur hambar" Reni tak hilang akal. Ia yakin alasannya kali ini dipercaya oleh suaminya terbukti saat suaminya mengangguk kecil membenarkan ucapannya
"hati-hati mah, bilang sama ujang jangan ngebut" ucap Phelan yang diangguki oleh Reni
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=
Dan disinilah ia sekarang, wanita separuh baya dengan tampilan elegan namun terkesan sederhana itu melangkah anggun memasuki rumah Marva.
Reni menyapukan pandangannya,terhenti kala netranya membidik seorang anak kecil tengah bermain robot-robotan di ruang tv, seorang diri. Sepertinya bocah itu tak menyadari kedatangannya
"nyonya?" suara itu berhasil menyentak aktifitas Vino. Anak itu mendongak, memutar matanya, bola matanya langsung membesar kala melihat sang nenek tengah berdiri dan menatapnya tajam
"ne.. nek" bisiknya, ia tak berani mengeluarkan suara jika berhadapan dengan mama dari papanya itu
"nyonya kapan datang?" tanya seorang wanita berseragam merah muda yang hampir seumuran dengan Reni itu bertanya canggung kala ia sudah berada di dekat nenek anak asuhnya
"baru saja" jawab Reni datar sembari melihat ke arah tangan baby sitter Vino yang memegang dot susu
*anak ini sudah terlalu lama menjadi beban untuk putraku* batin Reni. Entah kenapa ia sangat tak menyukai anak dari mantan kekasih Marva itu, padahal Reni termasuk wanita yang sangat menyukai anak-anak, tentu terkecuali anak Maya itu.
Dan keberadaannya sore ini di rumah putranya tentu tak lain dan tak bukan untuk menjauhkan Vino dari Marva, agar hidup Marva tidak lagi dibenani oleh anak tak jelas asal-usulnya itu. Reni sudah muak melihat Vino terus merecoki kehidupan Marva, anak itu seolah tak tahu diri jika dirinya hanyalah anak pungut.
Reni memejamkan matanya mengurai kekesalannya, ia juga tak suka dengan sifatnya yang tak berbelas kasihan pada si Vino yang memiliki orang tua lengkap namun tergolong anak yatim piatu karna kedua orang tuanya itu membuangnya. Reni tak menyukainya karna kehadiran Vino membuat banyak masalah dalam hidup Marva. Selain karna kenakalan Vino membuat para wanita menjauh dari Marva, kehadiran Vino disisi Marva juga sering membawa malapetaka. Seperti yang tengah dialami Marva saat ini, terbaring lemah di rumah sakit sehabis dari sekolah bocah 4 tahun itu.
"tak usah, saya hanya sebentar"
"baik nyah"
Reni mulai mendekat ke arah Vino yang mematung dengan tubuh gemetar. Sebelum Reni sampai di dekat bocah itu, Vino langsung beranjak dan berlari dengan kaki kecilnya memasuki kamarnya
Langkah Reni terhenti, sudut hatinya sedikit mencelos melihat bagaimana reaksi ketakutan anak angkat Marva itu terhadapnya
*semengerikan itu kah aku di mata bocah itu?* batinnya bertanya dengan mata menatap arah perginya Arvino
mendesah, Reni hanya ingin Vino menjauh dari jangkauan Marva, ia bahkan sudah menyiapkan panti asuhan terbaik untuk anak yang tak memiliki ikatan darah dengan keluarganya itu. Reni menjadi donatur tetap selama belasan tahun di panti itu, jadi menurutnya itu adalah tempat yang cocok. kurang baik apa dia? Reni sudah mempertimbangkan semuanya, kelayakan hidup Vino, asalkan tidak lagi merecoki hidup Marva yang masih memiliki masa depan panjang. ia hanya seorang ibu yang ingin melihat anaknya bahagia dengan keluarga kecilnya yang akan memberikannya keturunan kandung. ia hanya berperan sebagaimana ibu lainnya.
Reni membalikan tubuhnya, ia langkahkan kakinya menyusul Vino di lantai dua. Ini kali pertama baginya selama 4 tahun memasuki kamar yang nuansanya penuh dengan toko fiksi spiderman berlatar merah itu
Reni langsung masuk karna pintu kamar tak tertutup. Alisnya terangkat melihat Vino tengah mengobrak abrik mainannya, dari kotak satu ke kotak lainya,bahkan anak itu juga membongkar laci-laci dalam kamarnya
__ADS_1
"pemberontak. Dia pikir saya akan prihatin melihat dia mengacau begini" gumam Reni tersenyum miris
Sebelah Alis Reni terangkat saat Vino tak lagi mengobrak abrik kamarnya setelah memegang sebuah... Buku berwarna pink
Dan anak itu dengan berani mendekat ke arahnya, walau Reni bisa melihat wajah ketakutan Vino tapi anak itu sepertinya tengah berusaha keras melawan ketakutannya
"ini hadiah untuk nenek" Vino mengulurkan buku itu di hadapan neneknya
Melihat penampilan neneknya yang hampir menyerupai warna buku itu, membuat Vino berinisiatif menghadiahi Reni buku itu. Ia hanya ingin menyenangkan hati wanita parubaya yang selalu tak melihat keberadaannya. Kali aja dengan memberikan hadiah kecil tanpa bantuan papanya, neneknya bisa luluh dan sayang padanya
Reni tak merespon. Matanya menatap Vino dan buku usang itu bergantian
"kamu memberikan saya hadiah hasih pungutan dari sampah mana?" tanya Reni dengan nada datarnya
"ino tidak memungut di tempat sampah. ino dapat dibawah lanjang kamal papa" sela Vino
"di dalam bukunya ada foto nenek, kakek, papa dan kakak cantik" lanjut Vino memberitahu. Ia memang sudah membuka buku itu, karna belum lancar membaca, jadinya ia hanya melihat sebuah foto disana. Ia mengenali semuanya selain wanita muda yang berpose dekat dengan papanya.
Bersambunggg...
#####
makasih masukannya kakak 🙏🙏
maaf kalau belum bisa memenuhi ekspektasi kalian.
saya juga hanya manusia biasako. yang kadang mager dan malas berhalu karna ada kerjaan dunia nyata yang lebih menguras pikiran, tapi kasihan dengan readers yang katanya digantungin bak jemuran jadinya aku memaksakan diri untuk nulis padahal idenya masih amburadul. jadinya yah kesannya asalkan update padahal konsepnya nggak mateng. heheheh
sebenarnya aku juga sadar sih, kalau beberapa tulisanku belakangan sangat gaje. tapi sudah resikonya aku yang serakah langsung post 2 cerita on going sekaligus. sekali lagi makasih supportnya. semoga bisa lebih baik lagi.
Salam Mickey Mouse 24
Dari Dunia Halu
__ADS_1