Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
Kunjungan


__ADS_3

Sehari sebelum kejadian di villa Marva


"Mommy mau pelgi ke Indonesia?" tanya Zafier yang tengah duduk di tepi ranjang menyaksikan mommynya menutup koper berukuran kecil yang sudah terisi dengan alat-alat kebutuhan Manda selama bepergian


"ia sayang, maaf yah mommy nggak bisa ajak kalian karna mommy disana hanya sehari, 3 hari dengan perjalanan" ucap Manda merasa bersalah, tapi ia lebih kasihan jika mengajak twins ikut bersamanya sedang rencananya ia hanya sehari di Indonesia, toh tujuannya hanya ingin memastikan keadaan Marva sesuai dengan apa yang ia dengar dari Radit.


meski penasaran dengan isi pesan Jefry tapi rasa penasaran akan keadaan Marva jauh lebih besar membuat Manda tak bisa menunggu Jefry apalagi lelaki itu mengabari jika dia masih di Thailand saat ini.


untuk saat ini Manda akan memastikan berita dari Radit mengenai keadaan Marva dulu, setelahnya Manda akan kembali dan mendengar versi Jefry. menurut Manda, sandiwara apapun yang Jefry Maksud mengenai Marva, tapi Radit tak mungkin membohonginya, apalagi bukan Radit yang memaksanya untuk mendengar kabar Marva tapi Manda-lah yang menuntut setelah tak sengaja mendengar perbincangan Radit. Radit tak mungkin merencanakan perbincangan itu layaknya di film-film karna setahu Radit bukan Manda yang akan meeting bersama.


"mommy disana mau kelja atau mau beltemu papa?" tanya Zafier pelan membuat Manda menghentikan pergerakannya dan menoleh ke arah putranya yang tampak bersedih


Ceklek


belum sempat Manda menjawab pertanyaan si sulung, si bungsu datang dengan wajah sendunya sambil memeluk boneka bintang pemberian Marva


"hei princess, sini sayang masuk" panggil Manda karna putrinya itu hanya terdiam di ambang pintu kamarnya, perlahan kaki kecil Zaafira melangkah mendekati Zafier alih-alih berjalan ke arah mommynya, anak batita perempuan itu mendudukan dirinya di samping Zafier sambil memeluk erat boneka bintangnya, matanya sesekali melirik ke arah mommynya yang juga tengah menatapnya bingung


"Fira kenapa, hum?" tanya Manda yang kini berjongkok di hadapan twins


"nggak papa" gumam Zaafira dengan mata yang sibuk kesana kemari menghindari tatapan mata mommy-nya membuat Manda mengulum senyum, gemas melihat ucapan Zaafira yang berbanding terbalik dengan ekspresi sedih anak itu.


"Fira mau ikut mommy?" tanya Manda memancing


"boleh?" tanya Zaafira cepat dengan mata berbinar


Manda menghela napas kemudian berdiri dengan lututnya dan membawa twins ke dalam pelukannnya

__ADS_1


"tapi nanti kalian lelah di perj..."


"Fiya ndak mau ikut kok" potong Zaafira


"hum?" Manda mengurai pelukannya dan menatap heran si bungsu, bukannya tadi semangat sekali bertanya meminta persetujuan untuk ikut serta?


"Fiya kangen sama papa, tapi Fiya tidak mau ganggu papa sebelum papa sembuh supaya tidak ngusil Fiya lagi" Manda mengerjab, terkejut dengan penuturan Zaafira


"kamu tahu dari mana papa sakit?" tanya Manda


"papa kan di lumah sakit waktu itu, kata kak Api, papa sakit makanya tidak mau diganggu dulu" jelas Zaafira menoleh ke arah sang kakak yang pernah memberitahukannya agar tak menangis karna diusir papanya, sebab papanya masih sakit makanya tak mau bertemu siapa-siapa dulu termasuk mereka, dan karna pengertian dari Zafier, Zaafira terus berdoa setiap hendak tidur agar papanya segera sembuh dan segera menjemput mereka sesuai janji papanya sebelum masuk rumah sakit.


nyess


hati Manda mencelos mendengarnya, ia tatap kedua buah hatinya bergantian dengan penuh rasa haru. terharu karna anak sekecil twins bisa berpikiran sepengertian itu sementara dirinya malah merasa paling sakit hati.


Manda hanya bisa menahan air matanya agar tak terjatuh dari kelopak matanya, sungguh besar harapan kedua buah hatinya untuk bertemu dengan papa kandung mereka membuat Manda terenyuh


"oh ya mom, tolong kasikan ini ke papa, ini gambal terbaik Fiya loh, spesial untuk papa, semoga kalau papa lihat gambal Fiya, papa bisa segela sembuh" Zaafira menyerahkan sebuah kertas yang ia sembunyikan dibalik bajunya ke Manda. kertas gambar berukuran kecil yang terlipat itu Manda buka, sontak ia gigit bibir dalamnya agar bisa menguasai emosinya yang sudah diujung ingin menangis melihat coretan tangan anak bungsunya yang berpola. sebuah gambar pemandangan khas anak batita yang cukup bagus juga garis-garis menyerupai orang tergambar disana, ada 4 orang yang saling bergandengan tangan, ada nama Mommy, Zaafira, Zafier, Papa di bawah gambar setiap orang


'semoga saja papa bisa lihat nak' batin Manda kembali melipat kertas itu menjadi lipatan kecil.


"Afi ada yang mau di titip, sayang?" tanya Manda beralih ke putranya


Zafier menggeleng kecil, tapi kemudian mengangguk kecil "tolong bilang ke papa suluh tepatin janjinya untuk mengajarkan Api naik sepeda. papa udah janji jadi Api akan tetap tunggu" ucap Zafier pelan yang diangguki Manda, kemudian wanita cantik itu menarik ke dua buah hatinya kembali ke pelukannya


"mommy akan menyampaikan pesan kalian, jangan bersedih lagi yah" ujar Manda membujuk twins agar kesedihan tak lagi menghiasi wajah kedua buah hatinya

__ADS_1


______


setelah menempuh belasan jam perjalanan antara Amerika dan Jakarta, kemudian melanjutkan beberapa jam dari ibu kota ke sebuah kota kecil, disinilah Manda sekarang, berbekal informasi dari Radit, Manda berada di sebuah perkampungan yang berudara segar, karna lokasinya yang berada di puncak


dengan perasaan berdebar, Manda turun dari mobil. ia langkahkan tungkainya menuju teras villa berlantai dua itu.


langkahnya terhenti kala mendengar tawa beberapa orang dari dalam. ia menoleh ke arah halaman, ada sebuah mobil terparkir disana. sepertinya Marva tengah kedatangan tamu. tapi bukankah keadaan Marva memprihatinkan? lalu tawa itu? untuk tawa bahagia kah? atau jangan-jangan ini semua hanya...


belum sempat pikiran buruknya terlontar, Suara histeris dari dalam rumah di sertai bunyi debuman seperti tengah menghantam dinding membuat Manda terkesiap.


ia langkahkan kembali kakinya menuju pintu, melalui pintu yang sedikit terbuka itu Manda bisa melihat keadaan ruang tamu. disanalah ia hanya mampu berdiri diam saat melihat dan mendengar satu keluarga yang terdiri dari empat orang tengah membahas sesuatu hal yang mampu membuat Manda syok.


tentang Raina yang ternyata adalah wanita itu, dan bagaimana Marva memohon agar tak menganggu hidupnya demi kebahagiaannya bersama twins dan Jefry


"kenapa kamu melakukan semuanya?" gumam Manda dengan air mata yang berderai "kenapa kamu harus berubah seperti ini?" Manda kecewa, kecewa pada dirinya yang belum bisa memaafkan dan pada sikap Marva yang membuatnya merasa bersalah


belum sempat Manda mengurai rasa sesak di dadanya, ia kembali di landa keterkejutan saat keluarga itu keluar dengan Marva yang berada di gendongan Phelan tengah tak sadarkan diri.


"apa yang terjadi padamu, Marva?" gumam Manda yang tengah bersembunyi di samping Villa, menyaksikan bagaimana Phelan begitu ringan membopong tubuh besar putranya memasuki mobil


setelah mobil Phelan melaju, Manda segera menuju mobilnya dan menyuruh sopirnya mengikuti dari belakang.


"mami tolong antar twins ke Indonesia, aku butuh twins saat ini" tulis Manda pada aplikasi pesan yang ia kirimkan pada Aline


"jangan kenapa-napa Marva, tolong jangan buat twins bersedih lagi" monolog Manda sebelum ikut turun saat mobil telah sampai di sebuah rumah sakit sederhana


Bersambunggg...

__ADS_1


__ADS_2