
Manda tersentak kala terbangun langsung mendapati tatapan intens dari seorang lelaki di sampingnya. ia lantas beranjak bangun dan sontak mendapat bantuan dari lelaki itu
"kamu siapa?" tanyanya setelah lelaki itu selesai membantunya mengatur posisi duduk senyaman mungkin.
alih-alih terkejut Marva malah merotasikan bola matanya, lalu lelaki itu berucap sembari menegakan kembali tubuhnya "suaminya Bila, papanya Zafier dan Zaafira"
"aku siapa?" kembali Manda bertanya dengan menunjuk dirinya sendiri
"istrinya Marva"
"aku dimana?" mata Manda memindai ruangan
"di hotel putih"
"ck! ini mah kamar rumah sakit"
"nggak salah putri gue banyak drama, keturunan mommynya sih" gumam Marva berdumel
"anda mengatakan sesuatu?"
"anda, anda, aku suami kamu"
"loh suami aku? bukannya situ suaminya... siapa tadi Ang...oh Bila? anda punya istri dua"
"masih marah?" oke Marva mengalah, lelaki itu bertanya setelah duduk di samping sang istri, tangannya meraih sebelah tangan sang istri yang terbebas dari selang infus. tak tahukah Manda beberapa saat lalu Marva ketar ketir memikirkan keadaannya. sebelum berangkat ke rumah sakit, istrinya itu sempat sadar namun kala melihat wajahnya Manda kembali pingsan.
"sayang,, mas minta maaf. semua itu hanya kesalahpahaman" melas Marva dengan nada penuh sesalnya
"mau dengar cerita mas?" tanya Marva saat tatapan Manda sudah melembut. pertanyaan Marva tentu diangguki tipis oleh Manda
dengan semangatnya dan penuh kejujuran Marva menceritakan awal mula kronologi bagaimana belakangan ini ia menghabiskan banyak waktunya di luar hingga berakhir ponselnya berada di tangan Anggi
"kenapa nggak cerita?"
"mas nggak mau bebanin pikiran kamu, sayang"
__ADS_1
"tapi kalau kek gini jatuhnya aku yang salah"
"nggak. kamu nggak pernah salah. mas yang salah kok karna nggak terbuka masalah kantor" ralat Marva sembari mengecup berulang kali tangan istrinya. kelakuannya benar-benar menggambarkan seorang lelaki bucin
"maaf" lirih Manda yang dijawab gelengan kepala oleh Marva
"mas bilang kamu nggak salah sayang"
"soal pintu darurat"
"nggak masalah. mas memang nggak mau menganggu kalian kok, serius deh"
"tapi aku lihat cctv pelataran, Mas menunggu lama di sana, mas pasti capek nungguin aku buka pintu"
"nggak sayang, udah nggak usah bahas kejadian itu lagi yah, sekarang ini ada hal pen..."
"tapi kenapa wanita itu mengaku-ngaku bakal calon madu aku?" tanya Manda memotong ucapan Marva, air wajah wanita itu yang tadinya sendu berubah dingin "kamu kasih harapan sama dia?"
"tidak sayang, demi Tuhan!" jawab Marva cepat sembari mengangkat telunjuknya ke atas.
"aku ingat siapa dia, dia pernah datang enam tahun lalu di rumah dan mengaku salah satu teman ti..." ucapan yang awalnya penuh dengan nada mencemooh itu terhenti kala Manda menatap tepat mata Marva yang memancarkan binar sesal. bukannya merasa puas Manda malah merasa tak tega melihat raut wajah suaminya yang pias
"Bil, lihat mas" Marva meraih wajah istrinya lalu menangkupnya agar Manda menatapnya, lelaki itu menyorot dalam netra wanitanya, menghela napas panjang sebelum kembali berucap "mas tahu masalalu itu akan terus jadi bagian dari ingatan kita, kamu sakit tapi mas lebih sakit, sakit karna sebuah penyesalan yang tiada berujung, sakit karna kenyataan bahwa mas kotor sedang kamu wanita baik-baik, sakit karna harus menjadi pria brengs*k yang tak bisa melepasmu karna terlalu mencintaimu, sakit ketika melihat twin secerdas itu dan tumbuh dengan baik tanpa mas di hidup mereka selama tiga tahun juga di masa mereka masih dalam kandunganmu. maaf, tapi mas lebih baik menderita dengan ingatan itu dari pada harus melepasmu. maaf, karna mas tak tahu diri" tuturnya dengan mata yang sudah meneteskan air mata, lelaki itu mengambil napas sejenak "tapi satu hal yang bisa kamu pegang atas kesungguhan mas, bahwa seluruh hidup mas, jiwa dan raga semua hanya untukmu dan anak-anak kita"
"mengenai Anggi dia teman kuliah mas, dia dari awal memang terobsesi pada mas tapi waktu mas ada pacar bahkan saat kita menikah dan saat kamu pergi dulu, Mas tidak pernah menyentuhnya" lanjut Marva jujur
"mas nggak tahu akan ada Anggi-Anggi lainnya di kemudian hari yang akan mengaku-ngaku, satu yang mas minta, tolong terbuka pada mas. mas janji akan terbuka juga walau masalah sekecil apapun, jadikan kejadian ini sebagai pelajaran untuk kita mendewasakan diri, setiap masalah mari bicarakan baik-baik, jangan langsung berasumsi sendiri yang akan menguncang mentalmu" setelah menyelesaikan kalimatnya dan mendapat anggukan kecil dari Manda, Marva membawa tubuh istrinya ke dalam dekapan "sungguh mas mencintai kamu lebih dari diri mas sendiri, sayang"
ceklek
pasangan suami istri itu refleks menoleh ke arah pintu dengan posisi telah mengurai pelukan masing-masing
"maaf pak, bu, saya menganggu.."
"tidak, tidak dok, silahkan" jawab Marva sembari berdiri dan mempersilahkan dokter memeriksa keadaan Manda
__ADS_1
"ibunya sudah diberitahu pak?" tanya dokter ke arah Marva
"belum dok" jawab Marva yang dibalas senyuman tipis oleh dokter
"saya kira sudah pak, soalnya udah pelukan sampai terharu gitu" ucap dokter melihat bergantian wajah pasien dan suami pasien yang sama-sama sembab
Marva balas tersenyum berbeda dengan Manda yang kebingungan
"saya tunggu pernyataan resminya dok" jawab Marva sembari melirik sebuah surat yang ada di saku si dokter
"saya periksa dulu ya, bu" ucap dokter dengan ramah sembari mengecek keadaan Manda yang hanya menurut
"apa ibu ada keluhan?"
"keluhan?"
"sakit kepala ataukah lemas, atau mungkin kram perut?"
"nggak dok, saya rasa baik-baik saja sekarang, tubuh saya juga enteng, tapi tadi pagi... bukan cuman tadi pagi sih, saya sering merasa lemas aja tapi hanya sebentar terus baikan lagi. itu tidak masalah kan dok? saya tidak ada penyakit berbahayakan?" tanya Manda khawatir setelah menyadari jika seminggu belakangan ini tubuhnya kadang lemas padahal tenaganya sudah tak terforsir banyak mengingat dirinya seorang pengangguran sekarang ini.
"itu biasa terjadi untuk wanita hamil, bu. tapi meski begitu ibu tidak boleh banyak beban pikiran sehingga kejadian seperti ini tak terjadi lagi, karna ibu hamil itu rentan drop ketika memiliki banyak pikiran"
"ha..hamil?" tanya Manda terbata, terkejut tentu saja
"iya bu, usia janinnya sudah empat minggu. selamat yah bu pak. ini kehamilam pertama atau kedua?" tanya dokter
"kedua dok" itu suara Marva yang menjawab sebab Manda terlihat masih berada di dunia tercengangnya
"baik, jadi bapak tentu tahu pantangan untuk wanita hamil ya. kandungannya sehat, tapi tetap saja bapak harus menjaga ibunya sama seperti kehamilan pertama yah" ucap dokter merasa lega karna pasiennya sudah mengalami pengalaman mengenai kehamilan
tahu? menjaga seperti kehamilan pertama?
Marva mengangguk namun hatinya serasa disentil keras
"ini surat resmi yang bapak tunggu, silahkan dibaca. saya juga sudah menuliskan jadwal cekupnya yah, kalau misal ibu ada keluhan silahkan hubungi saja kontak saya" ucap dokter lalu setelahnya pamit undur diri
__ADS_1
"mas, aku hamil?" pertanyaan dengan nada datar itu mengalihkan atensi Marva dari serangkaian kata yang tertulis di selembar kertas yang tertera nama Manda sebagai istri dan Marva sebagai suami dari ibu hamil itu.
Bersambung...