
senyum Manda yang ditularkan twins seketika memudar kala suara memekan telinga menghantam indera pendengarnya
pip pip pip piiiiiiiiiiiippp
belum reda dengungan telinganya, Manda yang dilanda panik seketika tulang-tulangnya melemah menyaksikan mobil kontainer melaju ke arah mereka, alih-alih lari ia malah mematung di tempatnya dengan tangan yang meremas kuat tangan kecil Zaafira, saking paniknya harus menghindar kemana sedang mobil yang terus membunyikan klakson memekakan telinga itu sudah berada di depan matanya
sinetron banget kan? bedanya dia tidak berteriak 'aaaaaaa' sebab suaranya-pun tiba-tiba hilang dilanda panik
skiip
( yang pernah ngerasain panik yang benar2 diambang batas pasti tahu gimana posisi Manda. sebab autor pernah mengalami kepanikan yang hampir sama. kejebak dalam kamar saat gempa yang mengguncang kota mamuju dan merobohkan beberapa bangunan beberapa waktu lalu, orang tua pada teriak suruh keluar tapi aku nggak bisa gerak, hanya bisa memegang besi ranjang kuat2, lutut pada lemes. menggapai pintu kamar rasanya sangat jauh dan mustahil aku raih. isi kepala terus bilang bangun dan masuk ke kolom ranjang springbed saja. sebab kalau atap runtuh mampus sudah tubuh ini, tembok runtuh mati sudah, tapi tulang-tulang benar-benar nggak bisa di ajak kerja sama sampai aku hanya bisa terbaring pasrah karna bergerakpun sama sekali tidak bisa,, tapi Alhamdulillah, Allah masih kasih umur panjang bersama keluarga, rumahpun selamat meski ada beberapa keretakan kecil di tembok.. ehhh curhat jadinya. hahahahh
oke balik ke cerita...
Pip Piiiiiiiiiiiipppp
Brukh
Dugh
Manda meringis kala ia terhempas kuat ke tanah setelah tangan seseorang menariknya kasar menjauh dari posisinya yang hampir terbunuh sia-sia. seseorang yang menariknya tidak menahan tubuhnya hingga ia berakhir terjerambat menghantam tanah
twins?
mengabaikan rasa sakitnya ketika tersadar akan nasib twins, Manda segera mengedarkan pandangannya, bernapas lega kala melihat twins berada dalam dekapan seseorang yang tak jauh dari tempatnya.
"Marva.."
Marva tengah berlutut sambil memeluk erat tubuh kedua buah hatinya, mengelus lembut punggung keduanya guna mengurai keterkejutan twins
"udah tidak apa-apa sayang, udah-udah, udah aman, ada papa disini" lirih Marva menenangkan
Marva kemudian mengedarkan pandangannya dan meringis ngilu melihat kepala mobil kontener menembus tembok pagar. tulang-tulangnya baru terasa melemah melihat itu, ia tak bisa membayangkan jika ia lambat meraih kedua anaknya dan mantan istrinya tadi.
ia memejamkan matanya mengucap syukur yang paling tulus atas kebaikan sang pencipta masih memberikannya kesempatan untuk menyelamatkan mereka. bolehkah ia beranggapan kalau Tuhan sempat meminjamkannya sayap tadi? bagaimana bisa ia bisa tepat waktu menarik ketiga orang tercintanya saat jaraknya belasan meter sedang mobil hanya beberapa meter dari tubuh Manda dan twins? oh sungguh baiknya sang pencipta pada dirinya yang penuh kubangan dosa
"mommy" lirihan twins membuat Marva menegang
__ADS_1
bagaimana kabar wanita itu?
sontak Marva mengurai pelukan dan mengedarkan kembali pandangannya, mencari sosok wanita itu yang ternyata berada sekitar 5 meter darinya. sejauh mana wanita itu terhempas? marva meringis membayangkan keadaan Manda, ia tadinya hanya mampu menarik Manda untuk menjauh sebab ada twins yang harus ia angkat
Marva meraih kedua anaknya ke dalam gendongannya kemudian berusaha berdiri
"papa nggak pa-pa?" tanya Zafier saat Marva sedikit oleng ketika berdiri
"nggak pa-pa sayang" jawab Marva memberikan senyum untuk meyakinkan twins. ia sedikit oleng saat berdiri karna memang lutut dan tulang-tulang kakinya belum sepenuhnya berfungis baik setelah melihat keadaan mobil yang hampir membuat anak-anak dan mantan istrinya berakhir tragis
beranjak mendekat ke arah Manda, bukannya menolong wanita itu, Marva malah memberikan tatapan tajam
"bodoh. kamu mau membunuh anak-anakku!" cercahnya kemudian, sungguh tak ada niat memarahi Manda namun ia jelas merutuki kebodohan Manda yang berdiri diam seperti orang pasrah tadi
(memang jika tak mengalami tak akan mengerti bagaimana ketakutan seseorang, dulu akupun dimarahi sama orang tuaku akan aksi pasrahku, mereka nggak tahu kalau kita juga pengen lari tapi bagaimana lagi kalau ketakutan melumpuhkan otak dan tulang-tulang)
"papa"
"kenapa sayang?" Marva mengalihkan atensinya kepada sang putri yang tengah memeluk erat lehernya dengan kepala kecil Fira menyander pada bahu kirinya
"ini kenapa ada ketuk-ketuk?" tanya Zaafira membuat Marva menunduk ke arah tangan kecil putrinya yang tepat berada di dada kirinya.
melihat ekspresi putrinya membuat Marva terkekeh di atas keterkejutannya.
"nggak ada orang lain selain kalian disana sayang" tutur Marva menunjuk dengan dagu ke arah dada kirinya yang tertutupi tangan kecil Zaafira. "itu namanya jantung papa nak, kalian berdua lah penghuni jantung papa, kalian pemilik jantung papa, jadi jika kalian pergi dari papa itu tak akan hidup lagi dan papa akan mati" lanjut Marva kemudian melabuhkan kecupan di dahi masing-masing twins yang memeluk kuat-kuat lehernya namun tak membuat Marva keberatan
"kita nggak akan pergi asalkan papa juga nggak pergi. yakan dek?" Zafier bersuara meminta dukungan dari sang adik yang di jawab anggukan semangat dari Zaafira, kemudian kedua anak itu mendaratkan kecupan di pipi sang papa membuat hati Marva menghangat.
aksi twins dan papanya itu rupanya mendapat tatapan datar oleh seorang wanita yang masih belum mendapatkan pertolongan. sopir kontainer saja sudah di evakuasi, tapi dirinya masih terduduk dengan pantat sedikit nyeri juga hati sedikit panas. panas melihat Marva hanya peduli pada twins dan mengabaikannya. lelaki itu bahkan hanya memarahinya. tak peka kah Marva jika ia juga korban? tak peka kah Marva jika ia juga butuh di tenangkan seperti twins karna guncangan ketakutan akan kejadian barusan yang hampir membuatnya mati muda?
lelaki itu hanya peduli sama anak-anaknya. emang siapa dirinya di mata lelaki itu, hanya mantan istri. pernyataan cinta lelaki itu sama sekali tak bisa di percaya. kesal Manda dalam hati
"shs" suara ringisan Manda yang berusaha berdiri membuat Marva menoleh
"butuh bantuan?" tawar Marva saat melihat Manda kesusahan berdiri. ingat wanita itu cukup jauh terpelanting saat Marva menariknya, jadi sebagian tubuhnya pasti sakit.
"nggak" jawab Manda cepat
__ADS_1
mengehela napas panjang kala Manda hanya menatapnya datar, Marva kemudian menurunkan twins dan mengulurkan tangan ke arah Manda untuk membantu wanita itu berdiri
Manda meraih tangan besar itu namun rupanya ia masih kesusahan menopang tubuhnya
"maaf" Marva memegang bahu Manda setelah mengucapkan maaf dan membantu wanita itu berdiri
"untuk lancang menyentuh calon istri orang lain" tutur Marva saat Manda malah mengerutkan kening akan permintaan maafnya
Deg
seberubah itukah Marva?
alih-alih mengucapkan nggak papa atau terimakasih atas bantuan Marva, Manda malah mendengus
kenapa rasanya kesal juga saat Marva kini menatapnya tak lagi sama seperti beberapa minggu lalu, lelaki itu sekarang lebih menghindari tatapan matanya dan jelas memperlihatkan jarak.
Marva benar-benar menghargainya sebagai calon istri orang lain, bukan lagi wanita yang ingin dia perjuangankan
"Fila awas!" teriak Zafier membuat atensi Manda dan Marva teralihkan
disana Zaafira tengah mendekat ke arah mobil, batita perempuan itu hendak mengambil tasnya yang tertinggal, bukan itu yang membuat jantung Marva dan Manda berhenti berdetak, tapi tembok tinggi yang bergerak
"pegang Zafier" titah Marva sebelum berlari kencang ke arah Zaafira, Manda menarik Zafier yang hendak berlari ke arah adiknya
Brukh
"papa!"
"Fira!"
teriak Manda dan Zafier bersamaan dengan runtuhnya tembok menimpah tubuh belakang Marva yang berhasil merengkuh tubuh Zaafira dari atas
"kamu nggak papa sayang?" tanya Marva pada Zaafira dibawahnya. pagar tembok hancur berserakan di dekat mereka
"nggak papa papah" cicit Zaafira "pa, kenapa ada dalah di baju Fiya?" tanya Zaafira melihat tetesan darah di bajunya, kemudian kepala anak itu mendongak ke belakang melihat wajah papanya "kenapa ada dalah di wajah papa? hiks hiks" tanya anak itu menangis ketakutan melihat banyaknya darah mengalir dari kepala papanya
"nggak papa sayang, papa kuat asalkan anak-anak papa selamat. tapi sepertinya papa ngantuk, papa mau tidur bentar yah" ucap Marva dengan nada semakin lemah hingga ia benar-benar menutup matanya, pelukan pada tubuh kecil Zaafira melemah hingga terlepas bersamaan tubuh kekar itu jatuh ke samping, tergeletak di antara reruntuhan
__ADS_1
Bersambungggg...