Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
Dilema


__ADS_3

Warning!!! ketikan kilat, jadi mungkin ada beberapa typo karna aku malas baca ulang sebelum upload


_ _ _ _ _ _ _ _ _ _


Setting? Marva bersandiwara dengan... adiknya? siapa adik Marva yang di maksud Jefry?


oh iya, Marva kan dua bersaudara. ingat Manda setelah lama berpikir. ya, ia memiliki mantan adik ipar yang tak pernah Manda temui karna adik Marva itu tengah kuliah diluar negeri. acara nikahannya yang memang di gelar tertutup tak membuat mantan adik iparnya itu menampakan batang hidungnya di hari akad hingga Manda pergi menjauh dari kehidupan Marva di lima bulan usia pernikahannya. Manda tahu sosok itu dari cerita Reni dan sebuah foto besar yang tergantung di ruang tamu rumah mantan mertunya. namun karna dirinya yang datang ke rumah Phelan hanya hitungan jari saat ia masih bertahan disisi Marva tak membuat Manda mengingat jelas rupa adik dari mantan suaminya itu. yang jelas adik Marva adalah seorang wanita.


tapi ada apa dengan mereka hingga Jefry mengirimkannya pesan yang menuduh keduanya bersandiwara?


sandiwara apa yang Marva dan adiknya lakukan hingga memancing Jefry ingin membongkarnya?


Manda menghela napas panjang sambil berjalan mondar mandir di dalam kamarnya memikirkan isi pesan Jefry dan juga cerita dari Radit


Dilema


antara menunggu Jefry atau menjenguk Marva seperti tujuan awalnya? mana yang harus ia pilih?


lagi-lagi Manda menghela napas panjang, seolah helaan napas panjang bisa mengurangi kekacauan pikirannya. kenapa kehidupannya begitu rumit?


ingin sekali ia lari dari semua kekacauan yang terjadi tapi ia bukan wanita seperti itu, karna prinsipnya masalah ada untuk dihadapi dan diselesaikan.


_ _ _ _ _


Marva tengah berdiri di balkon kamarnya, mendongak dengan kelopak mata terbuka tapi bukan untuk kenikmati bintang melainkan hanya sekedar menikmati dinginnya udara malam yang menusuk hingga kalbunya


walau bibirnya melengkung ke atas tapi wajahnya tak bisa menyembunyikan jika lelaki itu tengah bersedih.

__ADS_1


"malam, tolong sampaikan rinduku pada kedua buah hatiku yang jauh di sana" lirih Marva


"papa rindu twins, papa rindu dengan celotehan dan pelukan kalian berdua nak, tapi papa nggak pantes dapat itu, papa ini orang cacat yang hanya akan membuat kalian malu" monolog Marva dengan mata berkaca-kaca. sebelah tangan lelaki itu yang tak memegang tongkat terangkat memukul-mukul dadanya, berharap rasa sesak di dalam sana berkurang


"sekarang kalian sudah memiliki daddy, suami sah mommy kalian, yang memang selalu ada untuk kalian dibanding papa yang bertahun-tahun menelantarkan kalian juga mommy kalian. jadi berbahagialah dengan keluarga baru yang mommy kalian inginkan nak, maafkan papa yang nggak bisa menepati janji pada twins"


"papa hanya bisa mengirim doa agar kebahagian selalu menyertai kalian" dan tumpahlah sudah air mata itu bersamaan dengan turunnya rintik hujan


di ambang pintu, Rain ikut menitikan air mata mendengar untaian rindu sang kakak pada malam yang ditujukan untuk twins. keponakan kembarnya yang baru ia tahu beberapa hari lalu setelah Marva menceritakan alasan kenapa ia harus berakhir disini.


kecewa? jelas. Marah? sudah pasti, tapi melihat penyesalan kakaknya, pengorbanan dan penderitaan kakaknya membuat Rain iba. Rain berusaha memahami dan perlahan mulai menerima, toh bagaimanapun masalalu Marva tak mampu memutus ikatan darah di antara mereka. saat ini Rain dan Marva hanya perlu hidup untuk saling menguatkan sebagaimana suadara kandung yang saling mendukung.


'kasihan sekali kamu kak' batin Rain


'haruskah aku membantumu? perlukah aku memanfaatkan bayi ini untuk mengembalikan orang-orang tercintamu?' lanjut Rain dalam hati sambil mengelus perut ratanya


"kak?" panggil Rain akhirnya saat suara isak tangis Marva mulai terdengar sesegukan


"rain? kenapa belum tidur?" lihatlah, betapa sok kuatnya lelaki itu, segera ia menghapus air matanya dan mengembalikan ekpresinya sebelum berbalik ke arah sumber suara


"kakak sendiri kenapa belum tidur?" tanya balik Rain melangkah mendekat, kemudian menuntun kakaknya memasuki kamar Marva "agak ke kiri" beritahu Raina membuat Marva menggeser tongkat pintarnya sesuai intruksi Rain


"kakak cuman pengen menikmati udara malam" jawab Marva


"apa udara malam begitu bagus sehingga kakak rutin menikmatinya setiap malam?" sarkas Rain "nggak baik loh kak, apalagi keadaan kakak belum sepenuhnya stabil" lanjut Rain mengingatkan. Marva memang masih sering mengeluh mengenai sakit kepalanya.


"iya iya ibu dokterku, di mengerti" canda Marva membuat Rain mendengus gemas

__ADS_1


"tunggu, Rain ambilkan obatnya" ucap Rain setelah mendudukan Marva di pinggir ranjang


"aaa" ucap Rain membuat Marva membuka mulut menyambut obat dari tangan Rain "nih minumnya" Rain dengan telaten membantu Marva menegak air


"sekarang kakak tidur, nggak usah mikirin yang udah pergi dari kita" ucap Rain sambil membantu Marva berbaring


"Terimakasih Rain"


"untuk?"


"untuk semuanya. untuk pengertianmu dan kebesaran hatimu dek. maaf kakak nggak bisa jadi kakak yang baik, maaf kakak nggak bisa memperjuangkan hakmu" tutur Marva berhasil membuat air mata Rain jatuh. entahlah, belakangan ini Rain sangat emosional.


"Rain cukup memiliki kakak, mama dan papa. bahagia Rain ada sama kalian bertiga, Rain nggak butuh siapapun lagi" ujar Rain tegas


"selamat istirahat kak" lanjut Rain cepat saat melihat Marva hendak membalas ucapannya


cup


"mimpi indah kakaku sayang" ucap Rain sambil menaikan selimut Marva setelah mendaratkan kecupan selamat malam di dahi Marva


"selamat malam adik cantikku, semoga mimpi indah" balas Marva sambil mengelus kepala Rain


Rain beranjak keluar setelah memastikan kakaknya bersiap tidur, namun langkah Rain terhenti ketika di ambang pintu kamar. ia menoleh menatap dengan tatapan iba pada kakaknya.


Rain iri pada sosok wanita yang menjadi mantan kakak iparnya, iri karna bisa dicintai begitu besar oleh lelaki yang rela mengorbankan apapun demi kebahagiaan wanita itu, rela menderita dengan cinta sendirian. sungguh besar cinta kakaknya pada wanita itu.


"tidur yang nyenyak kak, Rain harap besok tak ada lagi kesedihan di wajah kakak, mari kita sama-sama belajar ikhlas menjalani takdir rumit kita" gumam Rain sendu sebelum ia menutup pintu kamar kakaknya dan menuju kamarnya sendiri

__ADS_1


Bersambunggg...


__ADS_2