
harapannya pernah pupus tak bersisa, dibenci oleh wanita pemilik hatinya dan tak dikenali oleh kedua buah hatinya yang ia telantarkan meski tanpa sadar, ditambah perjuangannya yang hampir setiap hari mengunjungi rumah kedua orang tuanya untuk meminta pengampunan namun bukannya ia dimaafkan ia malah dianggap manusia tak kasat mata oleh kedua pasangan baya yang telah mengantarkannya ke dunia ini. namun entah turun dari langit ke berapa keberuntungan menghampirinya saat ia mulai menyerah untuk berharap bahagia.
kedatangan Reni secara langsung ke kantornya menjadi suntikan pengisi daya untuknya.
kedatangan Reni kemarin dengan nada perintah yang terselip akan sebuah dukungan untuk memperjuangkan maaf dari Bila dan twins membuat beban hidup yang tengah ia pikul mati-matian sedikit berkurang, walau wanita bayanya itu masih sinis padanya, tapi bagi Marva, mendapatkan restu dari pemilik surganya sudah cukup untuk menyelamatkan jiwanya yang hampir kehilangan hasrat untuk melanjutkan hidupnya.
ia tidak bisa memastikan akan bagaimana akhir dari perjuangannya, hanya saja ia percaya bahwa akan selalu ada jalan bagi manusia yang berusaha. besar harapannya agar kesempatan kedua bisa ia peroleh dari Bila dan kedua buah hati mereka. setidaknya untuk sekarang ia akan mencoba cara yang paling aman dan manusiawi dan jika itu tak mempan maka ia akan menjalankan cara lain, memang belum terpikirkan rencana lain itu apa, hanya saja Marva akan melakukan apapun untuk mendapatkan miliknya kembali. ya, cara apapun.
dan disinilah ia berada sekarang, setelah menempuh belasan jam perjalanan udara, Marva tiba di sebuah landasan pacu di pusat kota, Amerika.
ia tersenyum miris, rupanya negara yang sekali setahun ia kunjungi dalam urusan bisnis beberapa tahun ini adalah tempat persembunyian sang wanita. pantas saja ia tak menemukan jejak Bila walau dalam 4 tahun para orang-orangnya sudah menyisiri semua wilayah Indonesa. salahnya yang terlalu meremehkan takdir bahwa Bila tak mungkin pergi jauh darinya, dari negara Indonesia, mengingat keuangan wanita itu dulu hanya bergantung pada tabungan hasil kerja paru waktunya saat Bila masih sekolah dulu.
takdir benar-benar misterius.
Marva menghela napas panjang sebelum menggeret kopernya. lelaki beralis tebal itu melangkahkan kakinya keluar dari pintu kedatangan dari Indonesia di negeri paman Sam itu, negara yang akan menjadi saksi bagaimana akhir dari penyesalan dan perjuangannya
"papa datang twins" monolog Marva
bisakah dan mampu kah ia mengubah semuanya saat sudah terlalu lama ia hancurkan?
sedang di tempat lain masih dengan negara yang sama, Manda telah dibuat pusing akan tingkah si bungsunya. putri cantiknya itu kembali berdrama yang membuat seisi rumah heboh. rapat pentingnya ia tinggalkan begitu saja, bahkan paman si twins yang hendak terbang ke negeri tetangga membatalkan penerbangannya gara-gara ekting adik tujuh menit Zafier itu.
"tepala Fiya cakit cekali" rengek batita perempuan itu yang masih setia menyembunyikan tubuh mungilnya di balik selimut
"yaudah, uncle periksa yah. buka selimutnya dong princess, gimana cara uncel bisa nyembuhin sakit kepalanya Fira kalau tidak mau keluar dari selimut" bujuk Mario berusaha tenang, lelaki itu duduk di pinggir ranjang dengan tangan takut-takut menyentuh selimut sang keponakan, pasalnya Zaafira akan menangis kencang jika ada yang berani menyentuhnya. sedang Manda bersedakap dada di samping ranjang, ia tahu jika sang anak tengah berdrama. mana pernah Zaafira sakit tanpa butuh pelukannya. lah ini, anak itu bahkan membungkus rapat dirinya seolah tengah merajuk alih-alih kesakitan
__ADS_1
pantas saja pulang sekolah langsung minta pulang, nyatanya mau buat seisi rumah heboh akan drama konyolnya
"Fira nggak sesak? buka selimutnya yah cucu cantiknya momma" Caroline ikut membujuk
"ndak mau!" pekiknya sambil memukulkan kedua kakinya di badnya
"Zaafira" tegur Manda mulai hilang kesabaran akan tingkah sang anak
"tepala Fiya atan cembuh talau daddy Jef pulang!" kan, drama emang
"daddy Jef sedang kerja sayang" Manda kembali mencoba memberi pengertian. ya, kepulangan mereka 3 hari lalu juga menjadi hari Jefry harus berangkat ke Belanda untuk seminar internasional yang dimana lelaki tampan itu yang menjadi pembawa materinya, jadi Jefry mau tidak mau harus hadir. bukan hanya di Belanda, tapi beberapa negara lainnya, hingga Jefry baru bisa pulang beberapa hari kedepan. mereka hanya sempat bersama beberapa jam sebelum keberangkatan Jefry. lagian kedatangan Manda dan twins yang tiba-tiba membuat Jefry tak bisa mengatur jadwalnya. toh rencana sebelumnya, Jefry akan menjemput mereka setelah acara seminar keliling dunia itu selasai, namun Manda malah datang lebih awal.
membuat twins yang memang menaruh kesedihan saat meninggakan Indonesia jadi uring-uringan 3 hari belakangan ini. dua batita kembar itu butuh pelampiasan, dan mereka butuh sosok Jefry untuk membuat mereka lupa akan kehangatan singkat yang pernah Marva beri.
berbeda dengan Zaafira yang terang-terangan buat drama, Zafier malah kebanyakan diam termenung. ia merindukan Jefry dan juga lelaki dewasa yang berlutut di depan mereka saat memohon maaf waktu di rumah sakit.
lamunan batita lelaki itu buyar ketika lagi-lagi sang adik berteriak histeris, lebih tepatnya histeris di buat-buat
"Zaafira mau opa!" dusta Zaafira
"Fila udah dong, nanti tenggolokan kamu sakit teliak-teliak" bujuk Zafier pada sang adik yang sedari tadi berdiri di dekat Mario
"pelut Fiya, Pelut Fiya yang cakit, bukan tenggolokan, Api jelek!" bantah Zaafira dengan menendang-nendangkan kakinya di balik selimut. gadis cilik itu benar-benar kesal tak ada yang mengerti perasaannya, ia bahkan melampiaskan dengan mengolok sang kakak
"mana ada orang sakit perut tapi kuat nendang gitu" gerutu Manda yang mulai jengah akan tingkah si bungsu, dan ucapan Manda itu berhasil membuat ke 3 orang dewasa di dalam ruangan menatap Manda tajam apalagi saat tangis Zaafira kembali pecah
__ADS_1
"Manda..." ucap Caroline, Aline dan Mario bersamaan membuat Manda menyengir kaku
"sama uncel aja yah?" tawar Mario mencoba peruntungan, dan betapa takjubnya mereka saat Zaafira menyingkap selimutnya kemudian beranjak duduk ke pangkuan sang paman. sontak tangan Mario menyeka keringat dan air mata Zaafira yang memenuhi wajah imut itu
"jalan-jalan ke Mall yuk" ajak Zaafira dengan menghirup masuk lendir di dalam hidungnya
"dikeluarin sayang, jorok ih" tutur Manda sambil memberikan tisyu pada Zaafira
"maukan angkel" tanya Zaafira setelah memberikan bekas tisyu pada sang mommy untuk di buang
"boleh. tapi janji tidak boleh nangis lagi" jawab Mario tanpa beban yang di angguki antusias oleh Zaafira. anak batita itu butuh sosok pria dewasa menemainya bermain agar perasaan rindu yang menyerang kalbu itu hilang.
"tapikan kak..."
"udah nggak papa. kebahagiaan mereka yang utama. lagian pertemuan ini tidak akan jalan jika aku tidak ada, jadi bisa di tunda sampai akunya siap. nanti aku hubungi mereka kalau aku nunda berangkat hari ini" sela Mario memotong protesan Manda.
drama selesai. Twins yang ditemani sang paman tengah asik berceloteh ria di dalam sebuah mobil yang tengah menuju ke sebuah pusat perbelanjaan dan permainan. sedang Manda kembali ke perusahaan.
sesampainya disana twins begitu antusias, sampai Mario keseringan mengehela napas karna 2 pasang tangan mungil tengah mengeretnya ke tempat rak mainan
hingga dimana langkah Mario melambat bersaamaan dengan tubuh twins yang berhenti di depan mereka
"papa" bisik mereka nyaris tak terdengar
Bersambunggg....
__ADS_1
halo readers yang masih setia sama story buah hatiku, mohon maaf kalau aku nggak bisa maksimal up.