Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
Kunjungan Marva


__ADS_3

ketika merasa tak tahu harus memulai dari mana untuk menemui ketiga orang berharganya karna didera rasa rendah diri akan semua kebrengsekannya dimasalalu, nyatanya, semesta selalu memiliki jalannya sendiri.


saat ini Marva tengah mengunjungi sebuah rumah mewah milik pengusaha kaya raya Amerika yang telah berpulang beberapa tahun lalu diusia senjanya, Mr. Ivander. abaikan tentang kakek kaya itu, Marva berkunjung tentu saja bukan karena pendiri Ivander Corp itu, tapi karna 3 orang pengendali jiwanya tengah berteduh di rumah mewah itu.


semalam ia mendapat undangan sarapan ke mansion besar itu dari Mario, dan Marva dengan tak tahu malu langsung mengiyakan tanpa basa-basi


"lo sarapan dirumah gue aja. makan sendiri kagak enak. kepikiran anak istri pasti bikin lo nggak bisa telan makanan" pesan Mario pada Marva lewat chatingan mereka yang terjadi semalam saat Mario mengakhiri aksi keponya mengenai Rain pada Marva. Marva memang memberitahu apa yang ia tahu mengenai adik perempuan satu-satunya itu tanpa ditutup-tutupi. toh sejak awal ia memang tak masalah dengan perasaan Mario pada Rain, hanya saja Rain yang terlalu jual mahal kala itu.


Marva berterimakasih pada egonya yang mau bersabar menerima pengakuan twins mengenai dirinya yang hanya sebatas papa dari teman sekolah twins di hadapan Mario kemarin, sebab Marva yakin jika saja kemarin ia ngotot mengoreksi ucapan Zafier pasti ia tak bisa bebas memasuki gerbang tinggi mansion seperti saat ini, sebuah barkode pengunci otomatis gerbang ada di ponsel miliknya dan itu diberikan cuma-cuma oleh Mario. jadi ia bebas keluar masuk melalui gerbang tanpa repot-repot menunggu penjaga gerbang membukanya atau mengidentifikasi dirinya sebelum dipersilahkan masuk.


memanfaatkan. ya, ia memanfaatkan kesempatan ini. karna cepat atau lambat suatu saat nanti, entah besok atau hari ini, paman twins itu akan tahu jika ia adalah lelaki brengs*k yang sudah menelantarkan Bila dan twins. dan Marva pastikan jika hari itu tiba, ia akan menjadi musuh dari Mario. Marva tak masalah jika hari itu tiba, hanya saja untuk saat ini ia akan memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan ini.


setelah memencet bel sekali, selang beberapa menit pintu utama terbuka.


"cari siapa, Mr.?" tanya wanita dewasa berpakaian hitam putih, seragam khas maid


"Mr. Mario" jawab Marva


Maid itu menelisik, dari bawah hingga atas. bingung. Tuan-nya tak pernah mengajak teman berkunjung ke Mansion, tentu saja selain dokter Jefry seorang. tak mungkin juga lelaki tampan yang bertamu pagi ini adalah pasien tuan-nya. pikir si Maid


"sudah buat janji?" tanya maid memastikan


belum sempat Marva menjawab, Mario muncul dengan wajah khas bangun tidurnya


"dia teman saya" sahutnya "ayok masuk" ajaknya lagi


"lo belum mandi" tanya Marva melihat penampilan Mario


"hm, lo kepagian datangnya. baru juga jam 7. gue kan undangnya jam 8" jawab Mario sekenanya. satu jam waktu tidurnya terganggu karna panggilan telpon bertubi-tubi dari Marva

__ADS_1


"lo mau tunggu gue di sini apa di kamar nih?" tanya Mario saat mereka memasuki ruang tamu


"dih, ngapain ke kamar lo, mending nunggu disini" tolak Marva sambil pura-pura bergidik akan tawaran Mario "nunggu bidadari sama dua malaikat kecil gue muncul" lanjutnya dalam hati


"jikapun lo wanita, gue nggak tertarik njir, gue sukanya sama adek lo" balas Mario jengah, setelahnya lelaki itu beranjak ke kamarnya meninggalkan Marva di sana


selang beberapa saat...


""Zafier, Zaafira hati-hati! udah berapa kali mommy bilang jangan lari di tangga"


Deg


Marva mematung. suara ini? twinsnya sedang lari? di tangga?


sontak Marva beranjak berdiri, dan dengan tak tahu sopan, ia memasuki pintu besar penghubung antara ruang tamu dan ruang keluarga tanpa dipersilahkan oleh pemilik rumah


posisi Manda yang menghadap tangga tentu tak menyadari kehadiran mantan suami lakn*tnya itu. melihat anaknya mematung dengan tatapan lurus tepat di belakang tubuhnya membuat Manda menoleh penasaran


sontak matanya membulat sempurna.


laki-laki itu? dia tidak sedang berhalu kan?


"ka..kamu?"


"selamat pagi" sahut Marva sok akrab


\=\=\=\=\=


Manda duduk tak tenang di kursinya, ia tak menyukai situasi ini, makanan serasa pahit saat menyentuh tenggorokannya. berbeda dengan tamu Mario yang tampak sangat lahap menikmati makananya seolah tak ada beban apapun.

__ADS_1


Mario berhasil membuat Marva bisa menikmati makanannya, tapi efeknya ia membuat adik satu-satunya tak bisa menelan makanannya


"Kamu sakit, nak?" suara lembut dari Aline mengalihkan atensi mereka ke arah Manda yang nampak... pucat?


"eng..enggak" Manda segera menyuap makanannya, rasanya sungguh pekat menikmati rasa yang masuk ke dalam mulutnya sepekat ia melihat wajah lelaki tak tahu malu yang duduk bersebalahan dengannya


"kok pada kalem sih" heran Mario menatap twins yang tenang, tak seperti biasanya yang selalu membuat orang kewalahan menyaksikan aksi bacrit keduanya


"malu sama om Marva kali" sahut Aline menggoda. sebelum sarapan dimulai, tentunya Mario lebih dulu memperkenalkan Marva pada nenek, mama, serta Manda. dan semua menyambut baik kehadiran Marva selain Manda tentu saja.


"kok malu sih, kemarin pas pulang dari mall nanya-nanya soal om Marva sama uncle, tuh orangnya udah ada. tanya langsung gih" tutur Mario sambil menaik turunkan alisnya, menggoda kedua keponakannya yang dibalas cebikan oleh mulut kecil Zaafira


mendengar ucapan Mario membuat Marva menatap lekat pada twins, bibirnya melengkungkan senyum berbanding terbalik dengan keadaan hatinya yang menangis mendengar jika kedua buah hatinya nyatanya ingin mengetahui mengenai dirinya. rasa sesak nan mencekik menderanya kala menyadari fakta bahwa kedua anaknya yang harusnya mengenal dirinya sejak lahir malah merasa asing akan sosoknya. jika saja ia tak buta akan cinta munafik dari Maya mungkin saat ini ia bisa berbahagia dengan keluarga kecilnya. karna itu Marva makin bertekad akan memperjuangkan mereka sampai titik darah penghabisan. terdengar lebay memang tapi ia pastikan akan melakukan apapun asalkan kedua buah hatinya dan ibu dari twins itu mau memberinya maaf.


sedang di negara lain, Jefry dengan semangat keluar dari hotel. Autralia, sisa negara itu yang akan ia kunjungi sebelum petualangan seminar kesehatan internasional yang seminggu ini ia geluti terselesaikan.


"ah,, aku sudah rindu berat pada twins dan mommy mereka" gumam Jefry setelah menaiki mobil yang akan membawanya pergi dari Jerman menuju Australia.


entah mengapa rasa lain yang tak bisa ia jabarkan menyerang relungnya.


"tidak. Manda dan twins akan menjadi milikku" gumamnya tiba-tiba saat ia merasa hatinya serasa hampa dan gelisah bagaikan akan kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. sejak bangun tadi, ia sudah merasakan hal ini.


pasti efek rasa rindunya yang menggebu membuat sesuatu dalam dadanya serasa tak enak. pikir Jefry


tak ada yang lain yang ia khawatirkan selain kehilangan Twins dan Manda, bukan? pikir Jefry lagi.


Jefry bertekad setelah semua ini, ia akan menikahi Manda. toh wanitanya itu sudah ia ikat dengan cincin pertunangan.


bersambunggg...

__ADS_1


__ADS_2