
"Fiya nggak mau punya adik!"
suara lengkingan nan serak itu menyentak atensi ketiga orang di atas ranjang, mereka kompak menoleh ke arah sumber suara.
"Fira, sayang..." Marva segera beranjak mengejar sang putri yang sudah berlari pergi dari depan pintu
Manda dan Zafier juga menyusul. mereka menuju halaman belakang rumah di mana Zaafira pergi
"jangan mendekat! Fiya mau sendili" teriak anak itu dengan linangan air mata. Zaafira membalikan badannya membelakangi mereka, menunjukkan dengan terang-terangan bahwa dirinya tengah marah pada kedua orang tuanya
"jangan naik ke sini! Fiya nggak mau lihat kalian!" imbuhnya menggebu setelah merasakan adanya pergerakan di belakangnya, dan benar saja Marva yang baru saja mendudukan dirinya di gazebo itu lantas berdiri karna tak mau membuat putrinya makin marah
"sayang kok teriak-teriak, nggak bo..."
"mommy jangan bicala! Fiya ndak suka dengal suala mommy" potong Zaafira membuat Manda mengerjab dengan mulut yang membentuk lingkaran kecil
"Fira, nggak sopan sayang ngomong gitu sama mommy" ucap Marva dengan nada lembut memperingati sang putri agar tak kelewat batas namun namanya anak kecil kalau bad mood, bukannya merasa bersalah malah semakin merasa dipojokan
"huwaaaa papa jahat! papa sudah nggak sayang Fiya!" anak perempuan lima tahun itu kini sudah menangis kejer dengan suara yang melengking tinggi membuat Marva dan Manda gelagapan dan langsung menaiki gazebo
Marva yang berhasil meraih tubuh putrinya lebih dulu, terus dibawanya sang putri kepangkuan
"Papa sayang Zaafira, sampai kapanpun nak" tutur Marva sembari mendekap kepala putrinya di dadanya "udah-udah kasihan tenggorokan kamu, sayang"
"Fira sayang, udah nak, nanti suara kamu bisa ilang loh" ucap Manda yang sedari tadi mengelus punggung putrinya
"papa?" panggil Zaafira disela-sela tangisannya
__ADS_1
"iya nak?"
"kok kepala Fiya basa sih?" tanya anak itu sembari berusaha mendongak menatap ayahnya, begitu juga dengan Manda yang ikut melihat ke arah Marva
"papa kok nangis?" kali ini Zaafira bertanya setelah meredakan tangisnya, tapi hanya sepersekian detik, karna anak perempuan itu kembali menangis setelah menyimpulkan sesuatu "papa pasti sedih yah Fiya bentak-bentak?"
"nggak nak, udah yah nangisnya. papa sedih karna papa nggak tega lihat kamu menangis, rasanya dada papa sakit sekali, Fir" tutur Marva jujur. ia merasa gagal, merasa tak becus hingga dalam jangkauannya pun anaknya menangis. anak-anak menangis karna sesuatu tak disukai tapi bagi Marva tangisan anaknya adalah hal yang menyakitkan hingga ia juga merasakan sakitnya, air matanya adalah bukti bagaimana Marva merasakan kesakitan dalam tangisan putrinya
"Fiya juga sedih papa" sahut anak itu dengan nada lirihnya "nanti papa sama mommy lupain Fiya kalna ada adik bayi" imbuhnya dengan isakan yang mulai kembali terdengar
"sini sama mommy sayang?" Manda meraih putrinya untuk berpindah ke pangkuannya, wanita itu mengabaikan tatapan protes sang suami
"kata siapa nak, hm? Fira harus tahu kasih sayang papa dan mommy sama Afi dan Fira itu tak terganti sayang, meski ada adik bayi sekalipun"
"mommy bohong!"
"loh kok bohong sih? Fira nggak percaya sama mommy"
_ _ _ _ _
"sampai bengkak gini matanya" ujar Manda menatap miris sang putri
"mas nggak pernah lihat dia nangis kejer kek gini sebelumnya, pasti dia ketakutan sekali karna pikirannya sendiri" imbuh Marva yang masih setia mengelus lembut kepala putrinya
"dia pernah nangis lebih dari ini, kejer banget sampai badannya ikut merah, nangis hampir seharian sampai suaranya hilang"
pernyataan Manda sontak membuat Marva mengalihkan atensinya dari wajah damai putrinya ke arah sang istri
__ADS_1
"waktu mas ngorbanin diri demi menolong kami dua tahun lalu, dan hilang dari rumah sakit" jelas Manda mengingat kejadian pada waktu dimana Marva harus mengalami kepala pecah dan beberapa tulang patah karna tertimpa pagar beton sekolah saat melindungi tubuh Zaafira, lalu Marva dibawa pergi oleh Radit tanpa pemberitahuan hingga membuat twins merasa ketakutan karna papa mereka hilang, waktu itu bukan hanya twins yang merasa kehilangan Manda pun sama.
"maaf, waktu itu mas berpikir twin akan malu punya papa cacat sepertiku"
"ck! kamu sama Fira itu sama saja. suka menyimpulkan sesuatunya sendiri sampai tak sadar melukai diri sendiri" decak Manda sembari memutar bola mata malas
cup
satu kecupan di bibir Marva berikan pada sang istri, lalu lelaki itu dengan pelan merangkak pelan ke samping putrinya
"mau ngapain?" tanya Manda
"mau kelonin putri cantikku" balas Marva dengan nada pelan sembari membaringkan tubuhnya di sebelah putrinya
"dia udah tidur"
"mas mau twins melihat mas sewaktu dia membuka mata"
"dih dasar bapak bucin anak"
"sore ini mas sama mereka, ntar malam mas kelonin kamu deh" goda Marva mengedipkan mata genit
"dih siapa yang mau dikelonin" ujar Manda sembari menegakan tubuhnya. lalu wanita itu mengecup dahi putrinya lalu mendekat ke ranjang Zafier yang juga sudah terlelap
"mas nggak dapat kecupan nih?"
"udah kan tadi" ucap Manda polos sembari menunjuk bibirnya membuat Marva terkekeh kecil.
__ADS_1
Manda beranjak pergi dari kamar twins menuju pintu penghubung ke kamarnya, wanita itu sempat menoleh sebentar menyaksikan pemandangan disana, tampak Marva sudah memejamkan mata dengan memeluk putri mereka sedang Zafier di peluk selimut
Bersambung...