Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
Kebenaran 1


__ADS_3

Marva terduduk kaku di kursinya, pandangan matanya kosong. Perkataan Radit berhasil mencabut paksa dunianya


'lo yang mengambil mahkota istri lo sendiri saat lo mabuk, si4lan'


'waktu itu, lo reunian sama teman2 lo di club, lo mabuk berat dan hampir diperkosa sama si jal4ng Anggi, jam 2 dini hari lo hubungin gue untuk ngantar lo pulang. Dan asal lo tau, malam itu, waktu yang harusnya digunakan orang-orang terlelap di alam mimpi tapi istri lo masih terjaga, hanya untuk menunggu lo pulang. Menunggu suami brengseknya pulang, dengan kedaaan tubuh yang masih menyisahkan bekas luka yang lo berikan sebelum lo berangkat ke club dan mabuk-mabukan. Dengan pipi biru, lengan memar dia masih setia menunggu lo pulang dari tempat har4m itu!'


'dan belum kering lukanya, lo malah makin menambah dengan memp3rkos4 istri lo sendiri. Lo mengambil paksa mahkotanya dan dengan brengseknya lo lupa begitu saja? Gue lihat pake mata kepala gue sendiri gimana Bila kesulitan berjalan pagi itu. Dan saat gue masuk ke kamar lo, gue temukan jawabannya, sebuah bercak d4rah di ranjang yang lo tidurin dengan keadaan tel4nj4ng bulat pagi itu'


'pikir brengs*k!' Umpat Radit setelah berujar panjang lebar hanya untuk memberitahu kebenaran. Merasa terlalu muak melihat kebungkaman Marva dengan wajah terkejut, Radit memilih keluar dari ruangan. meninggalkan Marva yang mematung seperti mayat hidup


.


.


.


Malam itu ia mendapat ajakan reunian dengan teman-teman angkatannya. Namun sebelum berangkat, ada beberapa temannya di grup chat menanyakan kabar Maya dan meminta agar Marva datang bareng Maya. Sukses membuat emosi Marva naik. Dan kebenaran Bila datang ke kamarnya untuk memberitahukannya jika makan malam sudah siap, jadilah ia melampiaskan amarahnya pada Bila, ia menyeret tubuh kecil Bila menuruni tangga dan melakukan kekerasan fisik disana. Menyalahkan Bila karna ia harus berpisah dengan Maya karna kehadiran Bila.


Emosi Marva kembali naik saat bertemu dengan teman-temannya dan masih menanyakan Maya, membuat Marva melampiaskan pada minuman hingga ia mabuk berat. Meski dalam keadaan mabuk tapi Marva masih menyisahkan sedikit logikanya. Ajakan Anggi untuk cek in di hotel ia tolak karna tiba-tiba kepikiran Bila yang ia tinggalakan dalam keadaan pingsan tadi.


Pulang diantar Radit, ia melihat Bila berjalan kearahnya dan menuntunya ke kamar, Marva pikir itu hanya halusinasinya, ia pikir Bila masih pingsan dan tak mungkin berada di sini


Ia merasakan Bila melepas sepatu dan kaus kakinya seolah itu nyata. mengira itu hanya mimpi Marva mengikuti alur. Ia ingin berada di alam mimpi saat itu. Jika ia tak bisa menyentuh istrinya dalam dunia nyata, maka didunia mimpi-pun tak masalah. pikirnya


saat dirasa Bila membalikan badan hendak keluar, Marva segera mencekal tangan wanitanya


Ia menarik kasar Bila hingga Bila jatuh menimpanya, senyuman mesum muncul di bibirnya, sepersekian detik selanjutnya ia membalikan tubuh hingga berada di atas tubuh Bila


"katanya lo bersih, gue penasaran pengen membuktikan langsung seberapa bersih dan nikmatnya tubuh kecil lo ini" ucap Marva dengan tatapan sayunya, ia masih mengira jika ia berada di alam mimpi


Dapat Marva rasakan jika tubuh di bawah kungkungannya bergetar, bahkan Bila terdengar memohon untuk dilepaskan, Marva juga merasakan jika Bila berusaha mendorongnya, Marva malah tersenyum miring.


Dialam mimpi saja Bila menolaknya apalagi jika di dunia nyata? Dirinya sudah terlalu kotor bagi Bila. Pikir Marva


Sebelum ia segera terbangun dari tidurnya, Marva ingin melanjutkan aksinya dalam dunia mimpinya

__ADS_1


hanya dengan sekali tarikan, daster rumahan Bila robek di tangannya


Ia melakukannya, memaksa Bila, mengabaikan tangisan gadis muda itu yang terdengar sangat nyata. memaksa menyatukan diri, Marva menemukanya, sebuah penghalang saat ia memaksa sang anaconda tanpa pengaman menerobos masuk ke dalam gua yang berselaput itu


Ini kali pertama ia merasakan lubang asli belum di jamah, beruntungnya si anaconda tak memakai casing kali ini, walau hanya dalam mimpi tapi Marva jelas merasakan nikmatnya seolah ia tak berada di dunia mimpi


.


.


.


Memori silam memukul kepalanya yang berimbas pada dadanya yang sesak. ia ingat. Jadi itu bukan mimpi atau khayalan? Ingatan yang ia kira hanya sebuah mimpi tidur saat subuh itu nyatanya kenyataan. Ia mengambil paksa hingga membuat istrinya menjerit kesakitan. Ia pikir itu hanya bayangan semu saat dirinya tengah mabuk karna memang telah lama ia menginginkan menyentuh istrinya tapi terhalang oleh gengsi juga dendam.


"kepar*t kau Marva!"


"Sial*n!"


"Brengs*k!"


"Anj*ng!"


"Bila, maafkan aku" racau Marva menarik rambutnya guna menyalurkan rasa sesalnya


"anak-anak Bila?" belum reda pukulan pada kepalanya, Marva kembali tertampar akan keberadaan 2 batita itu. Dadanya yang tadinya sesak sekarang seolah berhenti berdetak mengingat kenyataan itu


"astaga!! terkutuk kau Marva!!!" teriaknya frustasi


"Diari! Ya, pasti di diari itu ada beberapa fakta yang bisa ku temui" ingat Marva akan tulisan tangan Bila yang wanita itu tuangkan jika tengah mengalami hal-hal buruk darinya setiap hari


Dengan penampilan berantakan akibat ulahnya sendiri, Marva melangkah lebar keluar ruangan hendak menuju rumahnya mencari diari Bila


"maaf pak, jadwal sudah saya atur ul.."


"batalkan semuanya. saya ada urusan yang lebih penting saat ini" potong Marva dan kembali melanjutkan langkahnya menuju lift

__ADS_1


"beritahu pada Radit. Jika ia berniat mengantikanku, jadwal tetap berjalan" seru Marva sebelum memasuki lift.


"ada apa dengan pak bos?" heran si sekertaris melihat kekacaun Marva pagi ini, padahal bosnya itu beberapa menit lalu saat datang masih sangat rapi dan tentunya tampan tapi sekarang? terlihat seperti pasien rumah sakit jiwa yang tengah kabur dari pemasungan


sedang di balik pintu ruangan kaca hitam yang berada di lantai sama dengan Marva, Radit menatap iba pada Marva tapi sumpah serapah tak lepas dari bibirnya yang ditujukan pada sang bos.


"menyesalkan? syukurin. sudah aku ingatkan dari dulu tapi hatimu bagaikan batu. saatnya nikmati buah dari apa yang kau tanam" monolog Radit, matanya masih menatap Marva hingga tubuh itu hilang di balik kotak besi berjalan


Bersambunggg.


******


dapat salam dari....


si bapak lucnak nih, suami durh*ka, si Marva Pelan



kalau ini si mommy cantik lagi bingung dengan masalah perusahaan akibat ulah si mantan laki


Bila/Manda



ada juga dokter Jef nih lagi merindu ldr-an dengan twins juga tentunya si mommy dari twins



nah kalau Ini si anak gumush Zafier dan Zaafira.



oke segini dulu, babay. see next chap.


jangan lupa like,vote dan komen sebanyak banyak banyak banyak banyakkkkkk nyaaaaa a a a a a a

__ADS_1


Salam Mickey Mouse 24


Dari Dunia Halu


__ADS_2