Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)

Buah Hatiku (Zafier Dan Zaafira)
2 pasang mata


__ADS_3

semua yang terjadi terkadang bukanlah sebuah takdir. melainkan bagaimana diri mengambil jalan untuk menciptakan takdirnya sendiri. memilih menjadi yang terbaik atau terburuk sekalipun. takdir yang sesungguhnya hanyalah kelahiran dan kematian saja.


hanya orang-orang putus asa dan pecundang yang mengatakan semua ini karna takdir, memilih pasrah dan menerima takdir mereka sendiri. sebuah kata untuk memuaskan diri karna tidak ingin terjadi perubahan pada dirinya. atau mungkin terlalu takut menghadapi sebuah hasil yang ia tahu akan sama dengan yang lalu.


"kenapa?" suara Manda terdengar setelah sekian lama terdiam


"apa?" balik Marva bertanya dengan nada tercekat, ia masih syok akan keberadaan sang mantan istri


"kenapa kamu melakukan semua ini?"


"maaf" balas Marva yang terdengar seperti bisikan


"kenapa kamu harus merasa bersalah disaat aku sudah ikhlas?"


"maaf"


"kenapa kamu tetap jadi orang yang membuatku menjadi wanita paling menyedihkan?"


"maaf"


"kenapa harus berkorban sejauh ini?"

__ADS_1


"maaf"


"aku capek" lirih Manda


"maaf"


"aku capek dengar kata maaf!" tekan Manda


"ma--mm--- sorry"Marva tak tahu harus menjawab apa selain mengumamkan maaf, toh ia tak punya kalimat ataupun kata lain selain meminta maaf, tapi respon Marva itu membuat Manda memejamkan matanya, kesal tapi juga kasihan


"ini karmaku kau tahu?..." sahut Marva serak membuat Manda membuka mata kemudian menoleh ke arah lelaki yang tengah menatap lurus ke depan".. aku pernah begitu kejam memperlakukan mu, buta hati untuk belajar menerimamu bahkan aku membawa wanita lain dalam pernikahan kita hanya untuk membuatmu pergi. tapi apa? nyatanya setelah kamu pergi dan tak lagi melihatmu aku kesepian, ada rasa dalam hati ingin melihatmu terus menerus. kilasan kebrengsekanku terhadapmu dengan kejam menghantuiku hingga aku tak bisa berbuat apa-apa selain menangismu, sampai aku melihat dirimu hadir setiap mata ini membuka, namun ternyata itu hanya halusinasi, tapi aku dengan kewarasanku yang sisa setengah tetap menikmatinya dengan penuh harapan jika itu adalah nyata" Marva mengambil napas panjang guna mengurai sesak dalam dada sebelum kembali melanjutkan kalimatnya "2 bulan setelah kepergianmu aku baru menyadari jika hatiku menginginkanmu lebih diatas rasa bersalahku. aku berjanji pada diriku tak akan lagi memperlakukanmu kasar jika kamu kembali ke rumah kita suatu hari, tapi nyatanya kamu sudah enggan untuk pulang pada lelaki kejam ini" aku Marva dengan nada lirih, kalimat panjang itu bergetar bersama emosi dan rasa sakit atas penyesalan


Marva menggeleng pelan dengan air mata yang berderai, rasa nyeri di hatinya mengalir melalui darah yang menghinggapi seluruh sel diseluruh tubuhnya. Sakit. hanya kata itu yang ia rasakan belakangan ini dan hari ini adalah puncak kesakitan itu


"aku tidak pernah berkorban apapun. untuk mu juga twins. jadi jangan merasa kasihan karna keadaanku yang menyedihkan, seperti yang kamu bilang tadi, di masalalu kamu lebih menderita dibanding bayaran yang aku terima saat ini. aku bersyukur aku masih berguna untuk menyelamatkan twins karna itu memang kewajibanku, nyawapun tak ada nilainya jika twins yang jadi taruhannya" ucap Marva tersenyum, berusaha meyakinkan Manda lewat senyuman yang dibarengi air mata


"aku bersalah, namun bukan hanya sebatas itu yang membuatku kehilangan arah, tapi karna aku terlambat menyadari cintaku"


"aku mencintai sosok istriku yang penurut, si gadis polosku yang berhati besar, yang masakannya selalu pas dilidahku, buatan kopinya yang terbaik, yang merawat diriku dengan telaten disaat sakit, yang sering aku intip saat menangis diam-diam karna perbuatanku, hatiku ikut nyeri saat aku melukainya, tapi dulu aku terlalu menjunjung tinggi hubunganku dengan Maya yang telah 5 tahun menamaniku hingga aku membangun dinding kokoh untuk membentengi diri agar tak tertarik dengan istriku demi janjiku pada Maya. ya, aku sebrengsek itu hingga cinta yang aku miliki untuk istriku bersembunyi didasar hati karna tak berani melawan egoku" lanjut Marva, lelaki buta itu terisak pedih diakhir kalimatnya, beruntung ada twins yang memberinya pelukan hingga ia tak tumbang saat itu juga, namun demikian rasa sakit atas penyesalan tak mampu berkurang dalam relungnya


"aku mencintaimu Nabila Amanda, sepenuh hati dan jiwa ini. maaf atas cintaku yang datang terlambat. aku tahu pengakuanku ini tak ada lagi artinya disaat kamu telah terbebas dari pria kejam sepertiku, tapi setidaknya aku ingin mengungkapnya agar hati ini lega. mari kedepannya hidup dengan baik, berbahagialah dengan keluarga barumu, dan aku akan bahagia juga disini" meski rasanya Marva ingin menangis keras setelah mengucapkan kalimatnya tapi ia tetap berusaha menampilkan senyumnya agar Manda percaya jika ia baik-baik saja. Marva tak akan lagi membebani lagi wanita pemilik hatinya, ia ingin ikhlas melepas Bila-nya untuk berbahagia

__ADS_1


"maaf karna aku kamu pernah mengenal luka, dan terimakasih atas pelajaran berharganya, juga terimakasih atas hadiah terindah telah mempertahankan buah hati kita, twins" ucap Marva lalu mengecup kedua kepala twins dalam dekapannya 'Tuhan tolong jaga mereka untukku, jaga anak lelaki ku agar tak menuruni sifat brengseku dan jaga anak perempuanku agar tak bertemu lelaki bajingan sepertiku dikemudian hari' doa Marva dalam hati


"Bil-- Manda kamu masih disitu?" tanya Marva setelah keheningan kembali menyelimuti, tak mendapati jawaban, Marva meraba-raba ke arah Manda


hap


Manda menangkap tangan besar nan dingin itu, padahal hawa panas matahari jam 9 harusnya menghangatkan tubuh mereka saat ini


Deg


"boleh aku memelukmu, kak?" lirih nan bergetar suara Manda bertanya. belum sempat Marva menjawab Manda sudah menghambur memeluk mantan suami dan kedua buah hati mereka. tak ingin kehilangan kesempatan emas, tangan Marva ikut mendekap tubuh Manda bersama twins, erat, seolah ingin bersatu tubuh dengan Bila juga twins agar tak terpisahkan. sebuah pelukan yang telah lama Marva impikan.


tidak jauh di belakang sana, seorang wanita muda terharu melihat adengan itu. ia tersenyum tapi juga menangis. ikut merasakan sakit dan bahagia sekaligus melihat mimpi kakaknya terwujud, yakni mendapat pelukan dari ketiga orang tercinta.


tak mau mengganggu moment, Rain memilih pergi meski harusnya ia membawa sang kakak kembali ke ruang perawatan. namun pada saat membalikan tubuhnya, netranya langsung bersirobok dengan netra hitam pemilik lelaki yang membuat mimpinya harus terhenti ditengah jalan, lelaki itu berada sekitar 3 meter di depannya, menatapnya dengan tatapan terkejut tapi secepat kilat berubah datar lalu kemudian menjadi senyuman miring.


Bersambunggg


Follow ig @penulishalu_


like, komen, dan vote yah

__ADS_1


__ADS_2